Selain nama Muhammad, dan varian-nya Ahmad, ada sebuah nama beserta varian-nya yang sangat banyak ditemukan di seluruh dunia: Yohanes. Nama itu memiliki varian dalam Bahasa Inggris : John. Maksudnya tentu saja merujuk kepada John the Baptist, atau Nabi Yahya (a.s.) putra Nabi Zakaria (a.s.) dalam kepercayaan agama Islam. Varian nama Yahya, yang berasal dari Bahasa Ibrani "Yohanan", begitu beragam: John, Yohanes, Hans, Giovanni, Johann, Juan, Ioannes, Séan, Ian, dlsb.
Tapi Yohanes yang ingin saya ceritakan kali ini tidak ada kaitannya dengan etimologi maupun agama, melainkan Yohanes supir GoCar di Surabaya.
Perjalanan dari Stasiun Gubeng ke hotel di Sidoarjo di sore hari ketika jalanan macet-macetnya, memakan waktu yang cukup panjang. Kalau pas sopir GoCar yang saya tumpangi enak diajak ngobrol, saya selalu suka mendengarkan cerita mereka. Seperti halnya Pak Yohanes yang mengantar saya ke hotel beberapa waktu yang lalu.
Saya selalu lupa bagaimana saya memulai pembicaraan dengan mereka, tapi somehow, Pak Yohanes ini bercerita tentang kisah hidupnya.
Beliau menjadi yatim piatu ketika kelas empat SD. Untuk menyambung hidupnya, Yohanes kecil putus sekolah dan membantu om dan tante nya di kampung halaman, sebuah desa kecil di Timor Tengah Selatan. Ketika umurnya beranjak 14 tahun, Yohanes merasa harus merantau. Maka pergilah dia ke Atambua.
Di sana, Yohanes bekerja sebagai kuli angkut di sebuah perusahaan jual beli hasil bumi seperti kopi, cengkeh, merica, dan lain lain, yang dimiliki bos-nya yang keturunan Tionghoa. Setelah beberapa lama, bos-nya menawarkan untuk mengirim Yohanes ke Surabaya dengan upah yang lebih baik, dan tentu saja sebuah televisi di kamar kontrakannya. Awalnya Yohanes enggan, karena Jawa bagi dirinya adalah sebuah tempat yang jauh dan penuh ketidakpastian. Namun, iming-iming televisi itu tidak dapat ditolak Yohanes. Merantaulah dia ke Jawa.
Di Surabaya, semua temannya adalah orang Jawa dan orang Madura. Yohanes satu satunya yang memiliki tampilan dan kompleksitas kulit Indonesia Timur. Oleh karenanya, teman-teman Yohanes memanggilnya "Ambon", meskipun Yohanes berasal dari Nusa Tenggara Timur. Yohanes terima terima saja.
Setelah beberapa lama di Surabaya, Yohanes mulai berpikir untuk belajar nyetir kendaraan; Rp. 7.500 per jam katanya kursus setir mobil di Surabaya waktu itu. Menjadi sopir itu berarti dia "naik pangkat" dari statusnya sebagai kuli angkut. Saat itu dia nembak SIM komplit (A, B, dan C), harganya Rp. 900.000, di akhir era 90-an. Bayangkan, itu dia nabung berapa lama. Tapi demi pergerakan sosial vertikal-nya, Yohanes merelakan tabungannya.
Akhirnya dia kesampaian jadi sopir truk dan sahabat baiknya dari Ponorogo jadi kernet-nya. Untuk tambah-tambah uang harian, selesai bekerja jadi sopir di siang hari, Yohanes berjualan sandal di malam hari. Uang lampu sekaligus retribusi-nya katanya Rp. 2.000 per malam.
Setelah cukup "mapan", dia bertemu dengan seorang wanita dari Timor Tengah Selatan yang juga terdampar di Surabaya. Mereka menikah dan mendapatkan dua orang anak. Saat ini, anak sulungnya sudah hampir lulus kuliah dan anak bungsunya hampir lulus SMA.
Pak Yohanes mengenang bahwa selama ini dia diselamatkan Tuhan. Selama perantauannya, dia merasa bahwa lingkungan pergaulan-nya adalah teman-teman yang baik. Tidak ada yang mengajaknya berjudi. Tidak ada yang mengajaknya minum alkohol. Ada yang pernah memaksanya merokok, tapi Yohanes menolak dan dia menjauhi orang-orang itu.
Saya hanya membatin, sungguh perjuangan hidup Pak Yohanes ini luar biasa dan inspiratif. Pak Yohanes benar-benar mewujudkan makna namanya: Yo Hanan, orang yang diberkati Tuhan.
