Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Tuesday, February 17, 2026

Nexus

Hari-hari ini adalah momen-momen yang menarik di kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Tanggal 14 Februari lalu beberapa orang merayakan Hari Valentine. Tanggal 17 Februari ada perayaan Tahun Baru Imlek. Tanggal 18 Februari Rabu Abu, dan tanggal 19 Februari awal puasa. Itu pun ada yang sudah mulai puasa tanggal 18 Februari. Momen kultural dan keagamaan bersilangan, berkelindan, sampai ada Mall yang bingung mau pasang warna apa. Kalau pasang warna pink, tapi kok Imlek itu merah. Kalau mau pasang hijau untuk menyambut Ramadhan, tapi kok Valentinan. Akhirnya ada yang pasang warna biru neon...

Nexus Moment seperti ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali "kepercayaan" atau "beliefs". Manusia pada saat ini bukan hanya "Homo Sapiens" (wise human) tapi juga "Homo Fidelis" (faithful human). Dalam jalinan tenun kemasyarakatan yang semakin kompleks, kepercayaan seseorang membentuk identitas diri di tengah milyaran manusia, baik itu kepercayaan relijius-spiritual, kultural, politik, epistemologis, ataupun kepercayaan-kepercayaan yang lain.


Secara etimologis, kata "percaya" dalam Bahasa Indonesia memiliki akar Sanskrit प्रत्यय (pratyaya) yang merupakan kata gabungan dari kata प्रति- (prati-, “towards”) dan अय (aya, “going”). Terjemahan Bahasa Indonesia bebas-nya "pratyaya" itu bermakna "condong menuju". Secara definisi bahasa, "beliefs" atau "kepercayaan" itu bersifat sirkular: kecenderungan seseorang untuk mempercayai suatu ide, proposisi, atau keadaan sebagai kebenaran, yang terkadang tidak memerlukan bukti absolut yang dapat diuji. Artinya bahwa kepercayaan tidak identik dengan sekumpulan pengetahuan yang dibangun melalui verifikasi empiris, melainkan lebih dekat kepada disposisi kognitif-afektif: kecenderungan untuk memberi bobot kebenaran pada suatu proposisi sebelum, atau bahkan tanpa, konfirmasi final. Beberapa orang mungkin berusaha menjustifikasi kepercayaan-nya dengan cara ilmiah, namun ketika ide atau proposisi tersebut sudah masuk dalam ranah kepercayaan, ia sudah tidak lagi bisa didekati secara ilmiah. 


Kepercayaan bersifat personal, intim, dan sakral. Namun dalam proses pembentukan kepercayaan pada seorang individu, yang terjadi adalah negosiasi identitas sosial. Seseorang tidak pernah membangun kepercayaannya di ruang hampa; ia selalu berada dalam jejaring diskursus, norma, simbol, dan relasi kuasa yang membentuk dirinya. Setiap keyakinan yang tampak sebagai pilihan privat sesungguhnya lahir dari dialog yang terkadang harmonis, namun seringkali pula konfliktual, antara pengalaman personal dan ekspektasi kolektif. Dalam kerangka ini, kepercayaan menjadi arena tempat “aku”, "kita" dan “mereka” saling berkelindan: apa yang diyakini seseorang tentang dunia, tentang kebenaran, bahkan tentang dirinya sendiri, adalah hasil interaksi antara narasi internal dan pengakuan eksternal. 


Di sinilah kemudian fenomena yang sering terjadi di media sosial berakar: kontestasi kepercayaan. Jadi meskipun secara individu kepercayaan itu sifatnya personal, seseorang tidak lepas dari kebutuhan untuk menegosiasikan kepercayaan mereka pada ranah interpersonal. Sebagian besar individu melakukan hal tersebut mungkin hanya bertujuan untuk menunjukkan siapa dirinya (eksistensi), namun tidak sedikit pula yang memang bertujuan untuk men-challenge kepercayaan orang lain. Karena memang beliefs itu tidak bisa diubah oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mengubahnya, namun orang lain bisa menantang (to challenge) kepercayaan yang kita miliki baik itu kepercayaan epistemologis, spiritual-relijius, politis, ataupun yang lainnya.


Pada momen neksus kultural seperti yang terjadi di pertengahan Februari 2026 ini, kontestasi kepercayaan jamak terjadi di media sosial. Yang paling ramai mungkin tentang perbedaan awal bulan puasa. Padahal biasanya kalau pas tidak saling bebarengan terjadinya, topik hangatnya bergeser satu-satu mulai dari pro-kontra perayaan Valentine sampai dengan pro-kontra Shio/Zodiak yang berkaitan erat dengan perayaan Imlek. Kontestasi ini berasa seperti konflik karena sifat kepercayaan yang personal, intim, dan sakral itu tadi. Kritik atau tantangan yang ditujukan untuk sebuah ide atau proposisi dirasakan oleh pemilik ide/proposisi itu tadi sebagai serangan terhadap pribadi-nya.


Barangkali yang perlu kita sadari dalam Nexus Moment seperti ini bukanlah bagaimana membuat semua benang dalam jalinan tenun kemanusiaan itu menjadi satu warna, melainkan bagaimana kita mengusahakan agar setiap warna benang itu ada tanpa merasa terancam. Pink, merah, abu-abu, hijau, bahkan biru neon yang canggung, semuanya adalah simbol dari kecenderungan manusia untuk “condong menuju” sesuatu yang diyakininya benar. Ketika jutaan orang condong menuju arah yang berbeda pada waktu yang bersamaan, saya rasa yang terjadi bukanlah kekacauan, melainkan orkestrasi yang belum kita pahami nadanya sahaja.


Mungkin kedewasaan kultural justru lahir dari ruas sambung (neksus) ketika kita menyadari bahwa setiap orang sedang “mempercayai” sesuatu yang baginya bermakna. Kita tidak perlu bersepakat untuk bisa saling mengakui eksistensi diri. Kita tidak perlu menyatukan kalender untuk bisa berbagi ruang. Sebab pada akhirnya, menjadi Homo Fidelis bukan hanya soal apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia yang percaya pada hal yang berbeda. Dan di tengah persilangan warna, tanggal, dan narasi, mungkin itulah iman sosial yang paling sunyi, sekaligus paling diperlukan.

Sunday, September 21, 2025

Unwavering

Kalimat kedua dalam Bhakti Vidya (yel/motto SMA 3 Yogyakarta) adalah "tan lalana labet tunggal bangsa".  Dulu, Kami mengucapkannya tanpa peduli itu artinya sebenarnya apa. Beberapa orang juga mencoba memaknainya, tapi saya modelnya nggak mudah percaya apa kata orang kalau belum saya ulik sendiri etimologinya.

Dengan bantuan teman-teman Barokah, inilah yang saya dapat:

"tan lalana" adalah sebuah frasa yang muncul di Kakawin Negarakrtagama, canto 12 baris 4 . Frasa itu menggambarkan salah satu sifat Mahapatih Gadjah Mada yang kokoh pendiriannya, tanpa tanding, tak tergoyahkan (unwavering) semangatnya.

Mengartikannya memang bukan per kata. Karena kalau dipisah kata per kata, agak jauh maknanya. "tan" itu kata negasi, seperti "tidak" atau "tanpa". Sedangkan "lalana" (ललन) dalam Sanskrit bermakna "caressing/fondling", atau "menyentuh dengan penuh kasih sayang". Sehingga kalau kata per kata, bisa jadi maknanya "tanpa sentuhan kasih". Malah sedih, ye kan?

Tapi memang frasa "tan lalana" ini membawa rasa bahasa Sumpah Palapa. Mahapatih Gadjah Mada bersumpah "amukti palapa" yang sering dimaknai bahwa dia tidak akan menyentuh kenikmatan dunia, sebelum berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara saat itu.

"labet" adalah sebuah kata Jawa Kuno/Kawi yang bermakna "labuh" dalam Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Labuh itu bersauh, melemparkan jangkar. Dalam konteks ini, "labet" itu "actively setting something in motion, committing oneself to it, or being deeply involved" atau "secara sadar mendedikasikan diri" seringkali untuk sebuah tujuan mulia tertentu, salah satunya: persatuan bangsa (tunggal bangsa).

Jadi gaes, "tan lalana labet tunggal bangsa" itu "tidak goyah mendedikasikan diri untuk persatuan bangsa".

Wednesday, August 13, 2025

Pak Rani

Karena tahun ini adalah 25 tahun setelah kelulusan SMA, angkatan saya mengadakan reuni perak (besok) September 6, 2025. Salah satu acaranya adalah mengundang guru-guru untuk menyambung silaturahim dan menyampaikan bakti sebagai murid (dan mungkin juga meminta maaf atas kenakalan-kenakalan kami jaman SMA). Ada 30 sekian guru yang masih sugeng yang berhasil dikontak via WA/HP. Hanya satu, Pak Rani, yang tidak dapat dikontak melalui WA/HP. 

Pak Rani sudah purna tugas sejak tahun 2012/2013, salah satunya karena kondisi matanya yang memburuk karena glaukoma. Kemudian beliau memilih untuk balik ke kampung halaman-nya di Gunung Kidul. 

Pada tahun 2016, mas Zaki (kakak angkatan kami) mengunjungi beliau bersama beberapa rekan-rekan lintas angkatan dan membuat dokumentasinya di YouTube. Ketika saya mengontak beliau via e-mail, mas Zaki bilang kalau sudah lupa alamat tepatnya di mana. Demikian juga Pak Nana, Guru Fisika kami yang pernah beberapa kali berkunjung ke rumah Pak Rani, sudah lupa alamat beliau tepatnya di mana ketika kami tanyai.

Untung-nya mas Zaki sempat menuliskan nama dusun-nya di video dokumentasi tadi. Terlebih lagi, di akhir video, mas Zaki dan rekan-rekan menggunakan drone untuk menangkap pemandangan di sekitar rumah Pak Rani. Berbekal Google Earth dan footage mas Zaki, saya berusaha geo-guessing alamat Pak Rani. Saya punya dugaan kuat lokasinya di mana.

Siang tadi, saya meluangkan waktu untuk scouting rumah Pak Rani supaya panitia reuni perak Padmanaba 55 tidak perlu mencari-cari lagi ketika ingin berkunjung membawa besekan reuni perak. Karena kondisi Pak Rani yang menderita glaukoma, saya berpikir bahwa ater-ater yang sifatnya olfaktori lebih cocok. Saya racik sendiri sekotak teh jambu (Omaggio Signature Tea) dan saya sertakan gula batu bersama kotak teh tersebut.


Sekitar pukul 15.30 motor saya sampai ke titik pinpoin geoguessing yang saya lakukan. Ada seorang bapak-bapak sepuh yang sedang membersihkan halaman. 

"Nuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun Pak Rani Guru SMA 3 ten pundi njih?" saya bertanya di mana rumahnya Pak Rani.

"Lha, ngajengan niku daleme. Ingkang jendhelane kebukak setunggal," si bapak memberitahu bahwa rumah Pak Rani tepat di depan saya, yang jendelanya terbuka satu.

Saya ketuk rumahnya.

"Kula nuwuuun," saya berharap ada orang di rumah.

Seorang mas-mas keluar membukakan pintu.

"Sinten njih?" mas-mas itu bertanya siapa saya.
 
"Kula madosi Pak Rani. Kula murid-ipun Pak Rani saking SMA 3," saya bilang kalau saya mencari Pak Rani dan saya murid beliau di SMA 3 Yogyakarta.

Mas-mas tersebut, yang belakangan saya ketahui adalah putranya Pak Rani, mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tak berapa lama Pak Rani menemui saya, dan pertanyaannya sama "njenengan sinten?"

Saya jelaskan duduk perkaranya bahwa angkatan saya mau reuni, pengen ngundang Pak Rani ke sekolah bila berkenan, dan sebagainya. Singkat cerita, karena kondisi penglihatan beliau, beliau tidak berkenan untuk datang ke sekolah. Saya menyampaikan bahwa teman-teman memahami sepenuhnya dan menyampaikan salam takzim dari semua teman-teman seangkatan.

Beliau berusaha mengingat-ingat nama yang beliau kenali dari angkatan kami.

"Bebek?" tanya Pak Rani.

Saya menahan tawa. Pertama karena memang ada teman sekelas saya yang nama panggilannya Andi Bebek. Kedua karena dari sekian banyak (sekitar 230-an orang lebih), kok ya yang diingat si Bebek.

"Namanya unik, jadi berkesan," kata Pak Rani.

Saya kemudian ngobrol banyak hal dengan Pak Rani. Mulai dari matematika, penjurusan SMA, sampai dengan pohon jati. Satu hal yang saya pelajari hari ini adalah bahwa di mata Pak Rani, saya hanyalah murid biasa saja. Padahal di antara teman-teman (saya mau nyombong sedikit), saya salah satu dari beberapa murid seangkatan yang bisa memahami jalan pikiran Pak Rani. It was a very humbling experience. I might have some skills, but still, I am just some ordinary student.

Yang kedua, saya belajar hal baru dari Pak Rani, tentang bagaimana matematika itu tujuan akhirnya adalah mencari kebenaran dari konjektur-konjektur yang dibuat manusia. Setelah dua puluh lima tahun berlalu, beliau masih saja mengajarkan hal baru tentang matematika yang selama ini saya belum pahami.

Yang ketiga, semua akrobat matematika yang harus angkatan kami lakukan di kelas tiga SMA (jaman itu) ketika belajar dengan Pak Rani, ternyata sumbernya Singaporean Math. Pak Rani pada zamannya begitu terinspirasi dengan kurikulum matematika Singapura. Sekarang semua jadi jelas bagi saya  mengapa dulu kami begitu menderita ketika diajari Pak Rani: memang beda level....

Last but not least, saya bersyukur Pak Rani tampak sehat (walaupun penglihatannya sudah nol katanya), tampak damai, tampak santai, dan tampak menikmati hidup. 

Ketika hari menjelang petang, saya pamit pulang. Sempet kehujanan cukup deras di seputaran RS Panti Rahayu. Mungkin hujannya kiriman dari Pakdok Arian (sahabat karib saya, mantan Kepala RS Panti Rahayu) di Kupang.

P.S. Buat panitia reuni yang mau bersilaturahim ke rumah Pak Rani, alamatnya Ds. Ngrombo II, Kelurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. 


Tuesday, December 03, 2024

¿De donde eres?

Itu Bahasa Spanyol yang artinya "Dari mana kamu berasal?". Tapi ini sama sekali bukan kisah tentang asal-muasal umat manusia atau sejenisnya.

Ceritanya akhir pekan kemarin, Ifta ada pekerjaan di Solo. Sekalian liburan, saya dan anak-anak ikut menginap di sebuah hotel di Laweyan.

Pas malam harinya, sembari saya dan Najwa menunggu gofut di lobby, ada sekelompok "turis" yang berbahasa Spanyol bermain permainan fusbol di lobby. Little did I know, mereka itu pemain Bhayangkara FC (dulu Persebaya) yang sedang menginap di hotel yang sama dengan Kami.

Karena saya sudah hampir setahun ini on and off belajar Bahasa Spanyol pakai Duolingo, saya bilang ke Najwa,

"Should I say '¿De donde eres?' to them?"

Najwa otomatis tidak setuju. Malu maluin katanya.

Tapi kebetulan pas sarapan, saya dan Najwa ketemu rombongan yang sama.

Sewaktu Najwa menemani Nafiisa main pasir di pojok bermain, saya ngantri Leker.

Pas saya nunggu pesanan di counter Leker, ada salah satu dari mereka memvideo Bapak Tukang Leker dan menarasikan,

"Ese banana .. y chocolate .. delicioso"

Setelah dia selesai memvideo, saya memberanikan diri interjecting, 

"¿De donde eres?"

Orang itu agak terkejut tapi dia excited.

"Soy Brazil. ¿Y tu habla español?"

Saya langsung jiper ahahahaha. Saya pikir belajar dengan Duolingo pas dapet gratisan itu membantu, tapi ternyata saya totally ngeblank.

"Errrr ... no hehe, I only speak very little Spanish. I learned it from Duolingo"

"Aaahhh ja ja, Duolingo, very interesting!"

Dia menepuk pundak saya, 

"Nice to meet you!"

"Nice to meet you too, thank you," jawab saya.

Setelah "turis" itu pergi, si Bapak Tukang Leker bilang ke saya,

"Mas, itu tadi pelatih Bhayangkara..."

Saya yang sama sekali nggak paham sepakbola hanya bisa bilang "Oooo..."

Saya cerita ini ke Najwa setelah Kami kembali ke kamar. Najwa ngakak dan bersyukur karena tidak perlu merasakan second-hand embarrassment.

Setelah saya gugling, ternyata benar yang saya tanyain ¿de donde eres? itu Gomez de Oliveira, mantan pemain sepakbola dari Brazil yang sekarang jadi pelatih Bhayangkara FC (Persebaya). 

Begitu ignorant-nya saya dengan menanyakan ¿de donde eres? 

Totally zero f**k given.

Monday, April 05, 2021

Mas Gembes

Minggu pagi kemarin, saya dan mas Riyanto "berburu" benih lele untuk mengisi kolam terpal yang sudah siap diisi. Dari info yang didapatkan mas Riyanto dari grup Facebook, ada peternak benih lele di Cangkringan, di dekat pasar ikan. Jadilah kami mobilan ke Cangkringan.

Lokasi peternak benih lele ini cukup mudah ditemukan karena tempat ini adalah tempat satu-satunya yang memiliki kolam-kolam bundar di daerah Cangkringan.

Kami turun dari mobil dan bertanya kepada bapak-bapak yang ada di situ apakah benar tempat ini jual benih lele. Bapak-bapak yang sedang ngaso dari pekerjaan membuat pagar itu kemudian berteriak,

"Mbeeess Gembeeess, ono sing nggoleki ki."

Mas Gembes tak lama kemudian muncul, "badhe tumbas pinten ewu Pak?" mau beli berapa ribu benih lele tanyanya.

Mas Riyanto menjawab bahwa kami mau lihat-lihat dulu kalo diperbolehkan. Mas Gembes lalu mempersilakan kami melihat deretan kolam yang bunder-bunder itu. Kurang lebih ada sekitar dua puluh empat kolam yang berdiameter kurang lebih 2 meter dengan kedalaman sekitar 1 meter. Ada kolam yang diisi tanaman mata ikan saja, namun kebanyakan kolam berisi benih lele yang berukuran antara 3-4 cm sampai ukuran 4-6 cm. Setiap kolam rata-rata berisi 4000 benih lele. Kalau seandainya ada 15 kolam saja yang terisi benih lele, totalnya tempat itu memelihara sekitar 60.000 benih lele. 

Mas Riyanto kemudian memuji Mas Gembes atas keterampilannya memijahkan dan memelihara ribuan benih lele. Belum lagi menurut pengamatan mas Riyanto, tidak ada kolam yang diperuntukkan untuk pembesaran lele. Artinya, ribuan benih lele itu selalu laris terjual.

Mas Gembes merendah dengan mengatakan bahwa peternakan bibit lele-nya ini hanyalah hobi saja.

Obrolan kemudian berlanjut sampai pada topik dimana mas Gembes menuturkan bahwa pengeluaran terbesar untuk pemeliharaan benih adalah untuk membeli cacing. Cacing ini sangat digemari benih-benih lele tersebut.

"Lha kok mboten damel ternak cacing piyambak Mas?" mas Riyanto bertanya kenapa mas Gembes tidak sekalian membuat peternakan cacing sendiri.

"Wah, impossible Mas," sahut mas Gembes. "rejekine sampun piyambak-piyambak." Mas Gembes berpendapat ternak cacing dan memijahkan lele itu tidak mungkin dilakukan bersama-sama karena rejeki orang itu sendiri-sendiri.

"Tiyang ingkang ternak cacing niku mboten bakal saged sukses mijah Mas," lanjut mas Gembes. Katanya orang yang beternak cacing tidak bakal sukses memijahkan lele. "Saestu niku. Mpun pengalaman kula." mas Gembes menambahkan bahwa pernyataannya itu tadi tidak becanda, serius, berdasarkan pengalamannya.

Saya terkesan. Memang rejeki orang itu sendiri sendiri, ndak perlu nggragas alias rakus, ndak perlu iren-kemiren alias iri dengan rejeki orang lain. Minggu pagi itu saya dan mas Riyanto mendapatkan pelajaran berharga dari seorang peternak lele yang sederhana di Cangkringan.

Saya kemudian membeli 400 benih lele berukuran 3-4 cm dari mas Gembes. Satu benih-nya dihargai Rp. 110 oleh mas Gembes.

Saya mengulurkan uang Rp. 50.000. "Pinten dadose niki mas?" saya bertanya berapa jadinya harganya.

Mas Gembes diam sejenak lalu berkata, "wah Pak, menawi mboten ngangge kalkulator niki angel tenan. Wes angel tenan pokoke." Mas Gembes kesulitan menghitung tanpa kalkulator.

Saya hampir kehilangan composure pengen ketawa tapi kok takut menyakiti perasaan karena jadinya tidak sopan. Saya bantu hitungkan dan memberitahu beliau kalau harganya jadi Rp. 44.000 saja. Tapi saya tidak mau kembalian, sisanya untuk tanaman mata ikan-nya saja. 

Saya dan mas Riyanto kemudian pulang dengan 400 benih lele, seplastik besar tanaman mata ikan, dan pelajaran kearifan dari mas Gembes. 

Wednesday, March 17, 2021

Sudut ABC

Hari ini di twitter ada permasalahan matematika yang diangkat mas Ainun Najib (bukan Cak Nun). Konon katanya ini soal Olimpiade Matematika untuk anak SD.


Disuruh nyari besar sudut ABC.

Ide pertama yang nggak mau susah ya carilah busur derajat dan ukur itu sudut. Toh, itu gambar not to scale. Jadi tinggal diukur saja. Ini namanya penyelesaian empirik.


Saya pakainya busur derajat daring yang bisa dicoba sendiri di sini. Hasilnya 55°.

Ide kedua datang dari twitter yang dibagikan oleh teman saya Herman Saksono. Katanya ini penyelesaian intuitif, dimana orang yang ngasih solusi itu bikin gambar macam begini:


Penasaran, saya buktikan dengan menggambarnya secara manual menggunakan jangka dan busur derajat (maap gambarnya gelap, tadi pas mati lampu):


Somehow, perpotongan tepi lingkaran yang berpusat di titik C dan lingkaran yang berpusat di titik D itu pas banget berada di garis AB. Yang di dalam gambar dari Momon tadi dikasi label Q. Dengan kita tahu DQC adalah segitiga sama sisi, kita tahu BQC adalah segitiga sama kaki dan sudut ABC ketemu 55°.

Cara ini, kata teman saya tadi, disebutnya cara intuitif.

Tapi kok rasanya masih ngganjel gitu. Saya pengen ngitung yang analitis gitu. Jadilah saya ngitung pake trigonometri dengan inspirasi dari koordinat polar.


Dibuat garis lurus sejajar AD dari titik C untuk membantu kita melihat proyeksi r pada sumbu x.

Untuk bisa ngitung sudut ABC, kita ngitung sudut BAD dulu, alias sudut a yang bisa kita liat dalam koordinat polar.

Jadi, 

tan a = dya / dxa

Dimana, 

dya = 0 + r*sin(70) + r*sin(60)

dxa = r + r*cos(70) - r*cos(60)

Sehingga, r-nya kecoret ... ketemu tan a ... diinvers (pake bantuan Wolfram Alpha) ... dapetnya a = 65°

Ketemulah b = 55°.

Ini jelas bukan cara anak SD. Soalnya udah pake Trigonometri, mana dibantu Wolfram Alpha pula. Kata teman saya, ini cara analitik. Gunanya untuk memuaskan rasa penasaran orang-orang macam saya dan temen saya itu tadi wkwkwkwk #becanda. 

Ada banyak steps yang saya skip supaya postingan ini nggak kepanjangan. Yang ingin saya sampaikan sebenernya, sebuah masalah itu bisa didekati dengan berbagai macam cara. Kalo menurut istilah teman saya itu tadi ya ada cara empirik, cara intuitif, dan cara analitik. Belum lagi, kata Momon, mungkin ada cara skolastik pakai kecerdasan buatan ... #ambyarrr.

P.S.

untuk cara analitik itu, considering ...


Maka, tan a = tan ((70+60)/2) ... sehingga a = 65°

Pake contekan rumus Trigonometri ternyata nggak perlu bantuan Wolfram Alpha jadinya.

Friday, August 21, 2020

Tilik

Yang belum lihat film pendek "Tilik", sila nonton dulu karena berikut ini saya mau spoiler, more or less.

***spoiler warning***

Film Tilik itu, dalam pandangan saya, menggambarkan misinformasi dan disinformasi.

Misinformasi itu informasi yang keliru atau kurang lengkap. Dalam Tilik, hal ini digambarkan dengan Yu Ning yang mengajak ibu-ibu untuk tilik Bu Lurah di PKU Gamping setelah mendengar kabar kalau Bu Lurah ambruk dan dibawa anaknya, si Fikri (bersama Dian) ke rumah sakit. Tapi ternyata, karena Bu Lurah masuk ICU, ya belum bisa ditengok/ditiliki. Padahal ini ibu-ibu jauh-jauh dari seputaran Muntuk, Imogiri, Bantul. Perjalanan-nya bisa sampai 1.5 jam. Akibat info yang kurang lengkap yang diterima Yu Ning, para ibu-ibu ini jauh-jauh ke PKU Gamping nggak bisa ketemu Bu Lurah, cuma ketemu si Fikri dan Dian. Ini namanya misinformasi.

Disinformasi itu informasi yang dibumbui micin supaya lebih greget dan seringkali menggiring penerima informasi pada kesimpulan yang keliru, bahkan bersifat merusak (harmful) bagi pihak-pihak tertentu. Dalam Tilik, hal ini digambarkan dengan Bu Tejo yang semangat sekali nggosipin Dian. Bahwa mungkin Dian pacaran dengan om-om itu benar, namun belum tentu Dian itu pelakor atau wanita yang nggak genah seperti yang dituduhkan Bu Tejo. Bisa jadi Dian pacaran dengan Pak Minto yang jauh lebih tua itu setelah Pak Minto bercerai dengan Bu Lurah. Belum tentu Dian yang menjadi penyebab perceraian Pak Minto dengan Bu Lurah, informasinya tidak ada, hanya prasangka-prasangka penonton saja yang muncul ketika melihat adegan terakhir. Yang begini ini namanya disinformasi.

Kalau melihat adegan terakhir pada film Tilik ini malah yang ada si Dian sudah tidak tahan memiliki hubungan yang dirahasiakan dengan Pak Minto, tapi Pak Minto-nya menenangkan a la a la pakboi "tenangkanlah hatimu", "yang sabar" dan "percayalah padaku". Dari kacamata saya, ini Dian-nya malah yang dimanipulasi Pak Minto yang nampaknya orang kaya dan mungkin juga punya pengaruh (kedudukan sosial yang lebih tinggi) kalau dilihat dari mobil sedan hitam yang dimilikinya.

Anyhow, film Tilik ini bagus banget bisa memantik diskusi dan viral. Sukses terus sinema Indonesia.

Saturday, February 08, 2020

Hipotalamus

Hipotalamus bagian dari otak ya, bukan hippopotamus yang kuda sungai itu.

Ini salah satu gathuk mathuk yang ngaco, ngawur, dan menyesatkan: "karena hipotalamus laki-laki lebih gede dari wanita, makanya poligami itu diperbolehkan dalam Islam"

Tak semprittttt ... !!!

Dipikirnya laki-laki itu reptil apa gimana?? Hipotalamusnya lebih gede. Ya memang kalo laki-laki yang sukanya selingkuh itu disebutnya buaya. Tapi ya nggak gitu juga kali. Itu ekspresi bahasa saja, kok dipake buat gathuk mathuk.

Kalo dibaca di An Nisa, dan juga merefleksikan praktik poligami Kanjeng Nabi, penyebab diperbolehkannya poligami itu bukan masalah syahwat laki-laki, tapi konteks sosial politik.

Kalo situ argumennya poligami boleh karena hipotalamus cowok lebih gede, alias syahwatnya gede, itu malah menghina Islam dan Kanjeng Nabi. Situ apa mau jadi islamophobi yang sukanya menghina Kanjeng Nabi ngacengan??? Ra trimo aku. Kanjeng Nabi itu orangnya halus sekali, lembut. Ora ngacengan.

Syahwat laki-laki itu aturannya dalam Islam jelas: "yahfadhu furuujahum" alias "kendalikan itu syahwat" (baca lagi Al Mu'minun, An Nuur, Al Ma'arij). Bukan poligami.

Argumen macam begitu itu yang melanggengkan budaya maskulinitas yang toksik. Dan Islam itu tidak melanggengkan hal yang seperti itu. Malah sebaliknya, Islam itu memuliakan wanita. Interpretasi orang horny saja yang kemudian meng-gathuk-mathuk-kan teks agama sesuai sama kepentingannya dia.

Aku ra trimo kalo situ menghina Islam.

Dorongan biologis itu bukan fitrah laki-laki.

Fitrah itu kerinduanmu untuk selalu kembali kepada Tuhanmu.

Itu fitrah.

Masih inget? "Alastu bi Rabbikum?" Kamu bilang "balaa, syahidna".

Itu fitrah.

Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Itu betul.

Tapi kalo poligami kamu nyatakan memenuhi fitrah laki-laki untuk memenuhi kebutuhan biologis, itu namanya ngapusi.

Kalau iya dorongan biologis itu fitrah, kenapa pas puasa, kegiatan seksual yang aslinya halal dengan pasanganmu kok membatalkan puasa? Dan katanya setelah sukses melatih hawa nafsu selama 30 hari itu, kamu kembali ke fitrah? Apa maksudnya, selesei menahan selama 30 hari itu, njuk kamu mau kembali ke kondisimu yang sebelumnya yang tidak terlatih? Tidak. Kalo sukses latihannya, kerinduanmu kepada Tuhanmu akan semakin kuat.

Itu fitrah.

Dorongan biologis itu bukan fitrah. Malah sebaliknya, dorongan biologis itu sesuatu yang bisa menjauhkanmu dari fitrahmu.

Hipotalamus, hipotalamus. Hipotalamus ndhasmu.

Friday, February 07, 2020

Poligami

Poligami diperbolehkan dalam Islam 🗹 True

Poligami diperbolehkan untuk memfasilitasi syahwat laki-laki ☒ False

Poligami dianjurkan ☒ False

Poligami diperbolehkan karena kondisi sosial politik tidak memberi jalan lain selain melakukan poligami for the greater good (Q.4:2-3) 🗹 True

Aturan Islam mengenai syahwat laki laki itu "yahfadhu furuujahum" (Q.24:30) 🗹 True

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ - 24:30


"Tell the believing men to lower their gaze and guard their private parts. That is purer for them. Indeed, Allah is Acquainted with what they make."

***
Poligami itu nggak ada hubungannya sama syahwat laki-laki, apalagi hipotalamus.

Wednesday, February 27, 2019

Polyglot

Polyglot itu kurang lebih artinya seseorang yang bisa berbagai bahasa. Secara umum standar-nya adalah bisa secara aktif berbicara minimal empat bahasa. Kalau dua bilingual, kalau tiga itu trilingual.

Orang Indonesia biasanya trilingual: Bahasa Ibu/Daerah, Bahasa Nasional Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Namun akhir-akhir ini muncul kekhawatiran bahwa Bahasa Daerah perlahan-lahan akan punah.

Ini membuat saya ingin merefleksikan pengalaman saya berbahasa.

Saya bisa Bahasa Indonesia karena sejak kecil di rumah dan di sekolah di Indonesia pakainya Bahasa Indonesia.

Saya bisa Bahasa Jawa Ngoko karena teman-teman di SD ngomongnya Bahasa Jawa Ngoko. Terbawa di rumah, sama orangtua kalau ngomong Bahasa Jawa ngomongnya Bahasa Jawa Ngoko, padahal aturannya harusnya pakai Bahasa Jawa Alus. Tapi umumnya sih di rumah pakai Bahasa Indonesia.

Saya bisa Bahasa Inggris awalnya karena baca buku Harry Potter dan nonton talkshow-nya Ellen Degeneres. Dan kemudian lingkungan akademik menuntut untuk bisa berbahasa Inggris.

Saya bisa Bahasa Jawa Alus sedikit-sedikit karena Pak Warto, sopir Papa yang ngajarin saya nyetir nggak pernah ngomong sama saya pakai Bahasa Indonesia. Saya ngomong pakai Bahasa Indonesia, dijawabnya Jawa Alus. Akhirnya saya bisa sedikit-sedikit Jawa Alus. Kalau ngomong sama mertua juga akhirnya pakai Jawa Alus karena rasanya lebih sopan dan menghormati.

Saya bisa Bahasa Spanyol sedikiiiiiit sedikit sekali karena ada teman online yang juga kekeuh nggak mau jawab pakai Bahasa Inggris kalo nge-chat, jadinya saya belajar Spanish dikit-dikit pakai banget, sebatas hola como esta muy bien yo no habla Espanol haha. Tapi saya tidak terhitung dapat berbicara Bahasa Spanyol secara aktif. Jadi saya trilingual. Polyglot kalau Jawa Ngoko dan Jawa Alus dihitung sendiri-sendiri.

Pengalaman saya mengamati anak-anak generasi kedua diaspora Indonesia di Amerika, beberapa "masih" bisa berbahasa Indonesia karena orangtua-nya di rumah ngomong pakai Bahasa Indonesia sejak mereka kecil dan ada yang secara ketat memberlakukan aturan harus berbicara dengan Bahasa Indonesia di rumah. Kalau ngomong Bahasa Inggris dengan orangtuanya nggak dijawab dan disuruh tidur di basement haha.

Bagaimana dengan Bahasa Pemrograman Komputer? Ya boleh lah dihitung bahasa sendiri untuk berbicara dengan mesin. Tapi itu lain topik. Lebih ke logika sih sebenernya kalau pemrograman komputer itu.

Kalau merefleksikan pengalaman saya belajar bahasa umumnya saya belajar bahasa karena memang berbahasa itu kebutuhan. Semacam survival skill sebagai manusia. Tapi banyak orang yang belajar berbagai bahasa karena mereka memang punya keinginan belajar ragam bahasa. Ada lho semacam perkumpulan polyglot internasional begitu.

Artinya, polyglot itu bukan keistimewaan. Setiap manusia punya potensi untuk jadi polyglot. Faktor yang membatasi pada umumnya adalah lingkungan berbahasa sehari-hari.

Ada ahli bahasa yang bilang bahwa bahasa itu membentuk pola pikir dan demikian pula sebaliknya untuk memahami bahasa baru, kita perlu membuka wawasan dan berpikir dengan pola pikir bahasa yang bersangkutan.

Kembali mengenai kekhawatiran akan punahnya Bahasa Daerah, menurut saya kekhawatiran itu adalah sesuatu kekhawatiran yang sangat beralasan dan perlu kita perhatikan dengan seksama. Kehilangan suatu Bahasa Daerah berarti kita kehilangan suatu alam kebudayaan manusia lengkap dengan keunikan pola pikir yang terkandung di dalamnya.

Supaya tidak punah, mungkin kita perlu menciptakan lingkungan berbahasa dimana kita, secara konsisten, berinteraksi dengan Bahasa Daerah yang ingin kita lestarikan.

Lingkungan ini tidak terbatas lingkungan fisik saja, bisa juga lingkungan virtual. Masih ingat evolusi jejaring Internet 4.0? Orang-orang akan terkoneksi ke Internet 24 jam. Sehingga, kalau Internet didominasi oleh Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional, kita perlu menciptakan ceruk-ceruk jejaring Internet yang menggunakan Bahasa Daerah dengan konten/materi yang berkualitas sehingga banyak orang yang betah di dalamnya.

Bahasa Daerah itu awalnya tergantung letak geografis. Namun dengan adanya Internet, batas-batas geografis itu hilang. Jadi ya kita harus membuat garis demarkasi baru, demarkasi virtual, demarkasi mental.

Yang paling sederhana mungkin kita perlu konsisten dengan identitas kebangsaan dan kedaerahan masing-masing. Kalau ketemu orang Amerika, ya ngomong pakai Bahasa Inggris. Kalau ketemu orang Indonesia, ya ngomong pakai Bahasa Indonesia. Kalau sama-sama orang Jogja pengennya sih ya ngomong pakai Jawa Alus sih ya ... tapi udah terbiasa pakai Bahasa Indonesia. Jadi mungkin saya perlu berteman dengan Pak Warto di Facebook ... hehehe.

Solusi lain mungkin dengan menyempurnakan algoritma mesin pintar penerjemah bahasa. Sehingga, di masa depan mungkin kita hanya perlu tekan tombol "ON" untuk bisa puluhan bahasa. Namun perlu diingat, bahwa bahasa itu tidak terbatas kosakata dan gramatikal saja. Ada unsur budaya di dalamnya.

Friday, February 22, 2019

Name Calling

Ini sekedar refleksi saya pribadi. Menurut saya hal yang paling berat dalam bermain media sosial itu adalah untuk menahan diri memanggil orang yang tidak kita suka dengan panggilan yang buruk (name calling).

Menurut saya media sosial itu semacam arena bermain (playground) untuk orang dewasa. Dan yang namanya playground itu bisa membuat seseorang yang terlibat di dalamnya menjadi anak-anak lagi atau lebih tepatnya mungkin kekanak-kanakan.

Name calling itu somehow enak di jempol, atau mungkin kalo boleh seenaknya pake istilah Marie Kondo, name calling itu "sparking joy" haha tapi bukan dalam konotasi yang baik lho ya. Kayak puas aja gitu ya kan, manggil pihak lain cebong atau kampret. Geli geli gimana gitu rasanya, atau puas, lega dari rasa sebel, dan semacamnya

Name calling itu juga biasa dipakai untuk merendahkan orang lain, otomatis membuat fatamorgana bahwa kita lebih tinggi derajatnya. Misalnya Prabowo kita panggil Wowo. Atau saya juga pernah bersalah manggil Prabowo itu Hulaihi Watuulo ... ya gimana ya ... jujur gatel dan geli, jadi saya ikut-ikutan name calling juga. Di lain pihak Jokowi dipanggilnya Tukang Bohong sama kubu sebelah, dan kita nggak suka karena kita tahu Jokowi bukan Tukang Bohong.

Name calling di media sosial itu berdasarkan sifat interaksinya dapat dibedakan menjadi dua. Indirect name calling, seperti misalnya ketika saya manggil Prabowo "Wowo". Dan direct name calling seperti ketika berinteraksi di bagian komentar dengan memanggil lawan bicara "Dongok lu ya", "Dasar bego lu", "Ih amit-amit lu ya goblok nggak ketulungan" dan sejenisnya.

Motivasi di belakang kita melakukan praktik name calling ini bermacam-macam. Pertama, mungkin karena sebel, nggak habis pikir kenapa objek yang kita panggil nama buruknya itu melakukan sesuatu yang demikian. Kedua, mungkin motifnya balas dendam, karena pihak yang sana panggil-panggil kita dengan nama yang buruk duluan. Ketiga, mungkin karena udah terbiasa, alias jadi akhlak buruk, kalau nggak manggil dengan nama yang buruk itu rasanya kurang puas atau ada yang ngganjel. Dan mungkin masih banyak lagi motif-motif yang lain.

Saya tidak dalam posisi menganjurkan untuk tidak memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk, lha wong saya juga bersalah terlibat dalam praktik name calling. Tapi saya pikir, kalau kita mau diskursus politik yang sehat, mestinya name calling itu harus dikeluarkan dari persamaan. Atau dalam bahasa Baltimorean "If we want a healthy political discourse, we have to take name calling out of the equation. If anything, it only shows that we ain't no better than them".

Trus gimana dong kalo objek yang bersangkutan memang layak dipanggil dengan panggilan yang buruk? Pertama, emang ada gitu manusia yang layak dipanggil dengan panggilan yang buruk? Ada? Eh, beneran ada? Atau mungkin standar perilaku kita yang memang masih segitu-segitu aja? Kedua, kalau memang objek yang bersangkutan melakukan sesuatu yang keterlaluan, ya kita tunjukkan saja kesalahannya dimana secara objektif. Memang jadi kurang asyik, tapi lebih sehat secara kejiwaan ... hehehe.

Wednesday, January 02, 2019

Trolling

Definisi informal "trolling" itu adalah "make a deliberately offensive or provocative online post with the aim of upsetting someone or eliciting an angry response from them". Yang begini ini banyak terjadi dalam lingkungan MMORPG (alias game online) dan media sosial terlebih pada masa Pemilu sekarang.

Trolling itu salah satu bentuk cyberbullying. Solusi yang sifatnya kuratif ada beberapa yang saya tahu. Yang pertama tentu "blocking" atau "banning". Kalau di media sosial mungkin kemudian ada yang "unfriend". Tapi kalau "unfriend" dirasa terlalu radikal, bisa "unfollow".

Solusi kedua yang saya tahu itu "ignore". Ketika anda menanggapi "troll" istilahnya "you're feeding the troll". Sekalinya anda menanggapi, dibalik layar gawai digital mereka para "trolls" itu mungkin ketawa-ketiwi sendiri merasa sukses. Jadi ya biarkan saja. Kalau dibiarkan saja kemudian perilaku trolling-nya menjadi-jadi maka kembali ke solusi pertama.

Yang repot mungkin kalau di media sosial, ada "troll" yang menunggangi status-status kita yang setting-nya publik. Solusi terakhir yang saya tahu untuk kasus ini ada tiga. Pertama, tanggapi sekali saja dengan kalimat semacam "stop trolling on my status". Kedua, klik tombol "report", sehingga platform media sosial yang bersangkutan yang mungkin akan mengintervensi (walaupun belum tentu juga). Yang ketiga, khusus untuk facebook, kalau kita berteman dengan troll-nya, kita bisa set Custom Privacy: Public except [nama troll-nya].

Yang lebih penting sebenernya adalah jangan sampai kita malah juga jadi "troll", alias kita melakukan usaha preventif mulai dari diri kita sendiri. Dalam dunia cyberbullying, antara victim dan bully itu perpotongan diagram Venn-nya sangat besar, bisa di atas 80% (menurut data penelitian yang saya lakukan pada tahun 2016). Saking mudahnya berbalas posting, yang tadinya victim bisa berbalik jadi bully dan sebaliknya. Istilahnya untuk mengatasi "trolling" adalah dengan "be a buddy, not a bully", jadilah teman, bukan preman.

Tuesday, January 01, 2019

Relatable

Secara bahasa "relatable" itu kata sifat yang salah satu artinya adalah "enabling a person to feel that they can relate to". Secara populer, "Relatable" itu acara komedi baru-nya Ellen DeGeneres di Netflix. Tapi saya nggak mau bahas Ellen.

Saya mau berbagi asumsi saya mengenai bagaimana orang-orang memilih dalam Pemilu. "Relatable" itu tema yang muncul dari observasi saya baik dari kubu Jokowi maupun dari kubu Prabowo. Menurut saya, orang-orang memilih karena afiliasi dan karena mereka merasa bisa "relate to" Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo, baik "relate to" secara langsung maupun tak langsung melalui afiliasi kepartaian.

Yang saya amati, orang memilih Jokowi umumnya karena mereka melihat sebagian dari diri mereka di dalam figur Jokowi. Mereka melihat Jokowi itu orang sipil, ndeso, sederhana, pekerja keras dan lain sebagainya yang bermacam-macam sesuai dengan asumsi masing-masing pemilih. That is how they relate to him. Sedangkan sebagian yang memilih Prabowo, memutuskan untuk mendukung beliau karena Prabowo bukan Jokowi yang mereka anggap tidak mewakili mereka. Somehow, that's how they relate to him based on their assumptions.

Yang membuat saya merenung itu adalah bilamana kita bisa memilih pemimpin berdasarkan prioritas masalah bangsa yang mereka angkat. Bilamana kita memilih program, bukan sekedar figur? Saya menyadari bahwa memikirkan yang agak njlimet seperti ini adalah privilege kalangan menengah ke atas yang rada selo untuk mempelajari program dan pretingsing semacamnya. Tapi di lain pihak, kalau masyarakat kita tidak segera mulai belajar untuk memilih berdasarkan permasalahan bangsa yang diangkat, bukan sekedar figur, saya nggak tau kapan kita sebagai bangsa bakalan maju.

Tampaknya masih panjang jalan kita ke depan. Selamat tahun baru untuk rekan-rekan semua. Selamat menjalani tantangan masing-masing di tahun 2019 nanti. I wish us all a blessed and prosperous year!

Tuesday, October 30, 2018

Afiliasi

Jikalau saya diminta untuk memilih satu dari beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari MMORPG (Massive Multiplayer Online Role-Play Game) maka saya akan memilih satu kata ini : afiliasi.

Afiliasi itu akar katanya filius yang artinya "anak laki-laki" atau "sesuatu yang disukai", mendapatkan awalan ad- yang berarti "menuju" dan akhiran -ation yang berarti "proses". Secara etimologi, afiliasi itu artinya "proses menuju anak laki-laki/sesuatu yang disukai". Aneh ya? Hehe. Secara umum, afiliasi itu keanggotaan atau keterikatan seseorang pada sebuah kelompok dengan kesamaan atribut.

Di dalam MMORPG hal tersebut menjadi sangat terlihat dalam beberapa hal. Salah satunya adalah mengenai konsep afiliasi pemain dengan guild/aliansi. Guild itu kurang lebih sekelompok pemain yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Dalam pembelajaran, kita mengenal belajar kolaboratif atau belajar kelompok. Selama ini kadang instruktur taking it for granted kalau belajar dalam kelompok itu cenderung lebih sukses daripada belajar secara individual. Padahal belum tentu demikian. Kalau kolaborasi-nya benar, seorang pemelajar memang akan lebih sukses belajarnya dibanding ketika dia belajar secara individual. Tapi kalau guild-nya nggak bener, malah sengsara jadinya. Hal yang demikian lebih mudah ditemui di dalam MMORPG. Solusinya? Pindah guild. Kelompoknya ditata ulang.

Dalam kehidupan, setiap orang punya afiliasi terhadap kelompok tertentu. Dan afiliasi tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Kadang-kadang afiliasi dan identitas ini berlaku dua arah. Identitas kita menentukan afiliasi dan sebaliknya afiliasi menentukan identitas.

Yang kurang dipahami banyak orang adalah bahwa afiliasi dan identitas itu tidak selamanya dua arah.

Seperti gampangnya begini: karena tetangga kami, Yocheved, itu beragama Yahudi dia memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang Yahudi. Di belahan bumi yang lain, Benjamin itu juga beragama Yahudi dan melakukan agresi terhadap orang Islam di Gaza. Apakah kemudian kami harus membenci Yocheved akibat kelakuan Benjamin? Jawabannya: tidak, tanpa mengesampingkan fakta bahwa kelakuan Benjamin itu nggak bener.

Afiliasi ini kadang kepleset jadi generalisasi. Lalu kita bisa kecipratan guilt by affiliation. Padahal ya nggak begitu. Itu pemaknaan yang keliru terhadap frase guilt by affiliation.

Kalau kita membenci kelakuan seseorang yang memiliki atribut tertentu itu sebenernya yang kita benci adalah kelakuan-nya, tapi kita lebih mudah melihat atribut-nya. Seperti misalnya kalau ada orang Islam yang ngebom-ngebom nggak jelas itu yang kelihatan atribut keislamannya. Padahal sebenernya yang kita benci itu perilaku ngebom-ngebom yang tidak jelas itu. Yang anti-Islam kemudian menyalahkan bahwa kelakuan tersebut dianjurkan dalam teks agama. Apa iya begitu? Enggak.

Makanya kalau berdoa itu salah satu bagian doa kita adalah bahwa kita berlindung dari "the evil within ourselves", dari hal-hal buruk yang mungkin kita sendiri melakukannya.

Memaknai afiliasi secara keliru kadang berujung stereotype. Misalnya, kalau kebetulan banyak kriminalitas yang dilakukan oleh orang kulit hitam lalu kita kepleset membuat stereotype bahwa orang berkulit gelap itu jahat. Padahal kulit saya juga gelap je ...

Di lain pihak, kita tahu bahwa White Supremacist itu jelas orang kulit putih. Tapi apa kemudian semua orang kulit putih di Amerika itu jahat seperti orang-orang KKK? Tidak. Yang baik juga banyak.

Nah, kebetulan saya nyebut KKK. Yang demikian ini jelas antara afiliasi dan identitas berlaku dua arah karena memang organisasi tersebut disatukan oleh sesuatu yang nggak bener : supremacy.

Supremacy itu landasannya arogansi, anggapan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain semata-mata karena dirinya terbuat dari bahan tertentu yang menurutnya lebih baik. Familiar? Iya, ini perilaku iblis. Iblis merasa lebih baik dari manusia hanya karena dia terbuat dari api, sedangkan manusia terbuat dari tanah.

Implikasinya, semestinya orang beriman itu nggak arogan. Karena kalo orang beriman merasa lebih baik dari orang lain jadinya kontradiktif. Lha katanya beriman tapi kok kelakuannya kelakuan iblis? Cukuplah Gusti Allah saja yang memuji bahwa orang yang bertakwa itu lebih tinggi derajatnya tanpa perlu kita mbagusi, rumongso sudah bertakwa ...

Should I wrap it up? Saya nulis panjang banget ini karena saya sedih ada penembakan di sinagog di Pennsylvania. Tapi setelah itu rada terhibur ketika ada umat Islam yang rame-rame memberikan dukungan ke masyarakat Yahudi korban penembakan itu.

Buat orang Indonesia yang umumnya benci sama orang Yahudi, seperti hal-nya saya dulu juga membenci buta orang Yahudi, mungkin berita orang Islam membantu orang Yahudi itu semacam cognitive dissonance ... Padahal kuncinya sederhana: perilaku, identitas dan afiliasi itu jangan dipelesetkan menjadi generalisasi dan stereotype karena kehidupan sosial bermasyarakat di dunia nyata itu nggak segampang pindah guild di MMORPG.

Friday, January 06, 2017

Perundungan alias Bullying

Saya mau menerjemahkan secara bebas laman federal stopbullying.gov terkait definisi bullying supaya kita bisa memahami bullying dengan lebih seksama.
Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif dan tidak menyenangkan, dus tidak dikehendaki, yang melibatkan "power imbalance" atau dominasi satu pihak terhadap pihak yang lain. Baik pelaku bullying maupun korban bullying sama-sama beresiko memiliki masalah psikologis di kemudian hari seperti depresi atau bahkan sampai bunuh diri.
Ada tiga jenis bullying.
Pertama, perundungan lisan (verbal bullying) termasuk melalui teks/teknologi. Verbal bullying meliputi olok-olok (teasing), mengejek dengan memberi atribut yang buruk (name-calling), komentar tidak senonoh (inappropriate sexual comment), memprovokasi/merendahkan (taunting/insulting), dan mengancam (threatening to cause harm).
Kedua, perundungan sosial (social bullying). Social bullying meliputi mengucilkan, menebar rumor/fitnah, dan mempermalukan seseorang (shaming).
Ketiga, perundungan fisik (physical bullying). Physical bullying meliputi segala sesuatu yang mengakibatkan rasa sakit secara fisik (memukul, menendang, menjegal, menampar ... you name it), meludahi orang lain, merusak barang milik orang lain, dan membuat simbol yang kasar/tidak sopan (kalo di sini contohnya memberi jari tengah kepada orang lain).
Bagaimana kita menghadapi atau berurusan dengan bullying?
Pertama, jangan melabeli anak sebagai bully ataupun korban. Memberi label seakan-akan menganggap perilaku itu tidak bisa diubah. Kita bisa mengubah perilaku.
Kedua, beri contoh bagaimana bersikap ketika kita menerima perilaku bullying ataupun melihat perilaku bullying. Contoh praktisnya, kita harus berani berkata bahwa perilaku bullying itu tidak baik dan tidak menyenangkan, seperti: "eh jangan begitu, nggak baik itu".
Ketiga, mengedukasi masyarakat mengenai bahaya dan pencegahan bullying sejak dini.
Be a buddy, not a bully. Jadilah teman, bukan preman.

Friday, February 05, 2016

Satu Mug Brownies

Semuanya satu ...
Bahan:
1 sdm makan tepung
1 sdm nutela (yang agak generous hehehe)
1 sdm minyak sayur
1 butir telur
sejimpit baking soda
(boleh ditambah 1 sdm gula kalau mau agak manis)
Campur semua bahan di dalam mug, kocok (whisk) pakai garpu yg kencang biar adonannya tercampur rata. Lalu dimasukkan microwave 1 menit 45 detik.


*. di foto itu, Brownies-nya diberi topping cream cheese dan potongan anggur.

Sunday, September 27, 2015

Eid-Ul-Adha Excuse Letter

I was trying to write an excuse letter for my daughter. I browsed in the Internet and here is what I came up with :)

Dear Mrs. Murtha,

My name is Arkhadi Pustaka, father of Najwa Arifah who is in your 2nd grade class.

As Najwa’s parent, we would like to inform you that Najwa will be absent for school on Thursday, September 24, 2015, due to religious observance of Eid-ul-Adha.

Eid-ul-Adha is one of the two most important holidays observed by muslim community. This holiday falls on the 10th day of the Islamic lunar calendar month of Dhul-hijjah. It happens to fall on Thursday, September 24, this year. This holiday is also known as the “feast of the sacrifice” to commemorate the life of the great prophet Abraham (pbuh). Some of the muslim go for pilgrimage to Mecca on this religious holiday. For those who cannot go for pilgrimage, muslim families are required to attend morning mass congregation at the mosque. Thus, we would like to take Najwa to the mosque on that day.

However, we are fully aware that September is the Attendance Awareness Month. We are also aware that attendance is really important for Najwa to be successful in school. We will try our best to help Najwa to catch up with her schoolwork during her absent on that day.

If you have any concerns or questions, please do not hesitate to contact me at [insert e-mail] or by phone at [insert-phone-number].

Thank you for your time and attention.

Sincerely yours,

[insert-signature]

Arkhadi Pustaka

Monday, July 08, 2013

Seandainya Pulang Besok ...

...tentu pengen bisa kumpul-kumpul sama temen-temen hiddenleaf lagi. Bikin-bikin percobaan sederhana lagi. Tapi mungkin arahnya lebih ke percobaan memasak. Eh lho, jadi yang bener apa ni coba-coba masak, atau memasak yang berbau percobaan? Well, ini gara-gara di sini hobi nonton felem kuliner jadi kenal sama Heston Blumenthal, Ferran Adria dan sejenisnya.

Yang paling pengen ta' coba sih bikin "spherification" macam di video ini:

Saturday, July 28, 2012

Tentang Definisi

- merangkum twit-twit tadi pagi

Pagi2 kok mak bedunduk inget Pak Rani yaa.. apa kabar beliau ya?

Pak Rani itu salah satu guru matematika SMA saya yang paling keren (setidaknya di mata saya). Saya pernah posting tentang Pak Rani beberapa waktu lalu. Well, okelah boleh dibilang saya fans-nya Pak Rani :).

Yang paling saya inget dari Pak Rani itu ketika beliau di depan kelas lempar pertanyaan: lingkaran itu apa? Semua anak di kelas diam. Pak Rani tampak tidak suka, mungkin kecewa, tapi kayaknya sudah biasa. None of us understood what he asked. Anak-anak saling memandang satu sama lain, kalo' dikartunin mgkn ada bubble "ini Bapak aneh banget pertanyaannya..." Sampai pada akhirnya Pak Rani tidak sabar menunggu karena nggak ada satu pun anak yang menjawab dengan benar dalam hampir 2 x 45 menit jam mata pelajaran. Dan beliau bilang "lingkaran itu himpunan..."

Pada saat itu saya jadi sadar, bahwa selama 11 tahun belajar matematika dari SD sampe SMA kelas 2 saya ndak pernah punya pemahaman tentang apa itu "definisi". Walopun, dari sudut pandang kreativitas nggak salah sebenernya bikin definisi sendiri soal lingkaran, tapi matematika itu konsensus. Supaya punya sudut pandang yang sama, dibuatlah definisi-definisi. Contohnya: "lingkaran adalah himpunan titik yg berjarak sama dari satu titik acuan tertentu".

Dari "definisi" itu lahirlah bahasa matematika berupa rumus lingkaran:

(y - yp)2 + (x - xp)2 = r2

x dan y adalah koordinat titik-titik yang membentuk lingkaran, xp dan yp adalah koordinat titik acuan, dan r adalah jarak himpunan titik (x,y) terhadap acuan (xp,yp). Kok rumus lingkaran mirip Teorema Pythagoras?? ya mau gimana lagi? kalo ngitung jarak yg sama jadinya ngitung hipotenusa segitiga to?

Definisi itu terdeskripsikan dengan baik pada alat yang namanya "jangka" (compasses), salah satu alat bantu untuk menggambar lingkaran sejak jamannya Euclid. Ketika memakai jangka, kita menentukan satu titik acuan tertentu, menentukan radius (jarak himpunan titik penyusun lingkaran) lalu memutarnya sehingga himpunan titik-titik penyusun lingkaran itu termanifestasi dalam citra yang kita sebut lingkaran.

gambar dari sini.

Di akhir kelas tentang irisan kerucut itu, Pak Rani bilang sama saya "kalo kamu gk bisa selesein masalah pake rumus, kembalikan ke definisinya"

Jadi sodara-sodara, jika Anda punya masalah hidup, definisikan hidup itu apa, asal muasalnya gimana, tujuannya apa. Karena, hidup nggak cuma "rumus-rumus" dan "perhitungan-perhitungan" yang rumit. #halah #melebar

#sudah #selesai #kembalikedapur #cucipiring