Tuesday, February 17, 2026

Nexus

Hari-hari ini adalah momen-momen yang menarik di kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Tanggal 14 Februari lalu beberapa orang merayakan Hari Valentine. Tanggal 17 Februari ada perayaan Tahun Baru Imlek. Tanggal 18 Februari Rabu Abu, dan tanggal 19 Februari awal puasa. Itu pun ada yang sudah mulai puasa tanggal 18 Februari. Momen kultural dan keagamaan bersilangan, berkelindan, sampai ada Mall yang bingung mau pasang warna apa. Kalau pasang warna pink, tapi kok Imlek itu merah. Kalau mau pasang hijau untuk menyambut Ramadhan, tapi kok Valentinan. Akhirnya ada yang pasang warna biru neon...

Nexus Moment seperti ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali "kepercayaan" atau "beliefs". Manusia pada saat ini bukan hanya "Homo Sapiens" (wise human) tapi juga "Homo Fidelis" (faithful human). Dalam jalinan tenun kemasyarakatan yang semakin kompleks, kepercayaan seseorang membentuk identitas diri di tengah milyaran manusia, baik itu kepercayaan relijius-spiritual, kultural, politik, epistemologis, ataupun kepercayaan-kepercayaan yang lain.


Secara etimologis, kata "percaya" dalam Bahasa Indonesia memiliki akar Sanskrit प्रत्यय (pratyaya) yang merupakan kata gabungan dari kata प्रति- (prati-, “towards”) dan अय (aya, “going”). Terjemahan Bahasa Indonesia bebas-nya "pratyaya" itu bermakna "condong menuju". Secara definisi bahasa, "beliefs" atau "kepercayaan" itu bersifat sirkular: kecenderungan seseorang untuk mempercayai suatu ide, proposisi, atau keadaan sebagai kebenaran, yang terkadang tidak memerlukan bukti absolut yang dapat diuji. Artinya bahwa kepercayaan tidak identik dengan sekumpulan pengetahuan yang dibangun melalui verifikasi empiris, melainkan lebih dekat kepada disposisi kognitif-afektif: kecenderungan untuk memberi bobot kebenaran pada suatu proposisi sebelum, atau bahkan tanpa, konfirmasi final. Beberapa orang mungkin berusaha menjustifikasi kepercayaan-nya dengan cara ilmiah, namun ketika ide atau proposisi tersebut sudah masuk dalam ranah kepercayaan, ia sudah tidak lagi bisa didekati secara ilmiah. 


Kepercayaan bersifat personal, intim, dan sakral. Namun dalam proses pembentukan kepercayaan pada seorang individu, yang terjadi adalah negosiasi identitas sosial. Seseorang tidak pernah membangun kepercayaannya di ruang hampa; ia selalu berada dalam jejaring diskursus, norma, simbol, dan relasi kuasa yang membentuk dirinya. Setiap keyakinan yang tampak sebagai pilihan privat sesungguhnya lahir dari dialog yang terkadang harmonis, namun seringkali pula konfliktual, antara pengalaman personal dan ekspektasi kolektif. Dalam kerangka ini, kepercayaan menjadi arena tempat “aku”, "kita" dan “mereka” saling berkelindan: apa yang diyakini seseorang tentang dunia, tentang kebenaran, bahkan tentang dirinya sendiri, adalah hasil interaksi antara narasi internal dan pengakuan eksternal. 


Di sinilah kemudian fenomena yang sering terjadi di media sosial berakar: kontestasi kepercayaan. Jadi meskipun secara individu kepercayaan itu sifatnya personal, seseorang tidak lepas dari kebutuhan untuk menegosiasikan kepercayaan mereka pada ranah interpersonal. Sebagian besar individu melakukan hal tersebut mungkin hanya bertujuan untuk menunjukkan siapa dirinya (eksistensi), namun tidak sedikit pula yang memang bertujuan untuk men-challenge kepercayaan orang lain. Karena memang beliefs itu tidak bisa diubah oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mengubahnya, namun orang lain bisa menantang (to challenge) kepercayaan yang kita miliki baik itu kepercayaan epistemologis, spiritual-relijius, politis, ataupun yang lainnya.


Pada momen neksus kultural seperti yang terjadi di pertengahan Februari 2026 ini, kontestasi kepercayaan jamak terjadi di media sosial. Yang paling ramai mungkin tentang perbedaan awal bulan puasa. Padahal biasanya kalau pas tidak saling bebarengan terjadinya, topik hangatnya bergeser satu-satu mulai dari pro-kontra perayaan Valentine sampai dengan pro-kontra Shio/Zodiak yang berkaitan erat dengan perayaan Imlek. Kontestasi ini berasa seperti konflik karena sifat kepercayaan yang personal, intim, dan sakral itu tadi. Kritik atau tantangan yang ditujukan untuk sebuah ide atau proposisi dirasakan oleh pemilik ide/proposisi itu tadi sebagai serangan terhadap pribadi-nya.


Barangkali yang perlu kita sadari dalam Nexus Moment seperti ini bukanlah bagaimana membuat semua benang dalam jalinan tenun kemanusiaan itu menjadi satu warna, melainkan bagaimana kita mengusahakan agar setiap warna benang itu ada tanpa merasa terancam. Pink, merah, abu-abu, hijau, bahkan biru neon yang canggung, semuanya adalah simbol dari kecenderungan manusia untuk “condong menuju” sesuatu yang diyakininya benar. Ketika jutaan orang condong menuju arah yang berbeda pada waktu yang bersamaan, saya rasa yang terjadi bukanlah kekacauan, melainkan orkestrasi yang belum kita pahami nadanya sahaja.


Mungkin kedewasaan kultural justru lahir dari ruas sambung (neksus) ketika kita menyadari bahwa setiap orang sedang “mempercayai” sesuatu yang baginya bermakna. Kita tidak perlu bersepakat untuk bisa saling mengakui eksistensi diri. Kita tidak perlu menyatukan kalender untuk bisa berbagi ruang. Sebab pada akhirnya, menjadi Homo Fidelis bukan hanya soal apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia yang percaya pada hal yang berbeda. Dan di tengah persilangan warna, tanggal, dan narasi, mungkin itulah iman sosial yang paling sunyi, sekaligus paling diperlukan.

Saturday, January 17, 2026

Omaggio Manifesto

 

Omaggio berasal dari Bahasa Italia. Padanannya dalam Bahasa Inggris adalah homage —sebuah penghormatan, sebuah persembahan.

Nama ini pertama kali saya gunakan pada tahun 2021, ketika membuka pre-ordered pizza untuk lingkar kecil teman-teman di WhatsApp Group. Pizza yang saya buat saat itu merupakan sebuah penghormatan kepada Roberto, seorang pembuat pizza yang saya kenal ketika tinggal di Mt. Washington. Dari beliaulah saya pertama kali terinspirasi untuk belajar membuat pizza dengan sungguh-sungguh.

Pada 10 Agustus 2024, Papah saya —Pak Sudjarwadi— wafat. Sepeninggal beliau, saya mewarisi sebuah struktur bangunan yang belum jadi di Jalan Cindelaras I —bangunan yang sedianya akan beliau jadikan sebuah warung. Papah membayangkan tempat itu sebagai ruang berkumpul dengan kolega-kolega beliau, untuk berdiskusi di akhir pekan, berbagi gagasan, dan menjalin jejaring. Bagi beliau, warung bukan sekadar tempat berjualan makanan, melainkan wadah untuk pertukaran ide dan penciptaan pengetahuan. Konsepnya mirip seperti asal muasal angkringan dan warung kopi tradisional walaupun sebenarnya inspirasi Papah saya datang dari Ikujiro Nonaka.

Saya melanjutkan pembangunan struktur tersebut hingga menjadi warung seperti sekarang. Sebagian koleksi buku beliau saya kurasi dan menjadi sebuah pojok baca. Idealisme beliau saya teruskan: bahwa tempat ini hidup bukan hanya dari makanan yang disajikan, tetapi dari percakapan yang tumbuh di dalamnya. Menu Omaggio adalah menu eksperimental yang mewakili ruh co-creation of knowledge.

Penghormatan yang semula saya tujukan kepada Roberto, kini bertambah satu lapisan makna—sebagai penghormatan kepada Papah saya, pada nilai-nilai yang beliau hidupi, dan pada gagasan tentang ruang bersama yang bermakna.


You are more than welcome to be part of it.

Wednesday, December 24, 2025

Mendudukkan Hasil TKA 2025 Pada Tempatnya

Rilis nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA pada tanggal 23 Desember 2025 kemarin, khususnya untuk mata pelajaran Matematika Dasar, mengejutkan sebagian orang. Rata-rata nasional berada di kisaran 30-an, dengan sebagian besar siswa, 75 persentil-nya, bahkan tidak mencapai skor 50. Beberapa orang mungkin akan memaknainya sebagai sinyal kemerosotan kualitas pendidikan. Namun saya perlu menekankan dua hal ini sejak awal. Pertama, klaim “penurunan performa siswa” tidak sah secara metodologis. Kedua, TKA itu sendiri bukan alat ukur yang bebas dari persoalan.

TKA bukan asesmen longitudinal. Ia tidak memiliki baseline historis yang dapat dibandingkan secara setara lintas waktu. Tanpa proses equating, dan tanpa desain pelacakan kohort, TKA tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah kemampuan siswa hari ini lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Dari sudut pandang ilmu pengukuran, menyebut hasil ini sebagai “penurunan” adalah lompatan logika.

Namun, mengkritik keterbatasan TKA tidak otomatis berarti mengabaikan apa yang ditampakkannya. Meski secara psikometrik patut dipertanyakan, pola skor TKA Matematika SMA justru selaras dengan gambaran yang telah lama kita kenal dari berbagai sumber lain. Dalam hal ini, TKA menjadi sebuah indikator kasar yang kebetulan sejalan dengan bukti historis.

Selama lebih dari dua dekade, asesmen internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan kelemahan Indonesia pada literasi matematika —terutama pada aspek penalaran, pemahaman konteks, dan pemecahan masalah non-rutin. Pola yang sama juga muncul dalam laporan-laporan lapangan para guru, komunitas pendidik, dan gerakan literasi numerasi seperti Gernas Tastaka. Narasi ini bukan barang baru, dan jelas tidak lahir bersama TKA.

Karena itu, nilai rendah TKA tidak seharusnya dibaca sebagai gejala kemerosotan mendadak, melainkan sebagai cerminan dari masalah struktural yang telah lama mengendap. Jika ada yang “baru” dari TKA, itu bukan kondisi siswanya, melainkan visibilitas masalahnya. Angka-angka tersebut terasa mengejutkan bukan karena realitasnya berubah, tetapi karena ia jarang dipaparkan secara telanjang di tingkat nasional.

Akar persoalan ini tidak berada di SMA, apalagi pada angkatan siswa tertentu. Ia tertanam jauh lebih awal, terutama dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Selama bertahun-tahun, matematika di kelas awal lebih sering diperlakukan sebagai keterampilan prosedural: menghafal algoritma, meniru contoh, dan mengejar jawaban benar. Pemahaman konseptual, diskursus matematis, dan refleksi atas kesalahan pemahaman yang dimiliki anak jarang menjadi highlight proses pembelajaran matematika di dalam kelas.

Model pembelajaran prosedural seperti itu menghasilkan ilusi kompetensi. Siswa tampak mampu “mengikuti” pelajaran, naik kelas, dan lulus ujian sekolah. Namun fondasi numerasi yang rapuh itu bersifat kumulatif. Ia diwariskan dari SD ke SMP, lalu ke SMA. Pada titik tertentu —ketika soal menuntut integrasi konsep dan pemaknaan konteks— struktur tersebut runtuh. Hasil TKA, seberapa pun problematis instrumennya, somehow berhasil menangkap keruntuhan tersebut.

Di sinilah pentingnya untuk Kita berhati-hati agar kritik terhadap TKA tidak berujung pada pengingkaran masalah yang lebih besar. Menyalahkan instrumen semata berisiko menjadi jalan pintas untuk menghindari refleksi sistemik. Sebaliknya, menerima TKA secara mentah-mentah juga berbahaya, karena ia memberi ilusi ketepatan ukur yang belum tentu dimilikinya.

Posisi yang lebih jujur adalah ini: TKA bukan alat ukur yang ideal, tetapi hasilnya konsisten dengan sejarah panjang kelemahan numerasi di Indonesia. Ia tidak membuktikan penurunan performa siswa, namun juga tidak bisa diabaikan begitu saja sebagai “sekadar hasil tes yang buruk”.

Oleh karenanya, respons kebijakan yang rasional bukanlah panik, bukan pula defensif. Fokus pada perbaikan di SMA tanpa menyentuh pembelajaran matematika di SD hanya akan mengulang siklus yang sama. Selama cara anak-anak belajar memahami angka, besaran, dan relasi tidak dibenahi sejak awal, apa pun nama asesmennya, angka rendah akan terus muncul. Perbaikan proses pembelajaran matematika yang mendasar perlu dilakukan. Masalah yang terpotret oleh TKA bukan masalah yang terjadi pada satu generasi siswa. Masalahnya adalah hutang pedagogis yang telah menumpuk lama. TKA, dengan segala keterbatasannya, kebetulan membuka sedikit tirai yang memungkinkan kita, masyarakat awam, mengintip kenyataan tersebut.

Thursday, December 18, 2025

Refleksi 2025

Pendek pendek saja ya.

Tahun 2025 ini bagi saya adalah tahunnya Petrikhor dan Omaggio. Saya mulai bikin Petrikhor untuk sarana belajar sepanjang hayat pada pertengahan Maret 2025, pas bulan puasa. Omaggio mulai beroperasi pertengahan September 2025. Dua dua-nya passion project, semoga bisa langgeng.

Kemudian bulan Oktober 2025 ikut konferensi TEFLIN di Malang. It was fun. Saya belajar lagi tentang narrative inquiry

Selain itu, saya mulai belajar bikin experience di Roblox, dan juga ngulik SurveyJS.

Tidak ada satu pun yang saya rencanakan, saya orangnya memang go with the flow saja.

Pertengahan Juni 2025 menandai berakhirnya project neurodiversity. Saya belajar banyak tentang pendidikan inklusi dan neurodiversitas, lalu tersambung dengan simpul-simpul layanan disabilitas di Indonesia.

Reuni Selawe Sak Lawase Padmanaba55 di awal September 2025 dan reuni Elektro Noceng di awal Agustus 2025 tentu juga jadi highlight tahun ini.

Secara garis besar: eeh, not too bad.

Di luar kehidupan pribadi, situasi sosial nasional semakin menyedihkan dalam sudut pandang saya. Mulai dari program program pemerintah yang "ajaib", sampai kulminasinya adalah Bencana Sumatera di akhir November 2025.

Namun seperti kata Jason Czyz pas sarasehan di IIEF awal bulan ini, kita harus melihat strengths. Jangan melulu melihat weaknesses.

Striking balance antara berpikir positif dan memelihara skeptisisme itu memang proses belajar sepanjang hayat. Lagi-lagi, tema kehidupan saya nampaknya memang life-long learning, belajar sepanjang hayat.

Menilik ke depan 2026 mau ngapain? Yaa... pengennya sih banyak. Tapi seperti biasanya, saya pasrah ikut saja Gusti Alloh mau membawa saya ke mana. 

Wednesday, December 17, 2025

Lua untuk PPT like in Roblox

local screen = workspace.ScreenPart.SurfaceGui.ImageLabel  -- adjust name

local slides = {

    "rbxassetid://1234567890",

    "rbxassetid://2039842342",

    "rbxassetid://9182736455"

}


local currentSlide = #slides

local debounce = false


script.Parent.Touched:Connect(function(hit)

    if debounce then return end

    local character = hit.Parent

    if not character:FindFirstChild("Humanoid") then return end


    debounce = true


    -- update image

    currentSlide = currentSlide + 1

    if currentSlide > #slides then

        currentSlide = 1   -- loops back; remove if you prefer stop

    end

    

    screen.Image = slides[currentSlide]


    task.wait(1) -- cooldown to prevent multi-trigger

    debounce = false

end)