Monday, September 14, 2026

Gregorius Agung Setyonugroho

Siang hari, Minggu 13 September 2026, matahari bersinar terik sekali. Panas. Sumuk. Ketika matahari-nya sudah menyingsing, Nana kakak minta dibelikan es teh. Saya pun keluar errands, sekalian beli sayur dan lauk untuk seminggu ke depan. Ketika menunggu es teh nya Nana dikemas, saya buka WA. Mahas mengirim pesan "Wah Greggy ndhisiki". Saya sejenak kurang paham maksudnya. Namun segera saya buka WAG Barokah. Teman-teman mengucapkan belasungkawa atas kepergian Gregi, salah satu admin WAG Barokah. Teman baik kami. Saya hanya bisa mengetik "Inna lillahi. Ya Allah"

Saya naik motor pulang sambil berlinang air mata. Sampai saat saya menulis ini pun, perasaan masih campur aduk. Discombobulated, istilah Inggris-nya. Tapi ini satu-satunya cara coping yang saya tahu ketika ada orang yang dekat dengan saya berpulang: menulis. 

Saya kenal dekat dengan Gregi boleh dibilang baru setelah pulang dari Amerika Serikat for good, sama seperti teman-teman WAG Barokah yang lain. Mereka teman SMA saya, tapi pas SMA dulu malah kurang dekat.

Enam tahun terakhir ini, Kami terlibat dalam berbagai macam interaksi. Kami sama sama ditinggal ayah kami. Gregi duluan yang ayahnya meninggal karena sakit. Lalu tak berselang lama, papa saya meninggal karena sakit juga. Ketika saya masih mengajar di Sampoerna University, pernah suatu kali kami janjian berangkat ke Jakarta barengan jejeran kursi di kereta. Gregi pula yang mengajari saya seluk-beluk perjalanan dengan kereta api: kereta mana yang ekonomi tapi rasa eksekutif, bagaimana menavigasi KRL di Jakarta, dan lain sebagainya.

Setelah saya fasih naik kereta ke Jakarta, setiap kali Gregi di Jakarta juga (istri Gregi bekerja di Jakarta, dan waktu itu anak Gregi juga masih sekolah SD di Jakarta) dan kalau pas saya ada pertemuan tatap muka di Sampoerna, Gregi ngajak ketemuan karena memang apartemen Gregi di seputaran Pancoran. Entah itu di McD Perdatam, atau pernah ngajak berkunjung ke rumah Ndru di Slipi mencari tongseng yang kebetulan tongseng-nya pas tutup. Pernah juga Gregi ngajak sarapan bubur ayam Jakarta bareng, pas kebetulan saya ada kegiatan pagi, jadi nggak kesampaian. 

Kalau ketemu, kami ngobrol banyak tentang macam-macam. Gregi adalah salah seorang yang mendukung mimpi saya. Saya punya impian bahwa Indonesia punya library system macam di negara-negara maju. Kalau perpustakaan daerah sih memang sudah ada, yang saya inginkan itu sistem perpustakaan. Gregi, sebagai seorang arsitek, paham betul. Dia bilang, kalau saya memang serius, dia akan bantu sebisanya. Tapi kok ya kebetulan pekerjaan saya belum mengarah ke arah sana untuk saat ini. Gregi keburu berpulang.

Gregi selalu menyempatkan diri untuk datang diskusi di Omaggio. Gregi juga menyempatkan diri datang ke Soto Kutut, ketemu Momon yang baru pulang dari Boston, dua minggu yang lalu. Hampir setiap hari Gregi mengirim DM IG ke saya, berbagi reels, meskipun saya jarang mengirim reels balik, karena memang saya jarang mainan IG.

Gregi meninggal karena stroke, ketika sedang bertugas melakukan asesmen bangunan pasca gempa di NTT. Bagi saya, kepergian Gregi seperti sebuah kisah superhero. Bukan superhero yang fancy, yang sederhana saja. 

Momen terakhir di rumah Pak Kades Tondong Belang, Manggarai Barat, NTT

Minggu pagi kemarin, Gregi masih sempat mengirimkan pemandangan di Labuan Bajo. Dan siangnya, sesaat sebelum ambruk di rumah Pak Kades, Gregi sempat mengirimkan foto-foto Puskesmas yang dia ases di Manggarai Barat. Rupanya bumi NTT yang memiliki padang rumput yang luas adalah persinggahan terakhir Gregi yang memang suka mengembara. 

Foto yang dikirim Gregi minggu pagi, setengah tujuh WIB (setengah delapan WITA)

Saya yakin masih banyak yang ingin diselesaikan oleh Gregi. Mulai dari memindahkan keluarganya supaya bisa kumpul di Jogja, sampai project-project luar negerinya. Dan ya, termasuk soal library system itu tadi ... 

Sugeng tindak Greg. Walaupun berat, kami akan melanjutkan pengembaraan di dunia ini tanpa njenengan, Iron Man.

"Everybody wants a happy ending. Right? But it doesn't always roll that way... in the case of an untimely death on my part. I mean, not that any time, it's not timely ... then again, that's the heroic part of the journey is the end. What I'm even dripping for. Everything's gonna work out exactly the way it's supposed to. I Love You. 3000."

Catatan:

Liputan Koran NTT : https://koranntt.com/2026/09/14/misi-kemanusiaan-berujung-duka-anggota-tim-iai-hadir-meninggal-saat-bertugas-di-flores/ 

No comments: