Showing posts with label dari notes FB. Show all posts
Showing posts with label dari notes FB. Show all posts

Thursday, May 04, 2023

Pendidikan dan Pematetikan

Ada setidaknya dua jenis orang. Yang pertama adalah orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicucinya di rak pengering dengan rapih. Yang kedua adalah orang yang ketika mencuci piring, meletakkan piring yang sudah dicuci di rak pengering dengan asal-asalan sehingga menciptakan sebuah struktur yang lebih layak disebut sebagai "Jenga Tower". Kenapa "Jenga Tower"? Karena ketika tersenggol sedikit saja, struktur-nya bisa rubuh.

Apa kaitannya cuci piring dengan pendidikan? Dan apa pula itu pematetikan? 

Pendidikan memiliki kata dasar "didik" yang sangat mungkin memiliki keterkaitan ataupun asal muasal kata dari kata Yunani "didaktik" (διδακτικός) yang secara harfiah bermakna "pengajaran". Sudut pandangnya sudut pandang sistem/guru sebagai subjek, peserta didik sebagai objek. Sehingga wajar saja sebenarnya jika selama ini (dan mungkin kebanyakan) kelas-kelas kita masih berpusat pada guru (teacher-centered). Toh, makna harfiah dari kata-nya begitu.

Ada sebenarnya kata yang mewakili "hal-hal terkait belajar" yang dicetuskan oleh Seymour Papert: "matetik". Kalau di-Indonesia-kan mungkin jadi "pematetikan". Ini sudut pandangnya sudut pandang si belajar sebagai subjek, ilmu sebagai objek. Lalu guru sebagai apa? Guru sebagai katalis saja, pihak yang menyediakan fasilitas dan kesempatan untuk si belajar menjalani petualangan belajar-nya. Bahasa kekinian-nya tentu saja "student-centered learning" (yang menurut saya sebenarnya istilahnya redundant ... kalau learning ya sudah semestinya student-centered), "active learning", "experiential learning", dan lain sebagainya.

Bahasa Inggris juga sama saja sebenarnya. "Education" itu "ex ducare" yang kurang lebih artinya "memimpin ke luar". Guru/dosen/docere adalah pemimpin bagi siswa-nya untuk keluar dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa. Mulia memang, tapi tetap saja sama dengan kata "pendidikan", aktor utamanya si pemimpin itu tadi.

Banyak sebenarnya kemudian tokoh-tokoh yang berusaha memaknai ulang "pendidikan" dengan membawa kata yang berat maknanya ke pengajaran menjadi kata yang setidaknya bermakna pembelajaran. Salah satu yang kita kenal tentu saja Maria Montessori. Ide Montessori kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk membuat kredo "Tut Wuri Handayani". Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tidak menolak ide bahwa guru adalah pemimpin yang harus berada di depan memberikan tauladan, "Ing Ngarso Sung Tuladha". Beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya peran guru adalah berada di tengah-tengah siswa-nya, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama membangun motivasi untuk berkarya, "Ing Madya Mangun Karsa". Namun peran yang paling utama dari seorang guru adalah "Tut Wuri Handayani". "Handayani" memiliki kata dasar "daya" dan secara umum bermakna "memberdayakan". Seperti ide Montessori di mana guru harus membiarkan "inner-potential of the students unfold", maka peran guru yang utama adalah memberikan panggung kepada para siswa agar mereka bersinar. Ide ini mirip dengan ide Papert tentang "matetik".

Pematetikan itu adalah proses pembekalan keterampilan belajar. Keterampilan belajar itu adalah fondasi bagi seseorang untuk menavigasi kehidupan, apalagi di dalam era di mana informasi itu begitu berlimpahnya dan sangat mudah diakses di ujung jari kita sedemikian rupa sehingga banjir informasi itu membuat kita tidak mampu lagi mencerna mana informasi yang benar mana yang keliru, bahkan mana yang palsu. Termasuk di dalam kategori keterampilan belajar adalah keterampilan untuk bertanya, keterampilan untuk mencari informasi yang terpercaya, keterampilan untuk mengkomunikasikan ide, keterampilan untuk menerima perbedaan dan keberagaman. Orang mungkin bisa berargumen bahwa keterampilan itu sudah diajarkan, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun apa benar demikian? Beberapa ahli pendidikan seperti James Paul Gee, Sugata Mitra, dan Ken Robinson berpendapat bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya masih berkutat dengan materi-materi "just-in-case", bukan memperlakukan materi itu sebagai informasi "just-in-time". Belum lagi ketika kita bicara tentang administrasi, penjaminan mutu, tes, dan lain sebagainya. Secara umum, kita masih berkutat pada pendidikan bukan pematetikan. 

Ketika kita masih berkutat dengan didaktik, sangat sulit bagi kita untuk mendiskusikan mengenai matetik. Padahal, tanpa membekali anak-anak kita -para pemuda-pemudi harapan bangsa- dengan keterampilan belajar, ibaratnya kita mendesain sebuah sistem yang sengaja membiarkan mereka gagal di masa depan. Persis dengan orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicuci itu asal-asalan saja sehingga strukturnya lebih mirip "Jenga Tower". Saya kurang tahu mana yang lebih buruk, apakah pencuci piring yang hobi membuat "Jenga Tower" atau jenis orang ketiga: orang yang tidak mau cuci piring.

P.S.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023 (2 Mei kemarin). 

Seperti kata teman saya di WAG, karena pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga, maka ucapan selamat ini berlaku untuk semua orang tua, wali siswa, dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan.

Saturday, September 17, 2022

Blessing Or Curse?

Pengetahuan. Itu bisa jadi berkah (blessing) pun bisa jadi kutukan (curse). Tidak heran salah satu ijazah-nya Bapak itu kalau diterjemahkan kurang lebih "aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat".

Tapi hidup itu seringkali tidak sehitam putih itu ... seringkali hidup ini abu-abu seperti sehelai uban yang ragu-ragu apa dia mau jadi putih, tapi kalo dibilang putih kok ya nggak putih-putih amat. Krisis usia pertengahan itu ya begitu itu. Kalau pengetahuan itu bukanlah berkah pun juga bukan kutukan, lalu apakah dia?

Terkadang pengetahuan itu sekedar untuk pelengkap hidup. Kata orang Jawa "nggo pepak-pepak ndonya". Ya biar komplit gitu lah hidup ini. Bayangkan hidup tanpa pengetahuan ... tak terbayangkan. Seperti apakah pengetahuan yang sekedar pelengkap saja?

Saya punya contoh, tapi agak panjang ceritanya.

Jadi begini ... Nafiisa sejak sudah bisa telungkup dan telentang lagi, kemudian berguling-guling, dia (seperti kakaknya, Najwa waktu bayi) jatuh dari tempat tidur. Nah supaya aman, kasur Nafiisa sekarang di lantai dan ada pembatasnya ... seperti crib begitu tapi besar. Crib yang dipinjami kak Dessi sementara belum terpakai karena Nafiisa belum bisa sleep through the night, masih kebangun bangun terus.

Karena kasurnya di lantai, tentunya kalau pas kasur itu diinjak, akan membentuk formasi yang mirip-mirip dengan kontinum ruang-waktu di mana terdapat massa yang cukup besar sehingga ruang-waktu tersebut membentuk kurva. Ini contoh pengetahuan yang sifatnya "pepak-pepak ndonya" itu tadi. 

Apalagi kalau pas di kasur itu tadi ada bola-bola plastik kecil mainan Nafiisa yang kemudian menggelinding ke arah kaki ... saya jadi membayangkan kaki saya itu sebuah lubang hitam yang menarik massa benda angkasa lain dalam kontinum ruang waktu yang membentuk kurva (which is actually cuma kasur itu tadi).

Gegara pengetahuan yang sifatnya pelengkap itu tadi, kasur dan bola plastik mainan kok ya jadi space-time dan black hole ... mau dibilang tidak bermanfaat kok ya itu pengetahuan tentang cosmos, mau dibilang bermanfaat kok ya itu cuma kasur keinjek ...

Apa dulu Minkowski (ilmuwan yang punya ide untuk memvisualisasikan spacetime) juga punya bayi yang jatuh dari tempat tidur lalu memindah kasurnya ke lantai ya? 

Thursday, November 25, 2021

Guru

Di dalam Bahasa Indonesia, kata "guru" memiliki berbagai padanan kata dan makna. Pengajar, pendidik, instruktur, orang yang digugu dan ditiru, mentor adalah beberapa contoh makna "guru" yang kita pahami selama ini. Namun secara etimologis, kata "guru" itu kata serapan dari bahasa Sanskrit "गुरु" (guru). Dalam bahasa Sanskrit, kata itu memiliki dua makna. Jika dia adalah kata benda, maka "guru" bermakna "seseorang yang dihormati" atau lebih literal lagi "guru" bermakna "darkness destroyer, seseorang yang menghancurkan kegelapan".

Yang menarik mungkin, kata "guru" memiliki cognate alias keterhubungan makna dengan kata Latin "gravis". Tentu saja, karena dalam bahasa Sanskrit, makna kedua dari kata "guru" adalah jika dia merupakan kata sifat maka "guru" berarti "heavy, berat".

Menarik ya?

Jika "guru" adalah kata benda, maka dia adalah penghancur kegelapan. Jika "guru" adalah kata sifat, maka dia itu berat.

Ingat istilah "gaya gravitasi"? Gravitasi itu memiliki akar kata Latin "gravis", berat. Gaya gravitasi adalah gaya yang ada karena interaksi dua benda yang memiliki massa (berat).

Di titik inilah kemudian insting gathuk mathuk (mencocok-cocokkan) saya bekerja.

Guru eksis karena adanya interaksi dua manusia. Tidak akan ada guru jika tidak ada murid.

Saya percaya, belajar itu sosial. Ketika kita merayakan Hari Guru, dimana secara kultural kita memang selayaknya berterimakasih kepada semua guru yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan, secara implisit sebenarnya kita juga merayakan eksistensi kita sebagai murid, sebagai seseorang yang memiliki kehendak terhadap ilmu. Toh, guru dan murid itu dua entitas yang tak terpisahkan oleh "gaya gravitasi".

Selamat Hari Guru 2021!

Wednesday, October 13, 2021

Constantin

 (repost dari catatan di FB 13 Oktober 2018)

Sudah beberapa minggu ini di Masjid Al-Ihsan tempet saya Jumatan ada orang baru yang agak berbeda. Jamaah Masjid Al-Ihsan itu umumnya African American, beberapa keturunan Arab atau Timur Tengah. Nah, orang ini profilnya bukan Arab atau Timur Tengah dan kulitnya putih, jelas bukan African American.

Hari ini sewaktu saya hendak masuk ke mobil, saya lihat orang tersebut berusaha cari tumpangan di pinggir jalan usai sholat Jumat. Tampaknya ketinggalan bus. Sambil agak terpincang jalannya, dia melambaikan tangan ke mobil yang lewat. Sepatunya tipis dan tampaknya di sekitar mata kakinya lecet-lecet karena berjalan jauh dengan sepatu yang kurang pas buat jalan jauh. 

Saya tanya dia mau kemana. Dia bilang dia ada training dan dia menunjukkan peta di HP-nya. Dia tanya saya punya HP tidak. Saya bilang HP saya flip-phone nggak ada petanya. Dia tanya itu karena HP dia dalam bahasa Rusia. Saya lihat di HP-nya tempat tujuannya hanya sekitar 16 menit kalau pakai mobil. Jadi saya bersedia antar dia.

Dalam perjalanan, saya tanya namanya. "Constantin," dia bilang, "from Kazakhstan". Saya tanya "How long have you been in the US?" Dia tidak bisa jawab karena dia tidak paham pertanyaannya "no English" kata dia. Saya mafhum. Saya bilang lagi "in US, months? how many months?" Dia baru paham hehe. Dia bilang baru dua bulan. "Two month, two month," katanya. 

Setelah itu dia minta izin telepon sodaranya. Sepanjang jalan dia ngobrol pakai bahasa Rusia dengan sodaranya di telepon. Sepertinya bilang kalau dia dapat tumpangan dan sodaranya kayaknya nggak percaya kalo ada yang kasih tumpangan di Amerika. Ya pahamlah, karena ini jamannya Uber dan Lyft gitu lho ...

Buat saya, ini itung-itung "pay it forward". Dulu saya juga pernah diberi tumpangan gratis setelah sholat Jumat dari Masjid Al-Haqq pas pertama-tama datang ke sini, pas bulan puasa, dan nyaris ketinggalan sholat Jumat karena jalan kaki dari stasiun kereta yang agak jauh akibat salah turun, maklum anak baru. Kalau kita pernah menderita dan ditolong orang, sudah semestinya kita bisa memahami penderitaan orang lain. Dan kalau memang dalam posisi bisa menolong, adalah hal yang wajar untuk menolong orang lain.

Thursday, October 07, 2021

Mitos Matematika


Dalam buku yang berjudul "How to bake π", Eugenia Cheng membuka pembahasan mengenai teori kategori dengan mendaftar setidaknya empat mitos matematika.

Mitos pertama: matematika itu melulu tentang angka.

Cheng membandingkan matematika dengan "rice cooker". Pada umumnya kita memakai "rice cooker" untuk menanak nasi. Tetapi, "rice cooker" bisa juga dipakai untuk membuat roti, merebus sayur, dan membuat krim gumpal (clotted cream). Matematika juga demikian. Tidak hanya angka, matematika itu di antaranya juga termasuk logika dan abstraksi.

Mitos kedua: matematika itu melulu tentang jawaban dari sebuah teka teki.

Secara singkat Cheng berpendapat matematika itu terkadang bukan sebatas "jawaban"-nya tetapi juga tentang bagaimana metodenya untuk mendapatkan jawaban tersebut yang lebih menarik untuk dibahas.

Mitos ketiga: matematika itu melulu tentang benar dan salah.

Lagi-lagi secara singkat Cheng mengatakan bahwa di dalam matematika, benar dan salah itu bisa jadi relatif terhadap acuan yang dipakai. Dicontohkannya 10 + 4 = 2 bisa jadi salah dalam anggapan umum, dalam konteks penjumlahan sederhana. Tapi kalau kita berbicara mengenai waktu, jam 14 itu biasa kita sebut jam 2 siang. Atau dengan kata lain, empat jam setelah jam 10 itu jam dua siang.

Mitos keempat: matematika itu hanya untuk orang yang pandai.

Cheng menyanggah mitos ini dengan mengatakan bahwa matematika itu pada dasarnya membuat hal yang rumit jadi sederhana. Menurut dia, yang membuat mitos bahwa matematika hanya untuk orang pandai itu biasanya adalah kelas atau pelajaran matematika yang meninggalkan kesan buruk di sekolah. Matematika yang sebenarnya seharusnya mudah dipahami oleh siapa saja.

Wednesday, June 09, 2021

Eksploataisyong de Long par Long

Aslinya "l'exploitation de l'homme par l'homme" yang kata teman baik saya dipopulerkan Pak Karno kala itu. Artinya kurang lebih eksploitasi manusia atas manusia yang lain. Pada saat itu mungkin konteksnya adalah imperialisme dimana satu bangsa menjajah bangsa yang lain. Pada saat ini, konteksnya mungkin kapitalisme dimana pemilik modal mengeksploitasi kelemahan orang lain semata-mata demi kepentingan kapital.

Contoh paling keliatan hari ini adalah bagaimana McD mengeksploitasi cinta buta para penggemar BTS dengan menjual produk yang sebenernya biasa saja jika tidak dilekati embel-embel dan promo tajir melintir. Tapi ya begitulah manusia, mudah silau, mudah lupa, dan mudah dimanipulasi.

Saya tidak sedang ingin memahami fenomena. Karena menurut saya hal-hal seperti itu tidak perlu dipahami. Cukup diterima saja sebagai kenyataan yang sedang terjadi. Ha trus gimana? Pripun Pak Ageng .. kalo istilah Mister Rigen.

Apa ya trus kita pake acara boikot memboikot hal hal yang berbau kapitalisme? Ayakkk ... ya imposibel.

Menurut saya, ndak perlu boikot-boikotan ... yang diperlukan itu memperbaiki mindset dari diri kita sendiri, mendawamkan hal-hal sederhana ... kalo bahasa kerennya mungkin developing micro-habits yang lebih sehat; baik dalam kerangka kesehatan fisik, mental, maupun ekonomi masyarakat seperti biasakan belanja ke warung sebelah. Sekali-kali belanja di supermarket ya nggak apa-apa tapi porsinya diratakan gitu biar yang usaha kecil juga dapet. Jajan juga begitu. Sebisa mungkin kalo jajan ya nglarisi pedagang kecil-kecilan, bukan melulu ke pemain besar macam McD atau KFC. Ning ya nggak perlu boikot. Toh yang kerja jadi pelayan-pelayan di pemain besar itu juga sama-sama orang susah macam kita.

Seperti kata orang di Internet, kita sengsara bersama di dalam badai yang sama meskipun pemilik kapital itu sengsara-nya di kapal cruiser yang besar dan yang kelas teri macam kita sengsara-nya di kapal kayu kecil yang bocor-bocor ...

Friday, May 14, 2021

Kepercayaan

Jam lima sore, sewaktu saya keluar untuk mencari dawet hitam untuk berbuka puasa di hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini, matahari terlihat di langit barat. Lingkaran besar itu berwarna oranye semu merah muda bergerak turun di antara awan yang menggantung. Indah sekali.

Sebagai manusia yang mengidentifikasikan diri saya sebagai seorang muslim beserta seperangkat kepercayaan yang saya miliki, keindahan sore itu tentu saja saya kaitkan dengan suasana akhir Ramadhan menjelang Idul Fitri 1442 H. Seakan-akan alam ikut berbahagia menyambut perayaan fitrah manusia.

Tapi apakah benar begitu?

Kepercayaan individu (personal beliefs) adalah sesuatu yang cukup kompleks. Kepercayaan itu dipengaruhi berbagai faktor seperti akumulasi informasi, pengalaman hidup, interaksi dan afinitas sosial, lingkaran pengaruh, dan lain sebagainya. Mungkin sejak terjadinya revolusi kognitif manusia kurang lebih 70.000 tahun yang lalu, Homo Sapiens berevolusi menjadi makhluk yang tidak saja memiliki pengetahuan tetapi juga makhluk yang memiliki seperangkat kepercayaan sebagai produk dari akumulasi pengetahuan tersebut. Kita menjelma menjadi Homo Fidelis. Hominid yang tidak bisa menghindar dari genggaman seperangkat kepercayaan (set of beliefs) sebagai konsekuensi dari kemampuan untuk berpikir, mengenali pola, mengkoneksikan informasi, dan kemudian berbahasa.

Ketika saya mengagumi indahnya langit sore itu, kepercayaan saya membuat saya berpikir bahwa hari itu begitu istimewa. Terlebih lagi, bisa saja kemudian saya kege-eran mengklaim bahwa begitu spesialnya saya dan seperangkat kepercayaan saya sampai-sampai alam semesta pun ikut berbahagia. Padahal bisa saja orang lain melihat fenomena matahari sore yang indah itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Mungkin, karena sehari-hari mereka sudah biasa melihat matahari terbenam yang indah jadi tidak ada yang spesial (jika dibandingkan dengan saya yang jarang keluar rumah dan melihat langit). Atau mungkin malah hal itu tidak penting sama sekali karena mereka sudah sibuk dengan hal lain. Atau mungkin mereka tidak hidup di lingkungan yang merayakan Idul Fitri dan memiliki kepercayaan yang berbeda dengan saya sehingga tidak ada koneksi antara langit sore yang indah itu dengan melodramatika sebuah perayaan hari besar. Keindahan langit sore itu bisa jadi bias konfirmasi ketika saya melihatnya menggunakan kerangka kepercayaan.

Pemikiran kritis terhadap seperangkat kepercayaan itulah yang mendorong beberapa orang, seperti orang-orang yang mempelajari sains atau filsafat, meragukan agama dan mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Apakah salah apabila seseorang mengkritisi sebuah kepercayaan, meragukan agama, mempertanyakan keberadaan Tuhan?

Pertanyaan mengenai salah benar macam ini tentunya bukan sesuatu yang akan mendapatkan jawaban yang seragam karena jawaban atas pertanyaan ini berkelindan (confounded) dengan kepercayaan orang yang menjawabnya. Ruwet. Njlimet. Belibet. Sehingga saya akan menjawabnya dengan kerangka “menurut saya” karena menurut sampeyan nanti mungkin jawabannya bakalan beda lagi.

Menurut saya, kritisisme itu jika dinikmati sendiri sebagai olah kebatinan ya boleh boleh saja. Repotnya adalah ketika kritisisme itu nanti dilontarkan kepada orang lain atau publik. Tidak semua orang bisa menerima kritisisme yang sifatnya sensitif seperti ini. Sehingga, selalu ada potensi kritisisme ini menyakiti perasaan orang lain yang memiliki kepercayaan yang dikritisi itu. Beberapa orang mungkin punya kepercayaan bahwa tidak masalah memicu gesekan seperti itu, toh hanya masalah perasaan. Itu, lagi lagi, adalah kepercayaan pribadi mereka.

Posisi kritis seseorang terhadap sebuah kepercayaan biasanya dilandasi kepercayaan pribadi (personal beliefs) yang mereka miliki. Jarang-jarang ada orang yang mengkritisi sebuah kepercayaan hanya sekedar untuk melontarkan pertanyaan kritis tanpa membandingkannya dengan kepercayaan pribadi yang dimilikinya. Jadilah kritisisme atas sebuah kepercayaan itu kontestasi antar kepercayaan. Ini adalah konsekuensi dari sifat Homo Fidelis yang hidup dalam lingkungan sosial. Pertarungan kepercayaan.

Seperti halnya pertarungan antar serigala yang memperebutkan posisi alpha male dalam kawanannya, pertarungan kepercayaan pun demikian adanya. Siapa yang memegang pengeras suara memiliki kesempatan untuk mendominasi wacana berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki. Dalam lingkungan virtual, setiap kepercayaan memiliki kesempatan untuk muncul ke permukaan. Namun apa yang kemudian viral merasuk ke bawah sadar pengguna media sosial sesuai dengan gelembung informasi masing-masing. Konten viral pada dasarnya adalah pengeras suara virtual.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai individu? Saya pribadi tidak henti-hentinya meyakinkan diri saya sendiri bahwa tidak setiap kontestasi kepercayaan itu perlu kita perhatikan, bahwa kepercayaan yang saya miliki itu legitimate (sah-sah saja) seperti halnya kepercayaan orang lain juga sama legitimate-nya dalam kerangka kepercayaan masing-masing, dan bahwa kepercayaan itu bersifat intim, hasil dari berbagai faktor yang ada dalam diri kita, sejarah hidup kita, identitas kita. Dan sebagai manusia, kita punya kapasitas berpikir dimana proses berpikir itu nantinya berujung pada seperangkat kepercayaan yang mencerminkan siapa diri kita di antara milyaran manusia.

Oh dan tentang matahari terbenam yang indah itu tadi, saya memilih untuk terpesona saja.

P.S.

Ya owoh ngomyang apa to ya aku ... bakda-bakda kok malah ngomyang tidak jelas wkwkwk. Mohon maklum karena kalau uneg-uneg macam ini tidak dikeluarkan, nanti bisa gila.

Maaf lahir batin aja deh kalo gitu yaa ... Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H bagi yang merayakan. Dan kebetulan ada peringatan kenaikan Isa Al Masih juga kemarin yang dirayakan kaum Kristiani, selamat merayakan hari besar tersebut bagi yang merayakan. Kedua perayaan kepercayaan itu tidak perlu dikontestasikan ehehehe ...

Sedaya lepat nyuwun gunging samudra sih pangaksami.

Sunday, May 09, 2021

Lebaran

Setahu saya, “lebar” dalam Bahasa Jawa itu artinya selesai, bubar, berakhir. Demikian pula, istilah “bakda” dalam Bahasa Jawa digunakan untuk menyebut hari raya Idul Fitri. “Bakda” itu serapan dari kata Arab “ba’da” yang artinya kurang lebih “setelah”. Maksudnya ya setelah Ramadhan itu Idul Fitri.

Idul Fitri memang menandai berakhirnya rangkaian ibadah puasa Ramadhan beserta amalan-amalan lain yang mengikutinya seperti shalat Tarawih, Zakat Fithrah, dan lain sebagainya. Eid sendiri salah satu maknanya adalah festival. Eid Al Fithr tentunya adalah festival yang merayakan fitrah manusia (alastu biRabbikum? Qaalu balaa syahidna).

Namun lucunya, interpretasi kultural -masyarakat Jawa setidaknya- menyiratkan bahwa perayaan Idul Fitri ini seakan-akan merayakan kebebasan atas selesainya kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Jadi puasa sebulan kemarin itu sebenernya tersiksa apa gimana? Kok bubarnya dirayakan dengan Lebaran?

Mungkin interpretasi Lebaran itu baiknya ya mirip-mirip Bakda dimana kita bertanya “lebar pasa njuk ngapa?” atau “bakdal shiyam di bulan Ramadhan trus ngapain?”

Ada orang-orang Jawa yang kemudian membuat jembatan keledai: lebar, lebur, labur, luber. Dimana bulan puasanya lebar alias selesai, lalu dosa-dosa mereka yang menjalani ibadah dileburkan (dengan memohon ampunan Tuhan dan meminta maaf dari sesama), sehingga jiwanya terlabur bagaikan digelontor cat putih supaya tampak bersih temboknya, lalu luberlah (banjirlah) amalan-amalan kebaikan pasca Ramadhan. Itu tampaknya bayangan ideal sesepuh-sesepuh Islam Jawa.

Namun saya punya pikiran lain. Gimana kalau kita ikut-ikutan orang bikin resolusi? Umumnya kan orang bikin resolusi kalau tahun baru ya. Nah ini untuk menjawab “setelah bulan puasa trus mau ngapa?” itu rasanya kalau bikin resolusi lumayan masuk lah. Ndak usah yang berat-berat lah resolusinya. Toh yang namanya bulan Ramadhan itu bulan pelatihan spiritual ya … mesthinya ada dong ya hal-hal yang carry over di bulan Syawwal dan seterusnya sampai ketemu bulan Ramadhan lagi.

Resolusi ini tentunya sifatnya sangat personal. Kalau saya boleh kasih contoh misalnya … kalau pas bulan Ramadhan sudah terbiasa cek dan ricek dalam mempelajari Al Quran misalnya, kenapa enggak itu dijadikan resolusi dimana kita akan selalu cek dan ricek informasi yang datang kepada kita melalui media massa/sosial sehingga kita nggak asal bikin status atau berbagi konten yang ternyata menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain. Kalau tiap tahun kita bikin satu resolusi saja, dalam sisa usia kita yang tinggal berapa tahun (50? 10?) setidaknya kita berinvestasi sejumlah amalan kebaikan yang bisa kita rutinkan (istilah kearabannya: didawamkan).

Semoga bisa ya? Aamiiin.

Selamat menyambut Idul Fitri yang berbahagia meskipun masih dalam suasana pandemi. Semoga keberkahan tercurah bagi seluruh makhluk.

Sunday, January 03, 2021

Genshin Impact

Anak saya lagi liburan, hobinya main Genshin Impact - sebuah multiplayer online action role-playing game.

Trus saya iseng tanya pas dia lagi asik main, "is there any math in Genshin Impact?"

Anak (A) saya jawab "no ... not really".

Saya (S) kejar lagi, "really tho? there must be something. How about how many something do you need to get something?"

A: "ah yeah, that ... well there is."

S: "can you give me any example?"

A: "Resin"

S: "what is Resin?"

A: "you get one Resin every 6 minutes and you will need certain amount of Resin to fight the Boss or open a new Domain."

S: "ok."

A: "well, you could fight the Boss without Resin, but you wouldn't get the rewards."

S: "ok, thanks."

Lalu  saya biarkan dia main lagi.

Matematika terkadang nggak "obvious" alias "kasat mata" buat seseorang. Koneksi matematika menjadi penting diperkenalkan dalam proses pembelajaran matematika supaya si belajar tahu kalau matematika itu ada di sana. 

Permasalahannya, gurunya biasanya sudah tidak punya waktu untuk main Genshin Impact (atau apa pun yang dilakukan anak-anak jaman sekarang).

Sudah beda dunia ...

Sunday, March 29, 2020

Takut Kok Sama Virus

Ya. Panjenengan leres ki sanak. Benar sekali bahwa kita tidak perlu takut sama virus. Yang perlu kita takuti itu Gusti Allah. Njih to? Saya sepaham dengan itu.

Permasalahannya begini ki sanak. Usaha pencegahan penyebaran virus korona itu salah satu bentuk ketakwaan alias perwujudan takut kita sama Gusti Allah. Kok bisa? Begini ceritanya. Saya kasi itung-itungan sedikit ya, tolong diikuti.

Menurut kejadian yang sudah-sudah, virus ini nyebarnya cepet banget kalau kita nggak melakukan usaha pencegahan seperti menghindari kerumunan, cuci tangan, dan lain sebagainya. Kalau tidak ada usaha pencegahan, semua orang bisa kena virus ini dengan mudah.

Sekarang bayangkan, kalo sebuah kota penduduknya 100.000 orang kena virus semua dalam waktu dua minggu. Menurut kejadian yang sudah-sudah, 80% hanya kena ringan saja, 20% yang berat. Umumnya, hanya 2% saja yang perlu ICU, perawatan intensif di rumah sakit, pake respirator, alat bantu pernafasan. 2% dari 100.000 itu 2.000 orang.

Masalahnya, rumah sakit kita itu hanya punya alat bantu pernafasan sedikit saja. Pol mentok 100 biji. Itu pun saya sudah loma banget kasih angkanya. Kalo yang perlu ICU itu 2.000 orang, respiratornya hanya 100 biji, yang 1900 orang itu bakalan mati karena tidak dapat dilayani rumah sakit.

Itu kalau tidak ada upaya pencegahan. Kalau ada upaya pencegahan, laju penyebarannya bisa kita tekan. Dengan menghindari kerumunan dan lain lain itu tadi. Bisa kita tekan sampai yang sakit itu nggak terlalu banyak dan tidak banyak yang tertular. Sehingga, rumah sakit bisa melayani.

Sekarang bayangkan di akherat kelak, dipun tangleti Gusti Allah begini, "dulu Aku kirim kamu ujian dalam bentuk virus korona, tapi kok kamu nggak mau nolong orang-orang yang paling lemah di antara kamu? Padahal cara menolongnya cukup gampang, tinggal di rumah, ibadah dari rumah, kerja dari rumah, belajar dari rumah, cuci tangan. Kok kamu tidak mau menolong-Ku? KOK MALAH NEKAT MANGKAT JUMATAN? Maksudmu itu apa?"

Menopo mboten ndredeg menawi dimintai pertanggungjawaban Gusti Alloh di akherat kelak? Sesuatu yang sebenarnya bisa kita usahakan bersama untuk menyelamatkan ribuan nyawa manusia, tapi kita gagal melakukannya. Dosanya dosa jariyah, ki sanak.

Makanya, pencegahan itu bukan masalah takut sama virus. Ini masalah takut sama Gusti Alloh, saestu.

Tuesday, February 25, 2020

Kopeted Man

*** Disclaimer *** 
Jangan baca postingan ini sambil makan, 
supaya Anda tidak kehilangan nafsu makan, 
karena bakal sedikit banyak nggilani.

Sebelum saya bercerita tentang "Kopeted Man", ada baiknya kita samakan kosakata dulu ya.

"Kopeted" itu bukan plesetan dari "coveted" yang menurut Google adalah kata sifat yang berarti "greatly desired or envied".

"Kopet" itu bahasa Jawa, artinya feses manusia yang nyelepret atau menempel di bagian belakang, umumnya karena ada yang "bocor" atau tidak bersih ceboknya. "Mambu Kopet" itu artinya bau tahi manusia. Atau kalau saya deskripsikan ke anak saya, "Mambu Kopet is a horrible smell from an unwashed or unwiped ass".

Have you ever smelled "Kopet" in public?

I have.

Jadi gini ...

Seperti biasa, setiap hari Minggu saya dan Ifta belanja groceries mingguan ke ALDI. Ketika hampir selesai belanjanya, saya --kebetulan punya indra penciuman yang lumayan tajam-- membaui a hint of kopet. Saya bilang ke Ifta, "dek, kok mambu kopet yo?" Ifta tidak percaya. Saya kemudian minta Ifta ngambil telur dan susu di dekat kasir nomer 5 sedangkan saya sambil mencari garam dapur menuju ke kasir nomer 1 yang berseberangan cukup jauh dari kasir nomer 5.

Ketika Ifta menyusul saya, dia uring-uringan. "Mas Arka sengaja ya nyuruh aku yang ambil telor!!! Di deket kasir nomer 5 itu BAU BANGET SUMPAH." Lhaaa ... tadi aku bilangin engga percaya ...

Ketika saya unloading groceries di kasir nomer 1, datang sesama konsumen, saya namakan Masnya dan Mbaknya Berbaju Warna Warni, yang pindah dari kasir nomer 5. Ternyata biang kerok bau kopet yang sangat tajam tersebut adalah seorang laki-laki gemuk berbaju hitam (bukan saya lho ya, masnya yang ini ukurannya dua kali lipat besarnya dari saya) yang sedang mengantri di kasir nomer 5.

Masnya Berbaju Warna Warni itu sambil ngucek-ucek hidung ngomyang sendiri.

"Oohhh Looord ... "

"Ooohhh Give Mercy ... "

"Oooohhhh Shiiiitttt ... "

Saya nggak bisa nahan ketawa. Ya nahan nahan dikit sih biar nggak ngakak dan nggak guling guling di tempat, tapi teteup saya kemekelen. Saya pengen jawab "Yes dude, thwas a literal shit". Tapi saya urungkan dan berusaha tetap sopan di tempat umum.

Mbaknya Berbaju Warna Warni cuman senyam-senyum, klecam-klecem. Demikian pula pengunjung yang lain, berlagak kalem seakan tidak ada apa-apa supaya tidak menyinggung perasaan masnya yang berbau kopet.

Mas Kasir nomer 1 tampak bahagia sekali. Mungkin bersyukur saat itu dia enggak dapet jatah jadi kasir nomer 5.

Selesai membayar belanjaan, saya dan Ifta buru-buru mengepak belanjaan dan keluar dari toko, sebelum mas berbau kopet berbaju hitam a.k.a. Kopeted Man itu selesai transaksi di kasir nomer 5. Kalau si masnya nanti mengepak barang di samping kami, hadeh ...

Sesampai di mobil, kami ngakak. Menertawakan situasi.

Ing atase nang Amerika, kok yo ono, nang toko swalayan, mambu kopeeettt ... Owalah Gustiiiii ... paringono wangi-wangi ... 😂🤣😂

P.S. 

Gara-gara kejadian itu, saya jadi bertanya-tanya apakah ketika kita membaui kentut itu artinya ada partikulat aerosol (bisa dibayangkan shit emoji ukuran mikroskopik) masuk ke dalam hidung dan saluran pernafasan kita? Ini seriusan saya cari di Google. Gak jelas banget ya? Tapi menurut saya, itu pertanyaan penting. wkwkwkwkwk. Walaupun agak agak gimana gitu.

Dari perambanan singkat yang saya lakukan, alhamdulillah jawabannya: Tidak.

Ketika kita membaui kentut itu, yang merangsang reseptor pembau di dalam hidung adalah "a trace of sulfur compound such as methanethiol". Jadi bukan partikulat aerosolnya ... karena, partikulat aerosolnya tertahan oleh lapisan celana dalam dan celana luar. 

Makanya, pakai celana itu penting ... 

Sunday, January 19, 2020

Kilas Balik

Flashback ke pertengahan Mei 2019

***

Sekedar meninggalkan catatan singkat dan berbagi cerita ...

Kemarin sore, waktu saya nderes di depan Bapak mertua, kebetulan saya sampai pada akhir surah Kahfi.

Lalu Bapak mertua menghentikan saya dan berkata "kuwi ayat kuwi woconen sak durunge turu" (Bhs. Jawa Ngoko artinya : itu, ayat itu bacalah sebelum tidur)

"saking pundi Pak?" tanya saya (Bhs. Jawa Halus artinya : dari bagian yang mana Pak?)

"seko sakdurunge sing terakhir" (Bhs Jawa Ngoko artinya : dari yang sebelum yang terakhir)

Akhirnya saya mencoba untuk menterjemahkan agak mundur dari ayat 107 sampai terakhir ayat 110 yang terkait dengan keutamaan orang beriman dan berbuat baik.

Innalladziina aamanu wa 'amilush shaalihati,
[sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh,]

kaanat lahum jannatul firdausi nuzula (107)
[diperuntukkan bagi mereka surga firdaus (sebagai) tempat peristirahatan (107)]

khaalidiina fiiha;
[mereka orang-orang yang tinggal selamanya di dalamnya;]

laa yabghuuna 'anha hiwala (108)
[tidaklah mereka akan menginginkan dari tempat itu, berpindah lagi (108)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

lau kaanal bahru midaadal likalimati rabbi
[seandainya dijadikan lautan (sebagai) tinta untuk (menuliskan) kalimat Tuhan]

lanafidal bahru
[pastilah habis laut (itu)]

qabla antanfada kalimaatu rabbi
[sebelum habis (tertulis) kalimat Tuhan]

wa lau ji`naa bimitslihii madada (109)
[dan (bahkan) jika Kami datangkan (sebanyak lautan) yang sepertinya lagi (sebagai) tambahannya (109)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

innamaa ana basyarum mitslukum
[sungguh sebenarnya aku manusia sepertimu]

yuuhaa ilayya
[telah diwahyukan kepadaku (bahwa)]

annamaa ilaahukum ilaahuw waahid
[sesungguh-sungguhnya sesembahanmu (adalah) sesembahan yang tunggal]

faman kaana yarju liqaaa-a rabbihi
[maka apabila seseorang mengharapkan untuk berjumpa dengan Tuhan-nya]

falya'mal 'amalan shaalihan
[maka perbuatlah perbuatan/amalan yang saleh]

wa laa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahada
[dan janganlah mensekutukan dalam penyembahan/peribadatan (kepada) Tuhan-nya (dengan) satu pun]

Wallahu a'lam

Friday, January 17, 2020

F*** It, Lets Ask Google


Kebetulan tadi pagi saya dapat soal tebak-tebakan matematika dari grup yang saya ikuti. Karena saya rada hobi main tebak-tebakan, sambil nongkrong di toilet saya mencoba menemukan jawabannya.

Tapi setelah selesai nongkrong, malah dapet ide buat googling aja jawaban tebak-tebakannya.

Jaman sekarang, soal tebak-tebakan itu semacam kadaluwarsa karena ada Google.

Tinggal ketik sebagian dari kata-kata di dalam soal tersebut, Google langsung kasih jawabannya.

Pertanyaannya: ngapain harus belajar kalo semua-semuanya sekarang bisa digugel.

Jawabannya menurut saya: pertama, tidak semuanya sekarang bisa digugel, atau bahkan besok besok dan besoknya lagi. Ada permasalahan-permasalahan dalam kehidupan yang tidak bisa diselesaikan dengan googling.

Googling mungkin memang bisa ngebantu ngasih kita informasi, tapi pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah itu sepenuhnya jatahnya manusia.

Kedua, please define: BELAJAR.

Kalau konteks belajarnya itu main tebak-tebakan kayak di Ujian Nasional ya sebenernya emang f*** it. We can just ask Google.

Artinya, harus ada perubahan dalam tujuan pembelajaran, perubahan dalam sistem evaluasi pembelajaran di sekolah-sekolah. Kalau tebak-tebakan itu jadul, ya evaluasinya jangan main tebak-tebakan.

Bukan berarti hal-hal mendasar macam kemampuan membaca dan berhitung itu jadi kadaluwarsa, tapi ada semacam kecakapan yang dulunya mungkin penting (seperti mengerjakan tebak-tebakan) sekarang jadi kurang penting dengan adanya Internet yang bisa diakses kapan saja dimana saja.

Apalagi, sekarang banyak permasalahan yang lebih besar dari tebak-tebakan. Perubahan Iklim misalnya. Kesenjangan Sosial misalnya. Segregasi dan Diskriminasi atas dasar Ras dan Agama misalnya.

You can ask Google about those things, but how and where you would stand on those issues ... that's on YOU.

Thursday, January 09, 2020

Hitam dan Putih

Ini tentang konflik Timur Tengah yang saya tahu sedikit-sedikit dari berita dan media sosial. Tapi mungkin juga tentang sesuatu yang lain.

Ketika berita pembunuhan Jenderal Soleimani oleh trump keluar, saya pribadi merasa "kurang ajar bener ini si trump". Tapi setelah baca-baca lagi, ternyata memang permasalahannya tidak bisa dilihat se-hitam-putih itu.

Dari situs berita dan twitter, kita tahu baik trump yang amoral itu dan Jenderal Soleimani dua-duanya berlumur darah.

Saya jadi mikir ... kenapa ketika kita melihat suatu konflik, dalam hal ini konflik Timur Tengah, ada kecenderungan liatnya hitam putih. Siapa jagoannya siapa penjahatnya. Apa saya kebanyakan nonton filem Avengers?

Hal ini mungkin berlaku untuk pokok bahasan lain: mana yang salah, mana yang benar, mana yang baik, mana yang jahat ... itu mungkin kecenderungan umum manusia untuk mencari perbedaannya. Apalagi ketika pilihan yang disajikan disederhanakan jadi dua seperti Jokowi vs. Prabowo, atau Demokrat vs. Republikan, atau Iran vs. Amerika. Kita selalu ingin tahu, mana jagoannya.

Repotnya, dalam konteks sosial-politik, perbedaan hitam dan putih itu nggak sekontras kotak-kotak papan catur. Saya jadi bertanya, apakah pertanyaan "mana jagoannya" itu patut ditanyakan dalam konteks seperti itu? Mungkin kitanya yang salah bertanya.

Trus harusnya tanyanya gimana dong? 5W1H.

Desakan keinginan untuk tahu mana jagoannya itu mungkin karena kita ingin menyederhanakan permasalahan dan melompat pada bagian kesimpulan, tanpa harus pusing mikir konteks dan lain sebagainya.

Friday, December 06, 2019

Kenapa Harus Buku?

Dalam era titik enol titik enol ini, banyak yang kemudian berpendapat bahwa belajar membaca itu nggak harus dari buku. Ada yang berpendapat kalau baca status fesbuk, atau twitter, atau forum online, itu sudah bisa menggantikan kegiatan baca buku. Ada juga yang berpendapat karena sekarang era multimedia, nonton video Yutub yang bermanfaat atau mendapatkan informasi sejarah dari main game online itu juga sudah bisa menggantikan kegiatan baca buku.

Well, mungkin ada benarnya. Tapi kegiatan baca buku itu basis fundamental yang tidak tergantikan. Teknologi yang paling mendekati yang bisa menggantikan kegiatan membaca buku itu mendengarkan audiobook. Itu pun masih ada komponen pengalaman dan keterampilan yang hilang.

Imajinasi yang berpendaran seperti kembang api.

Sinapsis sinapsis kognitif yang terjalin presisi.

Perasaan yang muncul ketika secara spontan kita melelehkan air mata karena tergerak hatinya

Kepuasan yang muncul ketika secara spontan kita bilang "Oh!" atau "Aha!"

Keterampilan membaca dengan kritis yang terbentuk dari mengikuti alur pemikiran penulis buku.

Refleks untuk membuka alam pikiran kita pada lembaran-lembaran baru.

Pengalaman-pengalaman yang begitu itu tidak bisa tergantikan oleh media lain. Jika ada media yang bisa memenuhi satu aspek, pasti ada aspek lain yang terlewat.

Jadi memang kadang solusinya kuno: Baca. Iqra.

Thursday, October 24, 2019

Fatamorgana Kebaruan

Yang baru belum tentu baik, tetapi juga, belum tentu tidak baik.

Ini tentang Mas Nadiem Makarim jadi Mendikbud.

Di satu sisi, saya pribadi berharap banyak kepada beliau karena sosoknya yang muda dan profesional, bukan dari dinasti atau lingkungan kependidikan.

Tapi di sisi lain, saya pribadi juga khawatir apakah kebijakan-kebijakan yang beliau ambil akan terjebak pada fatamorgana kebaruan.

Menurut saya, memperbaiki pendidikan Indonesia itu jelas ruwet.

Memperbaiki pendidikan Indonesia itu nggak bisa semata-mata dengan mengganti kurikulum atau bikin kebijakan yang teknosentrik.

Tapi berita baiknya, banyak sebenarnya orang-orang Indonesia yang pinter-pinter dan punya segudang solusi mengenai pendidikan Indonesia, yang saya tahu misalnya, seperti teman-teman di Ikatan Guru Indonesia.

Dari mereka juga saya tahu bahwa kalau mau memperbaiki pendidikan Indonesia itu yang harus ditingkatkan kualitasnya adalah pendidikan guru dan lakukan debirokratisasi pendidikan.

Kalau mau memperbaiki pendidikan Indonesia, sebenarnya tidak perlu membuat kebijakan yang "baru". Dengarkan saja orang-orang yang memang peduli dengan pendidikan di Indonesia, bersihkan birokrasi pendidikan, buat birokrasi pendidikan transparan.

Tentang kurikulum? Sederhanakan saja kurikulumnya. Jangan bebani anak-anak dengan keruwetan. Sebaliknya, tanamkan keterampilan dasar seperti literasi dan memecahkan masalah. Karena menurut saya, keterampilan hidup yang perlu diajarkan di sekolah itu ya berada di dalam payung dua konten belajar tersebut: literacy and problem solving. Mendasar. Foundational.

Kalau bicara tentang literacy, kita bisa bicara tentang empati, komunikasi, critical thinking, social justice, dan bisa migrasi ke digital literacy. Kalau bicara tentang problem solving, kita bisa bicara tentang math as the problem solving language, scientific method, dan computational thinking, sesuatu yang menjadi landasan dari coding dan hal-hal yang online-online itu sesuai latar belakang mas Nadiem.

Tentang asesmen? Buatlah asesmen yang tidak menghantui karena tingginya resiko menjawab benar dan salah. Sebaliknya, jadikan asesmen itu sebagai alat untuk memperbaiki proses pembelajaran. Titik beratkan evaluasi formatif, bukan sumatif, kalo istilah orang pendidikan.

Nothing new. Nothing fancy.

Kuncinya hanya mendengarkan orang-orang yang memang peduli dan sudah berusaha keras untuk memperbaiki pendidikan Indonesia.

Good luck with the bureaucracy tho ...

Friday, February 01, 2019

Budaya Apresiasi

Terinspirasi sama statusnya mas Zacky Umam di FB tentang budaya apresiasi sebagai kontra argumen terhadap budaya politik yang didominasi perilaku saling menjelekkan, saya jadi teringat percakapan Nana dengan guru Pra-TK-nya waktu itu, Ms. Price namanya.

Nana : "Ms. Price, what color is my skin? Am I Black or White?"

Nana bertanya karena dia bingung mengidentifikasi dirinya sendiri yang berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Lalu Ms. Price menjawab begini,

Ms. Price : "I don't know Najwa. What do you think?"

Nana : "I don't know"

Ms. Price : "I don't think you are Black or White. But, whatever your skin color is, your skin color is beautiful."

Sunday, January 13, 2019

Worldview

Bahasa Indonesia-nya apa ya? Mungkin secara umum bisa diterjemahkan jadi "kepercayaan" karena worldview ini termasuk "belief". Google ngasi saya terjemahan "pandangan dunia" ... errr, ok ...

Worldview secara umum adalah konsepsi seseorang mengenai bagaimana dunia seharusnya bekerja. Istilah akademiknya "epistemological beliefs".

Worldview dapat menjelaskan mengapa seseorang memilih untuk melakukan sesuatu. Misalnya, orang modern yang suka binatang liat video Otter yang kiyut kepikiran "ihhh kiyut banget ... pengen ta' ciwel". Sedangkan orang yang masih dominan insting primal-nya (dengan worldview jaman batu) mungkin kepikiran "ginuk-ginuk yen disate enak ora yo?"

Karena worldview itu sekumpulan premis di dalam otak manusia, dia terbangun dari pengalaman, bacaan, konsumsi audiovisual, pengaruh kelompok, proses refleksi, dan lain sebagainya. Worldview dapat berubah, tapi semakin tua semakin kaku, masih bisa berubah tapi perlu perubahan radikal.

Dengan kata lain, membentuk worldview itu adalah sebuah proses pembelajaran. Implisit pula.

Misalnya ni ya, mungkin anak-anak sekolah belajar sains atau matematika yang njlimet di sekolah tapi belajarnya kebanyakan malah hanya ngerjakan soal pilihan ganda, bukan problem solving yang lebih komprehensif. Ujung-ujungnya mungkin karena terbiasa dengan soal yang hanya punya jawaban A B C atau D, dipikirnya permasalahan yang lain seperti permasalahan sosial itu juga sehitam putih itu, kalau saya nggak milih sesuai kunci jawaban, maka saya salah. Padahal dalam kehidupan bermasyarakat itu kunci jawabannya open-ended ... yang di atas kertas belajar sains atau matematika, di bawah sadar anak-anak ini membangun binary worldview: benar salah, hitam putih.

Salah satu kunci masyarakat modern adalah membaca.

Dengan membaca kita jadi punya wawasan baru, tersentuh perasaannya, tergelitik untuk menengok ulang worldview yang kita punya.

Kalau saya boleh usul, setelah infrastruktur jalan dan sebagainya oke, pemerintah bangunlah perpustakaan yang memadai di setiap kecamatan. Biar masyarakat kita jadi masyarakat yang membaca. Membaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah.

Wednesday, January 02, 2019

Trolling

Definisi informal "trolling" itu adalah "make a deliberately offensive or provocative online post with the aim of upsetting someone or eliciting an angry response from them". Yang begini ini banyak terjadi dalam lingkungan MMORPG (alias game online) dan media sosial terlebih pada masa Pemilu sekarang.

Trolling itu salah satu bentuk cyberbullying. Solusi yang sifatnya kuratif ada beberapa yang saya tahu. Yang pertama tentu "blocking" atau "banning". Kalau di media sosial mungkin kemudian ada yang "unfriend". Tapi kalau "unfriend" dirasa terlalu radikal, bisa "unfollow".

Solusi kedua yang saya tahu itu "ignore". Ketika anda menanggapi "troll" istilahnya "you're feeding the troll". Sekalinya anda menanggapi, dibalik layar gawai digital mereka para "trolls" itu mungkin ketawa-ketiwi sendiri merasa sukses. Jadi ya biarkan saja. Kalau dibiarkan saja kemudian perilaku trolling-nya menjadi-jadi maka kembali ke solusi pertama.

Yang repot mungkin kalau di media sosial, ada "troll" yang menunggangi status-status kita yang setting-nya publik. Solusi terakhir yang saya tahu untuk kasus ini ada tiga. Pertama, tanggapi sekali saja dengan kalimat semacam "stop trolling on my status". Kedua, klik tombol "report", sehingga platform media sosial yang bersangkutan yang mungkin akan mengintervensi (walaupun belum tentu juga). Yang ketiga, khusus untuk facebook, kalau kita berteman dengan troll-nya, kita bisa set Custom Privacy: Public except [nama troll-nya].

Yang lebih penting sebenernya adalah jangan sampai kita malah juga jadi "troll", alias kita melakukan usaha preventif mulai dari diri kita sendiri. Dalam dunia cyberbullying, antara victim dan bully itu perpotongan diagram Venn-nya sangat besar, bisa di atas 80% (menurut data penelitian yang saya lakukan pada tahun 2016). Saking mudahnya berbalas posting, yang tadinya victim bisa berbalik jadi bully dan sebaliknya. Istilahnya untuk mengatasi "trolling" adalah dengan "be a buddy, not a bully", jadilah teman, bukan preman.

Wedang

Kata mas Ngatiyar, wedang itu dari istilah "ngawe kadang" alias "mempererat persaudaraan".  Kalau yang bersaing saja bisa akur, kenapa pendukungnya malah gontok-gontokan? Anda boleh bilang saya naif, tapi nilai persaudaraan, keamanan dan stabilitas nasional itu lebih penting daripada kepentingan kita memenangkan salah satu calon Presiden/Wakil Presiden.