Tapi ketika Nana kelas lima SD, dia sudah punya teman-teman baik di kelasnya. Jadilah tahun itu Nana pakai jaket hitam saya dan bikin sendiri topeng No Face dari Studio Ghibli, ikut teman-temannya pesta Halloween di salah satu rumah temannya. Hujan-hujanan. Seru sekali.
Tahun terakhir kami di Amerika, sebelum pulang for good, kami numpang tinggal di daerah yang cukup festive ketika Halloween. Jajaran townhouses itu penuh ornamen-ornamen, mulai dari patung penyihir lengkap dengan cauldron-nya, sarang laba-laba raksasa, dan tentu saja labu di mana-mana, bahkan sejak awal Oktober. Di tahun terakhir itu, kami tidak ikut Halloween, tapi duduk di ruang tamu landlord kami, melihat keseruan orang-orang yang trick or treating di jalan.
Ketika itu saya menyadari bahwa Halloween ini kultural, perayaan budaya. Mereka sama sekali tidak peduli dengan makna atau apa pun itu. Perayaan Halloween saat ini murni perayaan sekular yang menguntungkan industri aksesoris, coklat dan permen, seperti hal-nya Valentine. Intinya mereka cuma ingin senang-senang. Kapan lagi bisa pakai kostum dapat coklat? Tadinya kostum-nya tema seram, seperti penyihir atau hantu-hantuan. Tapi sekarang pakai kostum baju safari khaki atas bawah yang pas diedit AI, celananya jadi hitam pun tidak apa apa.
Begitu juga dengan Jack-O-Lantern. Petani petani labu di Amerika Serikat itu mungkin gabut, labunya berlimpah. Kalau daging labunya diambil untuk dibuat sup ataupun pie, kulitnya dibuang sayang. Jadilah mereka kreatif carving labu-nya jadi bentuk lucu-lucuan.
Ini berbeda dengan Dias de Los Muertos-nya orang Mexico. Mereka percaya pada hari-hari terakhir bulan Oktober sampai awal November itu, arwah-arwah orang yang mereka cintai akan mengunjungi mereka. Makanya mereka buat festival.
Orang Jawa pun punya kepercayaan yang mirip dengan Dias de Los Muertos. Bedanya, orang Jawa percaya arwah orang yang mereka cintai datang seminggu sekali. Lebih rajin ya? Tradisinya kalau Kamis sore orang-orang Jawa membersihkan toilet atau kamar mandi. Karena arwah yang sudah tua itu kalau habis perjalanan jauh mestinya kebelet pipis, ye kan. Dan pada Kamis malam/malam Jumat, orang Jawa-Islam tahlilan. Ini sebenernya pengelolaan rumah tangga dan praktik relijius yang dibalut dalam kepercayaan. Pinter-pinter-nya orang Jawa bikin sistem, sama seperti Halloween dan Dias de Los Muertos.
But anyway, tahun ini kebetulan Momon pas di Indonesia ketika Halloween dan Momon udah carving pumpkin di rumahnya. Jadilah saya mengajak kedua anak saya sore-sore ke rumah Om Momon, trick or treating tipis-tipis bawa bucket karena Om Momon menyediakan candies. Anak-anak senang sekali tentunya. Nafiisa jadi Snow White. Kakaknya kebetulan punya topi penyihir hehehe. Tapi niat saya adalah silaturahim. Biar anak-anak saya kenal sama temen baik saya, semacam tradisi ujung ketika Lebaran. Yang ini kebetulan momen-nya adalah Halloween hehehe.



No comments:
Post a Comment