Showing posts with label pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label pembelajaran. Show all posts

Wednesday, January 08, 2025

Kang Nur

Sambil menunggui Najwa kursus biola di hari Minggu, terkadang saya mampir ke angkringan-nya Kang Nur untuk minum jahe panas dan mengudap pisang goreng atau tahu susur.

Pagi itu sambil nunggu jahe-nya panas, Kang Nur duduk di samping saya dan menunjukkan HP-nya kepada saya.

"Iki biru biru sing nang ndhuwur iki opo to mas?" dia bertanya fitur baru WhatsApp yang terintegrasi MetaAI itu sebenarnya apa. 

"Ooo, iku AI Kang. Isoh tok takon takoni macem macem," saya beritahu Kang Nur kalau itu kecerdasan buatan yang bisa kita ajak ngobrol dan kita tanyai berbagai hal.

"Isoh takon resep gorengan enak no ya," Kang Nur jadi punya ide untuk bertanya kepada MetaAI resep gorengan yang enak.

"Ha jelas..."

"Wah, yen onoh kaya ngene iki njuk bocah bocah ra perlu sekolah no ya?" Kang Nur jadi punya ide yang lain lagi. Di dalam kepalanya kalau ada kecerdasan buatan, anak-anak tidak perlu sekolah.

"Lha kok ngono Kang?" saya mencoba untuk menggali pemikiran Kang Nur, mengapa begitu.

"Ha rak yo gari takon iki to," ujar Kang Nur sambil menunjuk MetaAI di HP-nya. Menurutnya, anak-anak tinggal tanya kecerdasan buatan kalau ingin mendapatkan pengetahuan.

Di kepala saya sudah berseliweran argumen tentang bagaimana kecerdasan buatan itu suka berhalusinasi dan bias, informasi yang kita dapatkan darinya harus selalu kita cek kebenarannya terlebih dahulu, dan bagaimana dalemannya si kecerdasan buatan itu bekerja. Tapi yang saya ucapkan untuk menanggapi Kang Nur bukan itu semua.

"Berarti saiki bocah bocah kudu ajar takon sing bener. Yo ra Kang?" saya menawarkan ide bahwa sudah saatnya sekarang anak anak di sekolah itu belajar bertanya.

Kang Nur terdiam sejenak.

Lalu dia berkata sambil berpikir nampaknya, "yo bener yo. Saiki rak sinaune ben isoh njawab yen ditakoni," Kang Nur mencoba membangun argumen bahwa saat ini di sekolah anak itu belajar untuk bisa menjawab pertanyaan. 

"Yen onoh iki, yen ditakoni rak gari nunul ... takon genti nang HP ..." lanjutnya sambil menimbang nimbang HP-nya. Seperti ide awalnya tadi kalau ada HP, ketika anak ditanyai sesuatu oleh orang lain, ya tinggal tanya ke HP.

"Yo bener kuwi, sik penting rak isoh takon sik yo?" Kang Nur sepakat dengan saya bahwa saat ini, di era Akal Imitasi (AI), keterampilan bertanya anak itu sangat penting. Kalau bahasa teknisnya critical thinking, prompt engineering, atau apa lah itu.

"Lha iyo Kang," saya mengiyakan.

"Yen sak durunge isoh nulis, rak kudu isoh maca to ya? Sak durunge isoh njawab pitakonan, kudu isoh takon sik berarti," Kang Nur mencoba membuat analogi bahwa seperti halnya kita harus biasa membaca sebelum bisa menulis, kita harus biasa bertanya sebelum bisa menjawab pertanyaan.

"Elok tenan Kang," saya memuji analogi yang dibuatnya.

Sambil berjalan mengambilkan jahe panas untuk saya, Kang Nur bergumam-gumam sendiri, "elok tenan, elok tenan..."

Setelah itu Kang Nur membiarkan saya sendirian menikmati jahe panas sambil nonton highlight pertandingan antara Baltimore Ravens vs. Cleveland Browns di HP. 

Thursday, May 04, 2023

Pendidikan dan Pematetikan

Ada setidaknya dua jenis orang. Yang pertama adalah orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicucinya di rak pengering dengan rapih. Yang kedua adalah orang yang ketika mencuci piring, meletakkan piring yang sudah dicuci di rak pengering dengan asal-asalan sehingga menciptakan sebuah struktur yang lebih layak disebut sebagai "Jenga Tower". Kenapa "Jenga Tower"? Karena ketika tersenggol sedikit saja, struktur-nya bisa rubuh.

Apa kaitannya cuci piring dengan pendidikan? Dan apa pula itu pematetikan? 

Pendidikan memiliki kata dasar "didik" yang sangat mungkin memiliki keterkaitan ataupun asal muasal kata dari kata Yunani "didaktik" (διδακτικός) yang secara harfiah bermakna "pengajaran". Sudut pandangnya sudut pandang sistem/guru sebagai subjek, peserta didik sebagai objek. Sehingga wajar saja sebenarnya jika selama ini (dan mungkin kebanyakan) kelas-kelas kita masih berpusat pada guru (teacher-centered). Toh, makna harfiah dari kata-nya begitu.

Ada sebenarnya kata yang mewakili "hal-hal terkait belajar" yang dicetuskan oleh Seymour Papert: "matetik". Kalau di-Indonesia-kan mungkin jadi "pematetikan". Ini sudut pandangnya sudut pandang si belajar sebagai subjek, ilmu sebagai objek. Lalu guru sebagai apa? Guru sebagai katalis saja, pihak yang menyediakan fasilitas dan kesempatan untuk si belajar menjalani petualangan belajar-nya. Bahasa kekinian-nya tentu saja "student-centered learning" (yang menurut saya sebenarnya istilahnya redundant ... kalau learning ya sudah semestinya student-centered), "active learning", "experiential learning", dan lain sebagainya.

Bahasa Inggris juga sama saja sebenarnya. "Education" itu "ex ducare" yang kurang lebih artinya "memimpin ke luar". Guru/dosen/docere adalah pemimpin bagi siswa-nya untuk keluar dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa. Mulia memang, tapi tetap saja sama dengan kata "pendidikan", aktor utamanya si pemimpin itu tadi.

Banyak sebenarnya kemudian tokoh-tokoh yang berusaha memaknai ulang "pendidikan" dengan membawa kata yang berat maknanya ke pengajaran menjadi kata yang setidaknya bermakna pembelajaran. Salah satu yang kita kenal tentu saja Maria Montessori. Ide Montessori kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk membuat kredo "Tut Wuri Handayani". Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tidak menolak ide bahwa guru adalah pemimpin yang harus berada di depan memberikan tauladan, "Ing Ngarso Sung Tuladha". Beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya peran guru adalah berada di tengah-tengah siswa-nya, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama membangun motivasi untuk berkarya, "Ing Madya Mangun Karsa". Namun peran yang paling utama dari seorang guru adalah "Tut Wuri Handayani". "Handayani" memiliki kata dasar "daya" dan secara umum bermakna "memberdayakan". Seperti ide Montessori di mana guru harus membiarkan "inner-potential of the students unfold", maka peran guru yang utama adalah memberikan panggung kepada para siswa agar mereka bersinar. Ide ini mirip dengan ide Papert tentang "matetik".

Pematetikan itu adalah proses pembekalan keterampilan belajar. Keterampilan belajar itu adalah fondasi bagi seseorang untuk menavigasi kehidupan, apalagi di dalam era di mana informasi itu begitu berlimpahnya dan sangat mudah diakses di ujung jari kita sedemikian rupa sehingga banjir informasi itu membuat kita tidak mampu lagi mencerna mana informasi yang benar mana yang keliru, bahkan mana yang palsu. Termasuk di dalam kategori keterampilan belajar adalah keterampilan untuk bertanya, keterampilan untuk mencari informasi yang terpercaya, keterampilan untuk mengkomunikasikan ide, keterampilan untuk menerima perbedaan dan keberagaman. Orang mungkin bisa berargumen bahwa keterampilan itu sudah diajarkan, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun apa benar demikian? Beberapa ahli pendidikan seperti James Paul Gee, Sugata Mitra, dan Ken Robinson berpendapat bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya masih berkutat dengan materi-materi "just-in-case", bukan memperlakukan materi itu sebagai informasi "just-in-time". Belum lagi ketika kita bicara tentang administrasi, penjaminan mutu, tes, dan lain sebagainya. Secara umum, kita masih berkutat pada pendidikan bukan pematetikan. 

Ketika kita masih berkutat dengan didaktik, sangat sulit bagi kita untuk mendiskusikan mengenai matetik. Padahal, tanpa membekali anak-anak kita -para pemuda-pemudi harapan bangsa- dengan keterampilan belajar, ibaratnya kita mendesain sebuah sistem yang sengaja membiarkan mereka gagal di masa depan. Persis dengan orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicuci itu asal-asalan saja sehingga strukturnya lebih mirip "Jenga Tower". Saya kurang tahu mana yang lebih buruk, apakah pencuci piring yang hobi membuat "Jenga Tower" atau jenis orang ketiga: orang yang tidak mau cuci piring.

P.S.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023 (2 Mei kemarin). 

Seperti kata teman saya di WAG, karena pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga, maka ucapan selamat ini berlaku untuk semua orang tua, wali siswa, dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan.

Sunday, April 03, 2022

Matematika

Ceritanya bulan lalu saya diminta untuk menjadi narasumber pengganti di sebuah webinar tentang Matematika. Ketika dapat tema “Matematika yang Bernalar” dari Pak Rachmat (penyelenggara webinar-nya) untuk didiskusikan, saya sempat mikir gitu. Memangnya ada ya matematika yang tidak bernalar? He he. 

Saya kemudian sempat mendiskusikan hal ini secara singkat dengan Bu Andri, Master Trainer Gernas Tastaka yang seharusnya saat itu menjadi narasumber. Intinya kurang lebih, ada beda pemahaman tentang matematika, terlebih mungkin ada beda dalam praktik membelajarkan matematika. Beda sekolah mungkin bisa beda cara orang belajar, atau memfasilitasi orang lain belajar matematika.

Jadi sebenarnya di sini kapasitas saya, sebagai narasumber pengganti, bukan untuk mendiskusikan bagaimana matematika yang benar atau bagaimana yang salah … atau bahkan mungkin kapasitas saya di sini bukan untuk membahas matematika yang bernalar itu seperti apa. Saya akan lebih cenderung berbagi tentang pengalaman saya sebagai pemelajar matematika, atau math learner.

Sebelum saya berbagi pengalaman saya, mungkin ada baiknya saya memperkenalkan diri lebih lanjut tentang siapa saya supaya Ibu/Bapak bisa memahami bias-bias saya ketika membahas topik “matematika yang bernalar” ini. Semacam jadi tahu siapa sih ini orang kok berani beraninya ngaji matematika gitu. Saya itu guru matematika bukan … punya latar belakang pendidikan matematika juga enggak … ahli matematika apa lagi. Jauh. 

Latar belakang pendidikan saya itu Teknologi Pembelajaran. Agak jauh ya dari matematika? He he. Tenang saja, nanti belakangan akan nyambung kok. Pengalaman saya ngajar matematika itu paling pol saya pernah jadi tutor beberapa anak SMA di Jogja untuk persiapan masuk ujian perguruan tinggi.

Tapi yang jelas, saya suka matematika. Boleh dibilang, saya math enthusiast gitu. Kenapa saya suka matematika? Sebentar lagi akan saya ceritakan melalui pengalaman-pengalaman saya. Dan melalui antusiasme saya terhadap matematika ini, saya diajak Mbak Puti terlibat di Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) sebagai sukarelawan, voluntir. Saya bukan trainer tapi ya. 

Peran saya di Gernas Tastaka yang utama sebenernya adalah pengembang manipulatif virtual untuk Gernas, terutama pas hangat-hangatnya pelatihan Gernas Daring di akhir tahun 2020. Pas pandemi masih tinggi-tingginya. Tapi kadang saya juga melayani diskusi-diskusi lain, umumnya kalau terkait dengan pengembangan media pembelajaran daring.

Nah, dengan latar belakang saya itu tadi, yang bisa saya tawarkan di sini adalah sudut pandang atau point of view saya terhadap matematika yang mungkin sifatnya relatif subyektif.

Melalui tiga pengalaman saya, mungkin nanti Ibu/Bapak sekalian dapat mengambil pelajaran atau sudut pandang yang relatif baru begitu tentang matematika … 


* * * 


Pengalaman Pertama

Sewaktu saya SD, saya memandang matematika itu sebagai ilmu tebak-tebakan. Atau mungkin saya melihat sekolah secara umum itu pada dasarnya institusi tebak-tebakan … mohon jangan tersinggung duluan ya yang guru-guru. He he. Itu karena sejujurnya apa yang saya lihat dari kacamata saya ketika saya masih SD.

Kok bisa begitu? Pertanyaannya … lha kok enggak?

Jaman saya SD bahkan sampai SMP-SMA, isinya kan kurang lebih supaya nilai tes-nya bagus. Jadi ya buat saya, sekolah itu permainan tebak-tebakan.

Kalo anak sekarang mungkin ekstrim-nya mensejajarkan sekolah dengan Squid Game. Ada yang tau Squid Game? Yang belum pernah nonton Squid Game Squid Game itu semacam permainan yang didesain sedemikian rupa sehingga cuma ada segelintir … tepatnya satu … orang yang bertahan gitu. 

Lebih parah lagi, di rumah, saya diajarin Bapak saya matematika itu ya melalui permainan tebak-tebakan. Tebak-tebakan kelereng. Yang tadinya di dalam genggaman ada lima kelereng, kemudian diambil tiga kelereng di tangan kanan yang terbuka, saya disuru nebak berapa kelereng yang digenggam Bapak saya di tangan kiri. 

Ini saya bukan nyalahin Bapak saya lho ya … bahkan kata Bu Andri, Bapak saya sudah benar cara mengajarinya supaya saya punya number sense. Saya-nya aja yang salah paham, bukannya melihat itu sebagai number sense, tapi saya lihat itu sebagai child play. Karena saya melihatnya sebagai sebuah permainan, efikasi saya terhadap matematika cukup tinggi. Saya mikirnya, toh ini hanya permainan anak-anak belaka. Salah jawab pun tidak apa-apa. It's just a game. Tapi nanti melalui pengalaman-pengalaman yang lain, saya mendapatkan sudut pandang yang berbeda.


* * * 


Pengalaman Kedua

Sewaktu saya SMA, saya beruntung diajar oleh guru yang cukup nyentrik. Namanya Pak Rani. Hampir semua teman saya tidak suka dengan Pak Rani. Karena cara ngajarnya “nggak jelas”, mana nilainya susah, soal-soal ulangan-nya naudubilah di luar jangkauan nalar anak SMA kami Nilai dua atau bahkan satu itu umum kami dapatkan … padahal nilai maksimalnya seratus …

Saya ingat sekali ketika Pak Rani masuk kelas kemudian bertanya, “lingkaran itu apa?”

Dari satu kelas ke kelas yang lain … saya sekolah di SMA 3 Yogyakarta yang cukup terkenal anaknya pintar-pintar … tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan Pak Rani dengan benar waktu itu. Pak Rani menunggu sampai ada yang menjawab dengan benar selama pelajaran. Ada kali kalau 55 menit penuh hanya diisi dengan murid-murid yang saling menatap antara kebingungan dan takut dan heran kenapa semua jawaban yang kami berikan salah … Semua kelas berujung dengan Pak Rani yang patah hati dan keluar kelas dengan menggerutu karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan beliau dengan benar.

Padahal jawaban yang memuaskan Pak Rani waktu itu hanya satu kata: HIMPUNAN.

Kalau dijawab “himpunan”, beliau akan lanjut bertanya “himpunan apa?”

“Himpunan titik-titik yang memiliki jarak yang sama dari satu titik acuan tertentu pada sebuah bidang.”

Kalimat itu keluar dari memori saya bukan karena saya mengingat kata per kata, tapi karena saya membayangkan lingkaran itu sendiri. Berkat Pak Rani.

Kelas berikutnya, Pak Rani memberikan latihan soal banyak sekali. Beliau menjanjikan akan memberikan soal tambahan yang lebih sulit kalau ada yang berhasil menyelesaikan latihan soal yang beliau berikan.

Saya somehow jadi bersemangat. Kalo tebak-tebakan yang beginian mah saya bisa. Saya kerja lebih keras dari teman-teman sekelas saya. Saya rela bangun dini hari buat ngerjakan soal latihan dari Pak Rani. Kalau teman-teman saya sampai LKS #7, saya sudah kerjakan sampai LKS #10. Ketika itulah Pak Rani memberikan selembar kertas yang berisi soal yang lebih sulit. 

Seringnya saya gagal, dan teman-teman saya menyusul saya. Lalu Pak Rani nyuruh saya untuk mengerjakan LKS lagi. Tapi suatu saat saya berhasil menjawab salah satu soal yang sulit itu. Saya lupa soalnya macam mana. Tapi saya ingat betul Pak Rani datang ke meja saya. Lalu beliau ngorek-orek (mencorat-coret) meja saya dengan kapurnya untuk mengajari saya one-on-one.

Dalam satu tahun saya belajar dengan Pak Rani, ada tiga kesempatan beliau mendatangi meja saya dengan kapurnya.

Kesempatan pertama, beliau mencorat-coret hirarki lema teorema rumus apa lah itu saya tidak ingat persis, tapi saya ingat beliau bilang “matematika itu seperangkat aturan”. Saya memahaminya bahwa matematika itu hukum. Persamaan itu tentang mencari keadilan, keseimbangan. Ketika saya ikuti aturan dengan benar, saya akan mendapatkan apa yang saya cari.

Kesempatan kedua, Pak Rani masih meneruskan topik matematika itu hukum dengan memberikan nasehat ke saya “kalau kamu nggak bisa selesaikan masalah dengan rumus, kembalikan ke definisinya”.

Kesempatan ketiga, Pak Rani memberitahu saya sesuatu yang buat saya waktu itu mind blowing : “matematika itu bahasa”.

Perspektif saya berubah total. Yang tadinya saya menganggap matematika itu permainan tebak-tebakan, jadi berubah. Semacam “oiya ya … baru sadar saya … simbol-simbol itu … persamaan-persamaan itu … semua ada maknanya … simbol-simbol itu nggak ada bedanya sama kata-kata yang kita pakai dalam kita berbicara”.


* * *


Pengalaman Ketiga

Sewaktu studi lanjut, saya ada tugas mata kuliah disuru baca bukunya Seymour Papert, judulnya The Children’s Machine. Di dalam buku ini Papert merumuskan landasan teori belajar konstruksionisme. Salah satu pembahasannya adalah tentang “mathetics”. 

Jadi menurut Papert kurang lebih ilmu tentang mengajar itu ada namanya: DIDAKTIK namun pasangannya yaitu ilmu tentang belajar itu belum ada namanya. Papert lalu mengusulkan kata MATETIK.

Apa hubungannya matetik dengan matematika? Akar kata-nya serumpun. Sama-sama dari bahasa Yunani. Matetik itu dari kata μάθηση (mathese) yang mendapat imbuhan -τικος (-tikos). μάθηση itu artinya “belajar”. Imbuhan -τικος adalah imbuhan yang mengubah kata yang ditempeli menjadi kata benda atau memiliki sifat terkait dengan kata dasar yang ditempeli itu. Mathetikos itu berarti kurang lebih segala sesuatu tentang belajar atau yang bersifat seperti itu.

Nah, sekarang μάθημα (mathema) itu adalah kata benda yang artinya pelajaran. Mathematikos tentu saja jadi segala sesuatu yang terkait dengan mathema, pelajaran. Lho kok umum banget begitu ya? Kenapa enggak biologi kemudian dinamakan matematika? Atau kewarganegaraan, kenapa enggak dinamakan matematika juga? Toh semuanya pelajaran kan?

Kalau dipikir-pikir matematika itu sebenarnya memang sekumpulan pelajaran. Aritmatika misalnya, dari kata αριθμός (arithmos) yang berarti bilangan dengan imbuhan -τικος … segala sesuatu yang terkait dengan bilangan. Geometri … ukuran-ukuran Bumi. Trigonometri … ukuran-ukuran segitiga. Calculus … kerikil-kerikil yang merepresentasikan penghitungan perubahan yang mendekati nol. Statistika … segala sesuatu yang terkait dengan keadaan negara yang direpresentasikan dengan data. Topologi … studi tentang tempat. Apalagi? Logics, Aljabar, Game Theory, Discrete Mathematics … banyak lagi.

Tapi memang, semacam kesepakatan dan persepsi umum tentang matematika itu yang seperti-seperti itu. Yang seperti apa? 

Apakah matematika itu selalu tentang angka? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang grafik, kurva, bidang, garis? Nggak selalu. Apakah matematika itu selalu tentang penalaran? Sebenernya iya, tapi pada praktiknya ada yang menjadikan matematika itu hafalan tanpa penalaran. Jadi ya tidak selalu. Kata Bu Andri, matematika itu isinya hanya dua. Kalau bukan tentang himpunan ya tentang fungsi. Lagi lagi ini bahasa matematika. Apa itu himpunan? Apa itu fungsi? 

Kembali lagi tentang “matematika itu bahasa”, bagi saya pribadi matematika itu bahasanya orang belajar. Salah satu makna belajar itu adalah “ketika seseorang menemukan keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain”. Sekumpulan hal itu himpunan. Keterkaitan itu fungsi. Matematika merepresentasikan keterkaitan antar hal atau sekumpulan hal dengan simbol simbol. 

Pelajaran pelajaran seperti biologi, sejarah, seni, budaya dan lain sebagainya itu pada umumnya sekumpulan pengetahuan yang memiliki ciri-ciri spesifik. Ketika kita berusaha mencari keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain di dalam bidang studi itu, kita dapat merepresentasikannya dengan simbol untuk membuatnya lebih sederhana untuk dipahami. Di situlah kemudian matematika berperan di dalam bidang-bidang studi itu. Ketika di sana ada pola, di sana ada matematika. Ketika di sana ada pemecahan masalah, di sana ada matematika juga karena untuk memecahkan masalah kita perlu memahami keterkaitan antar hal. Jadi memang matematika, secara umum, itu ada di mana-mana. Termasuk di bidang studi yang saya pelajari: Teknologi Pembelajaran.

Ketika saya menggambar TPACK Framework dengan menggunakan tiga lingkaran yang beririsan, itu Diagram Venn, matematika. Ketika saya menyusun tahapan-tahapan pembelajaran, itu algoritma, matematika. Ketika saya mengembangkan media belajar dengan menggunakan program komputer, membuat pernyataan kondisional pakai logika Boolean, matematika banget.


* * * 


Epilogue

Jadi “matematika yang bernalar” itu seperti apa? Saya tidak tahu. Saya kembalikan saja kepada Ibu/Bapak sekalian. Kalau saya sih setuju dengan Bu Andri. Matematika itu pada dasarnya pasti bernalar, praktik-nya saja kadang-kadang yang tidak pakai nalar.

Dari ketiga pengalaman saya, pemahaman saya tentang matematika itu berubah dari sesuatu yang sesederhana tebak-tebakan waktu SD sampai sesuatu yang lebih konseptual seperti “matematika itu bahasa” yang saya pahami saat ini. Saya nggak akan klaim kalau pemahaman saya ini pemahaman yang benar, tapi setidaknya saya mau memberikan sudut pandang alternatif … siapa tahu ada yang sebelumnya belum pernah melihat dunia matematika dari sudut pandang ini …

Terimakasih :)

Tuesday, January 18, 2022

Kepekaan Bilangan Tipis Tipis

Carilah pasangan angka yang menghasilkan 9 bila dijumlahkan.

Wednesday, September 15, 2021

Shoot Go Blam Blam

Cara Bermain:

• Klik bendera hijau untuk memulai.

• Putar meriam (roket) dengan menggunakan anak panah ke kiri atau ke kanan untuk mengarahkan tembakan.

• Tembak kelelawar dengan menekan spacebar atau tombol lingkaran.

• Berapa kali tembakan diperlukan untuk menembak 5 kelelawar pada kesempatan pertama saudara mencoba permainan ini?

• Coba mainkan permainan ini beberapa kali (klik Bendera Hijau di pojok kiri atas untuk mengulang permainan).

• Dari sekian kali saudara memainkan permainan ini, berapa rekor terendah jumlah tembakan yang diperlukan untuk menembak 5 kelelawar?

• Bagaimana strategi yang saudara gunakan supaya jumlah tembakan yang diperlukan sesedikit mungkin?

• Bagikan pendapat saudara pada kolom komentar di bawah.

Friday, May 21, 2021

Evolusi Teori Belajar

Bagaimana manusia belajar?

Pertanyaan itu merupakan salah satu pertanyaan besar yang berusaha dijawab oleh banyak orang. Pertanyaan ini menjadi penting karena memahami bagaimana manusia belajar dapat mempengaruhi bagaimana pendidikan (sebagai sebuah institusi yang hanya dimiliki makhluk yang namanya manusia) diselenggarakan.

Ada kurang lebih empat sampai lima aliran besar yang berusaha menjelaskan bagaimana manusia belajar. Dan bila kita melihat angka tahun dicetuskan ide-ide yang mendasari aliran itu, kita dapat menginferensikan bahwa pemahaman manusia tentang bagaimana mereka belajar itu mengalami evolusi.

Yang pertama adalah aliran Behaviorisme. Proponen utama teori ini adalah Ivan Pavlov melalui idenya tentang 'conditioning' (1897) dan B. F. Skinner dalam bukunya Behaviour of Organism (1938). Kurang lebih paham ini mengatakan bahwa belajar adalah rangkaian stimulus-respons. Dari pengamatan mereka terhadap anjing (Pavlov) dan Tikus/Merpati (Skinner), mereka menyimpulkan bahwa seseorang dikatakan belajar apabila orang tersebut menunjukkan respon sesuai dengan stimulus yang diberikan. Saya menyebutnya 'performance based'. Belajar dalam paham Behaviorism adalah sesuatu yang harus dapat diamati, ada buktinya, objektif. Implikasinya adalah standarisasi, latihan soal (Skinner's Machine, drill and practice) dan tes. Dalam kerangka Behaviorism pengetahuan itu ada 'di luar sana' dan si belajar harus 'mendapatkan' pengetahuan itu.

Yang kedua adalah aliran Kognitif-Konstruktivisme. Proponen utama teori ini adalah Jean Piaget dalam bukunya The Origin of Intelligence in the Child (1953) dan Jerome Bruner dengan idenya tentang 'representasi' (1967). Kurang lebih paham ini mengatakan bahwa si belajar adalah agen aktif dari proses belajar. Pengetahuan adalah sesuatu yang dikonstruksi oleh si belajar, bukan sesuatu yang 'ada di luar sana'. Ide konstruktivisme (yang umumnya dipopulerkan oleh psikolog-psikolog pendidikan dari Amerika) ini kemudian berkembang dengan diterbitkannya kumpulan ide Lev Vygotsky, seorang psikolog pendidikan dari Soviet, dalam buku Mind in Society (1987) yang menyatakan bahwa konstruksi pengetahuan itu terjadi dalam lingkungan sosial.

Evolusi pemikiran mengenai bagaimana manusia belajar di akhir abad 20 dan awal abad 21 sekarang ini berkembang ke dua arah yang berbeda namun komplementer (menurut saya). Ada peneliti dan psikolog pendidikan yang kemudian berusaha memahami bagaimana manusia belajar dari aspek neurosains, bagaimana otak kita bekerja secara sistematis. Aliran ini kita sebut saja Kognitif-Neurosains. Ada pula peneliti teori belajar yang berusaha menjelaskan belajar sebagai fenomena sosial. Aliran ini kita sebut saja Sosiokultural-Konstruktivisme.

Salah satu teori belajar yang masuk di bawah payung Sosiokultural-Konstruktivisme adalah Cognitive Apprenticeship yang dicetuskan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger dalam buku mereka Situated Learning: Legitimate Peripheral Participation (1991). Mereka meneliti bagaimana orang belajar di komunitas penjahit di Afrika, bagaimana orang belajar di Al Azhar, dan bagaimana orang belajar di komunitas Alcoholic Anonymous di Amerika. Benang merah dari komunitas belajar yang berbeda-beda tersebut adalah bahwa belajar terjadi melalui interaksi keseharian antara si belajar dengan sang master, baik master penjahit di komunitas penjahit di Afrika, ahli ilmu agama di Al Azhar ataupun seseorang yang telah sukses mengatasi kecanduan alkoholnya di komunitas Alcoholic Anonymous. Di Jawa, kita mengenal Cognitive Apprenticeship dengan istilah 'ngenger'.

Usaha untuk memformalisasi jawaban atas pertanyaan 'bagaimana manusia belajar' akhirnya kembali pada pengalaman individu masing-masing. Toh, setiap individu memiliki pengalaman unik dalam hal belajar. Ada yang mungkin cocok dengan aliran Behaviorisme. Ada pula yang mungkin cocok dengan aliran Sosiokultural-Konstruktivisme. Atau kecocokan itu bisa juga tergantung pada apa yang akan dipelajari alias tujuan belajarnya. Ide ini kemudian menjadi paham tersendiri, sebut saja paham Holistik-Eklektik.

By the way, bagaimana menurut Anda? Bagaimana manusia belajar?

Monday, October 05, 2020

Gaple

Selain njagong alias duduk duduk sambil ngobrol, menikmati camilan, main wifi, ataupun nonton wayangan di TV yang ada di cakruk, main gaple adalah salah satu kegiatan yang digemari oleh para peronda dan Bapak-Bapak yang suka nongkrong di cakruk. Gaple itu permainan kartu domino. Mbah Idek menyebutnya “nata kerdus” atau “menata kardus/kartu”. 

Gaple di pos ronda RT saya selalu dimainkan oleh empat orang. Kalau belum terkumpul empat orang yang mau main gaple, permainannya belum dimulai. Lik Gupuh dan Irfan adalah warga yang paling hobi main gaple. Mas Gi akan selalu oke kalo diajak main gaple. Namun tetap saja seringkali Lik Gupuh bercanda manas-manasin Mas Gi supaya Mas Gi mau main gaple. Sisanya kadang yang main adalah Mas Untung, Mas Kosrek, atau Pak RT. Kalau sudah terkumpul empat orang, salah satu pemain secara sukarela mengacak kartu dan membagikannya, tujuh kartu untuk setiap pemain.

Kartu domino sendiri pada dasarnya mengandung ilmu matematika. Setiap kartu domino memiliki dua kotak yang isinya beragam dari kosong (tidak ada titiknya) sampai enam titik. Kombinasi tujuh bilangan berbeda yang mengisi dua tempat tersebut menghasilkan 28 jenis kartu yang unik. Dari kartu balok kosong (kedua kotak kosong), kartu kosong-satu, dan seterusnya sampai kartu balok enam yang kedua kotaknya berisi enam titik. Bila setiap kartu terdiri atas dua kotak, maka secara keseluruhan ada 56 kotak. Karena terdapat tujuh jenis bilangan, maka setiap bilangan mengisi delapan kotak. Bila terdapat empat pasang bilangan terpasang berarti bilangan tersebut sudah habis. Bila terdapat enam pasang bilangan terpasang berarti kartu balok bilangan tersebut mati. Pemahaman atas semesta bilangan yang ada pada kartu domino ini --beserta bagaimana mengaplikasikannya dalam permainan-- membedakan mana pemain yang jago dan tidak.

Permainan gaple di cakruk RT saya dimulai dengan menjatuhkan sebuah kartu balok, urut dari yang terkecil, balok kosong. Setelah itu pemain di sebelah kanan pemilik kartu pertama yang dijatuhkan tadi mendapatkan giliran untuk mengeluarkan kartu yang memiliki kecocokan angka dari salah satu ujung kartu domino yang diletakkan. Jika seorang tidak punya satu pun kartu yang cocok, maka pemain yang bersangkutan mendeklarasikan “mati” atau “pass” dan akan mendapat sebuah “register” dalam bentuk selembar kartu remi. Demikian seterusnya sampai ada salah satu pemain habis kartunya, atau tercapai kondisi "Gaple". Kondisi itu tercapai apabila semua set dari sebuah bilangan sudah dijatuhkan sehingga tidak ada lagi pemain yang bisa berjalan walaupun masih ada kartu yang tersisa. Kondisi "Gaple" itu ekuivalen dengan "Skak Mat" pada permainan catur. Pemain dengan kartu yang memiliki total bilangan terbesar akan mendapatkan selembar kartu remi lagi sebagai “register” di akhir sebuah sesi. Pemain yang memiliki jumlah kartu remi terbanyak mendapatkan giliran mengacak dan membagikan kartu.

Permainan kemudian berlanjut ke sesi baru dengan seorang pemain menjatuhkan balok terkecil berikutnya. Kalau tadi yang dijatuhkan adalah balok kosong, maka pada sesi baru yang dijatuhkan pertama adalah balok satu. Demikian seterusnya. Keseluruhan permainan berakhir apabila salah seorang pemain mendapatkan setidaknya 15 atau 20 kartu remi sesuai kesepakatan bersama. Pemenang dari permainan gaple di cakruk RT kami adalah pemain yang mendapatkan kartu remi yang paling sedikit.

Dalam pemahaman kolektif orang-orang awam di Jawa, ketika mendengar kata “gaple” maka konotasinya adalah permainan judi. Ya memang nggak salah sih. Waktu saya pertama kali dapat cerita tentang gaple di kampung kami dari Pak Tukir yang pensiunan polisi itu memang sejarahnya permainan gaple itu melibatkan taruhan uang. Pak Tukir itu warga RT sebelah, yang kebetulan waktu portal Covid-19 di timur dusun masih aktif, suka nimbrung jaga portal sewaktu RT kami yang mendapatkan giliran jaga. 

Suatu malam di portal timur dusun, Pak Tukir bercerita dengan penuh semangat. Beliau cerita kalo pernah hobi main judi gaple sampai habis jutaan rupiah, pernah juga nggrebek judi gaple waktu dia masih aktif jadi polisi. Oleh karenanya saya agak sungkan ketika pertama kali nonton Bapak-Bapak pada main gaple di cakruk RT kami. Namun malam demi malam saya mencoba mengamati dan mempelajari permainan gaple dari jauh, kok rasanya tidak ada unsur judi dalam permainan gaple yang dimainkan di cakruk RT kami.

Malah sebaliknya, melihat keseruan Bapak-Bapak yang pada main gaple itu mengingatkan saya tentang Flow Theory dari Mihalyi Csikszentmihalyi. Teori ini secara garis besar mengatakan bahwa seseorang (atau dalam kasus Bapak-Bapak yang main gaple adalah sekolompok orang) memasuki flow state apabila mereka begitu asyiknya melakukan apa yang mereka lakukan. Dalam ungkapan kita, flow state itu ketika kita lupa waktu dalam melakukan pekerjaan itu. Lupa waktu ini dalam istilah Mihalyi adalah “distortion of temporal experience”. Bapak-Bapak yang main gaple itu ketika seru-serunya main nggak nyadar kalau tau-tau udah jam satu pagi aja.

Bagaimana seseorang bisa memasuki flow state? Menurut Mihalyi, keadaan itu terjadi ketika ada keseimbangan antara skills dengan challenge. Atau mungkin dalam bahasa lain, seseorang punya efikasi diri (perasaan bahwa dirinya mampu untuk mengerjakan sesuatu) yang tinggi ketika pekerjaan yang dilakukan itu sebenarnya memiliki derajat kesulitan yang tinggi juga. Dalam kasus Bapak-Bapak yang main gaple itu, tasking main gaple itu terlihat sederhana saja: mencocokkan kartu alias “nata kerdus” kalo istilah Mbah Idek tadi. Namun dibalik kesederhanaan tasking tersebut ada perhitungan matematis yang terkait semesta bilangan yang tidak sesederhana yang dikira orang. 

Ketika seseorang menemukan keseruan alias kegayengan dalam bermain gaple itu, dalam kerangka Flow Theory, disebut dengan menemukan intrinsically rewarding experience alias autotelic experience dimana seseorang menemukan kepuasan yang memotivasinya untuk melakukan pekerjaan itu secara terus menerus. Bahasanya ndakik-ndakik banget ya? Padahal dalam istilah awam cukup diwakili dengan satu kata: gayeng.

Tanpa harus merumuskan dan mempelajari teori psikologi, Bapak-Bapak yang nongkrong di cakruk RT kami --menurut saya-- sudah mencapai level "becoming" dalam Flow Theory (ketika main gaple).

Friday, September 25, 2020

Lelayu

“Mas, mbenjing bibar Isya saged tumut tilik Mas Tri nggih?” pada suatu malam saat ronda Pak RT menanyakan apakah saya bisa ikut menengok Mas Tri yang sedang sakit. Beliau ini adalah salah seorang warga RT yang cukup dekat dengan Bapak-Bapak peronda. Kanca, istilahnya.

Saya menyanggupi tanpa bertanya lebih lanjut.

Sabtu malam saya membawa motor saya ke cakruk. Tapi ternyata Bapak-Bapak yang lain hanya jalan kaki saja karena menengoknya hanya di rumah Mas Tri saja yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari cakruk. Saya kira tadinya mau nengok di Rumah Sakit begitu. Makanya saya bawa motor. Akhirnya motor saya tinggal saja di cakruk dan berjalan bareng Bapak-Bapak tersebut ke rumah Mas Tri.

Beberapa minggu setelahnya ketika ronda, Pak RT mengabarkan kalau Mas Tri sudah dalam kondisi koma dari penyakit liver yang dideritanya.

“Aku mau isuk isuk sak durunge Subuh diajak Pak Kirno nang JIH nggo ndongakne Mas Tri,” Pak RT bercerita kalo dini hari tadi beliau diajak Pak Haji Kirno, marbot masjid, untuk mendoakan Mas Tri di RS JIH. Kata beliau, kondisinya sudah parah, bernafas pun sudah nampak kesulitan.

Didorong kegalauan para Bapak-Bapak yang ronda malam itu yang ingin tahu kabar terkini Mas Tri, Mas Untung berinisiatif untuk menelpon kerabat Mas Tri. Dari ujung telepon Mas Untung dikabari bahwa kondisi Mas Tri sudah membaik, bahkan sudah bisa jalan-jalan. Bapak-Bapak peronda pun menghela nafas lega.  

Namun keesokan paginya, jam 8 pagi, TOA Masjid mengabarkan bahwa baru saja Mas Tri dipanggil berpulang ke hadirat Allah SWT. Serta merta warga RT berkumpul di rumah Mas Tri, sambatan, mendirikan tratag, menata kursi sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pemakaman dapat berlangsung jam 4 sore pada hari itu juga.

Seminggu setelahnya, sebelum berkumpul di cakruk, Pak RT rasan-rasan di angkringan Mas Dwi.

“Jyan, sandiwara tenan wingi kae. Mosok iyo, isuke wes megap-megap kok sore-ne wis enjoh mlaku-mlaku,” Pak RT menyayangkan oknum di ujung telepon yang mengabarkan bahwa Mas Tri sudah membaik keadaannya pada malam hari sebelum paginya beliau dipanggil berpulang.

“Ho oh kuwi, ngapusi tenan,” Mas Untung menimpali, mengatakan bahwa orang yang dia telepon berbohong padanya.

Ketika saya merenungkan dan merefleksikan rangkaian kejadian di atas, saya merasa seperti berada dalam film pendek "Tilik" yang menggambarkan misinformasi dan disinformasi. 

Dalam rangkaian kejadian di atas, saya mengalami sendiri misinformasi akibat saya salah paham ketika mau menengok Mas Tri. Yang harusnya bisa jalan kaki saja, saya malah bawa motor. Kurangnya informasi yang saya gali dan asumsi yang saya buat sendiri karena belum sepenuhnya paham budaya tengok menengok di kampung membuat saya mengambil tindakan yang keliru. 

Di sisi lain, Mas Untung --dalam rangkaian kejadian lelayu di atas-- menjadi korban disinformasi. Walaupun sampai sekarang belum terkonfirmasi apakah memang orang yang di ujung telepon berbohong, tetap saja Pak RT, Mas Untung, dan Bapak-Bapak peronda nggondhuk, kecewa. Karena, mereka berharap kondisi Mas Tri pada saat itu membaik betulan. Disinformasi tidak selalu bersifat harmful. Mungkin juga maksud orang di ujung telepon itu baik, supaya Bapak-Bapak peronda tidak galau. 

Proses belajar itu tidak bisa terlepas dari aspek komunikasi. Karena belajar itu pada dasarnya bersifat sosial, maka komunikasi menjadi bagian yang sangat penting sebagai sarana pertukaran pemahaman, ide dan keterampilan. Di dalam komunikasi tentu saja ada pertukaran informasi. Di sinilah kemudian ada potensi terjadi misinformasi dan disinformasi. Pengalaman terpapar misinformasi dan disinformasi itu sendiri merupakan bagian dari proses belajar. Bukan berarti bahwa kita harus super skeptik ketika menerima kabar atau informasi baru, namun ada baiknya bahwa kita melakukan prosedur pengecekan kebenaran informasi, utamanya sebelum kemudian meneruskan informasi itu ke orang lain. 

Falsafah Jawa memberikan rambu terkait pengolahan informasi dalam jargon: ojo dumeh, ojo kagetan, ojo gumunan. Jangan mentang-mentang yang memberi informasi itu orang yang kita kenal, atau orang yang punya status sosial yang tinggi lalu serta merta informasi yang mereka bawa otomatis kita anggap sebagai kebenaran. Jangan pula kita mudah kaget dan terpesona dengan informasi baru. Sikap kritis yang sehat adalah salah satu sikap yang penting dalam proses belajar, terlebih lagi apabila proses belajar itu kita lakukan dalam lingkungan daring. 

Wednesday, September 23, 2020

TV Baru

Pada suatu sore Mas Untung nge-share --di grup WA RT-- foto mas Dwi yang sedang mbongkar TV yang sudah lama mangkrak di cakruk. Konon TV itu sudah satu tahun tidak nyala, entah yang rusak apanya. Bapak-Bapak kemudian punya usulan untuk mengganti TV itu dengan yang baru saja, dalam rapat kumpulan RT.

Sesuai kesepakatan kumpulan RT tersebut, Mas Dwi kemudian berkeliling minta sumbangan buat TV baru, tapi ternyata Bu Bidan Rini berinisiatif membelikannya langsung, sebuah TV seharga 1,8 juta rupiah. Urunan warga yang sudah terkumpul sebanyak 800 ribu rupiah akhirnya dipakai untuk beli umbul-umbul tujuh belasan yang baru.

Singkat cerita, TV baru itu dipasang dan disambungkan dengan Wifi Cakruk. Housing dari besi (untuk keamanan) dibuatkan sama tukang las timur desa yang dibayar dengan harga kawan saja. Segera setelah TV terpasang, Bapak-Bapak langsung menyalakannya untuk nonton wayang ketika ronda.

Saya pribadi tadinya nggak begitu tertarik nonton wayang, tapi karena pas ronda adanya ya hanya itu ya akhirnya saya ngikut saja. Baru pertama kali itu saya menyimak jalannya pewayangan dengan seksama dan mata saya terbuka. Wayang itu sungguh sebuah suguhan seni tradisional yang sarat pesan dengan kemasan yang tidak kalah menariknya dengan Marvel Cinematic Universe. Syaratnya hanya satu saja: paham Bahasa Jawa halus, karena sebagian besar lakon dalam pewayangan dibawakan dalam Bahasa Jawa klasik yang dekat dengan bahasa Jawa halus.

Keputusan Bapak-Bapak untuk nonton wayang ketika punya TV baru di cakruk itu pun tidak kalah menariknya bagi saya. Dugaan saya, kalau nonton film asing (entah itu film Barat, Cina, atau India) mungkin mereka merasa kurang sreg. Nonton wayang itu mungkin lebih mewakili identitas kebudayaan para Bapak-Bapak peronda itu sebagai orang-orang Jawa. Namun demikian, mungkin ada sebagian Bapak-Bapak  yang menggemari wayang karena bisa nonton sinden-sinden yang cantik. Interaksi antara dalang dan para sinden yang sarat dengan innuendo pada sesi limbukan atau goro-goro bisa jadi adalah hiburan bagi Bapak-Bapak yang nyerempet-nyerempet saru namun masih dalam koridor tata susila Jawa. 

Di luar guyon yang nyerempet-nyerempet saru tadi, di dalam sesi limbukan dan goro-goro si dalang juga lebih leluasa menyampaikan pesan-pesan yang terkait dengan kondisi sosial pada saat itu. Misalnya dalam era Covid-19 seperti sekarang ini ya dalang-dalang itu menyuarakan kritik terhadap pemerintah mengenai penanganan pandemi, seakan menyambung lidah rakyat yang tidak memiliki platform untuk bersuara. Bapak-Bapak yang nonton wayangan di cakruk pun mengangguk-anggukkan kepalanya ketika si dalang menyuarakan suara hati mereka.

Fenomena nonton wayang via TV baru yang disambungkan ke Wifi (YouTube) di cakruk merupakan fenomena perilaku sosial sebagai hasil kombinasi dari kebiasaan masyarakat lokal, tradisional, dengan kehadiran teknologi. Jika ada yang mempertanyakan apakah yang akan terjadi ketika kita memberikan akses teknologi kepada masyarakat desa, maka fenomena nonton wayangan bareng-bareng ini adalah salah satu contoh jawabannya. Kultur atau budaya adalah sesuatu yang telah mendarah daging dalam peri kehidupan masyarakat. Kehadiran teknologi, walaupun sedikit banyak membawa perubahan, tidak bisa serta merta mengubah prinsip-prinsip kehidupan yang sudah tertanam dalam kesadaran kolektif masyarakat yang kuat guyub-nya, kuat srawung-nya. Masyarakat akan sebisa mungkin mempertahankan (nguri-uri) seni budaya yang mereka miliki dengan memanfaatkan affordances yang dibawa oleh teknologi baru. 

Thursday, September 10, 2020

HT

Saat warga masyarakat masih getol menggalakkan siskamling Covid-19, berduyun-duyun orang-orang membeli pesawat HT (handheld transceiver) alias walkie-talkie. Tujuannya supaya para peronda dan pengurus kampung selalu update dengan kondisi keamanan lingkungan tanpa harus keluar biaya untuk beli kuota. Cukup modal ngecas batere saja. 

Dulu waktu HT lagi ngehits, setiap kali saya ronda, selalu ada tiga sampai empat orang yang bawa pesawat HT. Yang dibicarakan melalui udara ada ada saja. Mulai dari koordinator kampung yang mempresensi tiap Ketua RT, sampai dengan guyon innuendo a la bapak-bapak via udara. 

“Rejo empat monitor, rejo empat,” suara koordinator siskamling kampung terdengar dari HT yang kemrusek, mempresensi ketua RT kami. 

“Rejo empat monitor,” jawab Pak RT. “Kondisi aman terkendali, ganti,” lanjutnya. 

Atau kadang seperti ini:

“Seger seger segeerrr” seseorang berseru dari pesawat HT

“Apane sing seger mbah Jenggot?” tanya mbah Idek

“Susune, ganti.”

“Ooo … Susu Jahe … Rogerrr … ”

Itu dulu ya, waktu orang-orang masih waspada Covid-19. 

Sekarang yang masih setia bawa pesawat HT ketika ronda hanya mbah Idek. Itu pun, frekuensi yang beliau pantengin sudah bukan lagi frekuensi dusun Talangrejo. Beliau lebih memilih mantengin frekuensi kelurahan. 

“Sepi Mas sak niki,” ujar mbah Idek “aluwung mantau Meguwo nopo Wedo,” lanjutnya. Kata beliau dia lebih memilih memantau frekuensi kelurahan karena frekuensi dusun sudah tidak seramai dulu lagi. 

Ketika saya tanya kenapa beliau masih setia mantengin HT, jawabannya adalah karena menurut beliau HT itu lebih informatif dari HP. Mungkin, HT bagi mbah Idek itu seperti Twitter bagi kaum menengah perkotaan. Beliau jadi tahu kabar kabar terkini seputar kejadian yang ada di kelurahan via HT karena komunitas radio panggil (HT) di kelurahan kami --menurut beliau ya-- cukup solid. 

Beliau pernah bercerita suatu ketika ada orang kecelakaan disiarkan via HT. Serentak para sukarelawan komunitas radio panggil di kelurahan kami datang membantu. Demikian juga ketika jam 2 pagi disiarkan ada mahasiswa ling lung yang jalan-jalan nggak jelas di seputaran dusun Blotang, sukarelawan komunitas langsung datang ke lokasi dan menginterogasi yang bersangkutan. 

“Menawi wanci ndalu menika kaya-kaya sepi to nggih Mas? Namung menawi mantau HT menika dados ngertos werna-wernine mbengi,” suatu ketika mbah Idek bilang kepada saya kalau malam itu lebih hidup daripada yang kita kira. Malam yang tampaknya tenang di seputaran lingkungan rumah, kalau mantau HT katanya ada saja kejadian yang seru seru begitu. 

Jadilah kalau saya kepengen apdet berita kelurahan, saya bertanya ke mbah Idek. 

Suatu malam sambil beli baterei buat jam dinding ke warung Pak Jami, kebetulan saya lihat mbah Idek sedang nongkrong di cakruk sambil mantengin HT. 

“Wonten berita napa sak menika Pak Idek?” saya bertanya apakah ada berita yang menarik. 

Mbah Idek terkekeh nggleges, “sak nika mboten wonten napa napa Mas.” Katanya saat itu sedang tidak ada apa-apa. “Namung wau sonten wonten berita maling kotak infak mesjid,” sambungnya beliau mengabarkan tadi sore ada berita pencurian. 

“Ealah. Kok yo tegel nyolong kotak infak njih,” saya menanggapi. Kok ya ada gitu yang tega maling kotak infak. 

“Ha nggih niku, kirangan,” mbah Idek mengiyakan. 

Saya kemudian pamit. Sambil berjalan saya berpikir mungkin malingnya itu memang sudah kepepet betul sampai tega maling kotak infak. Meningkatnya tindak kriminal memang menjadi salah satu dampak ekonomi Covid-19. Lantaran HT mbah Idek, saya jadi terperingatkan untuk tetap waspada di masa pandemi seperti ini.

Tuesday, September 08, 2020

Wifi

Cakruk di RT saya relatif modern. Bukan masalah strukturnya. Tapi perlengkapannya. Gimana nggak modern, lha wong cakruk RT saya punya wifi. Langganannya wifi yang 20 Mbps, sebulan bayarnya sekitar 400 ribuan. Karena ada tujuh kelompok ronda, setiap kelompok ronda urunan 50 ribu per bulan, yang 50 ribu sisanya ditanggung sama rumah yang ngehost perangkat wifi-nya karena toh dia yang pakai paling banyak sehari-hari. 

Karena cakruk punya wifi, kalau siang dan sore hari kadang ada beberapa anak anak kecil yang pegang HP (entah punyanya sendiri atau punya orangtuanya) mangkal di cakruk. Main wifi. Entah buat sekolah dari rumah, cari info tugas, atau sekedar main game dan nonton yutup. Sedangkan kalau malam, jelas para peronda memanfaatkan wifi cakruk juga untuk menghabiskan waktu (termasuk saya). 

Meskipun demikian, untuk kelompok ronda saya (kelompok ronda malam Sabtu), saya mengamati hanya beberapa orang saja yang tertarik main wifi. Yang paling sering main wifi itu Pak RT, Pak Is, dan Mas Onthel. Itu pun juga nggak sering sering amat. Saya sendiri main wifi hanya sesekali untuk ngecek WA sambil nunggu orang-orang datang. Kalau sudah ada banyak orang, rasanya sungkan mainan HP sendirian. 

Kalau Mas Onthel biasanya nonton video yutup pertandingan voli. Mas Onthel ini memang hobinya voli. Tapi itu pun juga jarang-jarang nontonnya. Karena biasanya, Mas Onthel berangkat ronda setelah main voli sama warga RT sebelah. Jadi dianya lebih sering tidur di cakruk daripada mainan wifi. Udah ngantuk duluan. 

Pak RT dan Pak Is juga hobi mainan wifi. Sama juga, mereka hobi nyetel yutup. Bedanya, Pak RT sukanya nyetel lagu-lagu entah itu lagu uyon-uyon Jawa atau kadang nyetel slow rock lawas macam Scorpions atau The Eagles begitu. 

“Pisan pisan Mas. Ben iso nyanyi basa Enggres,” katanya. Maksudnya, sekali-sekali lah nyetel lagu-lagu slow rock supaya bisa nyanyi pakai Bahasa Inggris. Mungkin sama nostalgia masa mudanya juga. 

Sedangkan, Pak Is adalah yang paling rajin nyetel yutup yang sifatnya instruksional begitu. Pernah suatu malam saya perhatikan Pak Is nyetel video instruksional cara pembuatan pakan ayam. 

“Badhe ndamel pakan piyambak nopo Pak?” tanya saya, apakah beliau mau buat pakan ayam sendiri. 

“Ho oh Mas, aku bar tuku pitik iki. Lumayan, ben ngirit pakane gawe dhewe,” jawab Pak Is. Beliau baru saja beli ayam untuk usaha sampingan. Dan menurut dia, bikin pakan ayam sendiri itu lebih irit daripada beli. 

Video instruksional cara pembuatan pakan ayam itu durasinya sekitar 10-15 menit. Dan saya amati, Pak Is nggak hanya muter sekali saja untuk satu video. Mungkin itu satu video instruksional bisa dia puter sampai lima kali. 

Apa yang dilakukan para peronda itu adalah salah satu contoh mobile learning. Sifatnya mobile (tidak terikat ruang), personal (sesuai dengan minat atau ketertarikan/keperluan masing-masing orang), on demand, dan bisa diulang-ulang (repetitif) sesuai dengan kecepatan belajar (learning pace) seseorang untuk memahami suatu topik bahasan tertentu. Menurut saya pribadi, mobile learning itu masa depan moda belajar. Dan kita sebenarnya sudah sampai pada masa depan itu.

Monday, September 07, 2020

Portal

Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih ngehits, kampung kami juga menerapkan lockdown mandiri. Akses masuk ke kampung diberi portal dan didirikan pos penjagaan darurat pada dua titik: sisi timur dan sisi barat. Kelompok ronda RT saya kebagian jagain portal sisi timur pada malam Sabtu, dua minggu sekali. Gantian dengan RT sebelah. Petugas ronda berkewajiban menutup portal setelah jam 11 malam dan membukanya kembali setelah jam 5 pagi. 

Siapa pun yang tidak berkepentingan masuk ke dalam kampung, tidak diperbolehkan masuk. Selain warga kampung, ketika akan melewati portal pasti ditanya keperluannya apa. Ojek online (ojol) jika akan masuk di atas jam 11 malam akan diminta telpon konsumennya agar konsumen ybs. ngambil barang pesanannya di portal saja. Waktu uang urunan warga untuk keperluan PSBB ini masih ada, kedua portal utama itu dilengkapi dengan alat semprot segala. Jadi kalo orang pakai motor lewat portal bakalan basah basah bau begitu. Kadang mungkin gatelen juga. 

Selain dua portal utama itu, semua akses masuk ke kampung ditutup juga. Jalan-jalan kecil di dalam kampung juga diportali sehingga hanya ada dua jalur utama saja untuk keluar masuk kampung. Jalur selatan-timur dan jalur utara-barat. Selain dua jalur itu, semua jalur berubah jadi jalan buntu selama lockdown mandiri. 

Pernah pada suatu malam pesawat HT Pak Idek kemrusek ramai. Dikabarkan ada sekelompok motor berputar putar di dalam kampung, kebingungan mencari jalan keluar. Ya salahnya sendiri, mereka pulangnya kemalaman. Waktu itu sudah jam 11 malam lebih. Peronda lalu berusaha mencari pengendara-pengendara motor itu dan menunjukkan jalan keluarnya, sambil pasang muka serem tentunya untuk ngasi pelajaran “ngapain main sampe malem-malem?!” Begitulah kira-kira. 

Namun sekitar awal bulan Juli, portal mulai dibongkar. Mungkin sudah lelah. Mungkin bosan. Letih. Fatigue. Urunan warga juga sudah habis. Padahal jumlah orang yang tertular Covid-19 semakin banyak. Transmisi lokal jelas sudah merebak. Tapi ya mau bagaimana lagi. Masyarakat sudah banyak yang tidak acuh lagi dengan Covid-19. 

Bagaimana tidak? Karena ada collective cognitive dissonant

Masyarakat perlu menggerakkan roda ekonomi. Menurut mereka, kalau pergerakannya dibatasi terus ya nggak makan. Lagipula, dari apa yang mereka lihat, orang-orang yang terkena Covid-19 malah orang-orang yang ketat menerapkan protokol kesehatan seperti para tenaga kesehatan (nakes). Dalam kacamata mereka, orang-orang yang tidak acuh toh malah sehat-sehat saja. Disonansi kognitif inilah yang menjadi salah satu faktor yang mendorong pelonggaran PSBB, bahkan yang sifatnya lokal sekalipun. 

Ada juga yang fatalis. “Amit-amit ya mas. Tapi kalo sudah jatahnya kena ya kena saja,” ujar seseorang di cakruk. 

Lagipula, kembali tentang portal, menyemprot dan membatasi pergerakan orang keluar masuk kampung saja sebenarnya ya tidak cukup efektif selama kita masih buta, tidak tahu bagaimana peta persebaran virusnya. Tes masal, pelacakan (tracing), dan isolasi yang sudah terbukti dapat menghentikan penyebaran virus ini tidak dilakukan secara serius. Akhirnya, kita kembalikan ke masing-masing orang agar mereka rajin cuci tangan, pakai masker, dan menjaga jarak. Itu pun rasa-rasanya banyak sekali yang tidak melakukan. Mungkin, mereka sudah merasa aman karena portal-portal itu sudah dibuka. 

Sehingga portal itu sebenarnya bukan sekedar pembatas fisik saja yang membuat orang tidak bisa lewat. Portal itu simbol. Semiotik. Dibukanya portal itu mengesankan seolah-olah kondisinya sudah aman, padahal belum. Dibukanya portal itu juga petanda bahwa masyarakat sudah jenuh, letih, lelah dengan informasi-informasi seputar Covid-19. 

Bagaimana tidak jenuh? Information overload

Mana yang hoax, mana yang benar. Bingung. 

Sudah letih, bingung pula. 

Solusinya? Ya ndak tau saya. Mungkin sebaiknya portal itu dipasang kembali saja tapi ndak perlu dijagain nggak apa apa. 

Sekedar sebagai simbol saja: 

Ini keadaannya belum normal …

Sunday, September 06, 2020

Ronda

Di dusun Talangrejo tempat saya bermukim sekarang, ronda itu semacam jadi kewajiban warga. Saya kebetulan dapat jatah ronda setiap malam Sabtu, Jumat malam. Kelompok ronda malam Sabtu itu anggotanya cukup banyak, termasuk Pak RT, Pak Is, Mbah Idek, dan tujuh orang yang lain. Namun, karena ronda malam Sabtu itu regeng alias ramai, banyak warga RT yang kadang ikut nimbrung ronda, seperti Mas Untung dan Lik Gupuh, bahkan Mas Ndut dari RT sebelah kadang juga suka ikutan nongkrong di cakruk RT kami. 

Ronda di RT saya itu sebenernya bukan tentang menjaga keamanan lingkungan. Ya itu termasuk salah satu faktor juga, tapi yang lebih utama itu (kata Pak RT) adalah untuk menjaga sesrawungan alias kerukunan warga. “Kalau ada yang teriak tulung tulung ya paling enggak ada yang mendengar Mas, tapi intinya ya srawung,” begitu kata Pak RT ketika menjelaskan job description ronda kepada saya. 

Ronda di RT saya biasanya dimulai jam 10 malam. Saya sendiri biasanya pamit pulang kalau sudah jam 1 pagi, ketika ayam-ayam di belakang cakruk berkokok (seriusan itu ayam punya jam tangan apa ya, kok kalau berkokok pas gitu jam 1 pagi). Namun umumnya, peronda-peronda itu bubar dan kembali ke rumah masing-masing setelah jam 2 pagi. Tapi ya tergantung situasi dan kondisi juga sih, pernah juga jam 12 sudah pada bubar. 

Jadilah ronda sebuah rutinitas mingguan saya. Setiap malam Sabtu saya macak ronda. Pakai sarung yang sudah mbladhus, jaket hitam, dan tidak lupa bawa masker dan HP. Cakruknya kebetulan hanya sekitar 50 meter saja dari rumah saya, jadi saya hanya jalan kaki. Peronda lain yang rumahnya agak jauh biasanya berangkat ronda pakai sepeda atau sepeda motor. Sembari berangkat ronda, mereka menutupi portal jalan-jalan kecil sehingga hanya ada satu jalan utama saja yang menjadi akses keluar masuk lingkungan RT di atas jam 10 malam. 

Sesampai di cakruk, biasanya saya menggelar tikar di seberang cakruk di pelataran toko kelontong kecil milik Pak Jami. Tapi kalau belum ada yang datang ya saya mampir sebentar ke angkringan Mas Dwi di dekat cakruk sambil menunggu peronda lain yang datang. Sambil nunggu orang datang, saya biasanya main HP saja (itu fungsinya bawa HP, biar nggak bengong). Tapi kalau orang-orang sudah ngumpul, HP saya masukkan kantong jaket dan saya menyimak obrolan dan perilaku rekan-rekan peronda. Kurang lebih tiga jam setiap minggunya. 

Dalam kacamata saya, ronda itu salah satu wujud social learning. Bukan. Social learning itu bukan belajar bersosialisasi dengan orang lain. Social learning itu proses belajar yang terjadi dalam konteks pergaulan sosial. Walaupun sebenarnya, istilah social learning itu redundan. Secara, belajar (learning) itu sendiri tidak bisa hadir di ruang hampa. Secara alamiah belajar itu sifatnya sosial. Selalu ada konteks lingkungan dalam proses belajar. 

Saking menariknya proses social learning dalam ronda, saya memutuskan untuk membuat beberapa catatan dari hal-hal menarik yang saya amati dan saya simak selama saya mengikuti ronda. Mulai dari gaple sampai HT. Mulai dari lelayu sampai TV baru. 

Cheers,

Monday, March 23, 2020

COVID-19 Repository

Useful links:


My takes:

About airborne and droplets:

Arguments:

  • "takut kok sama Corona". COUNTER: Ini bukan takut sama Corona. Ini takut sama Gusti Alloh jika kelak kita dimintai pertanggungjawaban di akherat karena kita membiarkan banyak orang mati konyol akibat kita menganggap remeh Corona.
  • "sampai saat ini yang mati karena kecelakaan jalan raya lebih banyak dari yang mati karena Corona. Jangan meden-medeni wong cilik. Urip wis susah kok diweden-wedeni". COUNTER: Pertama, kecelakaan jalan raya itu tidak menular. Ketidakacuhan yang menular. Kedua, ini bukan menakut-nakuti. Ini bentuk tanggung jawab sebagai sesama manusia saling mengingatkan dalam kebaikan. Kok malah dibilang menakut-nakuti. Apa dulu Nabi Nuh AS. memperingatkan banjir akan datang juga dibilang menakut-nakuti?

PSA:


LAKUKAN PENJARANGAN SOSIAL (Social Distancing) : SEBISA MUNGKIN TINGGAL DI RUMAH SAJA; HINDARI KERUMUNAN; JAGA JARAK DENGAN ORANG LAIN (MINIMAL SEJAUH PANJANG TONGKAT PRAMUKA); IBADAH DI RUMAH SAJA DULU; TIDAK PERLU NJAGONG MANTEN DULU; TIDAK PERLU REWANG DULU; TIDAK PERLU BERJABAT TANGAN DULU; TIDAK PERLU TAMASYA DULU; TIDAK PERLU KONGKOW-KONGKOW DULU; TIDAK PERLU KUMPULAN DULU; DI RUMAH SAJA.

CUCI TANGAN YANG BENAR; JAGA KESEHATAN DAN KEBERSIHAN; MAKAN SEHAT, TIDUR CUKUP; JANGAN KEBANYAKAN KONSUMSI HOAX.

PAKAI MASKER KETIKA TERPAKSA KELUAR RUMAH; BUAT MASKER SENDIRI AGAR PERSEDIAAN MASKER DAPAT DIGUNAKAN OLEH TENAGA MEDIS.

TIDAK PERLU MENIMBUN BAHAN MAKANAN. TIDAK PERLU MENIMBUN HAND SANITIZER. TIDAK PERLU MENIMBUN TISU. BELANJA SEWAJARNYA. SEBISA MUNGKIN, BANTU MEREKA YANG MENGALAMI KESULITAN EKONOMI KARENA COVID-19.

JANGAN KEJAUHAN MIKIRNYA. COVID-19 BUKAN KONSPIRASI SIAPA-SIAPA. FOKUS BANTU ORANG LAIN SEBISA MUNGKIN. DAN, BERSAMA-SAMA KITA MENANGGULANGI COVID-19.

Tuesday, March 03, 2020

Mendesain Pembelajaran

Fondasi ilmu yang diperlukan dalam mendesain pembelajaran itu berkisar mengenai pemahaman kita tentang bagaimana manusia belajar. Bagaimana manusia belajar? Kalau secara teori, penjelasannya macam-macam, tergantung definisi kata belajar itu sendiri. Banyak yang mendefinisikan belajar itu sebagai perubahan perilaku. Namun, ada juga proses belajar yang tidak serta merta diikuti dengan perubahan perilaku, lebih kepada pemrosesan informasi.

Secara lebih spesifik, dalam dunia pembelajaran, biasanya belajar itu dikaitkan dengan tujuan belajarnya apa. Makanya trus sekarang banyak yang mendengungkan istilah HOTS (Higher Order Thinking Skills), mengacu pada tiga level taksonomi belajar Bloom yang direvisi: membuat, mengevaluasi, menganalisis.

Secara sederhana, kalau kita pakai acuan taksonominya Bloom, belajar itu sebuah kegiatan aktif yang menurut Bloom dan kawan-kawannya bisa dikategorikan jadi enam kata kerja: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat. Makanya, banyak juga yang mendengungkan "active learning" alias belajar aktif. Maksudnya, belajar itu tidak sekedar membaca, melihat video, ataupun mendengarkan ceramah. Belajar itu inheren dalam proses seseorang berkegiatan.

Sederhana ya? Belajar = Berkegiatan.

Ya emang sederhana saja sebenernya ilmu belajar itu. Yang jadi sedikit agak rumit itu ketika kita kepengen mendesain kegiatan belajar supaya seseorang yang kita ajak untuk belajar itu dapat mencapai tujuan belajar yang kita inginkan sekaligus merasakan kebahagiaan belajar. Di situlah kemudian masuk teori motivasi, neurosains, dan lain sebagainya.

Selain bahwa belajar dengan berkegiatan, manusia belajar dengan mencari ketersambungan, atau dalam bahasa Inggris "connection" a.k.a. "relation".

Ketersambungan itu ada yang sifatnya kognitif, ada pula yang sifatnya sosial/afektif.

Ketersambungan yang sifatnya kognitif itu contohnya adalah ketika kita mudah mengingat atau memahami sesuatu apabila kita diberi contoh yang kita bisa sambungkan alias "relate to". Dalam teori pembelajaran jaman dulu ada yang namanya "apersepsi" atau mengecek apa yang sudah diketahui oleh pemelajar dari sesi instruksional sebelumnya maupun pengalaman pribadi mereka, supaya apa yang mereka pelajari saat itu gampang nyambungnya.

Ketersambungan yang sifatnya sosial/afektif itu terkait dengan motivasi. Salah satu yang sering dikenal orang-orang yang belajar teori pembelajaran itu Zone of Proximal Development (ZPD)-nya Vygotsky. Menurut Lev Vygotsky, interaksi sosial itu berperan penting dalam menciptakan makna. Tidak sekedar karena "learning curve" seseorang itu dipotong karena dikasi tahu atau diajarin, tapi juga interaksi dengan orang lain itu mencetak pengalaman, menstempelkan makna. Sehingga, ketika seseorang belajar bersama orang yang sudah lebih menguasai sesuatu itu cenderung lebih cepat belajarnya daripada ketika orang itu mempelajari sesuatu itu sendirian.

Ketersambungan itu sifatnya unik bagi setiap orang. Mungkin ada ketersambungan yang sifatnya umum, tapi pada umumnya, setiap orang punya caranya sendiri untuk menemukan ketersambungan dalam mempelajari sesuatu. Oleh karenanya, sampai batas tertentu motivasi ekstrinsik semacam PBL (points-badges-leaderboards) yang sering digunakan dalam praktik gamification of learning itu bekerja, namun terkadang juga tidak efektif. Sedangkan, motivasi intrinsik yang timbul dari interaksi sosial dengan lingkungan yang menyediakan rasa aman ketika mengalami kegagalan dan sejenisnya bekerja lebih awet; jangka panjang.

TLDR; kunci mendesain pembelajaran yang baik itu adalah bagaimana kita merancang kegiatan yang memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi pemelajar sehingga mereka dapat menemukan ketersambungan, baik secara kognitif ataupun sosial/afektif.

Monday, January 20, 2020

Beban Kognitif

Setiap pekerjaan memiliki beban kognitif, alias seberapa sulit pekerjaan itu dilakukan.

Belajar itu bisa dimaknai sebagai proses untuk menurunkan beban kognitif dari suatu pekerjaan yang bersangkutan. Well, mungkin nggak sepenuhnya tepat, tapi begini maksud saya.

Contohnya kalau seseorang tidak bisa berbahasa Inggris, lalu diminta untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris, tentu orang tersebut mentok, tidak bisa mengerjakannya, ada beban kognitif yang sangat besar karena tidak adanya informasi penunjang dalam memori jangka panjang orang yang bersangkutan. Namun, ketika orang itu kemudian pelan-pelan belajar bahasa Inggris, beban kognitifnya lama-lama berkurang sampai tingkatan dimana orang ybs. lancar menerjemahkan sebuah kalimat bahasa Inggris. Tapi bukan berarti beban kognitifnya menjadi 0. Kalau kalimatnya ditambah menjadi sebuah paragraf, dan paragraf menjadi sebuah bab, dan bab menjadi sebuah buku, beban kognitifnya besar juga. Bukan karena orang ybs. tidak mampu menerjemahkannya, namun beban kognitifnya berasal dari volume pekerjaannya. Di sinilah Google Translate menjadi sangat membantu.

Curang? Enggak dong. Kan emang tersedia alatnya.

Dengan Google Translate yang sudah semakin cerdas karena semakin sering dipakai dan dikoreksi oleh buanyak sekali orang, pekerjaan menerjemahkan itu tinggal proof-reading saja, pengecekan kepantasan dan konteks kalimat. Lagi lagi, beban kognitifnya jadi lebih rendah.

Ini namanya Computational Thinking (CT) alias Berpikir Komputasional.

Secara umum definisi CT itu adalah proses pemecahan masalah dengan menyadari bahwa kita punya teknologi (atau teman) yang bisa membantu kita, sehingga bagaimana caranya kita memanfaatkan teknologi (atau teman kita) itu supaya beban kognitif proses pemecahan masalahnya jadi jauh lebih ringan.

Begitu, Ferguso. Hehe.

Saturday, December 14, 2019

Berpikir Komputasional


Bayangkan seandainya Anda adalah seorang asisten dosen yang diberi tugas untuk membersihkan transkrip wawancara dari penanda waktu yang tercetak otomatis oleh alat perekam wawancara dengan menggunakan program pengolah kata seperti MS Word (seperti yang terlihat pada gambar di atas). Jika Anda melakukannya secara manual dengan menghapus penanda waktu wawancara tersebut satu per satu, tentunya hal tersebut cukup membosankan dan menghabiskan banyak waktu. Namun apabila Anda menggunakan fitur "Find and Replace", misalnya, yang terdapat di dalam program pengolah kata yang Anda gunakan, Anda dapat membuat sebuah solusi yang lebih efisien dari segi waktu dan tenaga dengan bantuan fitur tersebut.

Atau bayangkan seandainya Anda adalah seorang ahli Biologi yang sedang meneliti pengaruh jumlah populasi rumput terhadap sebuah ekosistem. Melakukan penelitian tersebut secara manual mungkin akan memakan waktu yang lama. Namun apabila Anda mengetahui variabel variabel yang saling terkait di dalam ekosistem yang bersangkutan, Anda dapat membuat sebuah simulasi komputer dengan bantuan program seperti Star LOGO Nova dan melakukan berbagai macam skenario simulasi dalam waktu yang singkat saja.

Atau bayangkan seandainya Anda adalah seorang anak berumur dua belas tahun yang ingin mengajari adik Anda yang berumur lima tahun untuk menggosok gigi dengan baik dan benar. Apa saja langkah langkah instruksi tahap demi tahap yang Anda perlukan agar adik Anda dapat menggosok gigi dengan baik dan benar?

Ketiga contoh di atas adalah contoh-contoh aplikasi dari keterampilan berpikir komputasional.

Berpikir komputasional dapat didefinisikan secara umum sebagai sebuah keterampilan berpikir yang terinspirasi dari konsep konsep dasar ilmu komputer. Walaupun terinspirasi dari ilmu komputer, bukan berarti berpikir komputasional, pada praktiknya, harus selalu melibatkan perangkat keras komputer. Adalah seorang ahli pendidikan, Seymour Papert, di dalam bukunya ‘Mindstorms’ yang diterbitkan pada tahun 1980, yang mencetuskan ide awal dari keterampilan berpikir komputasional ini. Dia berpendapat bahwa melalui kegiatan menyusun algoritma komputer, seorang anak mengalami proses ‘apprenticeship as epistemologist’. Atau dengan kata lain, melalui aktivitas pemrograman komputer, anak menjalani proses metakognitif, berpikir mengenai proses berpikir itu sendiri. Sehingga pada akhirnya, anak yang belajar melalui kegiatan pemrograman komputer tersebut terlatih untuk bertanya bagaimana sesuatu itu dapat menjadi sesuatu (epistemologis).

Keterampilan berpikir komputasional ini kembali menjadi isu yang hangat setelah Jeanette Wing mempublikasikan sebuah artikel pada tahun 2006 untuk mendorong keterampilan berpikir komputasional diajarkan di sekolah sekolah. Di dalam artikelnya, Wing memberikan contoh-contoh bagaimana konsep-konsep di dalam ilmu komputer itu paralel dengan kegiatan kita sehari-hari. Misalnya, Wing memberikan contoh permasalahan seperti ketika kita hendak mengantri untuk membayar di kasir di sebuah pasar swalayan itu ibarat pemodelan untuk sistem multi-server. Atau misalnya, ketika kita memasukkan pernak-pernik yang harus dibawa anak ke sekolah di dalam tas-nya itu ibarat ‘pre-fetching’ dan ‘caching’. Wing berargumen bahwa ketika teknologi menjadi bagian integral dari kehidupan, kita perlu mengajarkan keterampilan berpikir komputasional kepada anak-anak kita.

Secara operasional, para ahli baik dari bidang ilmu komputer maupun dari bidang ilmu pendidikan merumuskan bahwa keterampilan berpikir komputasional itu memiliki beberapa sub-kategori keterampilan. Beberapa ahli ada yang berpendapat bahwa berpikir komputasional terdiri atas empat sub-keterampilan, dan beberapa ahli yang lain ada yang berpendapat bahwa berpikir komputasional terdiri atas enam sub-keterampilan. Enam sub-keterampilan tersebut adalah: (a) dekomposisi; (b) abstraksi; (c) pengenalan pola; (d) berpikir algoritmik; (e) optimisasi; dan (f) generalisasi.

Dekomposisi adalah proses dekonstruksi masalah menjadi sub-bagian yang lebih kecil yang lebih mudah diselesaikan. Abstraksi adalah proses memilah informasi penting dan mengesampingkan informasi yang tidak terlalu penting untuk memudahkan kita menyelesaikan masalah. Pengenalan pola adalah proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dari sekumpulan informasi yang dapat membantu kita untuk memecahkan masalah. Berpikir algoritmik adalah proses menyusun tahapan-tahapan penyelesaian masalah, termasuk di dalamnya menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah agar solusi terhadap masalah tersebut dapat diotomatisasi. Optimisasi adalah proses mencari penyelesaian masalah yang lebih efektif dan efisien. Dan terakhir, generalisasi adalah proses untuk melihat peluang apakah solusi atas permasalahan yang telah ditemukan tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pada konteks yang berbeda.

Dari penjelasan sub-kategori keterampilan di atas terlihat bahwa keterampilan berpikir komputasional memiliki irisan atau kesamaan dengan keterampilan pemecahan masalah secara umum (problem-solving). Namun, berpikir komputasional memiliki keunikan dalam hal keterlibatan proses otomatisasi dalam proses penyelesaian masalah tersebut. Dalam pemaknaan yang lebih luas, otomatisasi dapat melibatkan perangkat keras komputer maupun melibatkan sebuah organisasi/sekumpulan orang yang kompeten untuk mengeksekusi sebuah program kerja.

Dari penjelasan sub-kategori keterampilan di atas juga terlihat bahwa berpikir komputasional itu bukan 'panacea' atau solusi untuk segala hal. Ada permasalahan-permasalahan khusus yang lebih cocok untuk diselesaikan dengan pendekatan komputasional dan banyak permasalahan lain yang mungkin tidak memerlukan pendekatan komputasional.

Secara generik, berpikir komputasional dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan ‘how to’ dan ‘what if’, atau segala sesuatu yang repetitif, prosedural, dan melibatkan variabel. Namun lebih dari itu -sekali lagi-, berpikir komputasional dapat kita lihat sebagai alat meta-kognisi seperti yang dicetuskan oleh Seymour Papert. Dengan latihan berpikir komputasional, kita belajar untuk berpikir tentang berpikir. Proses refleksi dan metakognisi inilah yang akan membantu kita untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks di dalam masyarakat saat ini, yaitu masyarakat teknologi digital.

Friday, December 06, 2019

Skor PISA

Beberapa hari lalu orang-orang heboh dengan hasil PISA. Terutama ketika lihat tren nilai/skor PISA Indonesia yang rendah (dan terus menurun). Padahal, kalau mau membaca laporan PISA secara utuh, nggak perlu panas duluan.

PISA dilakukan untuk melihat praktik baik mana yang menghasilkan siswa yang memiliki capaian baik pula. Sehingga, kita tidak hanya melihat capaian satu atau dua negara saja tetapi juga harus melihat kecenderungan yang muncul dari hasil PISA 2018 secara keseluruhan. Evaluasi ini pun juga harus dipahami dengan lebih cermat, seperti bagaimana kondisi demografi dan sosial-ekonomi suatu negara berpengaruh terhadap hasil survei PISA. Artinya, belum tentu praktik baik yang dilakukan di Finlandia dapat serta-merta diadopsi di Indonesia dan menghasilkan luaran yang sama.

Jika kita ingin mengambil pelajaran dari laporan PISA 2018, maka setidaknya ada tiga hal yang perlu dicermati.

Yang pertama, laporan PISA 2018 memperkuat temuan survei PISA sebelumnya dimana besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan tidak menjamin peningkatan kualitas pendidikan. Adalah benar bahwa diperlukan biaya yang cukup untuk memperbaiki kualitas pendidikan, namun permasalahan bagaimana dan untuk apa anggaran tersebut digunakan lebih berdampak signifikan. Seperti misalnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilakukan semata-mata dengan meningkatkan gaji guru walaupun guru memang memerlukan gaji yang memadai sehingga mereka dapat bekerja dengan baik. Alokasi dana untuk pelatihan guru (teacher professional development) dan ketersediaan infrastruktur seperti buku dan perpustakaan di beberapa negara menunjukkan korelasi positif dengan membaiknya kualitas pendidikan di negara tersebut.

Yang kedua, salah satu temuan PISA 2018 yang sangat menarik adalah bahwa anak-anak yang memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) memiliki performa yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang memiliki pola pikir terpaku (fixed mindset). Kerangka berpikir growth vs. fixed mindset ini dilandasi penelitian yang dilakukan Dr. Carol Dweck dan Dr. Ellen Leggett pada tahun 1988. Secara sederhana, fixed mindset adalah pola pikir dimana seseorang percaya bahwa kecerdasan itu adalah sifat bawaan dimana proses belajar dapat berkontribusi menambah pengetahuan baru tetapi tidak mengubah kecerdasannya. Sedangkan growth mindset adalah pola pikir dimana seseorang percaya bahwa kecerdasan dapat berkembang seiring dengan proses belajar. Temuan ini memperkuat hasil survei PISA pada tahun-tahun sebelumnya dimana negara yang memiliki pendidikan yang baik adalah negara yang percaya bahwa setiap anak, tidak terkecuali, dapat berkembang dan mencapai kesuksesan apabila mereka diberi dukungan dan kesempatan.

Dalam kerangka growth mindset, pola pikir juga bukan bawaan lahir. Pola pikir adalah sesuatu yang terbentuk dari pengalaman dan informasi yang diserap oleh seseorang. Pola pikir adalah sesuatu yang dapat diajarkan. Sehingga, salah satu implikasi dari temuan PISA 2018 tersebut adalah bahwa pendidikan kita perlu menanamkan growth mindset kepada anak-anak Indonesia. Hasil PISA 2018 melaporkan bahwa baru 29% anak-anak kita yang memiliki growth mindset.

Yang ketiga, temuan PISA 2018 memberi peringatan bahwa era digital telah datang. Menurut laporan PISA 2018, salah satu kecenderungan yang terjadi akibat maraknya teknologi digital adalah bahwa semakin berkurangnya anak-anak yang memiliki hobi membaca buku. Padahal, menurut temuan PISA pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan membaca sebagai pengisi waktu luang yang tidak terkait dengan tugas akademik berkorelasi positif terhadap tingkat profisiensi membaca anak. Implikasinya, kita perlu menyediakan buku-buku yang menarik untuk anak. Bangun perpustakaan yang nyaman untuk membaca.

Sebenarnya, masih banyak pelajaran lain yang dapat kita ambil dari temuan PISA 2018. Namun sekali lagi, PISA itu bukan tentang skor dan ranking. Angka 371 itu tidak ada maknanya apabila kita tidak melihatnya sebagai peluang untuk berbenah.

Friday, March 08, 2019

Jalan Kaki dan Warna

Kadang-kadang kalau cuaca lagi bagus, Nana pulang dari sekolah jalan kaki bersama teman-temannya dan saya jemput pakai mobil di tengah jalan supaya tidak kejauhan jalannya. Sepanjang jalan pulang anak-anak itu suka ngobrol kesana kemari.

Hari ini, saya lihat mereka ngobrol seru sekali. Ketika Nana masuk mobil, saya tanya.

"Ngobrolin apa e Na?"

"Color! Is White a color, Bapak?"

Ternyata sepanjang jalan anak-anak itu berdebat tentang warna: apakah putih dan hitam itu termasuk warna atau tidak. Penyebabnya ada satu anak yang namanya Cormac yang bersikukuh bahwa putih dan hitam itu bukan warna. Berdebatlah mereka.

Lalu pertanyaan Nana tadi saya jawab dengan pertanyaan lain

"Well, how do you define color? What is color according to you?"

Yah begitulah kalo jadi bapak yang epistemological belief-nya konstruktivisme. Ditanyain sesuatu malah balik nanya ...

Sesampainya di rumah, seperti biasa ibuknya nanyain Nana gimana sekolahnya tadi. Nana kemudian bercerita tentang perdebatan masalah warna di perjalanan pulang itu. Sekarang gantian ibuknya yang tanya,

"So, is White a color?"

Dan Nana menjawab,

"It depends on how you define color."

Bapaknya senyum-senyum hehehe.

Tuesday, December 04, 2018

Radio Mobil dan Multitasking

Mobil kami itu Honda Civic tahun 1995 masih pakai persneling manual dan tentu saja dashboard-nya masih jadul. Alhamdulillah, di dashboard masih ada radio dan casette player (yang nggak pernah kami gunakan karena gak punya kaset sudah).

Di Baltimore ada lumayan banyak saluran radio. Saya kurang tahu jumlah pasti-nya berapa. Radio-nya sangat beragam, mulai dari radio gereja yang muternya lagu-lagu rohani nge-pop, radio African American yang umumnya mengangkat tema social justice, radio kampus yang biasa muter lagu-lagu indie yang tidak populer yang kalo kita dengerin kita bisa heran "who the hell is that?", radio yang spesialisasinya muter lagu-lagu rock dan menyiarkan pertandingan football-nya Baltimore Ravens, radio musik klasik, sampai ada radio khusus olahraga yang sepanjang hari isinya ulasan olahraga mulai dari football, baseball, bola basket sampai Lacrosse.

Di mobil kami ada tiga saluran utama yang paling sering kita pantengin.

Yang pertama dan utama adalah 88.1 FM WYPR. Ini kalo di Indonesia, khususnya di Jogja, adalah RRI Jogja. Radio publik lokal yang me-relay berita dari RRI pusat setiap jam-nya. Kenapa kok kami suka sama RRI Baltimore? Karena acara talk-show-nya itu asik-asik dan nerdy. Favorit kami adalah acara Wait Wait Don't Tell Me dan Ask Me Another yang diputar setiap akhir pekan. Namun informasi yang paling berguna sebenarnya adalah berita daerah, informasi jalan raya dan cuaca. Karena informasi itu bikin kita up-to-date sama situasi di Baltimore. Itulah kenapa WYPR jadi saluran nomor satu di mobil kami.

Yang berikutnya adalah 101.9 FM WLIF HD1 Baltimore. Ini saluran yang nyetel musik-musik 80-an sampai musik populer saat ini. Saluran radio ini punya tradisi unik. Mulai dari Thanksgiving sampai Natal, saluran radio ini hanya memutar lagu-lagu Natal semacam Mariah Carey "All I Want for Christmas" atau Michael Buble "Let It Snow"

Dan yang ketiga adalah 106.5 FM WWMX HD1 Baltimore atau lebih dikenal dengan nama Mix 1065. Kalau di Jogja, ini semacam Geronimo FM. Radio gaul yang isinya pop culture. Ini saluran favoritnya si Nana karena dia suka mendengarkan lagu-lagu terkini macam Panic! At The Disco atau Marshmello ft. Bastille.

Dari WYPR, WLIF dan WWMX kami sekeluarga jadi banyak belajar mengenai banyak hal mulai dari bagaimana bahasa membentuk cara berpikir seseorang, Nana belajar mengenal lagu-lagu jaman 90-an, sampai berita gosip kalau Ariana Grande potong rambut (penting jeuuung).

Belajar dari radio sambil berkendara di mobil itu salah satu contoh nyata bahwa manusia itu dibekali kapasitas untuk melakukan beberapa hal secara bersamaan alias multitasking.

Menurut saya multitasking itu setidaknya ada dua jenis. Yang pertama terjadi ketika indera dan organ motorik yang digunakan dalam proses multitasking itu berbeda. Secara teoritik kapasitas otak manusia memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Salah seorang ahli psikologi kognitif, Richard Mayer, punya teori bahwa proses berpikir seseorang itu dapat dipilah menjadi dua kanal: kanal auditoris dan kanal visual. Hal ini menjelaskan bagaimana mengendarai mobil sambil menyerap informasi dari radio (atau podcast kalau mobilnya lebih canggih) itu bisa terjadi: karena kita mengoptimalkan kedua kanal secara bersamaan. Terlebih, mendengarkan radio itu “pasif”, tidak menuntut aksi apapun walaupun mungkin pada kasus-kasus tertentu otak kita merekam informasi-informasi yang kita anggap menarik.

Jenis multitasking yang kedua adalah jenis time-shift, geser waktu. Yang biasa masak tentunya familiar dengan ilustrasi berikut: sambil menanak nasi dan menunggu nasinya matang, kita goreng telur. Ketika telur sudah siap tapi nasi masih menunggu tanak, kita cuci piring dan membersihkan dapur sehingga waktu makan malam tiba, dapur sudah bersih. Kita mengerjakan beberapa hal dengan mengalokasikan porsi waktu sedemikian rupa sehingga idle time atau waktu tunggu untuk satu pekerjaan digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Multitasking ini memerlukan latihan mental untuk menggeser fokus atau konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain secara cepat. Dus, multitasking jenis ini memiliki beban kognitif yang lebih besar.

Multitasking itu tampaknya bukan konsep yang dikenal oleh nenek moyang orang Indonesia karena sampai sekarang saya belum menemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Jawa. Walaupun demikian, baik multitasking kanal ganda ataupun multitasking geser waktu adalah keterampilan kognitif. Dan sepanjang hal tersebut adalah keterampilan, setiap orang bisa mempelajari atau melatihnya.

Hanya tersisa satu pertanyaan di benak saya sekarang. RRI Jogja apa kabar ya? Apakah program-program siaran-nya dikemas secara menarik dan informatif sehingga pendengar yang budiman bisa belajar banyak ketika terjebak kemacetan di jalan Gejayan misalnya?