Tuesday, September 15, 2026

Ulang Tahun

Saya sebenernya tidak suka konsep diulangtahuni. Tapi mamah saya suka mengulangtahuni saya. Jadi saya ya terima-terima aja. Ulang tahun, bagi saya, itu tidak pernah tentang saya. Rasa syukur terhadap kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT. itu tidak perlu menunggu genap N tahun dari hari lahir. 

Ulang tahun bagi saya itu memperingati perjuangan mamah saya melahirkan dan membesarkan saya.

Saya jadi seperti sekarang ini, for better or worse, salah satunya juga karena doa mamah saya. Buat saya, ulang tahun itu tidak pernah tentang saya. Tapi tentang mamah saya.

Saya lahir ketika papah saya sekolah di Amerika Serikat. Mamah saya melahirkan saya di RS Bethesda Lempuyangan, ditemani ibunya. Eyang Salami. Ketika itu, Eyang Salami dan Eyang Ratri (ibunya papah saya) masih sugeng. Sesaat setelah saya lahir, Eyang Salami, buru-buru pulang (tentu saja masih tetap jarikan) ke rumah kontrakan mamah saya di Bausasran, mengabarkan ke Eyang Ratri yang sedang menemani kakak saya. Mamah saya boleh dibilang membesarkan saya sendirian, karena papah saya sibuk dengan tugas dan pekerjaannya. Sungguh sebuah lingkungan yang patriarkis. Lingkungan yang membuat saya berjanji pada diri saya sendiri, kalau saya jadi seorang bapak, anak-anak saya adalah prioritas utama saya dari segi perhatian dan kesempatan. Tugas dan pekerjaan bisa dikemonah belakangan. Alhamdulillah saya dikaruniai istri dan anak-anak yang memahami luka batin masa lalu saya.

Saya menghormati teman-teman yang suka ulang tahun. Walaupun sejujurnya, saya tidak pernah ingat siapa ulang tahun kapan, kecuali keluarga kecil saya dan adik-adik saya di hiddenleaf yang memang saya catat tanggal ulang tahun-nya di Google Drive. Kalau ada yang ulang tahun, saya suka ikut-ikutan mengucapkan, ya karena seru aja hehehe.

Ada yang memang berulangtahun karena ulang tahun itu momentum untuk berterimakasih kepada Tuhan. It's legitimate. Saya menghormati itu. Ada yang suka mengucapkan ulang tahun ke temannya sebagai bentuk perhatian. Obviously. Ada yang suka merayakan ulang tahun sebagai momen kebersamaan karena seringkali kita "taking friendship for granted". Ada yang memang merayakan ulang tahun itu sebagai identitas budaya. Ya memang tradisinya seperti itu. Apa pun alasannya, saya menghormati alasan-alasan itu.

Somehow, meski banyak alasan-alasan yang legitimate terkait dengan perayaan ulang tahun, entah kenapa, saya tetap kurang sreg sama konsep ulang tahun. I can't really make an argument for it. Pokoknya nggak sreg aja gitu. Walaupun kalau ada yang mengucapkan ulang tahun ke saya, saya juga berterimakasih, termasuk yang mengucapkan ulang tahun ke saya pakai bot WhatsApp seperti Pak Djoko Luk. Ha ha ha.

It's been forty something. Not sure how long I have left in this world

Salah satu teman kami, Gregi baru saja meninggalkan kami dengan begitu tiba-tiba. Mengingatkan juga kepada saya bahwa teman-teman seangkatan waktu sekolah sudah berpulang beberapa. Ini mungkin salah satu alasan kenapa saya tidak begitu nyaman dengan konsep ulang tahun ... seperti diingatkan kalau waktu yang saya punya di dunia ini semakin sedikit. Dan itu nggak enak rasanya. Atau mungkin, sayanya aja yang overthinking.

Entahlah. 

Toh kalender itu setidaknya juga ada dua. Kalau hitungan tahun Masehi, ketika saya menulis ini, umur saya hampir 44 tahun. Tapi kalau dihitung pakai kalender bulan, saya sudah 45 tahun lebih.

No comments: