Showing posts with label himpunan yang terserak. Show all posts
Showing posts with label himpunan yang terserak. Show all posts

Wednesday, August 13, 2025

Pak Rani

Karena tahun ini adalah 25 tahun setelah kelulusan SMA, angkatan saya mengadakan reuni perak (besok) September 6, 2025. Salah satu acaranya adalah mengundang guru-guru untuk menyambung silaturahim dan menyampaikan bakti sebagai murid (dan mungkin juga meminta maaf atas kenakalan-kenakalan kami jaman SMA). Ada 30 sekian guru yang masih sugeng yang berhasil dikontak via WA/HP. Hanya satu, Pak Rani, yang tidak dapat dikontak melalui WA/HP. 

Pak Rani sudah purna tugas sejak tahun 2012/2013, salah satunya karena kondisi matanya yang memburuk karena glaukoma. Kemudian beliau memilih untuk balik ke kampung halaman-nya di Gunung Kidul. 

Pada tahun 2016, mas Zaki (kakak angkatan kami) mengunjungi beliau bersama beberapa rekan-rekan lintas angkatan dan membuat dokumentasinya di YouTube. Ketika saya mengontak beliau via e-mail, mas Zaki bilang kalau sudah lupa alamat tepatnya di mana. Demikian juga Pak Nana, Guru Fisika kami yang pernah beberapa kali berkunjung ke rumah Pak Rani, sudah lupa alamat beliau tepatnya di mana ketika kami tanyai.

Untung-nya mas Zaki sempat menuliskan nama dusun-nya di video dokumentasi tadi. Terlebih lagi, di akhir video, mas Zaki dan rekan-rekan menggunakan drone untuk menangkap pemandangan di sekitar rumah Pak Rani. Berbekal Google Earth dan footage mas Zaki, saya berusaha geo-guessing alamat Pak Rani. Saya punya dugaan kuat lokasinya di mana.

Siang tadi, saya meluangkan waktu untuk scouting rumah Pak Rani supaya panitia reuni perak Padmanaba 55 tidak perlu mencari-cari lagi ketika ingin berkunjung membawa besekan reuni perak. Karena kondisi Pak Rani yang menderita glaukoma, saya berpikir bahwa ater-ater yang sifatnya olfaktori lebih cocok. Saya racik sendiri sekotak teh jambu (Omaggio Signature Tea) dan saya sertakan gula batu bersama kotak teh tersebut.


Sekitar pukul 15.30 motor saya sampai ke titik pinpoin geoguessing yang saya lakukan. Ada seorang bapak-bapak sepuh yang sedang membersihkan halaman. 

"Nuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun Pak Rani Guru SMA 3 ten pundi njih?" saya bertanya di mana rumahnya Pak Rani.

"Lha, ngajengan niku daleme. Ingkang jendhelane kebukak setunggal," si bapak memberitahu bahwa rumah Pak Rani tepat di depan saya, yang jendelanya terbuka satu.

Saya ketuk rumahnya.

"Kula nuwuuun," saya berharap ada orang di rumah.

Seorang mas-mas keluar membukakan pintu.

"Sinten njih?" mas-mas itu bertanya siapa saya.
 
"Kula madosi Pak Rani. Kula murid-ipun Pak Rani saking SMA 3," saya bilang kalau saya mencari Pak Rani dan saya murid beliau di SMA 3 Yogyakarta.

Mas-mas tersebut, yang belakangan saya ketahui adalah putranya Pak Rani, mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tak berapa lama Pak Rani menemui saya, dan pertanyaannya sama "njenengan sinten?"

Saya jelaskan duduk perkaranya bahwa angkatan saya mau reuni, pengen ngundang Pak Rani ke sekolah bila berkenan, dan sebagainya. Singkat cerita, karena kondisi penglihatan beliau, beliau tidak berkenan untuk datang ke sekolah. Saya menyampaikan bahwa teman-teman memahami sepenuhnya dan menyampaikan salam takzim dari semua teman-teman seangkatan.

Beliau berusaha mengingat-ingat nama yang beliau kenali dari angkatan kami.

"Bebek?" tanya Pak Rani.

Saya menahan tawa. Pertama karena memang ada teman sekelas saya yang nama panggilannya Andi Bebek. Kedua karena dari sekian banyak (sekitar 230-an orang lebih), kok ya yang diingat si Bebek.

"Namanya unik, jadi berkesan," kata Pak Rani.

Saya kemudian ngobrol banyak hal dengan Pak Rani. Mulai dari matematika, penjurusan SMA, sampai dengan pohon jati. Satu hal yang saya pelajari hari ini adalah bahwa di mata Pak Rani, saya hanyalah murid biasa saja. Padahal di antara teman-teman (saya mau nyombong sedikit), saya salah satu dari beberapa murid seangkatan yang bisa memahami jalan pikiran Pak Rani. It was a very humbling experience. I might have some skills, but still, I am just some ordinary student.

Yang kedua, saya belajar hal baru dari Pak Rani, tentang bagaimana matematika itu tujuan akhirnya adalah mencari kebenaran dari konjektur-konjektur yang dibuat manusia. Setelah dua puluh lima tahun berlalu, beliau masih saja mengajarkan hal baru tentang matematika yang selama ini saya belum pahami.

Yang ketiga, semua akrobat matematika yang harus angkatan kami lakukan di kelas tiga SMA (jaman itu) ketika belajar dengan Pak Rani, ternyata sumbernya Singaporean Math. Pak Rani pada zamannya begitu terinspirasi dengan kurikulum matematika Singapura. Sekarang semua jadi jelas bagi saya  mengapa dulu kami begitu menderita ketika diajari Pak Rani: memang beda level....

Last but not least, saya bersyukur Pak Rani tampak sehat (walaupun penglihatannya sudah nol katanya), tampak damai, tampak santai, dan tampak menikmati hidup. 

Ketika hari menjelang petang, saya pamit pulang. Sempet kehujanan cukup deras di seputaran RS Panti Rahayu. Mungkin hujannya kiriman dari Pakdok Arian (sahabat karib saya, mantan Kepala RS Panti Rahayu) di Kupang.

P.S. Buat panitia reuni yang mau bersilaturahim ke rumah Pak Rani, alamatnya Ds. Ngrombo II, Kelurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. 


Tuesday, May 27, 2025

Advanced Educational Technology Discography

 One night, at the beginning of this semester, I sent a WAG message to my students:


 Indeed, music became an integral part in my course. I know my students better through their music. It's all started in 2021, when I first teaching at SU with cohort 2018: Rena, Nami, et al. It was in pandemic situation. Hence, the song of this cohort is really just about that: the feels of isolation, yet we hope someday all the shit is over. 


Teaching them is my gateway to Korean music indeed. 

Then came cohort 2019. They were a lot. I mean ... they were 24 students. I spent extra time to have one-on-one coding consultation with each of them, to make sure that at the very least, their module is in a good shape. And they did make it good.

There are several songs that reminds me of them. Rachel put Yellow cover by Brooklyn Duo in her artstep project in final EDUTECH assignment. That, I will never forget. It's like a full circle to me when I played the song for them and they gave it back to me. Lots of the folk liked K-Pop, so Rose's On The Ground reminds me a bunch of them. And they were resilient. Despite of shortcomings, they tried their best. Yura Yunita's Merakit never fails to make me watery eyes while thinking about some students in cohort 2019. 

Maybe one song that represents them the most is Coldplay's Fix You. I played the original song in the class. But Jacob Collier has an incredible cover at the end of last year: 


Cohort 2019 is indeed pretty special to me. Some of them took their time, traveled to Jogja for vacation and stopped by my house. Some of them, I supervised their capstone and a bunch more asked me for advice even though I was not their supervisor. Some worked in a "research-for-fun" with me. A bunch of them still say hi to me through WhatsApp or Instagram.

Collier's Fix You illustrate it best.

After the pandemic is over, I was given the privilege to teach my courses online. But I go to SU when I see it fits and is necessary. 

My first face-to-face (F2F) meeting was with cohort 2020, the pandemic cohort. They started their journey in Sampoerna University fully online. Fadil didn't even show up when I had my first F2F meeting because he is still on the way to Jakarta from Kalimantan.

This cohort, so far, is the most musical. 

Well, there's El. But there's also Syifa who self declared having Ph.D. in DAY6 (a band from Korea) and metal head Jessica. In fact, I started my "Student" playlist in this cohort. I filled the list with DAY6's Time of Our Life, an OST from Persona5 (a game that Fadil spent his life force on before he met 'the girl'), "Bad Things" from a rock indie band Prevail introduced to me by Jessica and some other songs.

However, Miley Cyrus' "Flowers" has a special place in our collective memory. Jessica presented lyricstraining for Technology in Teaching Listening/Speaking and the whole class jammin' to Miley's tune.

I found that the mashed song cover by Poomplamoose  represent the dynamics, the creativity, and the quirk of cohort 2020.



They are a bunch of students who asked me the most questions to ponder in class.

I'm still looking forward to cohort 2021 playlist, but as I said, in my opinion they are not "musical". I mean, maybe they love music but I never be able to probe what their music is all about. I would guess maybe similar to K-Pop thingy, but some of them have old soul as well. In all of those mystery, I'd like to hook this cohort with Beethoven's Moonlight Sonata. It's complicated. It's hard to play. But it's beautiful af. 



It's really ironic though, since Ally and Nat probably the only two students who spent three semester with me. They took ADV.EDUTECH with 2020 cohort and then took the regular EDUTECH on the next semester, and TLL on the semester after that. But somehow, 2021 is overshadowed by their "neighboring" cohort.

And finally, the 2022 cohort. The cohort whom I sent this message to. It's the end of the semester and I found a perfect song for them. Teaching faculties in SU often advertise their cohort as one of the best they had. And surely, they didn't disappoint. They're crazy, but crazy good. Quirky. Unique. Creative. Hard-working. Resilient. All the good things. A "Crazy" song cover from Walk Off The Earth would fit their characteristics perfectly. But no. Our interaction during the semester is more than that. This cohort is always looking for connections. Something that has meaning beyond the face value. So I wouldn't choose classical music even though Celine would love it. I wouldn't choose any oldies like Michael Learns To Rock's "Strange Foreign Beauty", or some MRT song that Gio put in their Spotify list for me (Yes, MRT stands for Mono Rail Train).

Their song, in my opinion is this:


This is a soundtrack of Sakamoto Days anime series, aired on Spring 2025. Exactly. This cohort only doing one semester with me because in the Fall 2024, I didn't teach. And Sakamoto and his bunch portrayed my interaction with this cohort perfectly. Not to mention, the Japanese vibe of Gaby and her SONIC obsession is too strong LOL.

I am looking forward to meet the next cohort. I wonder what their song would be. Or would Sakamoto be my last song? I never know.

Friday, August 18, 2023

78

It was in the morning of August 17, 2023, the Independence Day. I was on my way to the train station, riding TransJakarta 6H heading to Pasar Senen. Several people boarded the bus from a bus stop in the Kuningan area. There was a young man, some guys, and a family with the mother carrying her daughter. The seats were all taken at that time. The young man then reminded the people to give up a seat for the mother who carried her daughter. A young lady from the women-only area gave up her seat for them.

The same young man who stood up for the mother was carrying a small flag on a small pole on his backpack. After some passengers got off the bus, the young man sat down next to a couple of grandparents who were carrying a baby girl. The baby, I assumed, was around ten to eleven months old. The young man then gave his flag to the baby. The grandparents expressed their gratitude. The baby squealed, expressing her joy.

It might have been a regular and small gesture of kindness. But with the patriotism in the air, it moved me. I thought that those young people could be a reason for an old fart like me to feel optimistic again for this nation.

No matter how dark the times are, there will always be light. Flickers might not be enough to light up the room, but they are juu..st enough to give you hope. Hope keeps you alive. Hope drives you to be a better person until you will become light yourself.

Dirgahayu Indonesia!

Thursday, May 04, 2023

Pendidikan dan Pematetikan

Ada setidaknya dua jenis orang. Yang pertama adalah orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicucinya di rak pengering dengan rapih. Yang kedua adalah orang yang ketika mencuci piring, meletakkan piring yang sudah dicuci di rak pengering dengan asal-asalan sehingga menciptakan sebuah struktur yang lebih layak disebut sebagai "Jenga Tower". Kenapa "Jenga Tower"? Karena ketika tersenggol sedikit saja, struktur-nya bisa rubuh.

Apa kaitannya cuci piring dengan pendidikan? Dan apa pula itu pematetikan? 

Pendidikan memiliki kata dasar "didik" yang sangat mungkin memiliki keterkaitan ataupun asal muasal kata dari kata Yunani "didaktik" (διδακτικός) yang secara harfiah bermakna "pengajaran". Sudut pandangnya sudut pandang sistem/guru sebagai subjek, peserta didik sebagai objek. Sehingga wajar saja sebenarnya jika selama ini (dan mungkin kebanyakan) kelas-kelas kita masih berpusat pada guru (teacher-centered). Toh, makna harfiah dari kata-nya begitu.

Ada sebenarnya kata yang mewakili "hal-hal terkait belajar" yang dicetuskan oleh Seymour Papert: "matetik". Kalau di-Indonesia-kan mungkin jadi "pematetikan". Ini sudut pandangnya sudut pandang si belajar sebagai subjek, ilmu sebagai objek. Lalu guru sebagai apa? Guru sebagai katalis saja, pihak yang menyediakan fasilitas dan kesempatan untuk si belajar menjalani petualangan belajar-nya. Bahasa kekinian-nya tentu saja "student-centered learning" (yang menurut saya sebenarnya istilahnya redundant ... kalau learning ya sudah semestinya student-centered), "active learning", "experiential learning", dan lain sebagainya.

Bahasa Inggris juga sama saja sebenarnya. "Education" itu "ex ducare" yang kurang lebih artinya "memimpin ke luar". Guru/dosen/docere adalah pemimpin bagi siswa-nya untuk keluar dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa. Mulia memang, tapi tetap saja sama dengan kata "pendidikan", aktor utamanya si pemimpin itu tadi.

Banyak sebenarnya kemudian tokoh-tokoh yang berusaha memaknai ulang "pendidikan" dengan membawa kata yang berat maknanya ke pengajaran menjadi kata yang setidaknya bermakna pembelajaran. Salah satu yang kita kenal tentu saja Maria Montessori. Ide Montessori kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk membuat kredo "Tut Wuri Handayani". Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tidak menolak ide bahwa guru adalah pemimpin yang harus berada di depan memberikan tauladan, "Ing Ngarso Sung Tuladha". Beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya peran guru adalah berada di tengah-tengah siswa-nya, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama membangun motivasi untuk berkarya, "Ing Madya Mangun Karsa". Namun peran yang paling utama dari seorang guru adalah "Tut Wuri Handayani". "Handayani" memiliki kata dasar "daya" dan secara umum bermakna "memberdayakan". Seperti ide Montessori di mana guru harus membiarkan "inner-potential of the students unfold", maka peran guru yang utama adalah memberikan panggung kepada para siswa agar mereka bersinar. Ide ini mirip dengan ide Papert tentang "matetik".

Pematetikan itu adalah proses pembekalan keterampilan belajar. Keterampilan belajar itu adalah fondasi bagi seseorang untuk menavigasi kehidupan, apalagi di dalam era di mana informasi itu begitu berlimpahnya dan sangat mudah diakses di ujung jari kita sedemikian rupa sehingga banjir informasi itu membuat kita tidak mampu lagi mencerna mana informasi yang benar mana yang keliru, bahkan mana yang palsu. Termasuk di dalam kategori keterampilan belajar adalah keterampilan untuk bertanya, keterampilan untuk mencari informasi yang terpercaya, keterampilan untuk mengkomunikasikan ide, keterampilan untuk menerima perbedaan dan keberagaman. Orang mungkin bisa berargumen bahwa keterampilan itu sudah diajarkan, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun apa benar demikian? Beberapa ahli pendidikan seperti James Paul Gee, Sugata Mitra, dan Ken Robinson berpendapat bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya masih berkutat dengan materi-materi "just-in-case", bukan memperlakukan materi itu sebagai informasi "just-in-time". Belum lagi ketika kita bicara tentang administrasi, penjaminan mutu, tes, dan lain sebagainya. Secara umum, kita masih berkutat pada pendidikan bukan pematetikan. 

Ketika kita masih berkutat dengan didaktik, sangat sulit bagi kita untuk mendiskusikan mengenai matetik. Padahal, tanpa membekali anak-anak kita -para pemuda-pemudi harapan bangsa- dengan keterampilan belajar, ibaratnya kita mendesain sebuah sistem yang sengaja membiarkan mereka gagal di masa depan. Persis dengan orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicuci itu asal-asalan saja sehingga strukturnya lebih mirip "Jenga Tower". Saya kurang tahu mana yang lebih buruk, apakah pencuci piring yang hobi membuat "Jenga Tower" atau jenis orang ketiga: orang yang tidak mau cuci piring.

P.S.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023 (2 Mei kemarin). 

Seperti kata teman saya di WAG, karena pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga, maka ucapan selamat ini berlaku untuk semua orang tua, wali siswa, dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan.

Sunday, April 03, 2022

Matematika

Ceritanya bulan lalu saya diminta untuk menjadi narasumber pengganti di sebuah webinar tentang Matematika. Ketika dapat tema “Matematika yang Bernalar” dari Pak Rachmat (penyelenggara webinar-nya) untuk didiskusikan, saya sempat mikir gitu. Memangnya ada ya matematika yang tidak bernalar? He he. 

Saya kemudian sempat mendiskusikan hal ini secara singkat dengan Bu Andri, Master Trainer Gernas Tastaka yang seharusnya saat itu menjadi narasumber. Intinya kurang lebih, ada beda pemahaman tentang matematika, terlebih mungkin ada beda dalam praktik membelajarkan matematika. Beda sekolah mungkin bisa beda cara orang belajar, atau memfasilitasi orang lain belajar matematika.

Jadi sebenarnya di sini kapasitas saya, sebagai narasumber pengganti, bukan untuk mendiskusikan bagaimana matematika yang benar atau bagaimana yang salah … atau bahkan mungkin kapasitas saya di sini bukan untuk membahas matematika yang bernalar itu seperti apa. Saya akan lebih cenderung berbagi tentang pengalaman saya sebagai pemelajar matematika, atau math learner.

Sebelum saya berbagi pengalaman saya, mungkin ada baiknya saya memperkenalkan diri lebih lanjut tentang siapa saya supaya Ibu/Bapak bisa memahami bias-bias saya ketika membahas topik “matematika yang bernalar” ini. Semacam jadi tahu siapa sih ini orang kok berani beraninya ngaji matematika gitu. Saya itu guru matematika bukan … punya latar belakang pendidikan matematika juga enggak … ahli matematika apa lagi. Jauh. 

Latar belakang pendidikan saya itu Teknologi Pembelajaran. Agak jauh ya dari matematika? He he. Tenang saja, nanti belakangan akan nyambung kok. Pengalaman saya ngajar matematika itu paling pol saya pernah jadi tutor beberapa anak SMA di Jogja untuk persiapan masuk ujian perguruan tinggi.

Tapi yang jelas, saya suka matematika. Boleh dibilang, saya math enthusiast gitu. Kenapa saya suka matematika? Sebentar lagi akan saya ceritakan melalui pengalaman-pengalaman saya. Dan melalui antusiasme saya terhadap matematika ini, saya diajak Mbak Puti terlibat di Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) sebagai sukarelawan, voluntir. Saya bukan trainer tapi ya. 

Peran saya di Gernas Tastaka yang utama sebenernya adalah pengembang manipulatif virtual untuk Gernas, terutama pas hangat-hangatnya pelatihan Gernas Daring di akhir tahun 2020. Pas pandemi masih tinggi-tingginya. Tapi kadang saya juga melayani diskusi-diskusi lain, umumnya kalau terkait dengan pengembangan media pembelajaran daring.

Nah, dengan latar belakang saya itu tadi, yang bisa saya tawarkan di sini adalah sudut pandang atau point of view saya terhadap matematika yang mungkin sifatnya relatif subyektif.

Melalui tiga pengalaman saya, mungkin nanti Ibu/Bapak sekalian dapat mengambil pelajaran atau sudut pandang yang relatif baru begitu tentang matematika … 


* * * 


Pengalaman Pertama

Sewaktu saya SD, saya memandang matematika itu sebagai ilmu tebak-tebakan. Atau mungkin saya melihat sekolah secara umum itu pada dasarnya institusi tebak-tebakan … mohon jangan tersinggung duluan ya yang guru-guru. He he. Itu karena sejujurnya apa yang saya lihat dari kacamata saya ketika saya masih SD.

Kok bisa begitu? Pertanyaannya … lha kok enggak?

Jaman saya SD bahkan sampai SMP-SMA, isinya kan kurang lebih supaya nilai tes-nya bagus. Jadi ya buat saya, sekolah itu permainan tebak-tebakan.

Kalo anak sekarang mungkin ekstrim-nya mensejajarkan sekolah dengan Squid Game. Ada yang tau Squid Game? Yang belum pernah nonton Squid Game Squid Game itu semacam permainan yang didesain sedemikian rupa sehingga cuma ada segelintir … tepatnya satu … orang yang bertahan gitu. 

Lebih parah lagi, di rumah, saya diajarin Bapak saya matematika itu ya melalui permainan tebak-tebakan. Tebak-tebakan kelereng. Yang tadinya di dalam genggaman ada lima kelereng, kemudian diambil tiga kelereng di tangan kanan yang terbuka, saya disuru nebak berapa kelereng yang digenggam Bapak saya di tangan kiri. 

Ini saya bukan nyalahin Bapak saya lho ya … bahkan kata Bu Andri, Bapak saya sudah benar cara mengajarinya supaya saya punya number sense. Saya-nya aja yang salah paham, bukannya melihat itu sebagai number sense, tapi saya lihat itu sebagai child play. Karena saya melihatnya sebagai sebuah permainan, efikasi saya terhadap matematika cukup tinggi. Saya mikirnya, toh ini hanya permainan anak-anak belaka. Salah jawab pun tidak apa-apa. It's just a game. Tapi nanti melalui pengalaman-pengalaman yang lain, saya mendapatkan sudut pandang yang berbeda.


* * * 


Pengalaman Kedua

Sewaktu saya SMA, saya beruntung diajar oleh guru yang cukup nyentrik. Namanya Pak Rani. Hampir semua teman saya tidak suka dengan Pak Rani. Karena cara ngajarnya “nggak jelas”, mana nilainya susah, soal-soal ulangan-nya naudubilah di luar jangkauan nalar anak SMA kami Nilai dua atau bahkan satu itu umum kami dapatkan … padahal nilai maksimalnya seratus …

Saya ingat sekali ketika Pak Rani masuk kelas kemudian bertanya, “lingkaran itu apa?”

Dari satu kelas ke kelas yang lain … saya sekolah di SMA 3 Yogyakarta yang cukup terkenal anaknya pintar-pintar … tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan Pak Rani dengan benar waktu itu. Pak Rani menunggu sampai ada yang menjawab dengan benar selama pelajaran. Ada kali kalau 55 menit penuh hanya diisi dengan murid-murid yang saling menatap antara kebingungan dan takut dan heran kenapa semua jawaban yang kami berikan salah … Semua kelas berujung dengan Pak Rani yang patah hati dan keluar kelas dengan menggerutu karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan beliau dengan benar.

Padahal jawaban yang memuaskan Pak Rani waktu itu hanya satu kata: HIMPUNAN.

Kalau dijawab “himpunan”, beliau akan lanjut bertanya “himpunan apa?”

“Himpunan titik-titik yang memiliki jarak yang sama dari satu titik acuan tertentu pada sebuah bidang.”

Kalimat itu keluar dari memori saya bukan karena saya mengingat kata per kata, tapi karena saya membayangkan lingkaran itu sendiri. Berkat Pak Rani.

Kelas berikutnya, Pak Rani memberikan latihan soal banyak sekali. Beliau menjanjikan akan memberikan soal tambahan yang lebih sulit kalau ada yang berhasil menyelesaikan latihan soal yang beliau berikan.

Saya somehow jadi bersemangat. Kalo tebak-tebakan yang beginian mah saya bisa. Saya kerja lebih keras dari teman-teman sekelas saya. Saya rela bangun dini hari buat ngerjakan soal latihan dari Pak Rani. Kalau teman-teman saya sampai LKS #7, saya sudah kerjakan sampai LKS #10. Ketika itulah Pak Rani memberikan selembar kertas yang berisi soal yang lebih sulit. 

Seringnya saya gagal, dan teman-teman saya menyusul saya. Lalu Pak Rani nyuruh saya untuk mengerjakan LKS lagi. Tapi suatu saat saya berhasil menjawab salah satu soal yang sulit itu. Saya lupa soalnya macam mana. Tapi saya ingat betul Pak Rani datang ke meja saya. Lalu beliau ngorek-orek (mencorat-coret) meja saya dengan kapurnya untuk mengajari saya one-on-one.

Dalam satu tahun saya belajar dengan Pak Rani, ada tiga kesempatan beliau mendatangi meja saya dengan kapurnya.

Kesempatan pertama, beliau mencorat-coret hirarki lema teorema rumus apa lah itu saya tidak ingat persis, tapi saya ingat beliau bilang “matematika itu seperangkat aturan”. Saya memahaminya bahwa matematika itu hukum. Persamaan itu tentang mencari keadilan, keseimbangan. Ketika saya ikuti aturan dengan benar, saya akan mendapatkan apa yang saya cari.

Kesempatan kedua, Pak Rani masih meneruskan topik matematika itu hukum dengan memberikan nasehat ke saya “kalau kamu nggak bisa selesaikan masalah dengan rumus, kembalikan ke definisinya”.

Kesempatan ketiga, Pak Rani memberitahu saya sesuatu yang buat saya waktu itu mind blowing : “matematika itu bahasa”.

Perspektif saya berubah total. Yang tadinya saya menganggap matematika itu permainan tebak-tebakan, jadi berubah. Semacam “oiya ya … baru sadar saya … simbol-simbol itu … persamaan-persamaan itu … semua ada maknanya … simbol-simbol itu nggak ada bedanya sama kata-kata yang kita pakai dalam kita berbicara”.


* * *


Pengalaman Ketiga

Sewaktu studi lanjut, saya ada tugas mata kuliah disuru baca bukunya Seymour Papert, judulnya The Children’s Machine. Di dalam buku ini Papert merumuskan landasan teori belajar konstruksionisme. Salah satu pembahasannya adalah tentang “mathetics”. 

Jadi menurut Papert kurang lebih ilmu tentang mengajar itu ada namanya: DIDAKTIK namun pasangannya yaitu ilmu tentang belajar itu belum ada namanya. Papert lalu mengusulkan kata MATETIK.

Apa hubungannya matetik dengan matematika? Akar kata-nya serumpun. Sama-sama dari bahasa Yunani. Matetik itu dari kata μάθηση (mathese) yang mendapat imbuhan -τικος (-tikos). μάθηση itu artinya “belajar”. Imbuhan -τικος adalah imbuhan yang mengubah kata yang ditempeli menjadi kata benda atau memiliki sifat terkait dengan kata dasar yang ditempeli itu. Mathetikos itu berarti kurang lebih segala sesuatu tentang belajar atau yang bersifat seperti itu.

Nah, sekarang μάθημα (mathema) itu adalah kata benda yang artinya pelajaran. Mathematikos tentu saja jadi segala sesuatu yang terkait dengan mathema, pelajaran. Lho kok umum banget begitu ya? Kenapa enggak biologi kemudian dinamakan matematika? Atau kewarganegaraan, kenapa enggak dinamakan matematika juga? Toh semuanya pelajaran kan?

Kalau dipikir-pikir matematika itu sebenarnya memang sekumpulan pelajaran. Aritmatika misalnya, dari kata αριθμός (arithmos) yang berarti bilangan dengan imbuhan -τικος … segala sesuatu yang terkait dengan bilangan. Geometri … ukuran-ukuran Bumi. Trigonometri … ukuran-ukuran segitiga. Calculus … kerikil-kerikil yang merepresentasikan penghitungan perubahan yang mendekati nol. Statistika … segala sesuatu yang terkait dengan keadaan negara yang direpresentasikan dengan data. Topologi … studi tentang tempat. Apalagi? Logics, Aljabar, Game Theory, Discrete Mathematics … banyak lagi.

Tapi memang, semacam kesepakatan dan persepsi umum tentang matematika itu yang seperti-seperti itu. Yang seperti apa? 

Apakah matematika itu selalu tentang angka? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang grafik, kurva, bidang, garis? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang penalaran? Sebenernya iya, tapi pada praktiknya ada yang menjadikan matematika itu hafalan tanpa penalaran. Jadi ya tidak selalu. Kata Bu Andri, matematika itu isinya hanya dua. Kalau bukan tentang himpunan ya tentang fungsi. Lagi lagi ini bahasa matematika. Apa itu himpunan? Apa itu fungsi? 

Kembali lagi tentang “matematika itu bahasa”, bagi saya pribadi matematika itu bahasanya orang belajar. Salah satu makna belajar itu adalah “ketika seseorang menemukan keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain”. Sekumpulan hal itu himpunan. Keterkaitan itu fungsi. Matematika merepresentasikan keterkaitan antar hal atau sekumpulan hal dengan simbol simbol. 

Pelajaran pelajaran seperti biologi, sejarah, seni, budaya dan lain sebagainya itu pada umumnya sekumpulan pengetahuan yang memiliki ciri-ciri spesifik. Ketika kita berusaha mencari keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain di dalam bidang studi itu, kita dapat merepresentasikannya dengan simbol untuk membuatnya lebih sederhana untuk dipahami. Di situlah kemudian matematika berperan di dalam bidang-bidang studi itu. Ketika di sana ada pola, di sana ada matematika. Ketika di sana ada pemecahan masalah, di sana ada matematika juga karena untuk memecahkan masalah kita perlu memahami keterkaitan antar hal. Jadi memang matematika, secara umum, itu ada di mana-mana. Termasuk di bidang studi yang saya pelajari: Teknologi Pembelajaran.

Ketika saya menggambar TPACK Framework dengan menggunakan tiga lingkaran yang beririsan, itu Diagram Venn, matematika. Ketika saya menyusun tahapan-tahapan pembelajaran, itu algoritma, matematika. Ketika saya mengembangkan media belajar dengan menggunakan program komputer, membuat pernyataan kondisional pakai logika Boolean, matematika banget.


* * * 


Epilogue

Jadi “matematika yang bernalar” itu seperti apa? Saya tidak tahu. Saya kembalikan saja kepada Ibu/Bapak sekalian. Kalau saya sih setuju dengan Bu Andri. Matematika itu pada dasarnya pasti bernalar, praktik-nya saja kadang-kadang yang tidak pakai nalar.

Dari ketiga pengalaman saya, pemahaman saya tentang matematika itu berubah dari sesuatu yang sesederhana tebak-tebakan waktu SD sampai sesuatu yang lebih konseptual seperti “matematika itu bahasa” yang saya pahami saat ini. Saya nggak akan klaim kalau pemahaman saya ini pemahaman yang benar, tapi setidaknya saya mau memberikan sudut pandang alternatif … siapa tahu ada yang sebelumnya belum pernah melihat dunia matematika dari sudut pandang ini …

Terimakasih :)

Thursday, November 25, 2021

Guru

Di dalam Bahasa Indonesia, kata "guru" memiliki berbagai padanan kata dan makna. Pengajar, pendidik, instruktur, orang yang digugu dan ditiru, mentor adalah beberapa contoh makna "guru" yang kita pahami selama ini. Namun secara etimologis, kata "guru" itu kata serapan dari bahasa Sanskrit "गुरु" (guru). Dalam bahasa Sanskrit, kata itu memiliki dua makna. Jika dia adalah kata benda, maka "guru" bermakna "seseorang yang dihormati" atau lebih literal lagi "guru" bermakna "darkness destroyer, seseorang yang menghancurkan kegelapan".

Yang menarik mungkin, kata "guru" memiliki cognate alias keterhubungan makna dengan kata Latin "gravis". Tentu saja, karena dalam bahasa Sanskrit, makna kedua dari kata "guru" adalah jika dia merupakan kata sifat maka "guru" berarti "heavy, berat".

Menarik ya?

Jika "guru" adalah kata benda, maka dia adalah penghancur kegelapan. Jika "guru" adalah kata sifat, maka dia itu berat.

Ingat istilah "gaya gravitasi"? Gravitasi itu memiliki akar kata Latin "gravis", berat. Gaya gravitasi adalah gaya yang ada karena interaksi dua benda yang memiliki massa (berat).

Di titik inilah kemudian insting gathuk mathuk (mencocok-cocokkan) saya bekerja.

Guru eksis karena adanya interaksi dua manusia. Tidak akan ada guru jika tidak ada murid.

Saya percaya, belajar itu sosial. Ketika kita merayakan Hari Guru, dimana secara kultural kita memang selayaknya berterimakasih kepada semua guru yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan, secara implisit sebenarnya kita juga merayakan eksistensi kita sebagai murid, sebagai seseorang yang memiliki kehendak terhadap ilmu. Toh, guru dan murid itu dua entitas yang tak terpisahkan oleh "gaya gravitasi".

Selamat Hari Guru 2021!

Thursday, October 07, 2021

Mitos Matematika


Dalam buku yang berjudul "How to bake π", Eugenia Cheng membuka pembahasan mengenai teori kategori dengan mendaftar setidaknya empat mitos matematika.

Mitos pertama: matematika itu melulu tentang angka.

Cheng membandingkan matematika dengan "rice cooker". Pada umumnya kita memakai "rice cooker" untuk menanak nasi. Tetapi, "rice cooker" bisa juga dipakai untuk membuat roti, merebus sayur, dan membuat krim gumpal (clotted cream). Matematika juga demikian. Tidak hanya angka, matematika itu di antaranya juga termasuk logika dan abstraksi.

Mitos kedua: matematika itu melulu tentang jawaban dari sebuah teka teki.

Secara singkat Cheng berpendapat matematika itu terkadang bukan sebatas "jawaban"-nya tetapi juga tentang bagaimana metodenya untuk mendapatkan jawaban tersebut yang lebih menarik untuk dibahas.

Mitos ketiga: matematika itu melulu tentang benar dan salah.

Lagi-lagi secara singkat Cheng mengatakan bahwa di dalam matematika, benar dan salah itu bisa jadi relatif terhadap acuan yang dipakai. Dicontohkannya 10 + 4 = 2 bisa jadi salah dalam anggapan umum, dalam konteks penjumlahan sederhana. Tapi kalau kita berbicara mengenai waktu, jam 14 itu biasa kita sebut jam 2 siang. Atau dengan kata lain, empat jam setelah jam 10 itu jam dua siang.

Mitos keempat: matematika itu hanya untuk orang yang pandai.

Cheng menyanggah mitos ini dengan mengatakan bahwa matematika itu pada dasarnya membuat hal yang rumit jadi sederhana. Menurut dia, yang membuat mitos bahwa matematika hanya untuk orang pandai itu biasanya adalah kelas atau pelajaran matematika yang meninggalkan kesan buruk di sekolah. Matematika yang sebenarnya seharusnya mudah dipahami oleh siapa saja.

Wednesday, September 29, 2021

Pengurangan Model Sedekah

Habis ikut Bincang Gernas Tastaka jadi punya ide tentang pengurangan model sedekah. Maksudnya gimana ini? Sedekah kok mengurangi? Bukan begitu Ferguso ... 

Gini ...

Biasanya pengurangan kan modelnya "gunggung susun". Contoh:

43 - 29 = ?

Jaman dulu, kita selesaikan permasalahan itu dengan metode kurang susun:

43

29

---- -

14

Di situ ada proses "pinjam" 10 dulu biar bisa dikurang sama 9. 

Nhaa ... ini menanamkan mental ngutang. Hayah. Hahaha.

Gimana kalau menyelesaikan masalahnya dengan sedekah saja.

43 disedekahi 1, 29 juga disedekahi 1 sehingga jadi kayak begini:

43 - 29 = (43 + 1) - (29 + 1) = 44 - 30 = 14

Kayak lebih panjang tapi lebih gampang mengurangkan 30 dari 44. Terlebih, ngajarin sedekah pula. Bukan ngutang. #OpoSeh 

Asalnya dari a - b = a - b + x - x = (a + x) - (b + x)

Coba pakai angka lain.

51 juta - 26 juta = ?

Saya sedekahi 4 juta dua duanya ... kurang dermawan apa coba ...

Jadi, 

55 juta - 30 juta = 25 juta  

Perlu bikin hestek nggak nih? #matematikaSedekah 

wkwkwkwkwkwk

Friday, September 10, 2021

Sunday, May 09, 2021

Lebaran

Setahu saya, “lebar” dalam Bahasa Jawa itu artinya selesai, bubar, berakhir. Demikian pula, istilah “bakda” dalam Bahasa Jawa digunakan untuk menyebut hari raya Idul Fitri. “Bakda” itu serapan dari kata Arab “ba’da” yang artinya kurang lebih “setelah”. Maksudnya ya setelah Ramadhan itu Idul Fitri.

Idul Fitri memang menandai berakhirnya rangkaian ibadah puasa Ramadhan beserta amalan-amalan lain yang mengikutinya seperti shalat Tarawih, Zakat Fithrah, dan lain sebagainya. Eid sendiri salah satu maknanya adalah festival. Eid Al Fithr tentunya adalah festival yang merayakan fitrah manusia (alastu biRabbikum? Qaalu balaa syahidna).

Namun lucunya, interpretasi kultural -masyarakat Jawa setidaknya- menyiratkan bahwa perayaan Idul Fitri ini seakan-akan merayakan kebebasan atas selesainya kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Jadi puasa sebulan kemarin itu sebenernya tersiksa apa gimana? Kok bubarnya dirayakan dengan Lebaran?

Mungkin interpretasi Lebaran itu baiknya ya mirip-mirip Bakda dimana kita bertanya “lebar pasa njuk ngapa?” atau “bakdal shiyam di bulan Ramadhan trus ngapain?”

Ada orang-orang Jawa yang kemudian membuat jembatan keledai: lebar, lebur, labur, luber. Dimana bulan puasanya lebar alias selesai, lalu dosa-dosa mereka yang menjalani ibadah dileburkan (dengan memohon ampunan Tuhan dan meminta maaf dari sesama), sehingga jiwanya terlabur bagaikan digelontor cat putih supaya tampak bersih temboknya, lalu luberlah (banjirlah) amalan-amalan kebaikan pasca Ramadhan. Itu tampaknya bayangan ideal sesepuh-sesepuh Islam Jawa.

Namun saya punya pikiran lain. Gimana kalau kita ikut-ikutan orang bikin resolusi? Umumnya kan orang bikin resolusi kalau tahun baru ya. Nah ini untuk menjawab “setelah bulan puasa trus mau ngapa?” itu rasanya kalau bikin resolusi lumayan masuk lah. Ndak usah yang berat-berat lah resolusinya. Toh yang namanya bulan Ramadhan itu bulan pelatihan spiritual ya … mesthinya ada dong ya hal-hal yang carry over di bulan Syawwal dan seterusnya sampai ketemu bulan Ramadhan lagi.

Resolusi ini tentunya sifatnya sangat personal. Kalau saya boleh kasih contoh misalnya … kalau pas bulan Ramadhan sudah terbiasa cek dan ricek dalam mempelajari Al Quran misalnya, kenapa enggak itu dijadikan resolusi dimana kita akan selalu cek dan ricek informasi yang datang kepada kita melalui media massa/sosial sehingga kita nggak asal bikin status atau berbagi konten yang ternyata menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain. Kalau tiap tahun kita bikin satu resolusi saja, dalam sisa usia kita yang tinggal berapa tahun (50? 10?) setidaknya kita berinvestasi sejumlah amalan kebaikan yang bisa kita rutinkan (istilah kearabannya: didawamkan).

Semoga bisa ya? Aamiiin.

Selamat menyambut Idul Fitri yang berbahagia meskipun masih dalam suasana pandemi. Semoga keberkahan tercurah bagi seluruh makhluk.

Sunday, January 03, 2021

Genshin Impact

Anak saya lagi liburan, hobinya main Genshin Impact - sebuah multiplayer online action role-playing game.

Trus saya iseng tanya pas dia lagi asik main, "is there any math in Genshin Impact?"

Anak (A) saya jawab "no ... not really".

Saya (S) kejar lagi, "really tho? there must be something. How about how many something do you need to get something?"

A: "ah yeah, that ... well there is."

S: "can you give me any example?"

A: "Resin"

S: "what is Resin?"

A: "you get one Resin every 6 minutes and you will need certain amount of Resin to fight the Boss or open a new Domain."

S: "ok."

A: "well, you could fight the Boss without Resin, but you wouldn't get the rewards."

S: "ok, thanks."

Lalu  saya biarkan dia main lagi.

Matematika terkadang nggak "obvious" alias "kasat mata" buat seseorang. Koneksi matematika menjadi penting diperkenalkan dalam proses pembelajaran matematika supaya si belajar tahu kalau matematika itu ada di sana. 

Permasalahannya, gurunya biasanya sudah tidak punya waktu untuk main Genshin Impact (atau apa pun yang dilakukan anak-anak jaman sekarang).

Sudah beda dunia ...

Thursday, December 17, 2020

Delapan Anak Dua Meter

Karena kebetulan ini masih pandemi, muncul masalah ketika si Nana pengen ketemuan sama temen-temen sekolahnya. Ibuknya melarang keras. Tapi Bapaknya malah muncul pertanyaan: jika ada delapan anak pengen ketemuan dan ngobrol dengan menjaga jarak dua meter (di ruang terbuka, dengan masker dan face shield, serta masing-masing membawa hand sanitizer; komplit syaratnya), seperti apa bentuk geometri yang memiliki area yang paling kecil?

Saya tanyakan lah pertanyaan itu ke rekan-rekan saya.

Jawaban yang masuk beragam seperti yang terlihat di bawah. Setiap lingkaran hitam itu mewakili seorang anak, dan garisnya mewakili dua meter.

Segi Delapan Beraturan (Octagon). Luas: 19,31 m2
 
Persegi. Luas: 16 m2

Belah Ketupat. Luas: 13,86 m2

 
Tenda. Luas: 13,35 m2
 
Persegi Panjang. Luas: 12 m2
 
Meja Rapat. Luas: 11,46 m2
 
Bintang (Shuriken). Luas: 10,93 m2
 
Segitiga Sama Sisi Berjajar. Luas: 10,39 m2
 
Sejauh ini yang mengambil area yang paling sedikit adalah segitiga sama sisi berjajar. Adakah bentuk lain yang kira-kira memiliki luas yang lebih kecil dari itu (dengan ketentuan yang disebutkan di atas tentunya)?

Friday, August 21, 2020

Tilik

Yang belum lihat film pendek "Tilik", sila nonton dulu karena berikut ini saya mau spoiler, more or less.

***spoiler warning***

Film Tilik itu, dalam pandangan saya, menggambarkan misinformasi dan disinformasi.

Misinformasi itu informasi yang keliru atau kurang lengkap. Dalam Tilik, hal ini digambarkan dengan Yu Ning yang mengajak ibu-ibu untuk tilik Bu Lurah di PKU Gamping setelah mendengar kabar kalau Bu Lurah ambruk dan dibawa anaknya, si Fikri (bersama Dian) ke rumah sakit. Tapi ternyata, karena Bu Lurah masuk ICU, ya belum bisa ditengok/ditiliki. Padahal ini ibu-ibu jauh-jauh dari seputaran Muntuk, Imogiri, Bantul. Perjalanan-nya bisa sampai 1.5 jam. Akibat info yang kurang lengkap yang diterima Yu Ning, para ibu-ibu ini jauh-jauh ke PKU Gamping nggak bisa ketemu Bu Lurah, cuma ketemu si Fikri dan Dian. Ini namanya misinformasi.

Disinformasi itu informasi yang dibumbui micin supaya lebih greget dan seringkali menggiring penerima informasi pada kesimpulan yang keliru, bahkan bersifat merusak (harmful) bagi pihak-pihak tertentu. Dalam Tilik, hal ini digambarkan dengan Bu Tejo yang semangat sekali nggosipin Dian. Bahwa mungkin Dian pacaran dengan om-om itu benar, namun belum tentu Dian itu pelakor atau wanita yang nggak genah seperti yang dituduhkan Bu Tejo. Bisa jadi Dian pacaran dengan Pak Minto yang jauh lebih tua itu setelah Pak Minto bercerai dengan Bu Lurah. Belum tentu Dian yang menjadi penyebab perceraian Pak Minto dengan Bu Lurah, informasinya tidak ada, hanya prasangka-prasangka penonton saja yang muncul ketika melihat adegan terakhir. Yang begini ini namanya disinformasi.

Kalau melihat adegan terakhir pada film Tilik ini malah yang ada si Dian sudah tidak tahan memiliki hubungan yang dirahasiakan dengan Pak Minto, tapi Pak Minto-nya menenangkan a la a la pakboi "tenangkanlah hatimu", "yang sabar" dan "percayalah padaku". Dari kacamata saya, ini Dian-nya malah yang dimanipulasi Pak Minto yang nampaknya orang kaya dan mungkin juga punya pengaruh (kedudukan sosial yang lebih tinggi) kalau dilihat dari mobil sedan hitam yang dimilikinya.

Anyhow, film Tilik ini bagus banget bisa memantik diskusi dan viral. Sukses terus sinema Indonesia.

Monday, March 23, 2020

COVID-19 Repository

Useful links:


My takes:

About airborne and droplets:

Arguments:

  • "takut kok sama Corona". COUNTER: Ini bukan takut sama Corona. Ini takut sama Gusti Alloh jika kelak kita dimintai pertanggungjawaban di akherat karena kita membiarkan banyak orang mati konyol akibat kita menganggap remeh Corona.
  • "sampai saat ini yang mati karena kecelakaan jalan raya lebih banyak dari yang mati karena Corona. Jangan meden-medeni wong cilik. Urip wis susah kok diweden-wedeni". COUNTER: Pertama, kecelakaan jalan raya itu tidak menular. Ketidakacuhan yang menular. Kedua, ini bukan menakut-nakuti. Ini bentuk tanggung jawab sebagai sesama manusia saling mengingatkan dalam kebaikan. Kok malah dibilang menakut-nakuti. Apa dulu Nabi Nuh AS. memperingatkan banjir akan datang juga dibilang menakut-nakuti?

PSA:


LAKUKAN PENJARANGAN SOSIAL (Social Distancing) : SEBISA MUNGKIN TINGGAL DI RUMAH SAJA; HINDARI KERUMUNAN; JAGA JARAK DENGAN ORANG LAIN (MINIMAL SEJAUH PANJANG TONGKAT PRAMUKA); IBADAH DI RUMAH SAJA DULU; TIDAK PERLU NJAGONG MANTEN DULU; TIDAK PERLU REWANG DULU; TIDAK PERLU BERJABAT TANGAN DULU; TIDAK PERLU TAMASYA DULU; TIDAK PERLU KONGKOW-KONGKOW DULU; TIDAK PERLU KUMPULAN DULU; DI RUMAH SAJA.

CUCI TANGAN YANG BENAR; JAGA KESEHATAN DAN KEBERSIHAN; MAKAN SEHAT, TIDUR CUKUP; JANGAN KEBANYAKAN KONSUMSI HOAX.

PAKAI MASKER KETIKA TERPAKSA KELUAR RUMAH; BUAT MASKER SENDIRI AGAR PERSEDIAAN MASKER DAPAT DIGUNAKAN OLEH TENAGA MEDIS.

TIDAK PERLU MENIMBUN BAHAN MAKANAN. TIDAK PERLU MENIMBUN HAND SANITIZER. TIDAK PERLU MENIMBUN TISU. BELANJA SEWAJARNYA. SEBISA MUNGKIN, BANTU MEREKA YANG MENGALAMI KESULITAN EKONOMI KARENA COVID-19.

JANGAN KEJAUHAN MIKIRNYA. COVID-19 BUKAN KONSPIRASI SIAPA-SIAPA. FOKUS BANTU ORANG LAIN SEBISA MUNGKIN. DAN, BERSAMA-SAMA KITA MENANGGULANGI COVID-19.

Saturday, March 21, 2020

Lodeh Tujuh Warna

Sedang beredar di Jogja, himbauan membuat lodeh tujuh warna. Selain enak dimakan, juga mengandung pesan tersirat a la Mataraman.

Lodeh Tujuh Warna menggunakan tujuh bahan makanan yaitu kluwih, kacang panjang (cang gleyor), terong, waluh (labu), godhong so (daun mlinjo), dan tempe.

Makna dibalik masing-masing bahan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kluwih : kluwargo luwihono anggone gulowentah, gatekne (Keluarga, lebihkan dalam memberi nasehat dan perhatian)

2. Cang gleyor : cancangen awakmu ojo lungo lungo (Ikatlah badanmu, jangan pergi-pergi)

3. Terong : terusno anggone olehe manembah Gusti, ojo datnyeng, mung yen iling tok. (Lanjutkan dan tingkatkan ibadah, jangan hanya jika ingat saja)

4. Kulit melinjo : Kudu ngerti njobo njerone babagan pagebluk. (Harus paham luar dalam mengenai penyebab dan penanganan wabah)

5. Waluh : uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan keluhan dan rasa galau – harus tetap semangat)

6. Godong so : golong gilig donga lan ngangsu kaweruh tumrap wong soleh babagan agomo lan pagebluk (Bersatu padu antara berdoa dan menimba ilmu dari orang yang saleh, cerdik pandai yang lebih mengetahui tentang agama dan wabah penyakit)

7. Tempe : temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (Benar-benar fokus mohon pertolongan kepada Tuhan)

Sumber: kumparan.com

Tuesday, March 03, 2020

Mendesain Pembelajaran

Fondasi ilmu yang diperlukan dalam mendesain pembelajaran itu berkisar mengenai pemahaman kita tentang bagaimana manusia belajar. Bagaimana manusia belajar? Kalau secara teori, penjelasannya macam-macam, tergantung definisi kata belajar itu sendiri. Banyak yang mendefinisikan belajar itu sebagai perubahan perilaku. Namun, ada juga proses belajar yang tidak serta merta diikuti dengan perubahan perilaku, lebih kepada pemrosesan informasi.

Secara lebih spesifik, dalam dunia pembelajaran, biasanya belajar itu dikaitkan dengan tujuan belajarnya apa. Makanya trus sekarang banyak yang mendengungkan istilah HOTS (Higher Order Thinking Skills), mengacu pada tiga level taksonomi belajar Bloom yang direvisi: membuat, mengevaluasi, menganalisis.

Secara sederhana, kalau kita pakai acuan taksonominya Bloom, belajar itu sebuah kegiatan aktif yang menurut Bloom dan kawan-kawannya bisa dikategorikan jadi enam kata kerja: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat. Makanya, banyak juga yang mendengungkan "active learning" alias belajar aktif. Maksudnya, belajar itu tidak sekedar membaca, melihat video, ataupun mendengarkan ceramah. Belajar itu inheren dalam proses seseorang berkegiatan.

Sederhana ya? Belajar = Berkegiatan.

Ya emang sederhana saja sebenernya ilmu belajar itu. Yang jadi sedikit agak rumit itu ketika kita kepengen mendesain kegiatan belajar supaya seseorang yang kita ajak untuk belajar itu dapat mencapai tujuan belajar yang kita inginkan sekaligus merasakan kebahagiaan belajar. Di situlah kemudian masuk teori motivasi, neurosains, dan lain sebagainya.

Selain bahwa belajar dengan berkegiatan, manusia belajar dengan mencari ketersambungan, atau dalam bahasa Inggris "connection" a.k.a. "relation".

Ketersambungan itu ada yang sifatnya kognitif, ada pula yang sifatnya sosial/afektif.

Ketersambungan yang sifatnya kognitif itu contohnya adalah ketika kita mudah mengingat atau memahami sesuatu apabila kita diberi contoh yang kita bisa sambungkan alias "relate to". Dalam teori pembelajaran jaman dulu ada yang namanya "apersepsi" atau mengecek apa yang sudah diketahui oleh pemelajar dari sesi instruksional sebelumnya maupun pengalaman pribadi mereka, supaya apa yang mereka pelajari saat itu gampang nyambungnya.

Ketersambungan yang sifatnya sosial/afektif itu terkait dengan motivasi. Salah satu yang sering dikenal orang-orang yang belajar teori pembelajaran itu Zone of Proximal Development (ZPD)-nya Vygotsky. Menurut Lev Vygotsky, interaksi sosial itu berperan penting dalam menciptakan makna. Tidak sekedar karena "learning curve" seseorang itu dipotong karena dikasi tahu atau diajarin, tapi juga interaksi dengan orang lain itu mencetak pengalaman, menstempelkan makna. Sehingga, ketika seseorang belajar bersama orang yang sudah lebih menguasai sesuatu itu cenderung lebih cepat belajarnya daripada ketika orang itu mempelajari sesuatu itu sendirian.

Ketersambungan itu sifatnya unik bagi setiap orang. Mungkin ada ketersambungan yang sifatnya umum, tapi pada umumnya, setiap orang punya caranya sendiri untuk menemukan ketersambungan dalam mempelajari sesuatu. Oleh karenanya, sampai batas tertentu motivasi ekstrinsik semacam PBL (points-badges-leaderboards) yang sering digunakan dalam praktik gamification of learning itu bekerja, namun terkadang juga tidak efektif. Sedangkan, motivasi intrinsik yang timbul dari interaksi sosial dengan lingkungan yang menyediakan rasa aman ketika mengalami kegagalan dan sejenisnya bekerja lebih awet; jangka panjang.

TLDR; kunci mendesain pembelajaran yang baik itu adalah bagaimana kita merancang kegiatan yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi pemelajar sehingga mereka dapat menemukan ketersambungan, baik secara kognitif ataupun sosial/afektif.

Thursday, October 24, 2019

Fatamorgana Kebaruan

Yang baru belum tentu baik, tetapi juga, belum tentu tidak baik.

Ini tentang Mas Nadiem Makarim jadi Mendikbud.

Di satu sisi, saya pribadi berharap banyak kepada beliau karena sosoknya yang muda dan profesional, bukan dari dinasti atau lingkungan kependidikan.

Tapi di sisi lain, saya pribadi juga khawatir apakah kebijakan-kebijakan yang beliau ambil akan terjebak pada fatamorgana kebaruan.

Menurut saya, memperbaiki pendidikan Indonesia itu jelas ruwet.

Memperbaiki pendidikan Indonesia itu nggak bisa semata-mata dengan mengganti kurikulum atau bikin kebijakan yang teknosentrik.

Tapi berita baiknya, banyak sebenarnya orang-orang Indonesia yang pinter-pinter dan punya segudang solusi mengenai pendidikan Indonesia, yang saya tahu misalnya, seperti teman-teman di Ikatan Guru Indonesia.

Dari mereka juga saya tahu bahwa kalau mau memperbaiki pendidikan Indonesia itu yang harus ditingkatkan kualitasnya adalah pendidikan guru dan lakukan debirokratisasi pendidikan.

Kalau mau memperbaiki pendidikan Indonesia, sebenarnya tidak perlu membuat kebijakan yang "baru". Dengarkan saja orang-orang yang memang peduli dengan pendidikan di Indonesia, bersihkan birokrasi pendidikan, buat birokrasi pendidikan transparan.

Tentang kurikulum? Sederhanakan saja kurikulumnya. Jangan bebani anak-anak dengan keruwetan. Sebaliknya, tanamkan keterampilan dasar seperti literasi dan memecahkan masalah. Karena menurut saya, keterampilan hidup yang perlu diajarkan di sekolah itu ya berada di dalam payung dua konten belajar tersebut: literacy and problem solving. Mendasar. Foundational.

Kalau bicara tentang literacy, kita bisa bicara tentang empati, komunikasi, critical thinking, social justice, dan bisa migrasi ke digital literacy. Kalau bicara tentang problem solving, kita bisa bicara tentang math as the problem solving language, scientific method, dan computational thinking, sesuatu yang menjadi landasan dari coding dan hal-hal yang online-online itu sesuai latar belakang mas Nadiem.

Tentang asesmen? Buatlah asesmen yang tidak menghantui karena tingginya resiko menjawab benar dan salah. Sebaliknya, jadikan asesmen itu sebagai alat untuk memperbaiki proses pembelajaran. Titik beratkan evaluasi formatif, bukan sumatif, kalo istilah orang pendidikan.

Nothing new. Nothing fancy.

Kuncinya hanya mendengarkan orang-orang yang memang peduli dan sudah berusaha keras untuk memperbaiki pendidikan Indonesia.

Good luck with the bureaucracy tho ...

Saturday, August 17, 2019

Bhinneka Tunggal Ika

Masih dalam semangat tujuhbelasan, mari kita tengok lagi semboyan negara Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika.

Yang kita pahami? Artinya berbeda-beda tetapi satu. Banyak yang menginterpretasikan semboyan ini sebagai asas persatuan dan kesatuan bangsa meskipun Indonesia terdiri dari berbagai adat istiadat dan budaya.

Lengkapnya? Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Yang beragam itu manunggal menjadi satu, tidak ada Dharma yang mendua.

Semboyan itu cuplikan dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Frasa itu ada pada pupuh (mungkin semacam chapter) yang membahas bahwa Siwa dan Buddha itu sebenarnya tidak berbeda: Bhinneka Tunggal Ika.

Jadi akarnya Bhinneka Tunggal Ika itu rekonsiliasi spiritual relijius. Sesuatu yang kayaknya di Indonesia sekarang lagi hangat-hangatnya ... muslim vs non-muslim, to be frank.

Ini bukan berarti saya mau menganalogikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika itu artinya berbagai agama itu sebenernya sama saja lho ya. Tetap saja tiap agama punya core belief masing-masing.

Yang mau saya sampaikan sebenernya Bhinneka Tunggal Ika itu ekspresi monoteistik dari Mpu Tantular. Kalau mau lebih kontroversial, Bhinneka Tunggal Ika dan Inna Diina 'IndaLlahil Islam itu semangatnya sama: Monoteisme.

Ini saya juga bukan mau main klaim bahwa semboyan negara Indonesia itu semboyan Islam lho ya. Bisa saja penekanan interpretasinya pada kata Bhinneka, bukan Tunggal Ika-nya.

Ini bisa jadi berkah atau juga kutukan, bahwa bangsa Indonesia itu dari dulu orang-orangnya religius ... dan semangat keberagamaannya tinggi - super religius ... sehingga para pendahulu kita mungkin (ini mungkin lho ya) memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu supaya bangsa Indonesia masih ingat keberagaman dalam tingginya semangat keberagamaan.

Tuesday, July 23, 2019

Fahrenheit

Panduan membaca temperatur Fahrenheit untuk orang Indonesia:
20 F = - 6.7 C --- berasa di dalem freezer raksasa
30 F = - 1.1 C --- beku, dingin bgt, tapi kalo udah biasa ya jaketan aja yg tebel gpp
40 F = 4.4 C --- masih dingin, harus jaketan, tapi sudah tidak menggigit dinginnya
50 F = 10 C --- dinginnya sudah lumayan, tapi kalo enggak jaketan masih masuk angin
60 F = 15.6 C --- sejuk, kalo udah biasa dingin g begitu terasa dingin, jaket tipis aja
70 F = 21.1 C --- enak
80 F = 26.7 C --- mulai agak sumuk
90 F = 32.2 C --- panas
100 F = 37.8 C --- panas banget, kalo di rumah nggak ada AC udah mulai buka baju
110 F = 43.3 C --- menyengat, hindari keluar rumah kalau tidak ada keperluan
120 F = 48.9 C --- suhu kematangan daging sapi medium rare; yummy?:)

Thursday, April 18, 2019

Benar vs. Cocok

Pemilihan Umum itu bukan ujian pilihan ganda dimana ada satu pilihan jawaban benar.

Pemilihan Umum itu memilih pemimpin dan anggota legislatif yang cocok dengan aspirasi kita.

Yang namanya aspirasi itu tentunya macam-macam. Contohnya sederhana ni ya, saya pilih Pak Jokowi karena saya suka dengan program pemerataan pembangunannya, sesuai dengan prinsip "No One Left Behind". Tapi mungkin ada orang yang tidak suka dengan Pak Jokowi (sehingga nggak milih beliau) karena mungkin kecewa dengan kinerja Pak Jokowi di bidang lain, seperti misalnya penuntasan kasus HAM 1998 yang nggak selesai-selesai.

Sekali lagi pemilu itu bukan masalah benar dan salah. Tapi masalah cocok atau tidak.

Dan, kita bebas memilih. Kalau mau meyakinkan orang lain untuk memilih itu argumennya bukan mana yang lebih benar, tapi mana yang lebih cocok dengan aspirasi kita. Kalau argumennya "saya lebih benar dari Anda" ya jadinya ribut. Mbok ya sudah dibawa selow, saya cocoknya begini njenengan cocoknya begitu.

Besok lagi kalau ada pemilu, tolong diingat-ingat ya. Kita memilih itu bukan masalah memilih mana yang lebih benar, tapi kita memilih yang cocok dengan aspirasi kita. Perlu saya ulang berapa kali supaya paham? Pemilu itu masalah cocok-cocokan. Jadinya nggak perlu lah gontok-gontokan.