Showing posts with label Ngaji. Show all posts
Showing posts with label Ngaji. Show all posts

Sunday, September 21, 2025

Unwavering

Kalimat kedua dalam Bhakti Vidya (yel/motto SMA 3 Yogyakarta) adalah "tan lalana labet tunggal bangsa".  Dulu, Kami mengucapkannya tanpa peduli itu artinya sebenarnya apa. Beberapa orang juga mencoba memaknainya, tapi saya modelnya nggak mudah percaya apa kata orang kalau belum saya ulik sendiri etimologinya.

Dengan bantuan teman-teman Barokah, inilah yang saya dapat:

"tan lalana" adalah sebuah frasa yang muncul di Kakawin Negarakrtagama, canto 12 baris 4 . Frasa itu menggambarkan salah satu sifat Mahapatih Gadjah Mada yang kokoh pendiriannya, tanpa tanding, tak tergoyahkan (unwavering) semangatnya.

Mengartikannya memang bukan per kata. Karena kalau dipisah kata per kata, agak jauh maknanya. "tan" itu kata negasi, seperti "tidak" atau "tanpa". Sedangkan "lalana" (เคฒเคฒเคจ) dalam Sanskrit bermakna "caressing/fondling", atau "menyentuh dengan penuh kasih sayang". Sehingga kalau kata per kata, bisa jadi maknanya "tanpa sentuhan kasih". Malah sedih, ye kan?

Tapi memang frasa "tan lalana" ini membawa rasa bahasa Sumpah Palapa. Mahapatih Gadjah Mada bersumpah "amukti palapa" yang sering dimaknai bahwa dia tidak akan menyentuh kenikmatan dunia, sebelum berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara saat itu.

"labet" adalah sebuah kata Jawa Kuno/Kawi yang bermakna "labuh" dalam Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Labuh itu bersauh, melemparkan jangkar. Dalam konteks ini, "labet" itu "actively setting something in motion, committing oneself to it, or being deeply involved" atau "secara sadar mendedikasikan diri" seringkali untuk sebuah tujuan mulia tertentu, salah satunya: persatuan bangsa (tunggal bangsa).

Jadi gaes, "tan lalana labet tunggal bangsa" itu "tidak goyah mendedikasikan diri untuk persatuan bangsa".

Saturday, February 08, 2020

Hipotalamus

Hipotalamus bagian dari otak ya, bukan hippopotamus yang kuda sungai itu.

Ini salah satu gathuk mathuk yang ngaco, ngawur, dan menyesatkan: "karena hipotalamus laki-laki lebih gede dari wanita, makanya poligami itu diperbolehkan dalam Islam"

Tak semprittttt ... !!!

Dipikirnya laki-laki itu reptil apa gimana?? Hipotalamusnya lebih gede. Ya memang kalo laki-laki yang sukanya selingkuh itu disebutnya buaya. Tapi ya nggak gitu juga kali. Itu ekspresi bahasa saja, kok dipake buat gathuk mathuk.

Kalo dibaca di An Nisa, dan juga merefleksikan praktik poligami Kanjeng Nabi, penyebab diperbolehkannya poligami itu bukan masalah syahwat laki-laki, tapi konteks sosial politik.

Kalo situ argumennya poligami boleh karena hipotalamus cowok lebih gede, alias syahwatnya gede, itu malah menghina Islam dan Kanjeng Nabi. Situ apa mau jadi islamophobi yang sukanya menghina Kanjeng Nabi ngacengan??? Ra trimo aku. Kanjeng Nabi itu orangnya halus sekali, lembut. Ora ngacengan.

Syahwat laki-laki itu aturannya dalam Islam jelas: "yahfadhu furuujahum" alias "kendalikan itu syahwat" (baca lagi Al Mu'minun, An Nuur, Al Ma'arij). Bukan poligami.

Argumen macam begitu itu yang melanggengkan budaya maskulinitas yang toksik. Dan Islam itu tidak melanggengkan hal yang seperti itu. Malah sebaliknya, Islam itu memuliakan wanita. Interpretasi orang horny saja yang kemudian meng-gathuk-mathuk-kan teks agama sesuai sama kepentingannya dia.

Aku ra trimo kalo situ menghina Islam.

Dorongan biologis itu bukan fitrah laki-laki.

Fitrah itu kerinduanmu untuk selalu kembali kepada Tuhanmu.

Itu fitrah.

Masih inget? "Alastu bi Rabbikum?" Kamu bilang "balaa, syahidna".

Itu fitrah.

Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Itu betul.

Tapi kalo poligami kamu nyatakan memenuhi fitrah laki-laki untuk memenuhi kebutuhan biologis, itu namanya ngapusi.

Kalau iya dorongan biologis itu fitrah, kenapa pas puasa, kegiatan seksual yang aslinya halal dengan pasanganmu kok membatalkan puasa? Dan katanya setelah sukses melatih hawa nafsu selama 30 hari itu, kamu kembali ke fitrah? Apa maksudnya, selesei menahan selama 30 hari itu, njuk kamu mau kembali ke kondisimu yang sebelumnya yang tidak terlatih? Tidak. Kalo sukses latihannya, kerinduanmu kepada Tuhanmu akan semakin kuat.

Itu fitrah.

Dorongan biologis itu bukan fitrah. Malah sebaliknya, dorongan biologis itu sesuatu yang bisa menjauhkanmu dari fitrahmu.

Hipotalamus, hipotalamus. Hipotalamus ndhasmu.

Friday, February 07, 2020

Poligami

Poligami diperbolehkan dalam Islam ๐Ÿ—น True

Poligami diperbolehkan untuk memfasilitasi syahwat laki-laki ☒ False

Poligami dianjurkan ☒ False

Poligami diperbolehkan karena kondisi sosial politik tidak memberi jalan lain selain melakukan poligami for the greater good (Q.4:2-3) ๐Ÿ—น True

Aturan Islam mengenai syahwat laki laki itu "yahfadhu furuujahum" (Q.24:30) ๐Ÿ—น True

ู‚ُู„ ู„ِّู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูŠَุบُุถُّูˆุง ู…ِู†ْ ุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ูˆَูŠَุญْูَุธُูˆุง ูُุฑُูˆุฌَู‡ُู…ْ ۚ ุฐَٰู„ِูƒَ ุฃَุฒْูƒَู‰ٰ ู„َู‡ُู…ْ ۗ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฎَุจِูŠุฑٌ ุจِู…َุง ูŠَุตْู†َุนُูˆู†َ - 24:30


"Tell the believing men to lower their gaze and guard their private parts. That is purer for them. Indeed, Allah is Acquainted with what they make."

***
Poligami itu nggak ada hubungannya sama syahwat laki-laki, apalagi hipotalamus.

Sunday, January 19, 2020

Kilas Balik

Flashback ke pertengahan Mei 2019

***

Sekedar meninggalkan catatan singkat dan berbagi cerita ...

Kemarin sore, waktu saya nderes di depan Bapak mertua, kebetulan saya sampai pada akhir surah Kahfi.

Lalu Bapak mertua menghentikan saya dan berkata "kuwi ayat kuwi woconen sak durunge turu" (Bhs. Jawa Ngoko artinya : itu, ayat itu bacalah sebelum tidur)

"saking pundi Pak?" tanya saya (Bhs. Jawa Halus artinya : dari bagian yang mana Pak?)

"seko sakdurunge sing terakhir" (Bhs Jawa Ngoko artinya : dari yang sebelum yang terakhir)

Akhirnya saya mencoba untuk menterjemahkan agak mundur dari ayat 107 sampai terakhir ayat 110 yang terkait dengan keutamaan orang beriman dan berbuat baik.

Innalladziina aamanu wa 'amilush shaalihati,
[sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh,]

kaanat lahum jannatul firdausi nuzula (107)
[diperuntukkan bagi mereka surga firdaus (sebagai) tempat peristirahatan (107)]

khaalidiina fiiha;
[mereka orang-orang yang tinggal selamanya di dalamnya;]

laa yabghuuna 'anha hiwala (108)
[tidaklah mereka akan menginginkan dari tempat itu, berpindah lagi (108)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

lau kaanal bahru midaadal likalimati rabbi
[seandainya dijadikan lautan (sebagai) tinta untuk (menuliskan) kalimat Tuhan]

lanafidal bahru
[pastilah habis laut (itu)]

qabla antanfada kalimaatu rabbi
[sebelum habis (tertulis) kalimat Tuhan]

wa lau ji`naa bimitslihii madada (109)
[dan (bahkan) jika Kami datangkan (sebanyak lautan) yang sepertinya lagi (sebagai) tambahannya (109)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

innamaa ana basyarum mitslukum
[sungguh sebenarnya aku manusia sepertimu]

yuuhaa ilayya
[telah diwahyukan kepadaku (bahwa)]

annamaa ilaahukum ilaahuw waahid
[sesungguh-sungguhnya sesembahanmu (adalah) sesembahan yang tunggal]

faman kaana yarju liqaaa-a rabbihi
[maka apabila seseorang mengharapkan untuk berjumpa dengan Tuhan-nya]

falya'mal 'amalan shaalihan
[maka perbuatlah perbuatan/amalan yang saleh]

wa laa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahada
[dan janganlah mensekutukan dalam penyembahan/peribadatan (kepada) Tuhan-nya (dengan) satu pun]

Wallahu a'lam

Saturday, January 04, 2020

20:131

And don't you extend your view towards whatever We have given enjoyment by it
couples from them are flowers of worldly life by which We made them as fascination in it;
And the provision from your Lord is better and eternal.

Sunday, May 26, 2019

Menjadi Ulil Albab

Pagi ini, kebetulan saya membaca status Kang Hasanudin Abdurahman tentang rebuttal beliau terhadap narasi khilafah sebagai jawaban atas pertanyaan "bagaimana cara membentuk manusia menjadi ulil albab?" terkait dengan Q.S. Ali Imran(3):190-191.

Di dalam Alquran, ada 16 ayat yang mengandung kata Ulil Albab, termasuk 3:190-191 itu tadi (yg sebenernya masih lanjut sampai ayat 194 doanya). Dari keenambelas ayat tersebut, mungkin rangkaian ayat yang cukup mewakili jawaban atas pertanyaan "bagaimana membentuk manusia menjadi ulil albab" adalah Ar-Ra'd(13):19-24.

Afamay ya'lamu annamaa unzila ilaika mir Rabbika,
[Apakah mereka yang mengetahui atas apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,]

al-haqqu,
[kebenaran,]

kaman huwa a'maa?
[(sama) seperti mereka yang buta?]

Innamaa yatadzakkaruu ulul albaab (19)
[sungguh yang terperingatkan (atas hal itu adalah) Ulul Albab (19)]

alladziina yuufuuna bi'ahdiLlahi
[yaitu orang-orang yang memenuhi pakta/perjanjian dengan Allah]

wa laa yanqudluunal miitsaaq (20)
[dan tidak melanggar kontrak/kepercayaan (tersebut)(20)]

walladziina yashiluuna maa amaraLlahu bihii ayyushalla
[dan orang-orang yang mengikuti apa yang diperintahkan Allah atasnya untuk diikuti]

wa yakhsyauna rabbahum
[dan (yang) takut (kepada) Tuhan-nya]

wa yakhaafuuna suuu-al hisaab (21)
[dan (yang) khawatir (dengan) keburukan hisab(timbangan amal)-nya (21)]

walladziina shabaru-bthighaaa-a wajhi rabbihim
[dan orang-orang yang bersabar mengharap wajah Tuhan-nya]

wa aqaamush shalaata
[dan menegakkan shalat]

wa anfaquu mimmaa razaqnaahum sirra wa 'ala niyataw
[dan menginfakkan sebagian dari rejeki mereka (baik) secara sembunyi-sembunyi dan di depan umum]

wa yadra-uuna bil hasanatis sayyi-ata
[dan mereka (yang) mencegah, dengan kebaikan, keburukan]

ulaaa-ika lahum 'uqbad daar- (22)
[yang demikian itu bagi mereka kelak (adalah) rumah (di surga) -]

jannatu 'adniy
[taman Eden]

yadkhuluunahaa wa man shalaha min aabaaa-ihim
[mereka akan memasukinya bersama siapa yang saleh diantara ayah-ayah mereka]

wa azwaajihim wa dzurriyyatihim
[dan pasangan-pasangan mereka dan anak-anak mereka]

wal malaa-ikatu yadkhuluuna, 'alaihim,
[dan para malaikat akan memasuki, (sambil berkata) kepada mereka,]

min kulli baabin (23)
[dari semua gerbang (23)]

Salaamun 'alaikum
[Salam kepadamu]

bimaa shabartum;
[atas segala kesabaranmu;]

fani'ma 'uqbad daar (24)
[maka (adalah) kesempurnaan (atas) rumah yang kelak akan mereka dapatkan (di surga) (24)]

Dalam rangkaian ayat tersebut di atas, ciri Ulil Albab adalah orang yang 1) menjaga kontrak mereka dengan Allah SWT.; kontraknya adalah pengakuan bahwa Allah SWT. adalah Tuhan Yang Esa. (alastu birabbikum? qaalu bala syahidna; Q.S.7:172), 2) taat atas perintah Allah SWT., 3) takut dan senantiasa berhati-hati atas dosa-dosa mereka (mindful with the evil within themselves), 3) sabar, 4) menegakkan shalat, 5) gemar berinfak, dan 6) mencegah keburukan dengan melakukan kebaikan.

Secara garis besar saya setuju sama Kang Hasan, bahwa jawaban pertanyaan tadi bukan khilafah ... tapi kembali pada diri kita masing-masing. Bagaimana spiritualitas kita sebagai seorang muslim?

Ayat-ayat yang menyangkut Ulil Albab di dalam Alquran dapat dikelompokkan jadi tiga tema. Yang pertama terkait dengan ciri-cirinya seperti pada Ali Imran dan Ar-Ra'd tadi. Yang kedua terkait dengan korelasi yang erat antara ulil albab dengan dzikir (e.g. pada surah Shad, Az-Zumar, dan Ghafir). Yang ketiga terkait dengan derajat ketakwaan ulil albab yang terkait dengan bagaimana ulil albab menyikapi hukum-hukum atau ketetapan Allah SWT. yang terkait dengan hubungan antar manusia (i.e. qisas, haji, talak).

Ulil Albab itu artinya "orang-orang yang memiliki saripati". Saripati apa? Saripati pengetahuan. Proses mendapatkan saripati itu dapat dijalani, setidaknya, melalui pengkajian fenomena alam semesta (3:190; 39:21), merenungkan kisah-kisah sejarah (38:43; keseluruhan surah Ibrahim; keseluruhan surah Yusuf), dan kritis terhadap mana yang baik dan mana yang buruk (39:9; 5:100).

Spoiler alert: nggak ada satu pun yang nyebut tentang khilafah memang.

Istilah Jawa-nya, mungkin, menjadi Ulil Albab itu laku individual: 'ngelmu kang kelakone kanthi laku' alias 'ilmu yang hanya dapat dicapai melalui laku/perbuatan'

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menemani kekhusyukan berpuasa Bapak Ibu sekalian. Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya.

Wallahu a'lam.

Wednesday, April 04, 2012

Sayyidul Istighfar

yaa Allah, Engkaulah Tuhanku tiada sandaran selain Engkau (yg) telah menciptakanku

dan aku adalah abdi-Mu dan aku (berpegang teguh) pada adat/aturan dan janji sebisa mungkin

aku berlindung kpd-Mu dari kejahatan yang kubuat

aku mengakui nikmat-Mu (yg terlimpah) atasku, dan aku mengakui dosa2ku, maka ampunkanlah aku...

karena tiada yang dapat mengampuni dosa melainkan Engkau

[dari Rasulullah s.a.w., via Shaddad ibn Aws, H.R. Bukhari]

Thursday, February 02, 2012

Doa Nabi Zakaria

Menurut Quran, Nabi Zakaria (a.s.), sangat ingin punya keturunan kemudian berdoa seperti dikisahkan Al-Quran pada surah Maryam [19: 4-6] dan Al-Anbiya [21: 89].

berikut kompilasi doa yang saya assemble dari kedua surah tersebut:

ุฑุจ ู„ุงุชุฐุฑู†ู‰ ูุฑุฏุง ูˆ ุงู†ุช ุฎูŠุฑ ุงู„ูˆุฑุซูŠู† * ูˆ ู„ู… ุงูƒู† ุจุฏุนุงุฆูƒ ุฑุจ ุดู‚ูŠุง * ูู‡ุจ ู„ู‰ ู…ู† ู„ุฏู†ูƒ ูˆู„ูŠุง * ูˆุฌุนู„ู‡ ุฑุจ ุฑุถูŠุง


Rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khair ul-waaritsiin; wa lam akun bidu'aa-ika Rabbi syaqiyya;
Fahablii min ladunka waliyya; waj'alhu Rabbi radliyya

Artinya (kurang lebih):
"Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik; dan tidaklah aku dalam memohon/berdoa (pada-Mu) ya Tuhanku, kecewa (pada-Mu); Maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang anak; dan jadikanlah dia yaa Tuhanku (seseorang) yang diridlai."
***
Update [1h after posting]:
hehe.. setelah di-share di facebook dapet masukan dari bu dokter Emi Azmi yg ngasi tau kalo' di Ali Imran [3: 38] juga ada:

ุฑุจ ู‡ุจ ู„ู‰ ู…ู† ู„ุฏู†ูƒ ุฐุฑูŠุฉ ุทูŠุจุฉ ; ุงู†ูƒ ุณู…ูŠุน ุงู„ุฏุนุงุก

Rabbi hablii min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka samii'u(d) du'aa`

Artinya (kurang lebih): "Ya Tuhanku berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Doa"

billahi taufiq wal hidayah...

Tuesday, December 27, 2011

Ngaji: Adab Berkomunikasi

Q.S. Al-Hujuraat [49] memuat 4 ayat yang diawali dengan "yaa ayyuhalladziina aamanu... ". Keempat ayat tersebut --ayat 2, 6, 11 dan 12-- mengandung prinsip-prinsip dasar etika a.k.a. adab berkomunikasi sebagai berikut:
  1. kalo' bisa ngomong pelan, ndak perlu ngomong sambil teriak-teriak
  2. kalo' ada kabar, jangan langsung percaya. perlu cek & ricek 
  3. jangan suka mengolok2 orang, terutama ngolok2 fisik dan memanggil dengan panggilan yang buruk
  4. jangan berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa
Yang menarik, prinsip-prinsip dasar etika berkomunikasi ini diikuti dengan sebuah ayat yang diawali dengan "yaa ayyuhannas... ". Bedanya dengan yang tadi, seruan yang tadi (yaa ayyuhalladziina aamanu.. ) utamanya ditujukan bagi mereka yang beriman, namun yang terakhir ini seruan untuk seluruh umat manusia. Seruan universal ini cukup populer:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [49:13]
Kalo' boleh saya memberikan interpretasi bebas saya terhadap ayat di atas (yang sebenernya saya tidak punya kapasitas untuk itu), saya memahaminya sebagai sebuah gambaran bahwa heterogenitas manusia diciptakan on purpose.

Pesannya jelas: perbedaan kesukuan dan ras sepatutnya tidak menjadi sumber pertikaian apabila kita dapat berkomunikasi dengan lebih beradab/beretika satu sama lain.

Wednesday, December 07, 2011

Repost: Ngaji


In Tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab wrote that the word “albaab” is the plural form of “lubb” which means “essence” or “genuine idea”.

Something genuine, the Ulil Albaab, can not detach from the source of ingenuity itself: Allah.

[Q.S.3:190] Inna fii khalqi samaawati wal ardh wakhtilaafi laili wa nahari la ayaati li ulil albaab.

In the creation of heaven and earth and the perfect exchange of the day and the night, there’s abundant message for the Ulil Albaab.

We usually understand Ulil Albaab as those who think deeply but it’s more than that, they are people of ingenuity.

Who’s the Ulil Albaab? Refer to Q.S.3:191, they are those who always keep Allah in their mind while stand, sit or lay down.

And keep thinking about the creation of the universe (and then, they kneel down and say) Rabbanaa maa khalaqta haadza bathila. Subhanaka faqina ‘adzaabannaar

(And keep praying) [Q.S.3:192] Rabbanaa innaka man tudkhlinnaara faqad akhzaitah. Wa maa lizhaalimiina min anshaar

(And keep praying) [Q.S.3:193] Rabbanaa innanaa sami’na munadiyay yunaadi lil iiman an aaminu bi Rabbikum fa aamanna

(And keep praying) [Q.S.3:193 contd.] Rabbanaa faghfirlanaa dzunuubana wa kaffir ‘anna sayyi-atina wa tawaffanaa ma’al abraar

(And keep praying) [Q.S.3:194] Rabbanaa wa aatina maa wa’adtana ’ala rusulika wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamah. Innaka laa tukhliful mii’aad

And here’s an estimate translation of the prayer:

O God, none of Thou created in no purpose. Holy Thou, please keep us away from hellish sufferer

O God, anyone Thou cast away to the hell has the worst fate, and there is no savior for them.

O God, truly we listen to those who call for iman. (They said) “Believe in God!” Then we believe.

O God, forgive our sins and wipe out our mistakes, and let us rest in peace with those who serve Thou well.

O God gives us what Thou promised as our prophets said and do not scorn us at the day of Resurrection, truly Thou never break any.

And then … Allah heard and blessed them, answer for their prayer with miraculous heaven (refer Q.S.3:195)

Those are sort of Al Quran verses that make Rasulullah saw. trembled and wept: inna fii khalqi samaawati wal ardh (in the creation of heaven and earth) … you will find an overwhelming beauty.

Thursday, September 09, 2010

Idul Fitri 1431 H

Ketika Idul Fitri tiba, sebagian besar kita bersukacita menyambutnya. Mengapa? Apakah karena keberhasilan dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhan? Bisa jadi. Tapi saya ingin melihatnya dari perspektif lain.

Ketika Idul Fitri tiba, sebagian dari kita bersedih karena ditinggalkan oleh bulan Ramadhan yang penuh keutamaan ini tanpa tahu apakah akan dapat berjumpa dengannya lagi. Karena memang, nuansa Ramadhan itu 'ngangenin', 'romantis' dan tentu saja transendental. Di akhir Ramadhan, rasanya kita memang tidak mau berpisah dengan Ramadhan saking nikmatnya beribadah pada bulan yang mulia ini.

Yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa bulan Syawal adalah bulan ujian yang sebenarnya. Karena diharapkan, ibadah kita semakin meningkat di bulan Syawal. Apa yang telah kita dapatkan pada madrasah Ramadhan semestinya diaplikasikan dalam bulan ini dan seterusnya. Oleh karena itu, adakah alasan untuk bersukacita di awal bulan Syawal dengan perayaan Idul Fitri? Saya rasa masalahnya bukan itu.

Perayaan Idul Fitri, tampaknya, sudah tidak lagi sekedar perayaan agama yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan dengan segala aktifitas ibadah yang khas di dalamnya. Perayaan Idul Fitri juga telah menjadi perayaan budaya. Ketika Idul Fitri adalah perayaan budaya, maka Idul Fitri adalah tentang saling memaafkan, menjalin silaturahim, sungkem pada orang tua dan meringankan sedekah. Dalam bingkai kacamata ini, saya rasa memang layak kita bersukacita merayakan Idul Fitri. Kesukacitaan ini adalah tanda kesyukuran yang luar biasa kepada Allah atas nikmatnya persaudaraan dan nikmatnya menjadi makhluk sosial meski dengan catatan bahwa kesukacitaan ini tidak boleh berubah menjadi perilaku berlebih-lebihan.

Well then, Selamat Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang kembali suci dan mendapatkan kemenangan dengan kualitas ibadah yang senantiasa meningkat.