Sunday, August 16, 2026

Memori



Saya mungkin memang sudah masuk di rentang usia orang yang suka nostalgia. Dengerin Vertical Horizon - Best I Ever Had (Grey Sky Morning) lewat di YouTube aja kok ya banyak kenangan yang muncul kembali, resurface. Tapi saya menulis ini sebenarnya bukan mau mengenang jaman awal-awal jadi mahasiswa di tahun 2000-an. Lebih jauh dari itu. Saya ingin memungut memori tentang masa SD saya.

Kenapa SD? Karena setahun yang lalu, ketika saya membaca berita bahwa SD saya hanya mendapatkan satu orang murid (yang pada akhirnya ternyata dua orang murid), saya jadi tergerak untuk kembali ke SD saya, menyumbangkan apa yang bisa saya sumbangkan. Bukan uang lho ya. Karena kebetulan saya bergerak di bidang Pendidikan, saya punya beberapa hal yang mungkin bisa saya share dengan Ibu Bapak guru di SD saya, SDN (dulu SD Inpres) Minomartani II. Ketika akhirnya saya kesampaian mengunjungi SD saya beberapa kali, memori-memori itu berlompatan.

Salah satu memori yang paling berkesan adalah ketika Ibu Kepala Sekolah menyuruh saya untuk menyapu halaman sekolah. Kebetulan mamah dan papah saya itu orangnya tepat waktu banget. Kalau masalah jadwal, sebisa mungkin jadwal itu ditepati. Papah saya, swargi, bahkan kalau bepergian itu selalu meluangkan waktu yang cukup longgar untuk tiba di bandara atau stasiun jauh sebelum jam keberangkatan. Jadi, ketika sekolah di SD, walaupun kalau naik sepeda dari rumah tidak sampai lima menit, saya seringkali sudah sampai sekolah setengah tujuh pagi. Itulah kenapa Ibu Kepala Sekolah ngasi saya kerjaan menyapu halaman sekolah. Katanya, "Aku tau kamu gak punya halaman rumah, jadi buat latihan nyapu ya. Siapa tahu besok kamu sekolah di ITB." Kalau dipikir-pikir sebenernya agak nggak nyambung juga. Apa iya kalau saya kuliah di ITB trus saya nanti harus nyapu pelataran kampus? Untung saya akhirnya kuliah di UGM...

Hehe. Bukan itu sih pelajaran moralnya ya. Keterampilan seperti menyapu halaman itu keterampilan yang hanya bisa dimiliki kalau sering dilakukan. Dan menyapu halaman itu salah satu keterampilan dasar. Tampaknya sepele dan membosankan, tapi kata penelitian neurosains baru-baru ini, kegiatan yang sepele dan membosankan itu malah mengaktifkan bagian otak yang sangat penting untuk mendukung pemikiran kritis.

Memori lain yang juga berkesan tentu saja Pak Tarman, wali kelas saya kalau tidak salah dari kelas IV sampai kelas VI SD, pas saya nakal-nakalnya. Saya waktu itu anak paling pandai di sekolah. Saya juga murid yang badannya paling besar (baca: gemuk) di sekolah. Ketika kelas V pun saya berkelahi dengan anak kelas VI dan menang. Saya pegang kerah anak itu, saya dorong, saya benturkan dia ke tembok, terkunci dia, tidak bisa bergerak, susah bernafas, tapi kemudian kami dilerai oleh Pak Tarman. Saya besar kepala, merasa jadi jawara, bisa berbuat sesuka hati saya. Tapi kemudian Pak Tarman "memarahi" saya, tidak dengan suara yang keras, tidak dengan intonasi yang mengancam, tapi nasihatnya membuat saya malu. 

Kalau dulu sudah ada film Spiderman, mungkin nasihat Pak Tarman itu seperti "with the great power comes great responsibility". Dari Pak Tarman saya belajar bahwa kuasa itu bukan untuk dipamer-pamerkan, bukan untuk disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, tapi harus digunakan untuk kebaikan, dipakai untuk melayani orang banyak. Sesederhana itu.

Saya juga punya memori tentang Bu Cahyani -yang menurut saya dulu cantik sekali- guru kelas I yang mengajari saya membaca, menulis dan berhitung. Saya ketika masuk SD waktu itu belum bisa calistung. Mamah saya yang hobinya membacakan saya majalah Bobo. Sampai sekarang pun, beliau hobi membaca majalah Bobo. Tapi begitu saya bisa membaca, saya ketagihan membaca. Saya ingat buku Mahabharata -punya Papah saya- yang tebal itu saya baca sampai habis. Saya terinspirasi oleh buku-buku tentang perjalanan samudra. Buku favorit saya? Buku IPA kelas V. Saya ingat betul ilustrasi tentang gerak semu matahari, perubahan musim, dan perubahan fase bulan. Semakin banyak membaca, semakin saya ingin tahu tentang hal-hal baru.

Ada lagi memori tentang bermain tulup (ini mainan berbahaya masih ada nggak ya hahahah, jaman dulu belum ngerti safety) dengan teman-teman. Berdiri di atas gundukan pasir di depan sekolah, menantang gunung Merapi yang terlihat cerah pagi itu. Atau tentang guru olahraga yang sengaja membiarkan kami hujan-hujanan di lapangan, "biar tatag (tangguh badannya)" katanya. Atau tentang cepet-cepetan lari dengan teman-teman untuk jajan bubur lemu yang kalau agak telat sudah kehabisan. Atau tentang kakak kelas yang mengajari saya merokok, tapi saya kapok karena pahit rasanya. Atau tentang naksir anak pindahan baru di SD sebelah (dulu sekomplek ada tiga SD). Atau tentang ikut lomba menggambar pemandangan tapi kalah karena yang lain gambarnya gunung, saya gambarnya pemandangan bawah laut. Atau tentang saya yang selalu menangis kalau disuruh menyanyi di depan kelas karena tidak bisa menyanyi.

Begitu banyak memori, kenangan, pelajaran, selama bersekolah di SD. Saya menangis ketika menyanyikan Hymne Guru di acara pelepasan murid, purna wiyata. Kali itu bukan karena malu tidak bisa menyanyi, tapi karena terharu dan tidak mampu mengungkapkan rasa terimakasih saya kepada guru-guru saya yang telah memberikan semua perhatian dan kasih sayang mereka kepada kami, murid-murid-nya. 

Waktu itu saya tidak punya bayangan akan jadi apa saya kalau besar nanti. Cita-cita saya tidak pernah tinggi. Seingat saya, cita-cita saya jadi tukang parkir, karena pas lihat tukang parkir di jalan Solo itu kok tampaknya berkuasa gitu, bisa ngatur-ngatur orang. Namun sekarang saya merasa punya tanggung jawab untuk kembali ke SD saya, karena saya tahu sedikit banyak caranya memakai teknologi untuk melayani orang lain, seperti yang Pak Tarman nasihatkan. 

...

it's not so bad

You're only the best I ever had ... 

Friday, July 10, 2026

Membagi Tiga

 


Karena kemarin habis ngisi presentasi di depan Widyaprada ("para pemberi ilmu"; Vidya (Sanskrit) = ilmu, Prada (Sanskrit) = donatur) bikin pita pecahan pakai kertas HVS A4, saya jadi penasaran gimana caranya membagi kertas itu jadi 3 sama besar dengan cara origami. Ramban punya ramban di Google, ketemulah gambar garis-garis di atas (yang sebelah kiri).

Karena saya belum puas kalo belum membuktikan sendiri pakai aljabar bahwa x1 itu sepertiganya x1 + x2, akhirnya ya ngorek-orek pembuktian aljabar sendiri.

Misalkan garis BD dan CE itu persamaan garis lurus f1(x) dan f2(x) di mana DE = a ; DA = 2a ; dan DC = x1 + x2, maka ...

f1 = -2a/(x1+x2) * x + k , dan
f2 = a/(x1+x2) * x + k

sehingga f1 - f2 = -3a/(x1+x2) * x  ...... (1)

Ketika x = -x1, f1 - f2 = a (lihat ruas garis DE) ... ini saya lupa nulis titik (0,0) nya di gambar itu di perpotongan garis vertikal dan horizontal ... yang deket tulisan k itu.

Masukkan nilai x dan f1 - f2 ke persamaan (1) dan didapat a = -3a/(x1+x2) * -x1

Kalau diproses persamaannya, jadilah x1 / x2 = 1 / 2 . Dengan kata lain, memang x1 itu sepertiganya x1 + x2.

Ini berlaku untuk persegi panjang dengan ukuran panjang dan lebar berapa pun. Bisa dilihat simulasinya di sini.

Lipatan origami ini akan berguna untuk membuat pita pecahan sepertigaan, seperenaman, dst. 


Sunday, June 21, 2026

Masyarakat Belajar

Pada tahun 2026, Indonesia telah memasuki tahap baru dalam transformasi digital. Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia yang dirilis APJII, sekitar 81,7% penduduk Indonesia telah terhubung ke internet, atau lebih dari 235 juta orang. Internet bukan lagi sekadar pelengkap kehidupan sehari-hari, melainkan infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, hingga interaksi sosial.

Namun, semakin luasnya konektivitas tidak serta-merta menjadikan masyarakat semakin cakap dalam memanfaatkan teknologi. Justru tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Jika satu dekade lalu perhatian banyak tertuju pada akses terhadap informasi, kini persoalannya bergeser menjadi kemampuan membedakan informasi yang kredibel dari yang menyesatkan, menghadapi banjir konten yang diproduksi secara otomatis oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dua sisi dampak perkembangan teknologi semakin nampak di era AI. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk belajar, bekerja, dan berkreasi dengan lebih produktif. Seorang pelajar dapat memperoleh penjelasan mengenai konsep fisika dalam hitungan detik. Seorang petani dapat memperoleh rekomendasi budidaya berdasarkan kondisi cuaca. Pelaku UMKM dapat membuat materi promosi tanpa harus memiliki keahlian desain grafis. Teknologi semakin demokratis dan semakin mudah diakses.

Di sisi lain, teknologi yang sama juga mempermudah penyebaran informasi yang keliru, manipulasi gambar dan video, penipuan digital, hingga konten yang sengaja dirancang untuk memancing emosi bukan untuk memperkaya pemahaman. Algoritma media sosial cenderung menghadirkan informasi yang menarik perhatian, bukan selalu yang paling benar. Dalam situasi seperti ini, tantangan masyarakat digital bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang belum tentu dapat dipercaya.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi, melainkan apakah kita telah memiliki kapasitas untuk memanfaatkannya secara bijaksana. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak cukup dicari melalui regulasi atau pengembangan media dan teknologinya semata. Yang jauh lebih mendasar adalah membangun masyarakat yang terus belajar.

Belajar pada hakikatnya adalah proses ketika seseorang melakukan pembentukan identitas dirinya melalui proses tawar menawar di dalam lingkup sosial di mana dia berada. Dalam dunia yang berubah sangat cepat, belajar tidak lagi berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi. Pengetahuan terus berkembang, teknologi terus berubah, dan tantangan sosial terus berganti. Karena itu, belajar harus dipandang sebagai kebiasaan sepanjang hayat.

Masyarakat yang belajar bukanlah masyarakat yang seluruh anggotanya memiliki tingkat pendidikan tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang belajar adalah masyarakat yang memelihara rasa ingin tahu, terbuka terhadap gagasan baru, bersedia mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih baik, dan saling berbagi pengetahuan untuk memecahkan persoalan bersama. Kemajuan suatu bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh budaya belajar masyarakatnya.

Dalam konteks Indonesia saat ini, setidaknya terdapat tiga komponen yang memegang peranan penting dalam membangun masyarakat yang belajar: keluarga, sekolah, serta media dan platform digital.

Komponen pertama sekaligus yang paling mendasar adalah keluarga. Hampir seluruh kebiasaan belajar seseorang bermula dari lingkungan keluarga. Anak-anak belajar jauh lebih banyak melalui apa yang mereka lihat di sekitar mereka dibandingkan melalui apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengingatkan anak agar menggunakan internet secara bijak, tetapi perlu menunjukkan contoh bagaimana teknologi digunakan untuk hal-hal yang produktif.

Di banyak rumah saat ini, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan lagi bagaimana membatasi keberadaan teknologi, melainkan bagaimana membangun budaya penggunaannya. Anak-anak perlu melihat bahwa telepon pintar tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk berkarya, membaca, mencari pengetahuan, berdiskusi, atau mengembangkan keterampilan baru. Ketika orang tua memperlihatkan kebiasaan belajar, anak akan menangkap pesan bahwa belajar merupakan bagian alami dari kehidupan.

Keluarga juga merupakan tempat pertama anak belajar berdialog. Di era media sosial, kemampuan berdiskusi dengan penuh rasa hormat menjadi semakin penting. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi permusuhan karena orang terbiasa bereaksi sebelum memahami. Padahal kemampuan mendengar, mengajukan pertanyaan, serta menghargai sudut pandang orang lain merupakan fondasi kehidupan demokratis.

Lebih jauh lagi, keluarga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital. Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang muncul di internet adalah benar. Mereka perlu dibiasakan memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai referensi, dan bertanya sebelum mempercayai atau membagikan suatu berita. Kebiasaan sederhana seperti ini akan menjadi bekal penting ketika mereka hidup di tengah dunia yang dipenuhi konten hasil kecerdasan buatan dan algoritma media sosial.

Komponen kedua adalah sekolah. Selama bertahun-tahun, sekolah sering dipandang sebagai tempat mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Pandangan tersebut semakin sulit dipertahankan ketika hampir seluruh informasi dapat ditemukan melalui internet. Jika informasi tersedia di mana-mana, maka nilai utama sekolah tidak lagi terletak pada penyampaian informasi, melainkan pada pembentukan cara berpikir.

Sekolah perlu menjadi tempat di mana peserta didik belajar mengajukan pertanyaan yang baik, mengevaluasi bukti, menyusun argumen secara logis, bekerja sama dengan orang lain, serta menghasilkan solusi kreatif terhadap persoalan nyata. Keterampilan-keterampilan tersebut jauh lebih sulit digantikan oleh mesin dibandingkan kemampuan menghafal fakta.

Dalam konteks AI, sekolah juga memiliki tanggung jawab baru. Kehadiran AI bukan alasan untuk melarang teknologi secara total, tetapi menjadi kesempatan untuk mengajarkan penggunaannya secara bertanggung jawab. Peserta didik perlu memahami kapan AI dapat membantu proses belajar dan mengapa mereka harus membangun kapasitas berpikir kritis mereka sendiri. Mereka juga perlu belajar bahwa hasil keluaran AI bukanlah kebenaran mutlak, melainkan bahan awal yang tetap harus diperiksa, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Sekolah juga merupakan ruang sosial yang unik. Di dalamnya, anak-anak bertemu dengan teman yang memiliki latar belakang keluarga, agama, budaya, kemampuan, maupun cara berpikir yang berbeda. Di sinilah mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan saling menghormati. Masyarakat yang belajar membutuhkan warga yang mampu bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda, bukan hanya dengan mereka yang sepakat.

Komponen ketiga adalah media dan platform digital. Jika dahulu media massa menjadi pintu utama masyarakat memperoleh informasi, kini ruang publik jauh lebih kompleks. Informasi diproduksi oleh jurnalis, akademisi, pemerintah, perusahaan, kreator konten, bahkan oleh sistem kecerdasan buatan. Setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon genggam.

Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tanggung jawab yang lebih besar. Media profesional tetap memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk membangun ekosistem informasi yang sehat melalui transparansi algoritma, perlindungan terhadap pengguna, serta upaya membatasi penyebaran konten yang berbahaya.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna juga tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Budaya berbagi informasi perlu diimbangi dengan budaya melakukan verifikasi. Kecepatan menyebarkan informasi tidak boleh mengalahkan ketelitian memeriksa kebenarannya. Dalam dunia digital, setiap orang pada hakikatnya telah menjadi bagian dari ekosistem media. Apa yang kita bagikan, komentari, atau dukung akan ikut menentukan kualitas ruang publik.

Ada satu kecenderungan lain yang patut menjadi perhatian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konten yang membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau konflik cenderung lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang informatif. Karena itu, membangun masyarakat yang belajar juga berarti membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Kita memerlukan lebih banyak konten yang menumbuhkan rasa ingin tahu, menginspirasi kolaborasi, memperlihatkan praktik baik, dan membuka ruang dialog yang konstruktif. Ruang digital seharusnya menjadi tempat masyarakat bertumbuh bersama, bukan sekadar arena pertarungan opini.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Teknologi tidak secara otomatis membuat masyarakat menjadi lebih maju ataupun lebih mundur. Arah perkembangan masyarakat tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Kecerdasan buatan, internet berkecepatan tinggi, dan berbagai inovasi digital hanya akan menghasilkan kemajuan apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki budaya belajar yang kuat.

Membangun masyarakat yang belajar bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, dan dipelihara melalui media serta platform digital yang sehat. Ketiga komponen tersebut saling melengkapi dalam membentuk warga yang mampu berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Jika budaya belajar terus tumbuh di tengah masyarakat, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang menguasai teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu mengarahkan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Di era AI, ukuran kemajuan bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa bijaksana masyarakat memanfaatkannya.

Saturday, May 02, 2026

Restoran Kemiskinan

Praktik "filantropi" yang sengaja dijadikan ladang bisnis itu bagaikan "Restoran Elit yang Memajang Foto Orang Lapar"

Bayangkan sebuah restoran mewah yang memasang foto-foto orang kelaparan di dindingnya untuk menarik simpati pelanggan. Pelanggan datang dan membayar mahal dengan niat menyumbang. Namun, uang tersebut malah dipakai untuk renovasi interior, gaji koki bintang lima, dan pemasaran, sementara orang di foto tersebut hanya mendapat secuil bagian makanan, itu pun ada yang pakai acara keracunan.

Maknanya: Penderitaan orang lain hanya dijadikan komoditas pemasaran untuk menghidupi gaya hidup penyelenggaranya.

Dalam dunia profesional, ini sering disebut:

🙈 ​"Poverty Porn": Praktik mengeksploitasi kemiskinan untuk mendapatkan simpati atau dana, namun hasilnya tidak pernah benar-benar mengubah nasib objek yang dieksploitasi.

💸 ​"Middleman Skimming": Di mana perantara mengambil keuntungan terlalu besar di tengah jalan sehingga nilai yang sampai ke tujuan akhir sudah tergerus habis.

💰 ​"Non-profit Industrial Complex": Ini adalah istilah untuk organisasi yang alih-alih menyelesaikan masalah sosial, mereka malah "memelihara" masalah tersebut agar organisasi dan gaji karyawannya tetap ada.

​Ini adalah bentuk pengkhianatan kepercayaan yang paling menjijikkan, karena mereka menjual harapan pemberi dan penderitaan penerima demi keuntungan pribadi atau kelompok.

Monday, April 13, 2026

Quod non capio, falsum est!

In the wake of the Artemis II successful moon fly-by mission, I start to think that Flat Earth People, or Moon Landing Deniers, do not believe it because they think it's impossible for them to do, or the thing is incomprehensible given our limited observation capability. Hence, they want some sort of "security in their thoughts" by rejecting the science.

When someone says, "I don't understand how X could be true, therefore X is false," they are protecting themselves from the discomfort of living with uncertainty. The human mind craves coherence. If rocket science, relativity, or orbital mechanics feel like magic, rejecting the conclusion outright restores a clean, manageable worldview.

Flat Earthers and Moon Landing Deniers often say things like:

    "We've never seen the curve with our own eyes."

    "No one can show me a live video of Earth rotating from space that I can't fake."

They elevate direct, unaided sensory experience as the only valid form of evidence. But science works through indirect inference—telescopes, photos, math, testimony of experts. To a mind seeking security, indirect evidence feels like a conspiracy.

Rejecting science isn't just about logic; it's about trust. Accepting the Moon landing means trusting thousands of engineers, astronauts, and governments. That requires intellectual vulnerability. Denial replaces that vulnerability with a fortress: "I alone can see through the lie."

That's deeply reassuring. It turns ignorance into a badge of skepticism.

There's also a pride element. If someone says, "This is too complex for me to understand," that feels like a personal failure. But if they say, "It's fake," they become the heroic truth-teller. Denial transforms bewilderment into mastery.

Quod non capio, falsum est! meaning "If I don't understand, then it's fake!" 

It isn't just a logical error. It's an emotional survival strategy for people who find the real world is too complicated to trust. It isn't just stubbornness; it's a kind of epistemic self-defense.