Showing posts with label brain fart. Show all posts
Showing posts with label brain fart. Show all posts

Sunday, June 21, 2026

Masyarakat Belajar

Pada tahun 2026, Indonesia telah memasuki tahap baru dalam transformasi digital. Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia yang dirilis APJII, sekitar 81,7% penduduk Indonesia telah terhubung ke internet, atau lebih dari 235 juta orang. Internet bukan lagi sekadar pelengkap kehidupan sehari-hari, melainkan infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, hingga interaksi sosial.

Namun, semakin luasnya konektivitas tidak serta-merta menjadikan masyarakat semakin cakap dalam memanfaatkan teknologi. Justru tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Jika satu dekade lalu perhatian banyak tertuju pada akses terhadap informasi, kini persoalannya bergeser menjadi kemampuan membedakan informasi yang kredibel dari yang menyesatkan, menghadapi banjir konten yang diproduksi secara otomatis oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dua sisi dampak perkembangan teknologi semakin nampak di era AI. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk belajar, bekerja, dan berkreasi dengan lebih produktif. Seorang pelajar dapat memperoleh penjelasan mengenai konsep fisika dalam hitungan detik. Seorang petani dapat memperoleh rekomendasi budidaya berdasarkan kondisi cuaca. Pelaku UMKM dapat membuat materi promosi tanpa harus memiliki keahlian desain grafis. Teknologi semakin demokratis dan semakin mudah diakses.

Di sisi lain, teknologi yang sama juga mempermudah penyebaran informasi yang keliru, manipulasi gambar dan video, penipuan digital, hingga konten yang sengaja dirancang untuk memancing emosi bukan untuk memperkaya pemahaman. Algoritma media sosial cenderung menghadirkan informasi yang menarik perhatian, bukan selalu yang paling benar. Dalam situasi seperti ini, tantangan masyarakat digital bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang belum tentu dapat dipercaya.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi, melainkan apakah kita telah memiliki kapasitas untuk memanfaatkannya secara bijaksana. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak cukup dicari melalui regulasi atau pengembangan media dan teknologinya semata. Yang jauh lebih mendasar adalah membangun masyarakat yang terus belajar.

Belajar pada hakikatnya adalah proses ketika seseorang melakukan pembentukan identitas dirinya melalui proses tawar menawar di dalam lingkup sosial di mana dia berada. Dalam dunia yang berubah sangat cepat, belajar tidak lagi berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi. Pengetahuan terus berkembang, teknologi terus berubah, dan tantangan sosial terus berganti. Karena itu, belajar harus dipandang sebagai kebiasaan sepanjang hayat.

Masyarakat yang belajar bukanlah masyarakat yang seluruh anggotanya memiliki tingkat pendidikan tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang belajar adalah masyarakat yang memelihara rasa ingin tahu, terbuka terhadap gagasan baru, bersedia mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih baik, dan saling berbagi pengetahuan untuk memecahkan persoalan bersama. Kemajuan suatu bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh budaya belajar masyarakatnya.

Dalam konteks Indonesia saat ini, setidaknya terdapat tiga komponen yang memegang peranan penting dalam membangun masyarakat yang belajar: keluarga, sekolah, serta media dan platform digital.

Komponen pertama sekaligus yang paling mendasar adalah keluarga. Hampir seluruh kebiasaan belajar seseorang bermula dari lingkungan keluarga. Anak-anak belajar jauh lebih banyak melalui apa yang mereka lihat di sekitar mereka dibandingkan melalui apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengingatkan anak agar menggunakan internet secara bijak, tetapi perlu menunjukkan contoh bagaimana teknologi digunakan untuk hal-hal yang produktif.

Di banyak rumah saat ini, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan lagi bagaimana membatasi keberadaan teknologi, melainkan bagaimana membangun budaya penggunaannya. Anak-anak perlu melihat bahwa telepon pintar tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk berkarya, membaca, mencari pengetahuan, berdiskusi, atau mengembangkan keterampilan baru. Ketika orang tua memperlihatkan kebiasaan belajar, anak akan menangkap pesan bahwa belajar merupakan bagian alami dari kehidupan.

Keluarga juga merupakan tempat pertama anak belajar berdialog. Di era media sosial, kemampuan berdiskusi dengan penuh rasa hormat menjadi semakin penting. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi permusuhan karena orang terbiasa bereaksi sebelum memahami. Padahal kemampuan mendengar, mengajukan pertanyaan, serta menghargai sudut pandang orang lain merupakan fondasi kehidupan demokratis.

Lebih jauh lagi, keluarga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital. Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang muncul di internet adalah benar. Mereka perlu dibiasakan memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai referensi, dan bertanya sebelum mempercayai atau membagikan suatu berita. Kebiasaan sederhana seperti ini akan menjadi bekal penting ketika mereka hidup di tengah dunia yang dipenuhi konten hasil kecerdasan buatan dan algoritma media sosial.

Komponen kedua adalah sekolah. Selama bertahun-tahun, sekolah sering dipandang sebagai tempat mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Pandangan tersebut semakin sulit dipertahankan ketika hampir seluruh informasi dapat ditemukan melalui internet. Jika informasi tersedia di mana-mana, maka nilai utama sekolah tidak lagi terletak pada penyampaian informasi, melainkan pada pembentukan cara berpikir.

Sekolah perlu menjadi tempat di mana peserta didik belajar mengajukan pertanyaan yang baik, mengevaluasi bukti, menyusun argumen secara logis, bekerja sama dengan orang lain, serta menghasilkan solusi kreatif terhadap persoalan nyata. Keterampilan-keterampilan tersebut jauh lebih sulit digantikan oleh mesin dibandingkan kemampuan menghafal fakta.

Dalam konteks AI, sekolah juga memiliki tanggung jawab baru. Kehadiran AI bukan alasan untuk melarang teknologi secara total, tetapi menjadi kesempatan untuk mengajarkan penggunaannya secara bertanggung jawab. Peserta didik perlu memahami kapan AI dapat membantu proses belajar dan mengapa mereka harus membangun kapasitas berpikir kritis mereka sendiri. Mereka juga perlu belajar bahwa hasil keluaran AI bukanlah kebenaran mutlak, melainkan bahan awal yang tetap harus diperiksa, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Sekolah juga merupakan ruang sosial yang unik. Di dalamnya, anak-anak bertemu dengan teman yang memiliki latar belakang keluarga, agama, budaya, kemampuan, maupun cara berpikir yang berbeda. Di sinilah mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan saling menghormati. Masyarakat yang belajar membutuhkan warga yang mampu bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda, bukan hanya dengan mereka yang sepakat.

Komponen ketiga adalah media dan platform digital. Jika dahulu media massa menjadi pintu utama masyarakat memperoleh informasi, kini ruang publik jauh lebih kompleks. Informasi diproduksi oleh jurnalis, akademisi, pemerintah, perusahaan, kreator konten, bahkan oleh sistem kecerdasan buatan. Setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon genggam.

Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tanggung jawab yang lebih besar. Media profesional tetap memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk membangun ekosistem informasi yang sehat melalui transparansi algoritma, perlindungan terhadap pengguna, serta upaya membatasi penyebaran konten yang berbahaya.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna juga tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Budaya berbagi informasi perlu diimbangi dengan budaya melakukan verifikasi. Kecepatan menyebarkan informasi tidak boleh mengalahkan ketelitian memeriksa kebenarannya. Dalam dunia digital, setiap orang pada hakikatnya telah menjadi bagian dari ekosistem media. Apa yang kita bagikan, komentari, atau dukung akan ikut menentukan kualitas ruang publik.

Ada satu kecenderungan lain yang patut menjadi perhatian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konten yang membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau konflik cenderung lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang informatif. Karena itu, membangun masyarakat yang belajar juga berarti membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Kita memerlukan lebih banyak konten yang menumbuhkan rasa ingin tahu, menginspirasi kolaborasi, memperlihatkan praktik baik, dan membuka ruang dialog yang konstruktif. Ruang digital seharusnya menjadi tempat masyarakat bertumbuh bersama, bukan sekadar arena pertarungan opini.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Teknologi tidak secara otomatis membuat masyarakat menjadi lebih maju ataupun lebih mundur. Arah perkembangan masyarakat tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Kecerdasan buatan, internet berkecepatan tinggi, dan berbagai inovasi digital hanya akan menghasilkan kemajuan apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki budaya belajar yang kuat.

Membangun masyarakat yang belajar bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, dan dipelihara melalui media serta platform digital yang sehat. Ketiga komponen tersebut saling melengkapi dalam membentuk warga yang mampu berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Jika budaya belajar terus tumbuh di tengah masyarakat, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang menguasai teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu mengarahkan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Di era AI, ukuran kemajuan bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa bijaksana masyarakat memanfaatkannya.

Monday, April 13, 2026

Quod non capio, falsum est!

In the wake of the Artemis II successful moon fly-by mission, I start to think that Flat Earth People, or Moon Landing Deniers, do not believe it because they think it's impossible for them to do, or the thing is incomprehensible given our limited observation capability. Hence, they want some sort of "security in their thoughts" by rejecting the science.

When someone says, "I don't understand how X could be true, therefore X is false," they are protecting themselves from the discomfort of living with uncertainty. The human mind craves coherence. If rocket science, relativity, or orbital mechanics feel like magic, rejecting the conclusion outright restores a clean, manageable worldview.

Flat Earthers and Moon Landing Deniers often say things like:

    "We've never seen the curve with our own eyes."

    "No one can show me a live video of Earth rotating from space that I can't fake."

They elevate direct, unaided sensory experience as the only valid form of evidence. But science works through indirect inference—telescopes, photos, math, testimony of experts. To a mind seeking security, indirect evidence feels like a conspiracy.

Rejecting science isn't just about logic; it's about trust. Accepting the Moon landing means trusting thousands of engineers, astronauts, and governments. That requires intellectual vulnerability. Denial replaces that vulnerability with a fortress: "I alone can see through the lie."

That's deeply reassuring. It turns ignorance into a badge of skepticism.

There's also a pride element. If someone says, "This is too complex for me to understand," that feels like a personal failure. But if they say, "It's fake," they become the heroic truth-teller. Denial transforms bewilderment into mastery.

Quod non capio, falsum est! meaning "If I don't understand, then it's fake!" 

It isn't just a logical error. It's an emotional survival strategy for people who find the real world is too complicated to trust. It isn't just stubbornness; it's a kind of epistemic self-defense.

Tuesday, February 17, 2026

Nexus

Hari-hari ini adalah momen-momen yang menarik di kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Tanggal 14 Februari lalu beberapa orang merayakan Hari Valentine. Tanggal 17 Februari ada perayaan Tahun Baru Imlek. Tanggal 18 Februari Rabu Abu, dan tanggal 19 Februari awal puasa. Itu pun ada yang sudah mulai puasa tanggal 18 Februari. Momen kultural dan keagamaan bersilangan, berkelindan, sampai ada Mall yang bingung mau pasang warna apa. Kalau pasang warna pink, tapi kok Imlek itu merah. Kalau mau pasang hijau untuk menyambut Ramadhan, tapi kok Valentinan. Akhirnya ada yang pasang warna biru neon...

Nexus Moment seperti ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali "kepercayaan" atau "beliefs". Manusia pada saat ini bukan hanya "Homo Sapiens" (wise human) tapi juga "Homo Fidelis" (faithful human). Dalam jalinan tenun kemasyarakatan yang semakin kompleks, kepercayaan seseorang membentuk identitas diri di tengah milyaran manusia, baik itu kepercayaan relijius-spiritual, kultural, politik, epistemologis, ataupun kepercayaan-kepercayaan yang lain.


Secara etimologis, kata "percaya" dalam Bahasa Indonesia memiliki akar Sanskrit प्रत्यय (pratyaya) yang merupakan kata gabungan dari kata प्रति- (prati-, “towards”) dan अय (aya, “going”). Terjemahan Bahasa Indonesia bebas-nya "pratyaya" itu bermakna "condong menuju". Secara definisi bahasa, "beliefs" atau "kepercayaan" itu bersifat sirkular: kecenderungan seseorang untuk mempercayai suatu ide, proposisi, atau keadaan sebagai kebenaran, yang terkadang tidak memerlukan bukti absolut yang dapat diuji. Artinya bahwa kepercayaan tidak identik dengan sekumpulan pengetahuan yang dibangun melalui verifikasi empiris, melainkan lebih dekat kepada disposisi kognitif-afektif: kecenderungan untuk memberi bobot kebenaran pada suatu proposisi sebelum, atau bahkan tanpa, konfirmasi final. Beberapa orang mungkin berusaha menjustifikasi kepercayaan-nya dengan cara ilmiah, namun ketika ide atau proposisi tersebut sudah masuk dalam ranah kepercayaan, ia sudah tidak lagi bisa didekati secara ilmiah. 


Kepercayaan bersifat personal, intim, dan sakral. Namun dalam proses pembentukan kepercayaan pada seorang individu, yang terjadi adalah negosiasi identitas sosial. Seseorang tidak pernah membangun kepercayaannya di ruang hampa; ia selalu berada dalam jejaring diskursus, norma, simbol, dan relasi kuasa yang membentuk dirinya. Setiap keyakinan yang tampak sebagai pilihan privat sesungguhnya lahir dari dialog yang terkadang harmonis, namun seringkali pula konfliktual, antara pengalaman personal dan ekspektasi kolektif. Dalam kerangka ini, kepercayaan menjadi arena tempat “aku”, "kita" dan “mereka” saling berkelindan: apa yang diyakini seseorang tentang dunia, tentang kebenaran, bahkan tentang dirinya sendiri, adalah hasil interaksi antara narasi internal dan pengakuan eksternal. 


Di sinilah kemudian fenomena yang sering terjadi di media sosial berakar: kontestasi kepercayaan. Jadi meskipun secara individu kepercayaan itu sifatnya personal, seseorang tidak lepas dari kebutuhan untuk menegosiasikan kepercayaan mereka pada ranah interpersonal. Sebagian besar individu melakukan hal tersebut mungkin hanya bertujuan untuk menunjukkan siapa dirinya (eksistensi), namun tidak sedikit pula yang memang bertujuan untuk men-challenge kepercayaan orang lain. Karena memang beliefs itu tidak bisa diubah oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mengubahnya, namun orang lain bisa menantang (to challenge) kepercayaan yang kita miliki baik itu kepercayaan epistemologis, spiritual-relijius, politis, ataupun yang lainnya.


Pada momen neksus kultural seperti yang terjadi di pertengahan Februari 2026 ini, kontestasi kepercayaan jamak terjadi di media sosial. Yang paling ramai mungkin tentang perbedaan awal bulan puasa. Padahal biasanya kalau pas tidak saling bebarengan terjadinya, topik hangatnya bergeser satu-satu mulai dari pro-kontra perayaan Valentine sampai dengan pro-kontra Shio/Zodiak yang berkaitan erat dengan perayaan Imlek. Kontestasi ini berasa seperti konflik karena sifat kepercayaan yang personal, intim, dan sakral itu tadi. Kritik atau tantangan yang ditujukan untuk sebuah ide atau proposisi dirasakan oleh pemilik ide/proposisi itu tadi sebagai serangan terhadap pribadi-nya.


Barangkali yang perlu kita sadari dalam Nexus Moment seperti ini bukanlah bagaimana membuat semua benang dalam jalinan tenun kemanusiaan itu menjadi satu warna, melainkan bagaimana kita mengusahakan agar setiap warna benang itu ada tanpa merasa terancam. Pink, merah, abu-abu, hijau, bahkan biru neon yang canggung, semuanya adalah simbol dari kecenderungan manusia untuk “condong menuju” sesuatu yang diyakininya benar. Ketika jutaan orang condong menuju arah yang berbeda pada waktu yang bersamaan, saya rasa yang terjadi bukanlah kekacauan, melainkan orkestrasi yang belum kita pahami nadanya sahaja.


Mungkin kedewasaan kultural justru lahir dari ruas sambung (neksus) ketika kita menyadari bahwa setiap orang sedang “mempercayai” sesuatu yang baginya bermakna. Kita tidak perlu bersepakat untuk bisa saling mengakui eksistensi diri. Kita tidak perlu menyatukan kalender untuk bisa berbagi ruang. Sebab pada akhirnya, menjadi Homo Fidelis bukan hanya soal apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia yang percaya pada hal yang berbeda. Dan di tengah persilangan warna, tanggal, dan narasi, mungkin itulah iman sosial yang paling sunyi, sekaligus paling diperlukan.

Wednesday, December 24, 2025

Mendudukkan Hasil TKA 2025 Pada Tempatnya

Rilis nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA pada tanggal 23 Desember 2025 kemarin, khususnya untuk mata pelajaran Matematika Dasar, mengejutkan sebagian orang. Rata-rata nasional berada di kisaran 30-an, dengan sebagian besar siswa, 75 persentil-nya, bahkan tidak mencapai skor 50. Beberapa orang mungkin akan memaknainya sebagai sinyal kemerosotan kualitas pendidikan. Namun saya perlu menekankan dua hal ini sejak awal. Pertama, klaim “penurunan performa siswa” tidak sah secara metodologis. Kedua, TKA itu sendiri bukan alat ukur yang bebas dari persoalan.

TKA bukan asesmen longitudinal. Ia tidak memiliki baseline historis yang dapat dibandingkan secara setara lintas waktu. Tanpa proses equating, dan tanpa desain pelacakan kohort, TKA tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah kemampuan siswa hari ini lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Dari sudut pandang ilmu pengukuran, menyebut hasil ini sebagai “penurunan” adalah lompatan logika.

Namun, mengkritik keterbatasan TKA tidak otomatis berarti mengabaikan apa yang ditampakkannya. Meski secara psikometrik patut dipertanyakan, pola skor TKA Matematika SMA justru selaras dengan gambaran yang telah lama kita kenal dari berbagai sumber lain. Dalam hal ini, TKA menjadi sebuah indikator kasar yang kebetulan sejalan dengan bukti historis.

Selama lebih dari dua dekade, asesmen internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan kelemahan Indonesia pada literasi matematika —terutama pada aspek penalaran, pemahaman konteks, dan pemecahan masalah non-rutin. Pola yang sama juga muncul dalam laporan-laporan lapangan para guru, komunitas pendidik, dan gerakan literasi numerasi seperti Gernas Tastaka. Narasi ini bukan barang baru, dan jelas tidak lahir bersama TKA.

Karena itu, nilai rendah TKA tidak seharusnya dibaca sebagai gejala kemerosotan mendadak, melainkan sebagai cerminan dari masalah struktural yang telah lama mengendap. Jika ada yang “baru” dari TKA, itu bukan kondisi siswanya, melainkan visibilitas masalahnya. Angka-angka tersebut terasa mengejutkan bukan karena realitasnya berubah, tetapi karena ia jarang dipaparkan secara telanjang di tingkat nasional.

Akar persoalan ini tidak berada di SMA, apalagi pada angkatan siswa tertentu. Ia tertanam jauh lebih awal, terutama dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Selama bertahun-tahun, matematika di kelas awal lebih sering diperlakukan sebagai keterampilan prosedural: menghafal algoritma, meniru contoh, dan mengejar jawaban benar. Pemahaman konseptual, diskursus matematis, dan refleksi atas kesalahan pemahaman yang dimiliki anak jarang menjadi highlight proses pembelajaran matematika di dalam kelas.

Model pembelajaran prosedural seperti itu menghasilkan ilusi kompetensi. Siswa tampak mampu “mengikuti” pelajaran, naik kelas, dan lulus ujian sekolah. Namun fondasi numerasi yang rapuh itu bersifat kumulatif. Ia diwariskan dari SD ke SMP, lalu ke SMA. Pada titik tertentu —ketika soal menuntut integrasi konsep dan pemaknaan konteks— struktur tersebut runtuh. Hasil TKA, seberapa pun problematis instrumennya, somehow berhasil menangkap keruntuhan tersebut.

Di sinilah pentingnya untuk Kita berhati-hati agar kritik terhadap TKA tidak berujung pada pengingkaran masalah yang lebih besar. Menyalahkan instrumen semata berisiko menjadi jalan pintas untuk menghindari refleksi sistemik. Sebaliknya, menerima TKA secara mentah-mentah juga berbahaya, karena ia memberi ilusi ketepatan ukur yang belum tentu dimilikinya.

Posisi yang lebih jujur adalah ini: TKA bukan alat ukur yang ideal, tetapi hasilnya konsisten dengan sejarah panjang kelemahan numerasi di Indonesia. Ia tidak membuktikan penurunan performa siswa, namun juga tidak bisa diabaikan begitu saja sebagai “sekadar hasil tes yang buruk”.

Oleh karenanya, respons kebijakan yang rasional bukanlah panik, bukan pula defensif. Fokus pada perbaikan di SMA tanpa menyentuh pembelajaran matematika di SD hanya akan mengulang siklus yang sama. Selama cara anak-anak belajar memahami angka, besaran, dan relasi tidak dibenahi sejak awal, apa pun nama asesmennya, angka rendah akan terus muncul. Perbaikan proses pembelajaran matematika yang mendasar perlu dilakukan. Masalah yang terpotret oleh TKA bukan masalah yang terjadi pada satu generasi siswa. Masalahnya adalah hutang pedagogis yang telah menumpuk lama. TKA, dengan segala keterbatasannya, kebetulan membuka sedikit tirai yang memungkinkan kita, masyarakat awam, mengintip kenyataan tersebut.

Thursday, December 18, 2025

Refleksi 2025

Pendek pendek saja ya.

Tahun 2025 ini bagi saya adalah tahunnya Petrikhor dan Omaggio. Saya mulai bikin Petrikhor untuk sarana belajar sepanjang hayat pada pertengahan Maret 2025, pas bulan puasa. Omaggio mulai beroperasi pertengahan September 2025. Dua dua-nya passion project, semoga bisa langgeng.

Kemudian bulan Oktober 2025 ikut konferensi TEFLIN di Malang. It was fun. Saya belajar lagi tentang narrative inquiry

Selain itu, saya mulai belajar bikin experience di Roblox, dan juga ngulik SurveyJS.

Tidak ada satu pun yang saya rencanakan, saya orangnya memang go with the flow saja.

Pertengahan Juni 2025 menandai berakhirnya project neurodiversity. Saya belajar banyak tentang pendidikan inklusi dan neurodiversitas, lalu tersambung dengan simpul-simpul layanan disabilitas di Indonesia.

Reuni Selawe Sak Lawase Padmanaba55 di awal September 2025 dan reuni Elektro Noceng di awal Agustus 2025 tentu juga jadi highlight tahun ini.

Secara garis besar: eeh, not too bad.

Di luar kehidupan pribadi, situasi sosial nasional semakin menyedihkan dalam sudut pandang saya. Mulai dari program program pemerintah yang "ajaib", sampai kulminasinya adalah Bencana Sumatera di akhir November 2025.

Namun seperti kata Jason Czyz pas sarasehan di IIEF awal bulan ini, kita harus melihat strengths. Jangan melulu melihat weaknesses.

Striking balance antara berpikir positif dan memelihara skeptisisme itu memang proses belajar sepanjang hayat. Lagi-lagi, tema kehidupan saya nampaknya memang life-long learning, belajar sepanjang hayat.

Menilik ke depan 2026 mau ngapain? Yaa... pengennya sih banyak. Tapi seperti biasanya, saya pasrah ikut saja Gusti Alloh mau membawa saya ke mana. 

Tuesday, May 27, 2025

Advanced Educational Technology Discography

 One night, at the beginning of this semester, I sent a WAG message to my students:


 Indeed, music became an integral part in my course. I know my students better through their music. It's all started in 2021, when I first teaching at SU with cohort 2018: Rena, Nami, et al. It was in pandemic situation. Hence, the song of this cohort is really just about that: the feels of isolation, yet we hope someday all the shit is over. 


Teaching them is my gateway to Korean music indeed. 

Then came cohort 2019. They were a lot. I mean ... they were 24 students. I spent extra time to have one-on-one coding consultation with each of them, to make sure that at the very least, their module is in a good shape. And they did make it good.

There are several songs that reminds me of them. Rachel put Yellow cover by Brooklyn Duo in her artstep project in final EDUTECH assignment. That, I will never forget. It's like a full circle to me when I played the song for them and they gave it back to me. Lots of the folk liked K-Pop, so Rose's On The Ground reminds me a bunch of them. And they were resilient. Despite of shortcomings, they tried their best. Yura Yunita's Merakit never fails to make me watery eyes while thinking about some students in cohort 2019. 

Maybe one song that represents them the most is Coldplay's Fix You. I played the original song in the class. But Jacob Collier has an incredible cover at the end of last year: 


Cohort 2019 is indeed pretty special to me. Some of them took their time, traveled to Jogja for vacation and stopped by my house. Some of them, I supervised their capstone and a bunch more asked me for advice even though I was not their supervisor. Some worked in a "research-for-fun" with me. A bunch of them still say hi to me through WhatsApp or Instagram.

Collier's Fix You illustrate it best.

After the pandemic is over, I was given the privilege to teach my courses online. But I go to SU when I see it fits and is necessary. 

My first face-to-face (F2F) meeting was with cohort 2020, the pandemic cohort. They started their journey in Sampoerna University fully online. Fadil didn't even show up when I had my first F2F meeting because he is still on the way to Jakarta from Kalimantan.

This cohort, so far, is the most musical. 

Well, there's El. But there's also Syifa who self declared having Ph.D. in DAY6 (a band from Korea) and metal head Jessica. In fact, I started my "Student" playlist in this cohort. I filled the list with DAY6's Time of Our Life, an OST from Persona5 (a game that Fadil spent his life force on before he met 'the girl'), "Bad Things" from a rock indie band Prevail introduced to me by Jessica and some other songs.

However, Miley Cyrus' "Flowers" has a special place in our collective memory. Jessica presented lyricstraining for Technology in Teaching Listening/Speaking and the whole class jammin' to Miley's tune.

I found that the mashed song cover by Poomplamoose  represent the dynamics, the creativity, and the quirk of cohort 2020.



They are a bunch of students who asked me the most questions to ponder in class.

I'm still looking forward to cohort 2021 playlist, but as I said, in my opinion they are not "musical". I mean, maybe they love music but I never be able to probe what their music is all about. I would guess maybe similar to K-Pop thingy, but some of them have old soul as well. In all of those mystery, I'd like to hook this cohort with Beethoven's Moonlight Sonata. It's complicated. It's hard to play. But it's beautiful af. 



It's really ironic though, since Ally and Nat probably the only two students who spent three semester with me. They took ADV.EDUTECH with 2020 cohort and then took the regular EDUTECH on the next semester, and TLL on the semester after that. But somehow, 2021 is overshadowed by their "neighboring" cohort.

And finally, the 2022 cohort. The cohort whom I sent this message to. It's the end of the semester and I found a perfect song for them. Teaching faculties in SU often advertise their cohort as one of the best they had. And surely, they didn't disappoint. They're crazy, but crazy good. Quirky. Unique. Creative. Hard-working. Resilient. All the good things. A "Crazy" song cover from Walk Off The Earth would fit their characteristics perfectly. But no. Our interaction during the semester is more than that. This cohort is always looking for connections. Something that has meaning beyond the face value. So I wouldn't choose classical music even though Celine would love it. I wouldn't choose any oldies like Michael Learns To Rock's "Strange Foreign Beauty", or some MRT song that Gio put in their Spotify list for me (Yes, MRT stands for Mono Rail Train).

Their song, in my opinion is this:


This is a soundtrack of Sakamoto Days anime series, aired on Spring 2025. Exactly. This cohort only doing one semester with me because in the Fall 2024, I didn't teach. And Sakamoto and his bunch portrayed my interaction with this cohort perfectly. Not to mention, the Japanese vibe of Gaby and her SONIC obsession is too strong LOL.

I am looking forward to meet the next cohort. I wonder what their song would be. Or would Sakamoto be my last song? I never know.

Tuesday, January 28, 2025

Transgresif

Jadi latar belakangnya ... saya dan tiga orang teman saya yang lain, somehow, punya grup IG yang membahas per-taytay-an ... fart jokes alias "dagelan entut" dan sejenisnya begitulah. Kami saling kirim reels terkait dengan aktivitas saluran pencernaan yang paling akhir ... kadang begitu informatif, kadang ya plain njijiki(gross). Lumayanlah untuk melatih mental.

Saya lalu penasaran dan tanya ke Gemini, kenapa untuk beberapa orang dagelan entut itu lucu:

Jawaban lengkapnya seperti ini:

Fart jokes tap into a few different aspects of humor that make them funny for many people:

  • The Unexpected and Uncontrollable: Farting is a natural bodily function that is often considered impolite or embarrassing in public. The unexpectedness and lack of control associated with it can be inherently funny. It's a sudden, often noisy interruption of the normal flow of things.
  • Breaking Social Taboos: There's a certain transgressive element to fart jokes. They violate social norms about what is considered polite or proper, and this can be humorous. It's a way of playfully rebelling against social constraints.
  • The Grotesque Body: As mentioned in one of the search results, fart jokes relate to what's called the "grotesque body" in humor theory. This refers to the focus on the lower bodily functions and things that are usually hidden or considered distasteful. Bringing these things into the open can be both shocking and funny.
  • Relatability: Everyone farts. It's a universal human experience. This relatability can make fart jokes funny because people recognize the situation and can laugh at something they've all experienced.
  • Incongruity: Humor often arises from incongruity, which is a mismatch between what is expected and what actually happens. A dignified person farting loudly in a formal setting is a classic example of this. The incongruity between the setting and the action creates humor.

It's worth noting that humor is subjective, and not everyone finds fart jokes funny. What one person finds hilarious, another might find childish or distasteful. However, the elements mentioned above explain why this type of humor has enduring appeal for many people.

Tautan asli: https://g.co/gemini/share/b58647d7bb61

...

Begitulah ... dan saya tidak pernah sekali pun membayangkan ada istilah "dagelan entut itu transgresif" ...

Terimakasih AI!


Tuesday, November 26, 2024

Hari Guru 2024

Setiap hari guru, saya tertarik untuk merenungkan kembali makna kata guru.

Tahun ini, saya tertarik untuk membandingkan kata guru dari satu Bahasa ke Bahasa lain. Saya pernah sih melakukannya, tapi kebetulan tahun ini ada tambahan Bahasa yang saya pelajari, jadi boleh lah membuat iterasi.

Mari kita mulai dengan Latin. Dalam Bahasa Latin, guru adalah magister (untuk laki-laki) dan magistra (untuk perempuan). Kata ini sepadan dengan Bahasa Spanyol maestro (untuk laki-laki) dan maestra (untuk perempuan). Di dalam Bahasa Inggris, kata ini diadopsi menjadi kata master. Uniknya, pemahaman umum kata master itu terkait dengan penguasaan suatu keterampilan seperti misalnya pada frasa "kungfu master". Artinya bahwa secara inheren, guru itu punya taraf keahlian tertentu yang implikasinya adalah dia mampu mengajarkan apa yang dikuasainya kepada orang lain.

Kata master ini jelas lebih bernuansa dari kata teacher yang sekedar menempelkan akhiran yang bermakna pelaku pada sebuah kata kerja yang berarti mengajar. Dalam Bahasa Indonesia, bisa kita analogikan bahwa guru itu master, teacher itu pengajar. 

Dalam Bahasa Jepang, ada beda makna antara kyoshi (yang akan didapat ketika memasukkan entri teacher pada Google Translate) dengan sensei/shiso. Mudahnya, kyoshi itu pengajar, sensei itu guru.

Dalam Bahasa Arab juga ada istilah yang berbeda untuk teacher dan master. Simplifikasinya, teacher itu mudaris (pengajar madrasah), sensei itu al ustadz. Meskipun demikian, Bahasa Arab punya istilah macam-macam yang membawa nuansa yang berbeda-beda terkait dengan kata guru di antaranya: mursyid, mu'allim, sayyid.

Kata guru dalam Bahasa Indonesia sendiri adalah serapan dari Bahasa Sanskerta. Dalam Bahasa Sanskrit, gu punya makna kegelapan dan ru punya makna penghapusan. Jadi tidak salah apabila ada ungkapan Bahasa Indonesia di mana guru adalah pelita dalam kegelapan.

Yang menarik, kata guru dalam Bahasa Sanskrit itu terkait dengan kata gravis dalam Bahasa Latin. Gravis itu bermakna berat, seperti pada kata gravitasi. Dalam perspektif ini, kita bisa mengapresiasi bahwa tugas guru itu bukan tugas yang ringan.

Kata membawa makna dan diselimuti konteks budaya.

Saya cukup tertarik dengan salah satu postingan rekan guru di FB yang kurang suka dengan perayaan hari guru. Yang saya tangkap, antara realita dan idealita guru yang mulia itu berbeda jauh. Menurutnya, guru hanya dimuliakan ketika upacara hari guru saja. Kenyataannya nasib guru di Indonesia jauh dari ideal.

Jangan-jangan ketika kita merayakan hari guru itu yang kita rayakan memang istilah guru dalam bayangan utopia kita, bukan manusianya.

Dalam bayangan utopis saya, guru itu terkait ilmu, keterampilan, kebijaksanaan, kemuliaan. Tidak ada satu pun makna yang terkait dengan keduniawian. Sehingga sudah menjadi kewajiban negara untuk menjamin kesejahteraan-nya. Pertanyaannya, sudahkah?


Selamat Hari Guru Nasional 2024!

Sunday, November 10, 2024

Interviewing Gemini

Tadi pagi, somehow saya punya ide untuk mewawancarai Gemini (kecerdasan buatan-nya Google). Seperti yang kita tahu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) itu pada dasarnya hanyalah sebuah kalkulator raksasa yang memprediksi kata yang paling mungkin muncul berdasarkan "latihan" ataupun "data" yang dia punya. 

Artinya, kalau kita menyematkan peran kepada si AI, kita akan mendapatkan jawaban yang paling mungkin muncul dari peran tersebut.

Berikut wawancara pertama yang saya lakukan dengan si Gemini, dalam bahasa Inggris (karena kebetulan di kepala saya pertanyaannya dalam bahasa Inggris). 


Q : Can you play a role as an elementary school teacher in Indonesia? I am about to interview you regarding your experiences as an elementary school teacher in Indonesia.

A (Gemini, Nov 10, 2024, 00.20 AM) : Yes, I can play the role of an elementary school teacher in Indonesia. Please feel free to ask me any questions you have about my experiences as an elementary school teacher in Indonesia. I will do my best to answer your questions accurately and comprehensively.


Q : Alright, as an elementary school in Indonesia, what challenges that you are facing right now?

A : As an elementary school teacher in Indonesia, I face several challenges. One of the biggest challenges is the large class sizes. Often, I have to teach a class of 40 or more students, which makes it difficult to give individual attention to each student. This can also lead to discipline problems and difficulty in managing the classroom.

Another challenge is the lack of resources. Many schools in Indonesia do not have enough textbooks, teaching materials, or technology to support learning. This can make it difficult to teach effectively and engage students.

Additionally, the diverse backgrounds of my students can pose a challenge. Some students come from disadvantaged backgrounds and may lack basic necessities like food and shelter. This can affect their concentration and motivation in the classroom.

Lastly, the expectations placed on teachers are often high. We are expected to not only teach academic subjects but also instill good values and character in our students. This can be overwhelming, especially when we have limited resources and support.


Q : Very interesting. What kind of support do you hope you have right now?

A : I would love to have more support in the following areas:

Smaller class sizes: This would allow me to give more individual attention to each student and create a more personalized learning experience.

More resources: Having access to more textbooks, teaching materials, and technology would enhance the quality of my lessons and make learning more engaging for my students.

Professional development opportunities: Regular training and workshops would help me stay updated on the latest teaching methods and strategies.

Mental health support: As a teacher, I often face stress and burnout. Having access to counseling or therapy services would help me maintain my well-being and be a more effective educator.

Community involvement: Building strong relationships with parents and the community would create a supportive network for both students and teachers.

By addressing these areas, I believe I can become a more effective teacher and provide a better education for my students.


Q : Ok. Can you elaborate more about professional development opportunities? What kind of professional development do you have, and what has been lacking in terms of teacher professional development in Indonesia?

A : Currently, I have access to various professional development opportunities, including workshops, seminars, and online courses. These sessions often focus on improving teaching methods, classroom management, and curriculum development. However, there are still areas where professional development could be enhanced:

Relevance and Practicality: Many professional development programs lack practical applications and fail to address the specific challenges faced by teachers in the classroom.

Ongoing Support: While initial training is important, ongoing support and mentorship are crucial for continuous improvement.

Focus on Student-Centered Learning: More emphasis should be placed on student-centered approaches and innovative teaching strategies.

Technology Integration: With the increasing role of technology in education, teachers need training on how to effectively integrate technology into their lessons.

Collaboration and Networking: Opportunities for teachers to collaborate with peers and share best practices would foster a sense of community and professional growth.

By addressing these gaps, Indonesia can provide more effective and meaningful professional development opportunities for teachers, ultimately leading to improved student outcomes.


Q : Ok, thank you for your time. I might have follow up questions later.

A : You're welcome! I'm happy to answer any follow-up questions you may have. Feel free to reach out anytime.

Monday, August 14, 2023

Nglakoni

Laku, dalam konteks ini bukan Bahasa Indonesia yang berarti "berhasil terjual" ya. Ini Bahasa Jawa. Laku itu kurang lebih artinya "tindakan"; atau lebih dalam lagi, artinya "aksi/perbuatan/pekerjaan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, totalitas, sepenuh hati". Panjang ya?

Kata ini mendasari kata lain: Lakon. Lakon itu semacam "adegan/kisah dalam sebuah cerita". Kehidupan manusia misalnya, bisa kita lihat sebagai "lakon". Setiap orang punya peran masing-masing.

Ketika diimbuhi dengan awalan dan akhiran, kata lakon ini bertransformasi menjadi "hanglakoni" (singkatnya: nglakoni) yang artinya kurang lebih: "menjalani". Tersirat di dalam kata nglakoni adalah penerimaan sepenuhnya atas peran yang sedang dijalani. Ada unsur kepasrahan, namun seperti halnya kata yang mendasari (i.e. laku), nglakoni itu lebih berat kepada unsur kesungguh-sungguhan.

Di dalam kerangka/framework "nglakoni" yang memadukan antara laku dan lakon, terdapat keseimbangan antara usaha manusia (determinasi dalam menjalani laku) dan ketentuan takdir (lakon yang kadarnya sudah tertentu). Semisal ketika seseorang menjadi sesuatu (e.g. sultan atau rakyat jelata, kaya atau miskin, sekolah di universitas A, bekerja di perusahaan K, bapak rumah tangga, etc.) itu merupakan fungsi integral antara laku dan lakon. Artinya bahwa dalam "menjadi" itu ada porsi laku, ada pula porsi lakon.

Gathuk mathuk-nya begini: Homo Sapiens itu desain evolusi-nya adalah berdiri tegak dan berjalan. Berjalan dalam Bahasa Jawa: mlaku (kembali lagi pada laku-lakon-nglakoni itu tadi). Sehingga "nglakoni" itu boleh dibilang adalah "amanat evolusi manusia".

Nglakoni adalah sesuatu yang mendefinisikan kita sebagai manusia. Implikasinya, kita adalah apa yang kita lakukan dalam kerangka lakon yang sedang dijalani/dilakoni.

Thursday, May 04, 2023

Pendidikan dan Pematetikan

Ada setidaknya dua jenis orang. Yang pertama adalah orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicucinya di rak pengering dengan rapih. Yang kedua adalah orang yang ketika mencuci piring, meletakkan piring yang sudah dicuci di rak pengering dengan asal-asalan sehingga menciptakan sebuah struktur yang lebih layak disebut sebagai "Jenga Tower". Kenapa "Jenga Tower"? Karena ketika tersenggol sedikit saja, struktur-nya bisa rubuh.

Apa kaitannya cuci piring dengan pendidikan? Dan apa pula itu pematetikan? 

Pendidikan memiliki kata dasar "didik" yang sangat mungkin memiliki keterkaitan ataupun asal muasal kata dari kata Yunani "didaktik" (διδακτικός) yang secara harfiah bermakna "pengajaran". Sudut pandangnya sudut pandang sistem/guru sebagai subjek, peserta didik sebagai objek. Sehingga wajar saja sebenarnya jika selama ini (dan mungkin kebanyakan) kelas-kelas kita masih berpusat pada guru (teacher-centered). Toh, makna harfiah dari kata-nya begitu.

Ada sebenarnya kata yang mewakili "hal-hal terkait belajar" yang dicetuskan oleh Seymour Papert: "matetik". Kalau di-Indonesia-kan mungkin jadi "pematetikan". Ini sudut pandangnya sudut pandang si belajar sebagai subjek, ilmu sebagai objek. Lalu guru sebagai apa? Guru sebagai katalis saja, pihak yang menyediakan fasilitas dan kesempatan untuk si belajar menjalani petualangan belajar-nya. Bahasa kekinian-nya tentu saja "student-centered learning" (yang menurut saya sebenarnya istilahnya redundant ... kalau learning ya sudah semestinya student-centered), "active learning", "experiential learning", dan lain sebagainya.

Bahasa Inggris juga sama saja sebenarnya. "Education" itu "ex ducare" yang kurang lebih artinya "memimpin ke luar". Guru/dosen/docere adalah pemimpin bagi siswa-nya untuk keluar dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa. Mulia memang, tapi tetap saja sama dengan kata "pendidikan", aktor utamanya si pemimpin itu tadi.

Banyak sebenarnya kemudian tokoh-tokoh yang berusaha memaknai ulang "pendidikan" dengan membawa kata yang berat maknanya ke pengajaran menjadi kata yang setidaknya bermakna pembelajaran. Salah satu yang kita kenal tentu saja Maria Montessori. Ide Montessori kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk membuat kredo "Tut Wuri Handayani". Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tidak menolak ide bahwa guru adalah pemimpin yang harus berada di depan memberikan tauladan, "Ing Ngarso Sung Tuladha". Beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya peran guru adalah berada di tengah-tengah siswa-nya, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama membangun motivasi untuk berkarya, "Ing Madya Mangun Karsa". Namun peran yang paling utama dari seorang guru adalah "Tut Wuri Handayani". "Handayani" memiliki kata dasar "daya" dan secara umum bermakna "memberdayakan". Seperti ide Montessori di mana guru harus membiarkan "inner-potential of the students unfold", maka peran guru yang utama adalah memberikan panggung kepada para siswa agar mereka bersinar. Ide ini mirip dengan ide Papert tentang "matetik".

Pematetikan itu adalah proses pembekalan keterampilan belajar. Keterampilan belajar itu adalah fondasi bagi seseorang untuk menavigasi kehidupan, apalagi di dalam era di mana informasi itu begitu berlimpahnya dan sangat mudah diakses di ujung jari kita sedemikian rupa sehingga banjir informasi itu membuat kita tidak mampu lagi mencerna mana informasi yang benar mana yang keliru, bahkan mana yang palsu. Termasuk di dalam kategori keterampilan belajar adalah keterampilan untuk bertanya, keterampilan untuk mencari informasi yang terpercaya, keterampilan untuk mengkomunikasikan ide, keterampilan untuk menerima perbedaan dan keberagaman. Orang mungkin bisa berargumen bahwa keterampilan itu sudah diajarkan, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun apa benar demikian? Beberapa ahli pendidikan seperti James Paul Gee, Sugata Mitra, dan Ken Robinson berpendapat bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya masih berkutat dengan materi-materi "just-in-case", bukan memperlakukan materi itu sebagai informasi "just-in-time". Belum lagi ketika kita bicara tentang administrasi, penjaminan mutu, tes, dan lain sebagainya. Secara umum, kita masih berkutat pada pendidikan bukan pematetikan. 

Ketika kita masih berkutat dengan didaktik, sangat sulit bagi kita untuk mendiskusikan mengenai matetik. Padahal, tanpa membekali anak-anak kita -para pemuda-pemudi harapan bangsa- dengan keterampilan belajar, ibaratnya kita mendesain sebuah sistem yang sengaja membiarkan mereka gagal di masa depan. Persis dengan orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicuci itu asal-asalan saja sehingga strukturnya lebih mirip "Jenga Tower". Saya kurang tahu mana yang lebih buruk, apakah pencuci piring yang hobi membuat "Jenga Tower" atau jenis orang ketiga: orang yang tidak mau cuci piring.

P.S.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023 (2 Mei kemarin). 

Seperti kata teman saya di WAG, karena pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga, maka ucapan selamat ini berlaku untuk semua orang tua, wali siswa, dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan.

Saturday, September 17, 2022

Blessing Or Curse?

Pengetahuan. Itu bisa jadi berkah (blessing) pun bisa jadi kutukan (curse). Tidak heran salah satu ijazah-nya Bapak itu kalau diterjemahkan kurang lebih "aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat".

Tapi hidup itu seringkali tidak sehitam putih itu ... seringkali hidup ini abu-abu seperti sehelai uban yang ragu-ragu apa dia mau jadi putih, tapi kalo dibilang putih kok ya nggak putih-putih amat. Krisis usia pertengahan itu ya begitu itu. Kalau pengetahuan itu bukanlah berkah pun juga bukan kutukan, lalu apakah dia?

Terkadang pengetahuan itu sekedar untuk pelengkap hidup. Kata orang Jawa "nggo pepak-pepak ndonya". Ya biar komplit gitu lah hidup ini. Bayangkan hidup tanpa pengetahuan ... tak terbayangkan. Seperti apakah pengetahuan yang sekedar pelengkap saja?

Saya punya contoh, tapi agak panjang ceritanya.

Jadi begini ... Nafiisa sejak sudah bisa telungkup dan telentang lagi, kemudian berguling-guling, dia (seperti kakaknya, Najwa waktu bayi) jatuh dari tempat tidur. Nah supaya aman, kasur Nafiisa sekarang di lantai dan ada pembatasnya ... seperti crib begitu tapi besar. Crib yang dipinjami kak Dessi sementara belum terpakai karena Nafiisa belum bisa sleep through the night, masih kebangun bangun terus.

Karena kasurnya di lantai, tentunya kalau pas kasur itu diinjak, akan membentuk formasi yang mirip-mirip dengan kontinum ruang-waktu di mana terdapat massa yang cukup besar sehingga ruang-waktu tersebut membentuk kurva. Ini contoh pengetahuan yang sifatnya "pepak-pepak ndonya" itu tadi. 

Apalagi kalau pas di kasur itu tadi ada bola-bola plastik kecil mainan Nafiisa yang kemudian menggelinding ke arah kaki ... saya jadi membayangkan kaki saya itu sebuah lubang hitam yang menarik massa benda angkasa lain dalam kontinum ruang waktu yang membentuk kurva (which is actually cuma kasur itu tadi).

Gegara pengetahuan yang sifatnya pelengkap itu tadi, kasur dan bola plastik mainan kok ya jadi space-time dan black hole ... mau dibilang tidak bermanfaat kok ya itu pengetahuan tentang cosmos, mau dibilang bermanfaat kok ya itu cuma kasur keinjek ...

Apa dulu Minkowski (ilmuwan yang punya ide untuk memvisualisasikan spacetime) juga punya bayi yang jatuh dari tempat tidur lalu memindah kasurnya ke lantai ya? 

Tuesday, December 28, 2021

Omaggio Puzzle

Click the green flag button to start.
Click object to rotate.
Drag to solve.

Monday, November 29, 2021

Failure

What do I think about failure?

One of the big things about game is that, in the game, failure is not punishing. I mean, yeah you can quit the game and it is not a big deal. Sometimes I am thinking that why don't we treat life the same? Everyone in education strives for success, strives for achievement. But the reality is, there are many many failures in education unaddressed. I am one of them. I am a failure.

So, as an instructor or learning facilitator what do I do? Is it not the things I do for the learners for their success?

Yes and no. I do everything I can on my capacity to provide the best learning environment (as I know it) for my students. That is true. And that is the bare minimum I can do for them. Do I not want them to succeed? Well, of course I am happy when they succeed. So in part, I want them to succeed. But I deeply understand that success in education is not that simple. It is a messy process with a lot of confounding factors. Sometimes, success even shouldn't be attributed to a single person. It is a social trait. Somebody could achieve something since only and only if those intricate factors support them to be. I, as an instructor, am just a very small factor among all of those intertwining web of factors.

But it is my responsibility to provide the best support I can offer. That is an instructor credo.

How if one of my students failed? I won't mad. I won't sad. I understand. Something might happen, outside my circle of influence. But before that happened, I just wish he/she had the opportunity to reach me out so that I might help.

It is just like in a game. You may quit. You may fail. But not before you give your best shot.

Thursday, November 25, 2021

Guru

Di dalam Bahasa Indonesia, kata "guru" memiliki berbagai padanan kata dan makna. Pengajar, pendidik, instruktur, orang yang digugu dan ditiru, mentor adalah beberapa contoh makna "guru" yang kita pahami selama ini. Namun secara etimologis, kata "guru" itu kata serapan dari bahasa Sanskrit "गुरु" (guru). Dalam bahasa Sanskrit, kata itu memiliki dua makna. Jika dia adalah kata benda, maka "guru" bermakna "seseorang yang dihormati" atau lebih literal lagi "guru" bermakna "darkness destroyer, seseorang yang menghancurkan kegelapan".

Yang menarik mungkin, kata "guru" memiliki cognate alias keterhubungan makna dengan kata Latin "gravis". Tentu saja, karena dalam bahasa Sanskrit, makna kedua dari kata "guru" adalah jika dia merupakan kata sifat maka "guru" berarti "heavy, berat".

Menarik ya?

Jika "guru" adalah kata benda, maka dia adalah penghancur kegelapan. Jika "guru" adalah kata sifat, maka dia itu berat.

Ingat istilah "gaya gravitasi"? Gravitasi itu memiliki akar kata Latin "gravis", berat. Gaya gravitasi adalah gaya yang ada karena interaksi dua benda yang memiliki massa (berat).

Di titik inilah kemudian insting gathuk mathuk (mencocok-cocokkan) saya bekerja.

Guru eksis karena adanya interaksi dua manusia. Tidak akan ada guru jika tidak ada murid.

Saya percaya, belajar itu sosial. Ketika kita merayakan Hari Guru, dimana secara kultural kita memang selayaknya berterimakasih kepada semua guru yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan, secara implisit sebenarnya kita juga merayakan eksistensi kita sebagai murid, sebagai seseorang yang memiliki kehendak terhadap ilmu. Toh, guru dan murid itu dua entitas yang tak terpisahkan oleh "gaya gravitasi".

Selamat Hari Guru 2021!

Wednesday, August 04, 2021

Omakase Versi Jawa

Omakase itu, setau saya dari nonton yutup, artinya "percaya saja sama kokinya". Jadi kalo situ reservasi di restoran omakase, dapatnya menu nanti tergantung sama kokinya. Kita sebagai kastomer nggak bisa milih menu. Reservasi omakase biasanya untuk makan malam. Jadi si koki pagi pagi pergi ke pasar, mencari bahan yang menurut dia terbaik hari itu, lalu akan dia sajikan untuk makan malam bagi kastomer yang sudah reservasi di restorannya.

For better or worse, di Jawa ada juga establishment semacam restoran omakase tanpa reservasi. Namanya warung sayur siap saji pagi pagi. Kalo situ anak kos atau keluarga kecil yang malas memasak di wilayah Jogja dan sekitarnya, sampeyan pasti familiar dengan warung sayur yang ini. Menunya tiap hari ganti, tergantung kokinya. Sama kan dengan restoran omakase? Kadang formasi sayur yang digelar adalah sayur buncis, sayur tahu-jagung muda, dan oseng kikil. Lain hari mungkin ada sayur nangka muda, oseng teri, dan cap cay goreng. Sampeyan tinggal datang, tunjuk sayur yang diinginkan beserta seberapa banyak dalam angka rupiah. Misalnya, "mbah, tumbas oseng kikil gangsal ewu." Itu artinya si pembeli ingin membeli oseng kikil senilai Rp. 5.000. Pakai Bahasa Indonesia juga boleh, tapi umumnya yang pakai Bahasa Jawa porsinya agak dilebihin sama yang jual.

Kemiripan lain antara omakase yang ada di yutup dengan warung sayur siap saji pagi pagi itu adalah interaksi antara pelanggan dengan penjual yang biasanya juga merangkap kokinya. Melalui interaksi sosial inilah terjadi proses belajar. Ini salah satu bentuk social learning. Biasanya, koki omakase berperan sebagai pendengar yang baik ataupun melayani pertanyaan-pertanyaan pelanggan. Tidak jarang melalui interaksi hangat antara pelanggan dan koki itu terselip buah kebijaksanaan.

Salah satu contoh obrolan di warung sayur siap saji di suatu pagi dalam suasana lockdown :

Ibu Pelanggan : mbah, niki jangan dhong kates nggih? 

Seorang ibu pelanggan bertanya apakah sayur yang di depannya itu sayur daun pepaya

Ibu Sayur : ho oh.

Ibu Pelanggan : pait mbah?

Ibu Sayur : pait ... ning sing nglakoni okeh ... 

Pelanggan : Eaaa ...

Sang koki omakase menjawab dengan canda namun penuh makna. Katanya walaupun pahit, tapi yang menjalani banyak, bersama-sama. Candaan Ibu Sayur itu ditimpali para pelanggan dengan tawa renyah. Benar-benar suasana yang membahagiakan untuk memulai hari sekaligus mengandung perenungan. Seperti kata si Ibu Sayur, tidak semua hal akan indah pada waktunya. Beberapa hal akan indah pada..hal ora. Namanya juga kehidupan.

Terakhir, seperti halnya omakase di yutup-yutup itu, kalau sudah menjadi regulars di warung sayur, Ibu Penjual biasanya paham pelanggan yang ini rumahnya di seberang kali/sungai samping SD, atau pelanggan yang itu ternyata ya cuma tetangga dusun saja. Simpul-simpul sosial --dan tentu saja social learning yang muncul secara organik-- yang terbentuk melalui sesuatu yang sifatnya bisa jadi sangat transaksional itu menurut saya menakjubkan. 

Friday, July 09, 2021

Berduka

Hari hari ini, ketika terjadi outbreak di Jogja, dan juga di Indonesia secara umum, setiap hari ada saja berita lelayu. Mulai dari temannya teman, kerabat teman, sampai teman sendiri, bahkan kerabat sendiri ada yang dipanggil berpulang lantaran covid. Duka. Tentu saja.

Di sisi lain, di media sosial terutama, ide dan opini berseliweran utamanya terkait bagaimana kita menghadapi pandemi ini. Macam macam lah. Ada yang bawaannya NTT (Nanti Tuhan Tolong). Ada yang bawaannya menuduh covid ini konspirasi. Ada yang tidak mau baca berita covid. Ada yang mencari suaka ke pengobatan alternatif. Ada pula yang berusaha memahami pandemi ini secara saintifik. Sak werna-wernane

Ketika ide dan opini itu berbenturan, tidak mustahil terjadi friksi. Entah itu inter-personal. Entah itu sosial.

Saya pribadi malah jadi ingin memahaminya dengan kerangka berpikir "five stages of grief"-nya Kübler-Ross:


Menurut Kübler-Ross, ada lima tahapan orang berduka: Penyangkalan, Kemarahan, Depresi, Pencarian Kesetimbangan, dan Penerimaan. Namun perlu dipahami, proses berduka itu tidak selalu semulus gambar konseptual di atas.


Kenyataannya, berduka itu ruwet seperti benang bundhet. Berduka itu unik pada setiap orang. Aslinya, lima ekspresi duka yang berasal dari pengamatan Dr. Ross terhadap orang-orang yang terminally-ill itu tidak pernah dimaksudkan sebagai peta jalan atau petunjuk mengenai bagaimana seharusnya seseorang berduka.

Setelah memahami "five stages of grief" di atas, saya berusaha memakainya untuk melihat fenomena sosial dimana ide dan opini terkait covid saling berbenturan, terutama melalui media sosial. Pada dasarnya, kita semua sedang berduka. Ada yang ekspresi dukanya denial. Ada yang ekspresi dukanya marah-marah. Ada yang ekspresi dukanya sedih yang tak tertahankan. Ada yang ekspresi dukanya berusaha mencari makna di balik semua ini. Ada yang ekspresi dukanya berusaha move on. Ekspresi-ekspresi duka itu tertuang dalam ketel WAG, Twitter, Facebook, IG, dlsb. sebagai ide dan opini yang berseliweran dan somehow terkadang terjadi konflik alias pertentangan, bahkan kompetisi siapa yang lebih benar ekspresi dukanya. 

Padahal aslinya, kita semua simply sedang berduka bersama-sama.

Friday, May 14, 2021

Kepercayaan

Jam lima sore, sewaktu saya keluar untuk mencari dawet hitam untuk berbuka puasa di hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini, matahari terlihat di langit barat. Lingkaran besar itu berwarna oranye semu merah muda bergerak turun di antara awan yang menggantung. Indah sekali.

Sebagai manusia yang mengidentifikasikan diri saya sebagai seorang muslim beserta seperangkat kepercayaan yang saya miliki, keindahan sore itu tentu saja saya kaitkan dengan suasana akhir Ramadhan menjelang Idul Fitri 1442 H. Seakan-akan alam ikut berbahagia menyambut perayaan fitrah manusia.

Tapi apakah benar begitu?

Kepercayaan individu (personal beliefs) adalah sesuatu yang cukup kompleks. Kepercayaan itu dipengaruhi berbagai faktor seperti akumulasi informasi, pengalaman hidup, interaksi dan afinitas sosial, lingkaran pengaruh, dan lain sebagainya. Mungkin sejak terjadinya revolusi kognitif manusia kurang lebih 70.000 tahun yang lalu, Homo Sapiens berevolusi menjadi makhluk yang tidak saja memiliki pengetahuan tetapi juga makhluk yang memiliki seperangkat kepercayaan sebagai produk dari akumulasi pengetahuan tersebut. Kita menjelma menjadi Homo Fidelis. Hominid yang tidak bisa menghindar dari genggaman seperangkat kepercayaan (set of beliefs) sebagai konsekuensi dari kemampuan untuk berpikir, mengenali pola, mengkoneksikan informasi, dan kemudian berbahasa.

Ketika saya mengagumi indahnya langit sore itu, kepercayaan saya membuat saya berpikir bahwa hari itu begitu istimewa. Terlebih lagi, bisa saja kemudian saya kege-eran mengklaim bahwa begitu spesialnya saya dan seperangkat kepercayaan saya sampai-sampai alam semesta pun ikut berbahagia. Padahal bisa saja orang lain melihat fenomena matahari sore yang indah itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Mungkin, karena sehari-hari mereka sudah biasa melihat matahari terbenam yang indah jadi tidak ada yang spesial (jika dibandingkan dengan saya yang jarang keluar rumah dan melihat langit). Atau mungkin malah hal itu tidak penting sama sekali karena mereka sudah sibuk dengan hal lain. Atau mungkin mereka tidak hidup di lingkungan yang merayakan Idul Fitri dan memiliki kepercayaan yang berbeda dengan saya sehingga tidak ada koneksi antara langit sore yang indah itu dengan melodramatika sebuah perayaan hari besar. Keindahan langit sore itu bisa jadi bias konfirmasi ketika saya melihatnya menggunakan kerangka kepercayaan.

Pemikiran kritis terhadap seperangkat kepercayaan itulah yang mendorong beberapa orang, seperti orang-orang yang mempelajari sains atau filsafat, meragukan agama dan mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Apakah salah apabila seseorang mengkritisi sebuah kepercayaan, meragukan agama, mempertanyakan keberadaan Tuhan?

Pertanyaan mengenai salah benar macam ini tentunya bukan sesuatu yang akan mendapatkan jawaban yang seragam karena jawaban atas pertanyaan ini berkelindan (confounded) dengan kepercayaan orang yang menjawabnya. Ruwet. Njlimet. Belibet. Sehingga saya akan menjawabnya dengan kerangka “menurut saya” karena menurut sampeyan nanti mungkin jawabannya bakalan beda lagi.

Menurut saya, kritisisme itu jika dinikmati sendiri sebagai olah kebatinan ya boleh boleh saja. Repotnya adalah ketika kritisisme itu nanti dilontarkan kepada orang lain atau publik. Tidak semua orang bisa menerima kritisisme yang sifatnya sensitif seperti ini. Sehingga, selalu ada potensi kritisisme ini menyakiti perasaan orang lain yang memiliki kepercayaan yang dikritisi itu. Beberapa orang mungkin punya kepercayaan bahwa tidak masalah memicu gesekan seperti itu, toh hanya masalah perasaan. Itu, lagi lagi, adalah kepercayaan pribadi mereka.

Posisi kritis seseorang terhadap sebuah kepercayaan biasanya dilandasi kepercayaan pribadi (personal beliefs) yang mereka miliki. Jarang-jarang ada orang yang mengkritisi sebuah kepercayaan hanya sekedar untuk melontarkan pertanyaan kritis tanpa membandingkannya dengan kepercayaan pribadi yang dimilikinya. Jadilah kritisisme atas sebuah kepercayaan itu kontestasi antar kepercayaan. Ini adalah konsekuensi dari sifat Homo Fidelis yang hidup dalam lingkungan sosial. Pertarungan kepercayaan.

Seperti halnya pertarungan antar serigala yang memperebutkan posisi alpha male dalam kawanannya, pertarungan kepercayaan pun demikian adanya. Siapa yang memegang pengeras suara memiliki kesempatan untuk mendominasi wacana berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki. Dalam lingkungan virtual, setiap kepercayaan memiliki kesempatan untuk muncul ke permukaan. Namun apa yang kemudian viral merasuk ke bawah sadar pengguna media sosial sesuai dengan gelembung informasi masing-masing. Konten viral pada dasarnya adalah pengeras suara virtual.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai individu? Saya pribadi tidak henti-hentinya meyakinkan diri saya sendiri bahwa tidak setiap kontestasi kepercayaan itu perlu kita perhatikan, bahwa kepercayaan yang saya miliki itu legitimate (sah-sah saja) seperti halnya kepercayaan orang lain juga sama legitimate-nya dalam kerangka kepercayaan masing-masing, dan bahwa kepercayaan itu bersifat intim, hasil dari berbagai faktor yang ada dalam diri kita, sejarah hidup kita, identitas kita. Dan sebagai manusia, kita punya kapasitas berpikir dimana proses berpikir itu nantinya berujung pada seperangkat kepercayaan yang mencerminkan siapa diri kita di antara milyaran manusia.

Oh dan tentang matahari terbenam yang indah itu tadi, saya memilih untuk terpesona saja.

P.S.

Ya owoh ngomyang apa to ya aku ... bakda-bakda kok malah ngomyang tidak jelas wkwkwk. Mohon maklum karena kalau uneg-uneg macam ini tidak dikeluarkan, nanti bisa gila.

Maaf lahir batin aja deh kalo gitu yaa ... Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H bagi yang merayakan. Dan kebetulan ada peringatan kenaikan Isa Al Masih juga kemarin yang dirayakan kaum Kristiani, selamat merayakan hari besar tersebut bagi yang merayakan. Kedua perayaan kepercayaan itu tidak perlu dikontestasikan ehehehe ...

Sedaya lepat nyuwun gunging samudra sih pangaksami.

Sunday, May 09, 2021

Lebaran

Setahu saya, “lebar” dalam Bahasa Jawa itu artinya selesai, bubar, berakhir. Demikian pula, istilah “bakda” dalam Bahasa Jawa digunakan untuk menyebut hari raya Idul Fitri. “Bakda” itu serapan dari kata Arab “ba’da” yang artinya kurang lebih “setelah”. Maksudnya ya setelah Ramadhan itu Idul Fitri.

Idul Fitri memang menandai berakhirnya rangkaian ibadah puasa Ramadhan beserta amalan-amalan lain yang mengikutinya seperti shalat Tarawih, Zakat Fithrah, dan lain sebagainya. Eid sendiri salah satu maknanya adalah festival. Eid Al Fithr tentunya adalah festival yang merayakan fitrah manusia (alastu biRabbikum? Qaalu balaa syahidna).

Namun lucunya, interpretasi kultural -masyarakat Jawa setidaknya- menyiratkan bahwa perayaan Idul Fitri ini seakan-akan merayakan kebebasan atas selesainya kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Jadi puasa sebulan kemarin itu sebenernya tersiksa apa gimana? Kok bubarnya dirayakan dengan Lebaran?

Mungkin interpretasi Lebaran itu baiknya ya mirip-mirip Bakda dimana kita bertanya “lebar pasa njuk ngapa?” atau “bakdal shiyam di bulan Ramadhan trus ngapain?”

Ada orang-orang Jawa yang kemudian membuat jembatan keledai: lebar, lebur, labur, luber. Dimana bulan puasanya lebar alias selesai, lalu dosa-dosa mereka yang menjalani ibadah dileburkan (dengan memohon ampunan Tuhan dan meminta maaf dari sesama), sehingga jiwanya terlabur bagaikan digelontor cat putih supaya tampak bersih temboknya, lalu luberlah (banjirlah) amalan-amalan kebaikan pasca Ramadhan. Itu tampaknya bayangan ideal sesepuh-sesepuh Islam Jawa.

Namun saya punya pikiran lain. Gimana kalau kita ikut-ikutan orang bikin resolusi? Umumnya kan orang bikin resolusi kalau tahun baru ya. Nah ini untuk menjawab “setelah bulan puasa trus mau ngapa?” itu rasanya kalau bikin resolusi lumayan masuk lah. Ndak usah yang berat-berat lah resolusinya. Toh yang namanya bulan Ramadhan itu bulan pelatihan spiritual ya … mesthinya ada dong ya hal-hal yang carry over di bulan Syawwal dan seterusnya sampai ketemu bulan Ramadhan lagi.

Resolusi ini tentunya sifatnya sangat personal. Kalau saya boleh kasih contoh misalnya … kalau pas bulan Ramadhan sudah terbiasa cek dan ricek dalam mempelajari Al Quran misalnya, kenapa enggak itu dijadikan resolusi dimana kita akan selalu cek dan ricek informasi yang datang kepada kita melalui media massa/sosial sehingga kita nggak asal bikin status atau berbagi konten yang ternyata menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain. Kalau tiap tahun kita bikin satu resolusi saja, dalam sisa usia kita yang tinggal berapa tahun (50? 10?) setidaknya kita berinvestasi sejumlah amalan kebaikan yang bisa kita rutinkan (istilah kearabannya: didawamkan).

Semoga bisa ya? Aamiiin.

Selamat menyambut Idul Fitri yang berbahagia meskipun masih dalam suasana pandemi. Semoga keberkahan tercurah bagi seluruh makhluk.

Thursday, April 01, 2021

Peserta Didik

Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB dan pegiat pendidikan, memprotes penggunaan kata peserta didik. Menurut beliau, kosakata kita sudah cukup banyak yang lebih simpel dan bermakna lebih dalam dibandingkan dengan peserta didik. Kita punya kosakata siswa, pelajar, dan murid. 

Penggunaan kata peserta didik, menurut beliau, mereduksi posisi anak-anak menjadi sekedar peserta (yang secara implisit tidak memiliki agensi) dari sebuah kegiatan pendidikan. Lalu bagaimana dengan kosakata lain yang kita miliki?

Siswa adalah kata serapan dari Bahasa Sanskrit शिष्य (baca: sishya) yang memiliki makna "seseorang yang layak mendapatkan instruksi dari seorang Guru". Dalam hal ini, siswa memiliki makna implisit bahwa seseorang harus memenuhi standar kelayakan terlebih dahulu sebelum mendapatkan instruksi dari seorang Guru. Konteks aslinya standar kelayakan tersebut bersifat spiritual, dimana siswa diharapkan telah memiliki adab dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia siap untuk menerima instruksi atau ilmu dari sang Guru.

Kata siswa juga terkait dengan kata "syah" yang bermakna "raja" dalam Bahasa Hindi/Persi/Arab. Syah atau raja adalah pihak yang memiliki kehendak. Sedangkan "sisyah" adalah objek yang menjalankan kehendak dari raja tersebut. Baik "peserta didik" maupun "siswa" secara inheren menyiratkan bahwa anak-anak dalam proses pembelajaran adalah pihak yang mengikuti atau menerima instruksi dari guru. Sebaliknya, "pelajar" dan "murid" memiliki makna implisit dimana anak-anak merupakan pihak yang terlibat aktif di dalam proses pembelajaran. Boleh dibilang kalau "peserta didik" dan "siswa" adalah penamaan dengan landasan kepercayaan epistemologis Behaviorisme. Sedangkan "pelajar" dan "murid" adalah penamaan yang dilandasi Konstruktivisme.

Pelajar adalah seseorang yang melakukan ajar. Ajar sendiri bermakna berlatih; seperti yang ada pada Bahasa Jawa. Oleh karenanya kata pelajar merupakan kata pelaku aktif. Dengan pola konstruksi kata yang sama, kita juga memiliki kosakata pemelajar yang berasal dari akar kata belajar yang ditambahi awalan pe-. Kata pemelajar ini adalah kata yang paling dekat dengan kata "learner" dalam Bahasa Inggris. 

Sedangkan, murid adalah kata serapan dari Bahasa Arab. Akar katanya adalah a`rada - yu`ridu - muriidan yang bermakna "seseorang yang memiliki kehendak (yang ekstensif atau dalam rentang waktu yang panjang) untuk melakukan sesuatu". Kita terkadang mendengar kata dalam Bahasa Arab "iradat" yang bermakna "kehendak". Artinya secara inheren, kata murid memiliki makna bahwa anak yang belajar itu seseorang yang memiliki kehendak (iradat) untuk menuntut ilmu dalam rentang yang lama - bahkan mungkin sepanjang hayat.

Seperti yang telah diungkapkan oleh Prof. Iwan Pranoto, dalam hal menamai seseorang yang belajar, Bahasa Indonesia memiliki pilihan kata yang cukup banyak. Pemilihan kata tersebut mau tidak mau membawa makna inheren dari setiap kata. Tinggal kitanya yang memakai; apakah kepercayaan epistemologis kita lebih cocok dengan Behaviorisme ataukah Konstruktivisme?