Saya lupa percakapannya dimulai dari mana, tapi mamah saya menyebut-nyebut tentang swargi Eyang Salami, ibu-nya mamah saya, dulu bisa Bahasa Belanda karena mendapatkan Pendidikan di SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Ah ya, saya agak ingat sekarang, Kami sedang mendiskusikan sebuah kata dalam Bahasa Jawa yang semestinya adalah serapan dari Bahasa Belanda. Sekarang malah lupa apa kata yang Kami diskusikan sebelum pada akhirnya ngobrolin soal Eyang Salami yang setiap hari pergi ke SKP.
SKP ini adalah nasionalisasi sekolah keputrian era Belanda (Huishoudschool/Household School). Namun pada era 1960-an, SKP ini berubah menjadi SMK Tata Boga, Tata Busana, dan sejenisnya karena dinilai sudah "tidak sesuai dengan kemajuan zaman". Mungkin pas jaman saya sekolah, dalam kurikulum 1994, apa yang diajarkan di SKP sedikit banyak ada di mata pelajaran muatan lokal PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Dalam kurikulum 2013, PKK ini diubah menjadi PKWU (Prakarya dan Kewirausahaan) yang bergeser fokus-nya dari keterampilan rumah tangga, menjadi keterampilan berorientasi kapital.
Kembali ke Eyang Salami. Dulu beliau menempuh Pendidikan di SKP selama empat tahun, setelah lulus dari SR (Sekolah Rakjat). Jadi SKP ini setara SMP. Selama empat tahun itu, beliau jalan kaki dari rumahnya di Cawas ke SKP yang ada di daerah Pedan, Klaten. Konon, kata mamah saya, jaraknya tujuh kilometer. Jalan kaki. Pakai jarik, bukan rok, apalagi celana.
Itu kalau saya hitung-hitung, kurang lebih beliau harus berangkat jam lima pagi, sampai sekolah jam tujuh. Belum nanti pulangnya. Dua jam jalan kaki lagi. Artinya setiap hari beliau berjalan kaki pulang pergi selama empat jam!
Ya tentu saja jangan dibayangkan jalanannya sudah aspal seperti sekarang, dan banyak kendaraan bermotor. Jaman saya SMP tahun 1990-an saja, daerah Manukan, Condongcatur itu masih ladang tebu yang luas sekali. Kalau saya kebetulan pulang jalan kaki dari terminal Condongcatur ke rumah, ya lewat ladang-ladang tebu itu tadi.
Mungkin udaranya juga belum sepanas dan sepolutif sekarang. Tapi tetap saja, jalan kaki empat jam tiap hari, pakai jarik, di jalanan yang mungkin masih tanah, belum nanti kalau hujan bagaimana ... sungguh perjuangannya orang jaman dulu untuk pergi ke sekolah itu hampir sama dengan anak-anak Indonesia sekarang di daerah-daerah yang tidak diperhatikan oleh pemerintah.
Apakah kemudian ini harus jadi cermin bagi kita? Errr ... menurut saya kok tidak harus. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Ada yang wujudnya perjuangan fisik, ada pula yang wujud perjuangannya psikologis atau malah virtual. Hanya saja, yang namanya semangat itu memang tak lekang oleh zaman. Yang namanya kewajiban pemerintah untuk memenuhi hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak juga tak lekang oleh zaman. Pendidikan yang layak ya, bukan makanan gratis yang sering bikin keracunan.
Ada satu lagi yang mungkin tak lekang oleh zaman: household chores, alias pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menggergaji kayu, menjahit kancing, dan lain sebagainya. Saat ini, keterampilan-keterampilan tersebut didapat dari pendidikan di rumah. Tapi mungkin ada baiknya, keterampilan-keterampilan tersebut diperkenalkan juga di sekolah. Hal itu bisa dilaksanakan melalui P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)-nya kurikulum Merdeka, misalnya. Tidak perlu sampai level canggih seperti Eyang Salami yang bisa masak risol (ini saya yakin juga kata serapan dari Bahasa Belanda) yang super duper enak. Bikin sambel lotis yang enak saja mungkin cukup ...