Showing posts with label Gernas Tastaka. Show all posts
Showing posts with label Gernas Tastaka. Show all posts

Friday, July 10, 2026

Membagi Tiga

 


Karena kemarin habis ngisi presentasi di depan Widyaprada ("para pemberi ilmu"; Vidya (Sanskrit) = ilmu, Prada (Sanskrit) = donatur) bikin pita pecahan pakai kertas HVS A4, saya jadi penasaran gimana caranya membagi kertas itu jadi 3 sama besar dengan cara origami. Ramban punya ramban di Google, ketemulah gambar garis-garis di atas (yang sebelah kiri).

Karena saya belum puas kalo belum membuktikan sendiri pakai aljabar bahwa x1 itu sepertiganya x1 + x2, akhirnya ya ngorek-orek pembuktian aljabar sendiri.

Misalkan garis BD dan CE itu persamaan garis lurus f1(x) dan f2(x) di mana DE = a ; DA = 2a ; dan DC = x1 + x2, maka ...

f1 = -2a/(x1+x2) * x + k , dan
f2 = a/(x1+x2) * x + k

sehingga f1 - f2 = -3a/(x1+x2) * x  ...... (1)

Ketika x = -x1, f1 - f2 = a (lihat ruas garis DE) ... ini saya lupa nulis titik (0,0) nya di gambar itu di perpotongan garis vertikal dan horizontal ... yang deket tulisan k itu.

Masukkan nilai x dan f1 - f2 ke persamaan (1) dan didapat a = -3a/(x1+x2) * -x1

Kalau diproses persamaannya, jadilah x1 / x2 = 1 / 2 . Dengan kata lain, memang x1 itu sepertiganya x1 + x2.

Ini berlaku untuk persegi panjang dengan ukuran panjang dan lebar berapa pun. Bisa dilihat simulasinya di sini.

Lipatan origami ini akan berguna untuk membuat pita pecahan sepertigaan, seperenaman, dst. 


Wednesday, December 24, 2025

Mendudukkan Hasil TKA 2025 Pada Tempatnya

Rilis nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA pada tanggal 23 Desember 2025 kemarin, khususnya untuk mata pelajaran Matematika Dasar, mengejutkan sebagian orang. Rata-rata nasional berada di kisaran 30-an, dengan sebagian besar siswa, 75 persentil-nya, bahkan tidak mencapai skor 50. Beberapa orang mungkin akan memaknainya sebagai sinyal kemerosotan kualitas pendidikan. Namun saya perlu menekankan dua hal ini sejak awal. Pertama, klaim “penurunan performa siswa” tidak sah secara metodologis. Kedua, TKA itu sendiri bukan alat ukur yang bebas dari persoalan.

TKA bukan asesmen longitudinal. Ia tidak memiliki baseline historis yang dapat dibandingkan secara setara lintas waktu. Tanpa proses equating, dan tanpa desain pelacakan kohort, TKA tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah kemampuan siswa hari ini lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Dari sudut pandang ilmu pengukuran, menyebut hasil ini sebagai “penurunan” adalah lompatan logika.

Namun, mengkritik keterbatasan TKA tidak otomatis berarti mengabaikan apa yang ditampakkannya. Meski secara psikometrik patut dipertanyakan, pola skor TKA Matematika SMA justru selaras dengan gambaran yang telah lama kita kenal dari berbagai sumber lain. Dalam hal ini, TKA menjadi sebuah indikator kasar yang kebetulan sejalan dengan bukti historis.

Selama lebih dari dua dekade, asesmen internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan kelemahan Indonesia pada literasi matematika —terutama pada aspek penalaran, pemahaman konteks, dan pemecahan masalah non-rutin. Pola yang sama juga muncul dalam laporan-laporan lapangan para guru, komunitas pendidik, dan gerakan literasi numerasi seperti Gernas Tastaka. Narasi ini bukan barang baru, dan jelas tidak lahir bersama TKA.

Karena itu, nilai rendah TKA tidak seharusnya dibaca sebagai gejala kemerosotan mendadak, melainkan sebagai cerminan dari masalah struktural yang telah lama mengendap. Jika ada yang “baru” dari TKA, itu bukan kondisi siswanya, melainkan visibilitas masalahnya. Angka-angka tersebut terasa mengejutkan bukan karena realitasnya berubah, tetapi karena ia jarang dipaparkan secara telanjang di tingkat nasional.

Akar persoalan ini tidak berada di SMA, apalagi pada angkatan siswa tertentu. Ia tertanam jauh lebih awal, terutama dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Selama bertahun-tahun, matematika di kelas awal lebih sering diperlakukan sebagai keterampilan prosedural: menghafal algoritma, meniru contoh, dan mengejar jawaban benar. Pemahaman konseptual, diskursus matematis, dan refleksi atas kesalahan pemahaman yang dimiliki anak jarang menjadi highlight proses pembelajaran matematika di dalam kelas.

Model pembelajaran prosedural seperti itu menghasilkan ilusi kompetensi. Siswa tampak mampu “mengikuti” pelajaran, naik kelas, dan lulus ujian sekolah. Namun fondasi numerasi yang rapuh itu bersifat kumulatif. Ia diwariskan dari SD ke SMP, lalu ke SMA. Pada titik tertentu —ketika soal menuntut integrasi konsep dan pemaknaan konteks— struktur tersebut runtuh. Hasil TKA, seberapa pun problematis instrumennya, somehow berhasil menangkap keruntuhan tersebut.

Di sinilah pentingnya untuk Kita berhati-hati agar kritik terhadap TKA tidak berujung pada pengingkaran masalah yang lebih besar. Menyalahkan instrumen semata berisiko menjadi jalan pintas untuk menghindari refleksi sistemik. Sebaliknya, menerima TKA secara mentah-mentah juga berbahaya, karena ia memberi ilusi ketepatan ukur yang belum tentu dimilikinya.

Posisi yang lebih jujur adalah ini: TKA bukan alat ukur yang ideal, tetapi hasilnya konsisten dengan sejarah panjang kelemahan numerasi di Indonesia. Ia tidak membuktikan penurunan performa siswa, namun juga tidak bisa diabaikan begitu saja sebagai “sekadar hasil tes yang buruk”.

Oleh karenanya, respons kebijakan yang rasional bukanlah panik, bukan pula defensif. Fokus pada perbaikan di SMA tanpa menyentuh pembelajaran matematika di SD hanya akan mengulang siklus yang sama. Selama cara anak-anak belajar memahami angka, besaran, dan relasi tidak dibenahi sejak awal, apa pun nama asesmennya, angka rendah akan terus muncul. Perbaikan proses pembelajaran matematika yang mendasar perlu dilakukan. Masalah yang terpotret oleh TKA bukan masalah yang terjadi pada satu generasi siswa. Masalahnya adalah hutang pedagogis yang telah menumpuk lama. TKA, dengan segala keterbatasannya, kebetulan membuka sedikit tirai yang memungkinkan kita, masyarakat awam, mengintip kenyataan tersebut.

Monday, April 28, 2025

Matematika dan Pendapatan

 


Itu grafik nilai Matematika PISA 2022 (sebagai indikator kualitas pendidikan) dari 38 negara yang dipetakan terhadap Pendapatan Per Kapita negara ybs.  di tahun yang sama. Meskipun untuk menarik kesimpulan kausalitas Kita mesti berhati-hati, korelasi antara kedua ukuran tersebut positif: 0.581. Limitasinya tentu saja, nilai PISA itu diukur dari anak SMP dan pendapatan per kapita itu gambaran makro ekonomi sebuah negara pada saat itu. Tapi karena nilai PISA kita bertahun-tahun stabil rendahnya, saya rasa nggak apa apa lah mencoba melihat korelasi kedua ukuran tersebut.

Bisa dilihat, negara2 yang skor PISA (Matematika) nya di bawah 450, hampir bisa dipastikan Pendapatan Per Kapita nya di bawah 25 ribu USD per tahun. Pengecualiannya hanya tiga negara yang saya tandai dengan warna hijau: Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Ketiganya negara minyak.

Sebaliknya, negara2 yang skor PISA (Matematika) nya di atas 450, hampir bisa dipastikan Pendapatan Per Kapita nya di atas 25 ribu USD per tahun.Pengecualiannya hanya dua negara: Turkiye dan Viet Nam. Kedua negara tersebut memilki pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dalam satu dekade terakhir. Dan nampaknya, kedua negara tersebut meletakkan fondasi pertumbuhan ekonomi-nya pada perbaikan mutu kualitas pendidikan seperti yang dilakukan Jepang dan Korea Selatan pasca perang dunia kedua.

Tapi memang sekali lagi, hubungan korelasional itu belum tentu kausalitas. Jika pun kausalitas, Kita harus bertanya apakah karena pendapatan per kapita-nya rendah lalu kualitas pendidikan-nya buruk ataukah sebaliknya karena kualitas pendidikannya buruk sehingga pendapatan per kapita-nya rendah. Ini semacam pertanyaan mana yang duluan, ayam atau telur. Di dalam kerangka teori evolusi, jawabannya yang duluan itu telur. Paralel dengan itu, nampaknya kualitas pendidikan yang buruk berkontribusi terhadap pendapatan per kapita yang rendah.

Sunday, April 03, 2022

Matematika

Ceritanya bulan lalu saya diminta untuk menjadi narasumber pengganti di sebuah webinar tentang Matematika. Ketika dapat tema “Matematika yang Bernalar” dari Pak Rachmat (penyelenggara webinar-nya) untuk didiskusikan, saya sempat mikir gitu. Memangnya ada ya matematika yang tidak bernalar? He he. 

Saya kemudian sempat mendiskusikan hal ini secara singkat dengan Bu Andri, Master Trainer Gernas Tastaka yang seharusnya saat itu menjadi narasumber. Intinya kurang lebih, ada beda pemahaman tentang matematika, terlebih mungkin ada beda dalam praktik membelajarkan matematika. Beda sekolah mungkin bisa beda cara orang belajar, atau memfasilitasi orang lain belajar matematika.

Jadi sebenarnya di sini kapasitas saya, sebagai narasumber pengganti, bukan untuk mendiskusikan bagaimana matematika yang benar atau bagaimana yang salah … atau bahkan mungkin kapasitas saya di sini bukan untuk membahas matematika yang bernalar itu seperti apa. Saya akan lebih cenderung berbagi tentang pengalaman saya sebagai pemelajar matematika, atau math learner.

Sebelum saya berbagi pengalaman saya, mungkin ada baiknya saya memperkenalkan diri lebih lanjut tentang siapa saya supaya Ibu/Bapak bisa memahami bias-bias saya ketika membahas topik “matematika yang bernalar” ini. Semacam jadi tahu siapa sih ini orang kok berani beraninya ngaji matematika gitu. Saya itu guru matematika bukan … punya latar belakang pendidikan matematika juga enggak … ahli matematika apa lagi. Jauh. 

Latar belakang pendidikan saya itu Teknologi Pembelajaran. Agak jauh ya dari matematika? He he. Tenang saja, nanti belakangan akan nyambung kok. Pengalaman saya ngajar matematika itu paling pol saya pernah jadi tutor beberapa anak SMA di Jogja untuk persiapan masuk ujian perguruan tinggi.

Tapi yang jelas, saya suka matematika. Boleh dibilang, saya math enthusiast gitu. Kenapa saya suka matematika? Sebentar lagi akan saya ceritakan melalui pengalaman-pengalaman saya. Dan melalui antusiasme saya terhadap matematika ini, saya diajak Mbak Puti terlibat di Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) sebagai sukarelawan, voluntir. Saya bukan trainer tapi ya. 

Peran saya di Gernas Tastaka yang utama sebenernya adalah pengembang manipulatif virtual untuk Gernas, terutama pas hangat-hangatnya pelatihan Gernas Daring di akhir tahun 2020. Pas pandemi masih tinggi-tingginya. Tapi kadang saya juga melayani diskusi-diskusi lain, umumnya kalau terkait dengan pengembangan media pembelajaran daring.

Nah, dengan latar belakang saya itu tadi, yang bisa saya tawarkan di sini adalah sudut pandang atau point of view saya terhadap matematika yang mungkin sifatnya relatif subyektif.

Melalui tiga pengalaman saya, mungkin nanti Ibu/Bapak sekalian dapat mengambil pelajaran atau sudut pandang yang relatif baru begitu tentang matematika … 


* * * 


Pengalaman Pertama

Sewaktu saya SD, saya memandang matematika itu sebagai ilmu tebak-tebakan. Atau mungkin saya melihat sekolah secara umum itu pada dasarnya institusi tebak-tebakan … mohon jangan tersinggung duluan ya yang guru-guru. He he. Itu karena sejujurnya apa yang saya lihat dari kacamata saya ketika saya masih SD.

Kok bisa begitu? Pertanyaannya … lha kok enggak?

Jaman saya SD bahkan sampai SMP-SMA, isinya kan kurang lebih supaya nilai tes-nya bagus. Jadi ya buat saya, sekolah itu permainan tebak-tebakan.

Kalo anak sekarang mungkin ekstrim-nya mensejajarkan sekolah dengan Squid Game. Ada yang tau Squid Game? Yang belum pernah nonton Squid Game Squid Game itu semacam permainan yang didesain sedemikian rupa sehingga cuma ada segelintir … tepatnya satu … orang yang bertahan gitu. 

Lebih parah lagi, di rumah, saya diajarin Bapak saya matematika itu ya melalui permainan tebak-tebakan. Tebak-tebakan kelereng. Yang tadinya di dalam genggaman ada lima kelereng, kemudian diambil tiga kelereng di tangan kanan yang terbuka, saya disuru nebak berapa kelereng yang digenggam Bapak saya di tangan kiri. 

Ini saya bukan nyalahin Bapak saya lho ya … bahkan kata Bu Andri, Bapak saya sudah benar cara mengajarinya supaya saya punya number sense. Saya-nya aja yang salah paham, bukannya melihat itu sebagai number sense, tapi saya lihat itu sebagai child play. Karena saya melihatnya sebagai sebuah permainan, efikasi saya terhadap matematika cukup tinggi. Saya mikirnya, toh ini hanya permainan anak-anak belaka. Salah jawab pun tidak apa-apa. It's just a game. Tapi nanti melalui pengalaman-pengalaman yang lain, saya mendapatkan sudut pandang yang berbeda.


* * * 


Pengalaman Kedua

Sewaktu saya SMA, saya beruntung diajar oleh guru yang cukup nyentrik. Namanya Pak Rani. Hampir semua teman saya tidak suka dengan Pak Rani. Karena cara ngajarnya “nggak jelas”, mana nilainya susah, soal-soal ulangan-nya naudubilah di luar jangkauan nalar anak SMA kami Nilai dua atau bahkan satu itu umum kami dapatkan … padahal nilai maksimalnya seratus …

Saya ingat sekali ketika Pak Rani masuk kelas kemudian bertanya, “lingkaran itu apa?”

Dari satu kelas ke kelas yang lain … saya sekolah di SMA 3 Yogyakarta yang cukup terkenal anaknya pintar-pintar … tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan Pak Rani dengan benar waktu itu. Pak Rani menunggu sampai ada yang menjawab dengan benar selama pelajaran. Ada kali kalau 55 menit penuh hanya diisi dengan murid-murid yang saling menatap antara kebingungan dan takut dan heran kenapa semua jawaban yang kami berikan salah … Semua kelas berujung dengan Pak Rani yang patah hati dan keluar kelas dengan menggerutu karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan beliau dengan benar.

Padahal jawaban yang memuaskan Pak Rani waktu itu hanya satu kata: HIMPUNAN.

Kalau dijawab “himpunan”, beliau akan lanjut bertanya “himpunan apa?”

“Himpunan titik-titik yang memiliki jarak yang sama dari satu titik acuan tertentu pada sebuah bidang.”

Kalimat itu keluar dari memori saya bukan karena saya mengingat kata per kata, tapi karena saya membayangkan lingkaran itu sendiri. Berkat Pak Rani.

Kelas berikutnya, Pak Rani memberikan latihan soal banyak sekali. Beliau menjanjikan akan memberikan soal tambahan yang lebih sulit kalau ada yang berhasil menyelesaikan latihan soal yang beliau berikan.

Saya somehow jadi bersemangat. Kalo tebak-tebakan yang beginian mah saya bisa. Saya kerja lebih keras dari teman-teman sekelas saya. Saya rela bangun dini hari buat ngerjakan soal latihan dari Pak Rani. Kalau teman-teman saya sampai LKS #7, saya sudah kerjakan sampai LKS #10. Ketika itulah Pak Rani memberikan selembar kertas yang berisi soal yang lebih sulit. 

Seringnya saya gagal, dan teman-teman saya menyusul saya. Lalu Pak Rani nyuruh saya untuk mengerjakan LKS lagi. Tapi suatu saat saya berhasil menjawab salah satu soal yang sulit itu. Saya lupa soalnya macam mana. Tapi saya ingat betul Pak Rani datang ke meja saya. Lalu beliau ngorek-orek (mencorat-coret) meja saya dengan kapurnya untuk mengajari saya one-on-one.

Dalam satu tahun saya belajar dengan Pak Rani, ada tiga kesempatan beliau mendatangi meja saya dengan kapurnya.

Kesempatan pertama, beliau mencorat-coret hirarki lema teorema rumus apa lah itu saya tidak ingat persis, tapi saya ingat beliau bilang “matematika itu seperangkat aturan”. Saya memahaminya bahwa matematika itu hukum. Persamaan itu tentang mencari keadilan, keseimbangan. Ketika saya ikuti aturan dengan benar, saya akan mendapatkan apa yang saya cari.

Kesempatan kedua, Pak Rani masih meneruskan topik matematika itu hukum dengan memberikan nasehat ke saya “kalau kamu nggak bisa selesaikan masalah dengan rumus, kembalikan ke definisinya”.

Kesempatan ketiga, Pak Rani memberitahu saya sesuatu yang buat saya waktu itu mind blowing : “matematika itu bahasa”.

Perspektif saya berubah total. Yang tadinya saya menganggap matematika itu permainan tebak-tebakan, jadi berubah. Semacam “oiya ya … baru sadar saya … simbol-simbol itu … persamaan-persamaan itu … semua ada maknanya … simbol-simbol itu nggak ada bedanya sama kata-kata yang kita pakai dalam kita berbicara”.


* * *


Pengalaman Ketiga

Sewaktu studi lanjut, saya ada tugas mata kuliah disuru baca bukunya Seymour Papert, judulnya The Children’s Machine. Di dalam buku ini Papert merumuskan landasan teori belajar konstruksionisme. Salah satu pembahasannya adalah tentang “mathetics”. 

Jadi menurut Papert kurang lebih ilmu tentang mengajar itu ada namanya: DIDAKTIK namun pasangannya yaitu ilmu tentang belajar itu belum ada namanya. Papert lalu mengusulkan kata MATETIK.

Apa hubungannya matetik dengan matematika? Akar kata-nya serumpun. Sama-sama dari bahasa Yunani. Matetik itu dari kata μάθηση (mathese) yang mendapat imbuhan -τικος (-tikos). μάθηση itu artinya “belajar”. Imbuhan -τικος adalah imbuhan yang mengubah kata yang ditempeli menjadi kata benda atau memiliki sifat terkait dengan kata dasar yang ditempeli itu. Mathetikos itu berarti kurang lebih segala sesuatu tentang belajar atau yang bersifat seperti itu.

Nah, sekarang μάθημα (mathema) itu adalah kata benda yang artinya pelajaran. Mathematikos tentu saja jadi segala sesuatu yang terkait dengan mathema, pelajaran. Lho kok umum banget begitu ya? Kenapa enggak biologi kemudian dinamakan matematika? Atau kewarganegaraan, kenapa enggak dinamakan matematika juga? Toh semuanya pelajaran kan?

Kalau dipikir-pikir matematika itu sebenarnya memang sekumpulan pelajaran. Aritmatika misalnya, dari kata αριθμός (arithmos) yang berarti bilangan dengan imbuhan -τικος … segala sesuatu yang terkait dengan bilangan. Geometri … ukuran-ukuran Bumi. Trigonometri … ukuran-ukuran segitiga. Calculus … kerikil-kerikil yang merepresentasikan penghitungan perubahan yang mendekati nol. Statistika … segala sesuatu yang terkait dengan keadaan negara yang direpresentasikan dengan data. Topologi … studi tentang tempat. Apalagi? Logics, Aljabar, Game Theory, Discrete Mathematics … banyak lagi.

Tapi memang, semacam kesepakatan dan persepsi umum tentang matematika itu yang seperti-seperti itu. Yang seperti apa? 

Apakah matematika itu selalu tentang angka? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang grafik, kurva, bidang, garis? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang penalaran? Sebenernya iya, tapi pada praktiknya ada yang menjadikan matematika itu hafalan tanpa penalaran. Jadi ya tidak selalu. Kata Bu Andri, matematika itu isinya hanya dua. Kalau bukan tentang himpunan ya tentang fungsi. Lagi lagi ini bahasa matematika. Apa itu himpunan? Apa itu fungsi? 

Kembali lagi tentang “matematika itu bahasa”, bagi saya pribadi matematika itu bahasanya orang belajar. Salah satu makna belajar itu adalah “ketika seseorang menemukan keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain”. Sekumpulan hal itu himpunan. Keterkaitan itu fungsi. Matematika merepresentasikan keterkaitan antar hal atau sekumpulan hal dengan simbol simbol. 

Pelajaran pelajaran seperti biologi, sejarah, seni, budaya dan lain sebagainya itu pada umumnya sekumpulan pengetahuan yang memiliki ciri-ciri spesifik. Ketika kita berusaha mencari keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain di dalam bidang studi itu, kita dapat merepresentasikannya dengan simbol untuk membuatnya lebih sederhana untuk dipahami. Di situlah kemudian matematika berperan di dalam bidang-bidang studi itu. Ketika di sana ada pola, di sana ada matematika. Ketika di sana ada pemecahan masalah, di sana ada matematika juga karena untuk memecahkan masalah kita perlu memahami keterkaitan antar hal. Jadi memang matematika, secara umum, itu ada di mana-mana. Termasuk di bidang studi yang saya pelajari: Teknologi Pembelajaran.

Ketika saya menggambar TPACK Framework dengan menggunakan tiga lingkaran yang beririsan, itu Diagram Venn, matematika. Ketika saya menyusun tahapan-tahapan pembelajaran, itu algoritma, matematika. Ketika saya mengembangkan media belajar dengan menggunakan program komputer, membuat pernyataan kondisional pakai logika Boolean, matematika banget.


* * * 


Epilogue

Jadi “matematika yang bernalar” itu seperti apa? Saya tidak tahu. Saya kembalikan saja kepada Ibu/Bapak sekalian. Kalau saya sih setuju dengan Bu Andri. Matematika itu pada dasarnya pasti bernalar, praktik-nya saja kadang-kadang yang tidak pakai nalar.

Dari ketiga pengalaman saya, pemahaman saya tentang matematika itu berubah dari sesuatu yang sesederhana tebak-tebakan waktu SD sampai sesuatu yang lebih konseptual seperti “matematika itu bahasa” yang saya pahami saat ini. Saya nggak akan klaim kalau pemahaman saya ini pemahaman yang benar, tapi setidaknya saya mau memberikan sudut pandang alternatif … siapa tahu ada yang sebelumnya belum pernah melihat dunia matematika dari sudut pandang ini …

Terimakasih :)

Tuesday, January 18, 2022

Kepekaan Bilangan Tipis Tipis

Carilah pasangan angka yang menghasilkan 9 bila dijumlahkan.

Monday, November 08, 2021

Perfect Square

Click the green flag button to start.
Click the red square to clone it. You can move it around.
It will be deleted if the square touches the edge.
You can change the square size.

This is not a game. This is a virtual manipulative.

Wednesday, September 29, 2021

Pengurangan Model Sedekah

Habis ikut Bincang Gernas Tastaka jadi punya ide tentang pengurangan model sedekah. Maksudnya gimana ini? Sedekah kok mengurangi? Bukan begitu Ferguso ... 

Gini ...

Biasanya pengurangan kan modelnya "gunggung susun". Contoh:

43 - 29 = ?

Jaman dulu, kita selesaikan permasalahan itu dengan metode kurang susun:

43

29

---- -

14

Di situ ada proses "pinjam" 10 dulu biar bisa dikurang sama 9. 

Nhaa ... ini menanamkan mental ngutang. Hayah. Hahaha.

Gimana kalau menyelesaikan masalahnya dengan sedekah saja.

43 disedekahi 1, 29 juga disedekahi 1 sehingga jadi kayak begini:

43 - 29 = (43 + 1) - (29 + 1) = 44 - 30 = 14

Kayak lebih panjang tapi lebih gampang mengurangkan 30 dari 44. Terlebih, ngajarin sedekah pula. Bukan ngutang. #OpoSeh 

Asalnya dari a - b = a - b + x - x = (a + x) - (b + x)

Coba pakai angka lain.

51 juta - 26 juta = ?

Saya sedekahi 4 juta dua duanya ... kurang dermawan apa coba ...

Jadi, 

55 juta - 30 juta = 25 juta  

Perlu bikin hestek nggak nih? #matematikaSedekah 

wkwkwkwkwkwk

Wednesday, July 01, 2020

Mewarnai Kapal

Tantangan Pertama

Instruksi:

1. Klik bendera hijau.
2. Klik setiap bagian kapal untuk mengubah warnanya. Klik lagi jika menginginkan warna yang berbeda. Tersedia 2 warna berbeda (merah dan biru)
3. Warnailah 2 bagian gambar kapal yang ada dengan 2 warna berbeda (merah dan biru) dan dengan susunan warna yang berbeda pada setiap kapalnya.




Tantangan Kedua

Instruksi:

1. Klik bendera hijau.
2. Klik setiap bagian kapal untuk mengubah warnanya. Klik lagi jika menginginkan warna yang berbeda. Tersedia 3 warna berbeda (merah, kuning, dan hijau)
3. Warnailah 3 bagian gambar kapal yang ada dengan 3 warna berbeda (merah, kuning, dan hijau) dan dengan susunan warna yang berbeda pada setiap kapalnya.




Tantangan Ketiga

Instruksi:

1. Klik bendera hijau.
2. Klik setiap bagian kapal untuk mengubah warnanya. Klik lagi jika menginginkan warna yang berbeda. Tersedia 4 warna berbeda (merah, kuning, hijau, dan biru)
3. Warnailah 4 bagian gambar kapal yang ada dengan 4 warna berbeda (merah, kuning, hijau, dan biru) dan dengan susunan warna yang berbeda pada setiap kapalnya.




Dari "Tantangan Pertama" ke "Tantangan Kedua" lalu ke "Tantangan Ketiga", adakah pola dalam pengerjaannya? Jika ada, bagaimana polanya?

Saturday, June 27, 2020

Membuat Bangun Datar v.2

Warnai bidang di atas dengan menge-klik segitiga-segitiga kecil yang ada. Klik pada segitiga yang sama akan mengubah warnanya. Klik empat kali akan mengembalikan warnanya.

Dengan mewarnai bidang di atas, bisakah kamu membuat:
> Segitiga siku-siku
> Segitiga sama sisi
> Jajar genjang
> Layang-layang
> Trapesium
> Belah ketupat

Catatan: tombol Hapus membersihkan semuanya.

Mengukur Persegi Panjang

Misalkan sebuah kotak persegi pada bidang kotak-kotak di atas memiliki luas 1 cm2, coba ukurlah:

1. luas persegi panjang besar

2. luas persegi panjang kecil

klik-tahan-dan-geser persegi panjang yang diinginkan untuk meletakkannya di atas bidang kotak-kotak.

Wednesday, June 24, 2020

Segi Empat Yang Mana

Klik bendera hijau untuk memulai lagi kuis-nya dan temukan bangun segi empat yang lain!

Friday, June 19, 2020

Mewarnai Bangun Datar

Instruksi:
Klik bendera hijau sampai muncul bidang dengan segitiga-segitiga kecil

Warnai bidang di atas dengan menge-klik segitiga-segitiga kecil yang ada. Klik pada segitiga yang sama akan menghapus/mengembalikan warnanya.

Dengan mewarnai bidang di atas, bisakah kamu membuat:
> Segitiga siku-siku
> Segitiga sama sisi
> Jajar genjang
> Layang-layang
> Trapesium

Catatan: tombol Hapus membersihkan semuanya.

Tuesday, June 16, 2020

Nilai Tempat Bilangan

Instruksi:
Klik kotak-kotak berwarna di sebelah kiri untuk menambahkan kotak ke kolom yang sesuai.

> Klik bendera hijau untuk membersihkan tabel.
> Klik anak panah biru untuk menggabungkan/menukar nilai tempat yang sudah terkumpul

Penjumlahan Pengurangan Dua Bilangan

Instruksi
Baca keterangan berikut dengan seksama:
# Klik bendera hijau untuk membersihkan layar / reset
# Buat dulu dua bilangan, caranya:
- Klik kotak merah muda (satuan) dan/atau kotak hijau (puluhan) untuk membuatnya.
- Klik pada kotak biru bilangan untuk memilih bilangan yang diinginkan.
# Anak panah digunakan untuk menggabungkan/menukarkan nilai tempat bilangan yang memiliki tanda centang.
- Klik pada kotak biru bilangan untuk memilih bilangan yang diinginkan - Klik anak panah ke kiri untuk menukarkan kelipatan 10 satuan menjadi puluhan. - Klik anak panah ke kanan untuk menukarkan 1 puluhan menjadi 10 satuan. # Tanda jumlah/kurang digunakan untuk melakukan operasi penjumlahan atau pengurangan.
# Selalu klik bendera hijau untuk memulai penjumlahan/pengurangan yang baru (reset).

Catatan:
1. Karena tempat yang terbatas, bilangan yang dapat dibuat tidak bisa terlalu besar (sekitar 60-an saja)
2. Operasi pengurangan di sini adalah Bilangan I dikurangi dengan Bilangan II
3. Operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana ini ditujukan untuk mengenalkan operasi-operasi tersebut kepada murid kelas 1-3 SD