Tuesday, September 15, 2026

Ulang Tahun

Saya sebenernya tidak suka konsep diulangtahuni. Tapi mamah saya suka mengulangtahuni saya. Jadi saya ya terima-terima aja. Ulang tahun, bagi saya, itu tidak pernah tentang saya. Rasa syukur terhadap kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT. itu tidak perlu menunggu genap N tahun dari hari lahir. 

Ulang tahun bagi saya itu memperingati perjuangan mamah saya melahirkan dan membesarkan saya.

Saya jadi seperti sekarang ini, for better or worse, salah satunya juga karena doa mamah saya. Buat saya, ulang tahun itu tidak pernah tentang saya. Tapi tentang mamah saya.

Saya lahir ketika papah saya sekolah di Amerika Serikat. Mamah saya melahirkan saya di RS Bethesda Lempuyangan, ditemani ibunya. Eyang Salami. Ketika itu, Eyang Salami dan Eyang Ratri (ibunya papah saya) masih sugeng. Sesaat setelah saya lahir, Eyang Salami, buru-buru pulang (tentu saja masih tetap jarikan) ke rumah kontrakan mamah saya di Bausasran, mengabarkan ke Eyang Ratri yang sedang menemani kakak saya. Mamah saya boleh dibilang membesarkan saya sendirian, karena papah saya sibuk dengan tugas dan pekerjaannya. Sungguh sebuah lingkungan yang patriarkis. Lingkungan yang membuat saya berjanji pada diri saya sendiri, kalau saya jadi seorang bapak, anak-anak saya adalah prioritas utama saya dari segi perhatian dan kesempatan. Tugas dan pekerjaan bisa dikemonah belakangan. Alhamdulillah saya dikaruniai istri dan anak-anak yang memahami luka batin masa lalu saya.

Saya menghormati teman-teman yang suka ulang tahun. Walaupun sejujurnya, saya tidak pernah ingat siapa ulang tahun kapan, kecuali keluarga kecil saya dan adik-adik saya di hiddenleaf yang memang saya catat tanggal ulang tahun-nya di Google Drive. Kalau ada yang ulang tahun, saya suka ikut-ikutan mengucapkan, ya karena seru aja hehehe.

Ada yang memang berulangtahun karena ulang tahun itu momentum untuk berterimakasih kepada Tuhan. It's legitimate. Saya menghormati itu. Ada yang suka mengucapkan ulang tahun ke temannya sebagai bentuk perhatian. Obviously. Ada yang suka merayakan ulang tahun sebagai momen kebersamaan karena seringkali kita "taking friendship for granted". Ada yang memang merayakan ulang tahun itu sebagai identitas budaya. Ya memang tradisinya seperti itu. Apa pun alasannya, saya menghormati alasan-alasan itu.

Somehow, meski banyak alasan-alasan yang legitimate terkait dengan perayaan ulang tahun, entah kenapa, saya tetap kurang sreg sama konsep ulang tahun. I can't really make an argument for it. Pokoknya nggak sreg aja gitu. Walaupun kalau ada yang mengucapkan ulang tahun ke saya, saya juga berterimakasih, termasuk yang mengucapkan ulang tahun ke saya pakai bot WhatsApp seperti Pak Djoko Luk. Ha ha ha.

It's been forty something. Not sure how long I have left in this world

Salah satu teman kami, Gregi baru saja meninggalkan kami dengan begitu tiba-tiba. Mengingatkan juga kepada saya bahwa teman-teman seangkatan waktu sekolah sudah berpulang beberapa. Ini mungkin salah satu alasan kenapa saya tidak begitu nyaman dengan konsep ulang tahun ... seperti diingatkan kalau waktu yang saya punya di dunia ini semakin sedikit. Dan itu nggak enak rasanya. Atau mungkin, sayanya aja yang overthinking.

Entahlah. 

Toh kalender itu setidaknya juga ada dua. Kalau hitungan tahun Masehi, ketika saya menulis ini, umur saya hampir 44 tahun. Tapi kalau dihitung pakai kalender bulan, saya sudah 45 tahun lebih.

Monday, September 14, 2026

Gregorius Agung Setyonugroho

Siang hari, Minggu 13 September 2026, matahari bersinar terik sekali. Panas. Sumuk. Ketika matahari-nya sudah menyingsing, Nana kakak minta dibelikan es teh. Saya pun keluar errands, sekalian beli sayur dan lauk untuk seminggu ke depan. Ketika menunggu es teh nya Nana dikemas, saya buka WA. Mahas mengirim pesan "Wah Greggy ndhisiki". Saya sejenak kurang paham maksudnya. Namun segera saya buka WAG Barokah. Teman-teman mengucapkan belasungkawa atas kepergian Gregi, salah satu admin WAG Barokah. Teman baik kami. Saya hanya bisa mengetik "Inna lillahi. Ya Allah"

Saya naik motor pulang sambil berlinang air mata. Sampai saat saya menulis ini pun, perasaan masih campur aduk. Discombobulated, istilah Inggris-nya. Tapi ini satu-satunya cara coping yang saya tahu ketika ada orang yang dekat dengan saya berpulang: menulis. 

Saya kenal dekat dengan Gregi boleh dibilang baru setelah pulang dari Amerika Serikat for good, sama seperti teman-teman WAG Barokah yang lain. Mereka teman SMA saya, tapi pas SMA dulu malah kurang dekat.

Enam tahun terakhir ini, Kami terlibat dalam berbagai macam interaksi. Kami sama sama ditinggal ayah kami. Gregi duluan yang ayahnya meninggal karena sakit. Lalu tak berselang lama, papa saya meninggal karena sakit juga. Ketika saya masih mengajar di Sampoerna University, pernah suatu kali kami janjian berangkat ke Jakarta barengan jejeran kursi di kereta. Gregi pula yang mengajari saya seluk-beluk perjalanan dengan kereta api: kereta mana yang ekonomi tapi rasa eksekutif, bagaimana menavigasi KRL di Jakarta, dan lain sebagainya.

Setelah saya fasih naik kereta ke Jakarta, setiap kali Gregi di Jakarta juga (istri Gregi bekerja di Jakarta, dan waktu itu anak Gregi juga masih sekolah SD di Jakarta) dan kalau pas saya ada pertemuan tatap muka di Sampoerna, Gregi ngajak ketemuan karena memang apartemen Gregi di seputaran Pancoran. Entah itu di McD Perdatam, atau pernah ngajak berkunjung ke rumah Ndru di Slipi mencari tongseng yang kebetulan tongseng-nya pas tutup. Pernah juga Gregi ngajak sarapan bubur ayam Jakarta bareng, pas kebetulan saya ada kegiatan pagi, jadi nggak kesampaian. 

Kalau ketemu, kami ngobrol banyak tentang macam-macam. Gregi adalah salah seorang yang mendukung mimpi saya. Saya punya impian bahwa Indonesia punya library system macam di negara-negara maju. Kalau perpustakaan daerah sih memang sudah ada, yang saya inginkan itu sistem perpustakaan. Gregi, sebagai seorang arsitek, paham betul. Dia bilang, kalau saya memang serius, dia akan bantu sebisanya. Tapi kok ya kebetulan pekerjaan saya belum mengarah ke arah sana untuk saat ini. Gregi keburu berpulang.

Gregi selalu menyempatkan diri untuk datang diskusi di Omaggio. Gregi juga menyempatkan diri datang ke Soto Kutut, ketemu Momon yang baru pulang dari Boston, dua minggu yang lalu. Hampir setiap hari Gregi mengirim DM IG ke saya, berbagi reels, meskipun saya jarang mengirim reels balik, karena memang saya jarang mainan IG.

Gregi meninggal karena stroke, ketika sedang bertugas melakukan asesmen bangunan pasca gempa di NTT. Bagi saya, kepergian Gregi seperti sebuah kisah superhero. Bukan superhero yang fancy, yang sederhana saja. 

Momen terakhir di rumah Pak Kades Tondong Belang, Manggarai Barat, NTT

Minggu pagi kemarin, Gregi masih sempat mengirimkan pemandangan di Labuan Bajo. Dan siangnya, sesaat sebelum ambruk di rumah Pak Kades, Gregi sempat mengirimkan foto-foto Puskesmas yang dia ases di Manggarai Barat. Rupanya bumi NTT yang memiliki padang rumput yang luas adalah persinggahan terakhir Gregi yang memang suka mengembara. 

Foto yang dikirim Gregi minggu pagi, setengah tujuh WIB (setengah delapan WITA)

Saya yakin masih banyak yang ingin diselesaikan oleh Gregi. Mulai dari memindahkan keluarganya supaya bisa kumpul di Jogja, sampai project-project luar negerinya. Dan ya, termasuk soal library system itu tadi ... 

Sugeng tindak Greg. Walaupun berat, kami akan melanjutkan pengembaraan di dunia ini tanpa njenengan, Iron Man.

"Everybody wants a happy ending. Right? But it doesn't always roll that way... in the case of an untimely death on my part. I mean, not that any time, it's not timely ... then again, that's the heroic part of the journey is the end. What I'm even dripping for. Everything's gonna work out exactly the way it's supposed to. I Love You. 3000."

Catatan:

Liputan Koran NTT : https://koranntt.com/2026/09/14/misi-kemanusiaan-berujung-duka-anggota-tim-iai-hadir-meninggal-saat-bertugas-di-flores/ 

Friday, September 04, 2026

Eyang Salami

Saya lupa percakapannya dimulai dari mana, tapi mamah saya menyebut-nyebut tentang swargi Eyang Salami, ibu-nya mamah saya, dulu bisa Bahasa Belanda karena mendapatkan Pendidikan di SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Ah ya, saya agak ingat sekarang, Kami sedang mendiskusikan sebuah kata dalam Bahasa Jawa yang semestinya adalah serapan dari Bahasa Belanda. Sekarang malah lupa apa kata yang Kami diskusikan sebelum pada akhirnya ngobrolin soal Eyang Salami yang setiap hari pergi ke SKP.

SKP ini adalah nasionalisasi sekolah keputrian era Belanda (Huishoudschool/Household School). Namun pada era 1960-an, SKP ini berubah menjadi SMK Tata Boga, Tata Busana, dan sejenisnya karena dinilai sudah "tidak sesuai dengan kemajuan zaman". Mungkin pas jaman saya sekolah, dalam kurikulum 1994, apa yang diajarkan di SKP sedikit banyak ada di mata pelajaran muatan lokal PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Dalam kurikulum 2013, PKK ini diubah menjadi PKWU (Prakarya dan Kewirausahaan) yang bergeser fokus-nya dari keterampilan rumah tangga, menjadi keterampilan berorientasi kapital.

Kembali ke Eyang Salami. Dulu beliau menempuh Pendidikan di SKP selama empat tahun, setelah lulus dari SR (Sekolah Rakjat). Jadi SKP ini setara SMP. Selama empat tahun itu, beliau jalan kaki dari rumahnya di Cawas ke SKP yang ada di daerah Pedan, Klaten. Konon, kata mamah saya, jaraknya tujuh kilometer. Jalan kaki. Pakai jarik, bukan rok, apalagi celana.

Itu kalau saya hitung-hitung, kurang lebih beliau harus berangkat jam lima pagi, sampai sekolah jam tujuh. Belum nanti pulangnya. Dua jam jalan kaki lagi. Artinya setiap hari beliau berjalan kaki pulang pergi selama empat jam! 

Ya tentu saja jangan dibayangkan jalanannya sudah aspal seperti sekarang, dan banyak kendaraan bermotor. Jaman saya SMP tahun 1990-an saja, daerah Manukan, Condongcatur itu masih ladang tebu yang luas sekali. Kalau saya kebetulan pulang jalan kaki dari terminal Condongcatur ke rumah, ya lewat ladang-ladang tebu itu tadi.

Mungkin udaranya juga belum sepanas dan sepolutif sekarang. Tapi tetap saja, jalan kaki empat jam tiap hari, pakai jarik, di jalanan yang mungkin masih tanah, belum nanti kalau hujan bagaimana ... sungguh perjuangannya orang jaman dulu untuk pergi ke sekolah itu hampir sama dengan anak-anak Indonesia sekarang di daerah-daerah yang tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Apakah kemudian ini harus jadi cermin bagi kita? Errr ... menurut saya kok tidak harus. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Ada yang wujudnya perjuangan fisik, ada pula yang wujud perjuangannya psikologis atau malah virtual. Hanya saja, yang namanya semangat itu memang tak lekang oleh zaman. Yang namanya kewajiban pemerintah untuk memenuhi hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak juga tak lekang oleh zaman. Pendidikan yang layak ya, bukan makanan gratis yang sering bikin keracunan.

Ada satu lagi yang mungkin tak lekang oleh zaman: household chores, alias pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menggergaji kayu, menjahit kancing, dan lain sebagainya. Saat ini, keterampilan-keterampilan tersebut didapat dari pendidikan di rumah. Tapi mungkin ada baiknya, keterampilan-keterampilan tersebut diperkenalkan juga di sekolah. Hal itu bisa dilaksanakan melalui P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)-nya kurikulum Merdeka, misalnya. Tidak perlu sampai level canggih seperti Eyang Salami yang bisa masak risol (ini saya yakin juga kata serapan dari Bahasa Belanda) yang super duper enak. Bikin sambel lotis yang enak saja mungkin cukup ... 

Sunday, August 16, 2026

Memori



Saya mungkin memang sudah masuk di rentang usia orang yang suka nostalgia. Dengerin Vertical Horizon - Best I Ever Had (Grey Sky Morning) lewat di YouTube aja kok ya banyak kenangan yang muncul kembali, resurface. Tapi saya menulis ini sebenarnya bukan mau mengenang jaman awal-awal jadi mahasiswa di tahun 2000-an. Lebih jauh dari itu. Saya ingin memungut memori tentang masa SD saya.

Kenapa SD? Karena setahun yang lalu, ketika saya membaca berita bahwa SD saya hanya mendapatkan satu orang murid (yang pada akhirnya ternyata dua orang murid), saya jadi tergerak untuk kembali ke SD saya, menyumbangkan apa yang bisa saya sumbangkan. Bukan uang lho ya. Karena kebetulan saya bergerak di bidang Pendidikan, saya punya beberapa hal yang mungkin bisa saya share dengan Ibu Bapak guru di SD saya, SDN (dulu SD Inpres) Minomartani II. Ketika akhirnya saya kesampaian mengunjungi SD saya beberapa kali, memori-memori itu berlompatan.

Salah satu memori yang paling berkesan adalah ketika Ibu Kepala Sekolah menyuruh saya untuk menyapu halaman sekolah. Kebetulan mamah dan papah saya itu orangnya tepat waktu banget. Kalau masalah jadwal, sebisa mungkin jadwal itu ditepati. Papah saya, swargi, bahkan kalau bepergian itu selalu meluangkan waktu yang cukup longgar untuk tiba di bandara atau stasiun jauh sebelum jam keberangkatan. Jadi, ketika sekolah di SD, walaupun kalau naik sepeda dari rumah tidak sampai lima menit, saya seringkali sudah sampai sekolah setengah tujuh pagi. Itulah kenapa Ibu Kepala Sekolah ngasi saya kerjaan menyapu halaman sekolah. Katanya, "Aku tau kamu gak punya halaman rumah, jadi buat latihan nyapu ya. Siapa tahu besok kamu sekolah di ITB." Kalau dipikir-pikir sebenernya agak nggak nyambung juga. Apa iya kalau saya kuliah di ITB trus saya nanti harus nyapu pelataran kampus? Untung saya akhirnya kuliah di UGM...

Hehe. Bukan itu sih pelajaran moralnya ya. Keterampilan seperti menyapu halaman itu keterampilan yang hanya bisa dimiliki kalau sering dilakukan. Dan menyapu halaman itu salah satu keterampilan dasar. Tampaknya sepele dan membosankan, tapi kata penelitian neurosains baru-baru ini, kegiatan yang sepele dan membosankan itu malah mengaktifkan bagian otak yang sangat penting untuk mendukung pemikiran kritis.

Memori lain yang juga berkesan tentu saja Pak Tarman, wali kelas saya kalau tidak salah dari kelas IV sampai kelas VI SD, pas saya nakal-nakalnya. Saya waktu itu anak paling pandai di sekolah. Saya juga murid yang badannya paling besar (baca: gemuk) di sekolah. Ketika kelas V pun saya berkelahi dengan anak kelas VI dan menang. Saya pegang kerah anak itu, saya dorong, saya benturkan dia ke tembok, terkunci dia, tidak bisa bergerak, susah bernafas, tapi kemudian kami dilerai oleh Pak Tarman. Saya besar kepala, merasa jadi jawara, bisa berbuat sesuka hati saya. Tapi kemudian Pak Tarman "memarahi" saya, tidak dengan suara yang keras, tidak dengan intonasi yang mengancam, tapi nasihatnya membuat saya malu. 

Kalau dulu sudah ada film Spiderman, mungkin nasihat Pak Tarman itu seperti "with the great power comes great responsibility". Dari Pak Tarman saya belajar bahwa kuasa itu bukan untuk dipamer-pamerkan, bukan untuk disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, tapi harus digunakan untuk kebaikan, dipakai untuk melayani orang banyak. Sesederhana itu.

Saya juga punya memori tentang Bu Cahyani -yang menurut saya dulu cantik sekali- guru kelas I yang mengajari saya membaca, menulis dan berhitung. Saya ketika masuk SD waktu itu belum bisa calistung. Mamah saya yang hobinya membacakan saya majalah Bobo. Sampai sekarang pun, beliau hobi membaca majalah Bobo. Tapi begitu saya bisa membaca, saya ketagihan membaca. Saya ingat buku Mahabharata -punya Papah saya- yang tebal itu saya baca sampai habis. Saya terinspirasi oleh buku-buku tentang perjalanan samudra. Buku favorit saya? Buku IPA kelas V. Saya ingat betul ilustrasi tentang gerak semu matahari, perubahan musim, dan perubahan fase bulan. Semakin banyak membaca, semakin saya ingin tahu tentang hal-hal baru.

Ada lagi memori tentang bermain tulup (ini mainan berbahaya masih ada nggak ya hahahah, jaman dulu belum ngerti safety) dengan teman-teman. Berdiri di atas gundukan pasir di depan sekolah, menantang gunung Merapi yang terlihat cerah pagi itu. Atau tentang guru olahraga yang sengaja membiarkan kami hujan-hujanan di lapangan, "biar tatag (tangguh badannya)" katanya. Atau tentang cepet-cepetan lari dengan teman-teman untuk jajan bubur lemu yang kalau agak telat sudah kehabisan. Atau tentang kakak kelas yang mengajari saya merokok, tapi saya kapok karena pahit rasanya. Atau tentang naksir anak pindahan baru di SD sebelah (dulu sekomplek ada tiga SD). Atau tentang ikut lomba menggambar pemandangan tapi kalah karena yang lain gambarnya gunung, saya gambarnya pemandangan bawah laut. Atau tentang saya yang selalu menangis kalau disuruh menyanyi di depan kelas karena tidak bisa menyanyi.

Begitu banyak memori, kenangan, pelajaran, selama bersekolah di SD. Saya menangis ketika menyanyikan Hymne Guru di acara pelepasan murid, purna wiyata. Kali itu bukan karena malu tidak bisa menyanyi, tapi karena terharu dan tidak mampu mengungkapkan rasa terimakasih saya kepada guru-guru saya yang telah memberikan semua perhatian dan kasih sayang mereka kepada kami, murid-murid-nya. 

Waktu itu saya tidak punya bayangan akan jadi apa saya kalau besar nanti. Cita-cita saya tidak pernah tinggi. Seingat saya, cita-cita saya jadi tukang parkir, karena pas lihat tukang parkir di jalan Solo itu kok tampaknya berkuasa gitu, bisa ngatur-ngatur orang. Namun sekarang saya merasa punya tanggung jawab untuk kembali ke SD saya, karena saya tahu sedikit banyak caranya memakai teknologi untuk melayani orang lain, seperti yang Pak Tarman nasihatkan. 

...

it's not so bad

You're only the best I ever had ... 

Friday, July 10, 2026

Membagi Tiga

 


Karena kemarin habis ngisi presentasi di depan Widyaprada ("para pemberi ilmu"; Vidya (Sanskrit) = ilmu, Prada (Sanskrit) = donatur) bikin pita pecahan pakai kertas HVS A4, saya jadi penasaran gimana caranya membagi kertas itu jadi 3 sama besar dengan cara origami. Ramban punya ramban di Google, ketemulah gambar garis-garis di atas (yang sebelah kiri).

Karena saya belum puas kalo belum membuktikan sendiri pakai aljabar bahwa x1 itu sepertiganya x1 + x2, akhirnya ya ngorek-orek pembuktian aljabar sendiri.

Misalkan garis BD dan CE itu persamaan garis lurus f1(x) dan f2(x) di mana DE = a ; DA = 2a ; dan DC = x1 + x2, maka ...

f1 = -2a/(x1+x2) * x + k , dan
f2 = a/(x1+x2) * x + k

sehingga f1 - f2 = -3a/(x1+x2) * x  ...... (1)

Ketika x = -x1, f1 - f2 = a (lihat ruas garis DE) ... ini saya lupa nulis titik (0,0) nya di gambar itu di perpotongan garis vertikal dan horizontal ... yang deket tulisan k itu.

Masukkan nilai x dan f1 - f2 ke persamaan (1) dan didapat a = -3a/(x1+x2) * -x1

Kalau diproses persamaannya, jadilah x1 / x2 = 1 / 2 . Dengan kata lain, memang x1 itu sepertiganya x1 + x2.

Ini berlaku untuk persegi panjang dengan ukuran panjang dan lebar berapa pun. Bisa dilihat simulasinya di sini.

Lipatan origami ini akan berguna untuk membuat pita pecahan sepertigaan, seperenaman, dst. 


Sunday, June 21, 2026

Masyarakat Belajar

Pada tahun 2026, Indonesia telah memasuki tahap baru dalam transformasi digital. Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia yang dirilis APJII, sekitar 81,7% penduduk Indonesia telah terhubung ke internet, atau lebih dari 235 juta orang. Internet bukan lagi sekadar pelengkap kehidupan sehari-hari, melainkan infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, hingga interaksi sosial.

Namun, semakin luasnya konektivitas tidak serta-merta menjadikan masyarakat semakin cakap dalam memanfaatkan teknologi. Justru tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Jika satu dekade lalu perhatian banyak tertuju pada akses terhadap informasi, kini persoalannya bergeser menjadi kemampuan membedakan informasi yang kredibel dari yang menyesatkan, menghadapi banjir konten yang diproduksi secara otomatis oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dua sisi dampak perkembangan teknologi semakin nampak di era AI. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk belajar, bekerja, dan berkreasi dengan lebih produktif. Seorang pelajar dapat memperoleh penjelasan mengenai konsep fisika dalam hitungan detik. Seorang petani dapat memperoleh rekomendasi budidaya berdasarkan kondisi cuaca. Pelaku UMKM dapat membuat materi promosi tanpa harus memiliki keahlian desain grafis. Teknologi semakin demokratis dan semakin mudah diakses.

Di sisi lain, teknologi yang sama juga mempermudah penyebaran informasi yang keliru, manipulasi gambar dan video, penipuan digital, hingga konten yang sengaja dirancang untuk memancing emosi bukan untuk memperkaya pemahaman. Algoritma media sosial cenderung menghadirkan informasi yang menarik perhatian, bukan selalu yang paling benar. Dalam situasi seperti ini, tantangan masyarakat digital bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang belum tentu dapat dipercaya.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi, melainkan apakah kita telah memiliki kapasitas untuk memanfaatkannya secara bijaksana. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak cukup dicari melalui regulasi atau pengembangan media dan teknologinya semata. Yang jauh lebih mendasar adalah membangun masyarakat yang terus belajar.

Belajar pada hakikatnya adalah proses ketika seseorang melakukan pembentukan identitas dirinya melalui proses tawar menawar di dalam lingkup sosial di mana dia berada. Dalam dunia yang berubah sangat cepat, belajar tidak lagi berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi. Pengetahuan terus berkembang, teknologi terus berubah, dan tantangan sosial terus berganti. Karena itu, belajar harus dipandang sebagai kebiasaan sepanjang hayat.

Masyarakat yang belajar bukanlah masyarakat yang seluruh anggotanya memiliki tingkat pendidikan tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang belajar adalah masyarakat yang memelihara rasa ingin tahu, terbuka terhadap gagasan baru, bersedia mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih baik, dan saling berbagi pengetahuan untuk memecahkan persoalan bersama. Kemajuan suatu bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh budaya belajar masyarakatnya.

Dalam konteks Indonesia saat ini, setidaknya terdapat tiga komponen yang memegang peranan penting dalam membangun masyarakat yang belajar: keluarga, sekolah, serta media dan platform digital.

Komponen pertama sekaligus yang paling mendasar adalah keluarga. Hampir seluruh kebiasaan belajar seseorang bermula dari lingkungan keluarga. Anak-anak belajar jauh lebih banyak melalui apa yang mereka lihat di sekitar mereka dibandingkan melalui apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengingatkan anak agar menggunakan internet secara bijak, tetapi perlu menunjukkan contoh bagaimana teknologi digunakan untuk hal-hal yang produktif.

Di banyak rumah saat ini, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan lagi bagaimana membatasi keberadaan teknologi, melainkan bagaimana membangun budaya penggunaannya. Anak-anak perlu melihat bahwa telepon pintar tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk berkarya, membaca, mencari pengetahuan, berdiskusi, atau mengembangkan keterampilan baru. Ketika orang tua memperlihatkan kebiasaan belajar, anak akan menangkap pesan bahwa belajar merupakan bagian alami dari kehidupan.

Keluarga juga merupakan tempat pertama anak belajar berdialog. Di era media sosial, kemampuan berdiskusi dengan penuh rasa hormat menjadi semakin penting. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi permusuhan karena orang terbiasa bereaksi sebelum memahami. Padahal kemampuan mendengar, mengajukan pertanyaan, serta menghargai sudut pandang orang lain merupakan fondasi kehidupan demokratis.

Lebih jauh lagi, keluarga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital. Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang muncul di internet adalah benar. Mereka perlu dibiasakan memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai referensi, dan bertanya sebelum mempercayai atau membagikan suatu berita. Kebiasaan sederhana seperti ini akan menjadi bekal penting ketika mereka hidup di tengah dunia yang dipenuhi konten hasil kecerdasan buatan dan algoritma media sosial.

Komponen kedua adalah sekolah. Selama bertahun-tahun, sekolah sering dipandang sebagai tempat mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Pandangan tersebut semakin sulit dipertahankan ketika hampir seluruh informasi dapat ditemukan melalui internet. Jika informasi tersedia di mana-mana, maka nilai utama sekolah tidak lagi terletak pada penyampaian informasi, melainkan pada pembentukan cara berpikir.

Sekolah perlu menjadi tempat di mana peserta didik belajar mengajukan pertanyaan yang baik, mengevaluasi bukti, menyusun argumen secara logis, bekerja sama dengan orang lain, serta menghasilkan solusi kreatif terhadap persoalan nyata. Keterampilan-keterampilan tersebut jauh lebih sulit digantikan oleh mesin dibandingkan kemampuan menghafal fakta.

Dalam konteks AI, sekolah juga memiliki tanggung jawab baru. Kehadiran AI bukan alasan untuk melarang teknologi secara total, tetapi menjadi kesempatan untuk mengajarkan penggunaannya secara bertanggung jawab. Peserta didik perlu memahami kapan AI dapat membantu proses belajar dan mengapa mereka harus membangun kapasitas berpikir kritis mereka sendiri. Mereka juga perlu belajar bahwa hasil keluaran AI bukanlah kebenaran mutlak, melainkan bahan awal yang tetap harus diperiksa, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Sekolah juga merupakan ruang sosial yang unik. Di dalamnya, anak-anak bertemu dengan teman yang memiliki latar belakang keluarga, agama, budaya, kemampuan, maupun cara berpikir yang berbeda. Di sinilah mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan saling menghormati. Masyarakat yang belajar membutuhkan warga yang mampu bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda, bukan hanya dengan mereka yang sepakat.

Komponen ketiga adalah media dan platform digital. Jika dahulu media massa menjadi pintu utama masyarakat memperoleh informasi, kini ruang publik jauh lebih kompleks. Informasi diproduksi oleh jurnalis, akademisi, pemerintah, perusahaan, kreator konten, bahkan oleh sistem kecerdasan buatan. Setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon genggam.

Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tanggung jawab yang lebih besar. Media profesional tetap memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk membangun ekosistem informasi yang sehat melalui transparansi algoritma, perlindungan terhadap pengguna, serta upaya membatasi penyebaran konten yang berbahaya.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna juga tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Budaya berbagi informasi perlu diimbangi dengan budaya melakukan verifikasi. Kecepatan menyebarkan informasi tidak boleh mengalahkan ketelitian memeriksa kebenarannya. Dalam dunia digital, setiap orang pada hakikatnya telah menjadi bagian dari ekosistem media. Apa yang kita bagikan, komentari, atau dukung akan ikut menentukan kualitas ruang publik.

Ada satu kecenderungan lain yang patut menjadi perhatian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konten yang membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau konflik cenderung lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang informatif. Karena itu, membangun masyarakat yang belajar juga berarti membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Kita memerlukan lebih banyak konten yang menumbuhkan rasa ingin tahu, menginspirasi kolaborasi, memperlihatkan praktik baik, dan membuka ruang dialog yang konstruktif. Ruang digital seharusnya menjadi tempat masyarakat bertumbuh bersama, bukan sekadar arena pertarungan opini.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Teknologi tidak secara otomatis membuat masyarakat menjadi lebih maju ataupun lebih mundur. Arah perkembangan masyarakat tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Kecerdasan buatan, internet berkecepatan tinggi, dan berbagai inovasi digital hanya akan menghasilkan kemajuan apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki budaya belajar yang kuat.

Membangun masyarakat yang belajar bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, dan dipelihara melalui media serta platform digital yang sehat. Ketiga komponen tersebut saling melengkapi dalam membentuk warga yang mampu berpikir kritis, belajar sepanjang hayat, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Jika budaya belajar terus tumbuh di tengah masyarakat, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang menguasai teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu mengarahkan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Di era AI, ukuran kemajuan bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa bijaksana masyarakat memanfaatkannya.

Saturday, May 02, 2026

Restoran Kemiskinan

Praktik "filantropi" yang sengaja dijadikan ladang bisnis itu bagaikan "Restoran Elit yang Memajang Foto Orang Lapar"

Bayangkan sebuah restoran mewah yang memasang foto-foto orang kelaparan di dindingnya untuk menarik simpati pelanggan. Pelanggan datang dan membayar mahal dengan niat menyumbang. Namun, uang tersebut malah dipakai untuk renovasi interior, gaji koki bintang lima, dan pemasaran, sementara orang di foto tersebut hanya mendapat secuil bagian makanan, itu pun ada yang pakai acara keracunan.

Maknanya: Penderitaan orang lain hanya dijadikan komoditas pemasaran untuk menghidupi gaya hidup penyelenggaranya.

Dalam dunia profesional, ini sering disebut:

🙈 ​"Poverty Porn": Praktik mengeksploitasi kemiskinan untuk mendapatkan simpati atau dana, namun hasilnya tidak pernah benar-benar mengubah nasib objek yang dieksploitasi.

💸 ​"Middleman Skimming": Di mana perantara mengambil keuntungan terlalu besar di tengah jalan sehingga nilai yang sampai ke tujuan akhir sudah tergerus habis.

💰 ​"Non-profit Industrial Complex": Ini adalah istilah untuk organisasi yang alih-alih menyelesaikan masalah sosial, mereka malah "memelihara" masalah tersebut agar organisasi dan gaji karyawannya tetap ada.

​Ini adalah bentuk pengkhianatan kepercayaan yang paling menjijikkan, karena mereka menjual harapan pemberi dan penderitaan penerima demi keuntungan pribadi atau kelompok.

Monday, April 13, 2026

Quod non capio, falsum est!

In the wake of the Artemis II successful moon fly-by mission, I start to think that Flat Earth People, or Moon Landing Deniers, do not believe it because they think it's impossible for them to do, or the thing is incomprehensible given our limited observation capability. Hence, they want some sort of "security in their thoughts" by rejecting the science.

When someone says, "I don't understand how X could be true, therefore X is false," they are protecting themselves from the discomfort of living with uncertainty. The human mind craves coherence. If rocket science, relativity, or orbital mechanics feel like magic, rejecting the conclusion outright restores a clean, manageable worldview.

Flat Earthers and Moon Landing Deniers often say things like:

    "We've never seen the curve with our own eyes."

    "No one can show me a live video of Earth rotating from space that I can't fake."

They elevate direct, unaided sensory experience as the only valid form of evidence. But science works through indirect inference—telescopes, photos, math, testimony of experts. To a mind seeking security, indirect evidence feels like a conspiracy.

Rejecting science isn't just about logic; it's about trust. Accepting the Moon landing means trusting thousands of engineers, astronauts, and governments. That requires intellectual vulnerability. Denial replaces that vulnerability with a fortress: "I alone can see through the lie."

That's deeply reassuring. It turns ignorance into a badge of skepticism.

There's also a pride element. If someone says, "This is too complex for me to understand," that feels like a personal failure. But if they say, "It's fake," they become the heroic truth-teller. Denial transforms bewilderment into mastery.

Quod non capio, falsum est! meaning "If I don't understand, then it's fake!" 

It isn't just a logical error. It's an emotional survival strategy for people who find the real world is too complicated to trust. It isn't just stubbornness; it's a kind of epistemic self-defense.

Saturday, March 28, 2026

Klaim Basi Embege: Mempersenjatai Rasa Syukur

Secara teoritis, program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi fondasi dari tata kelola pemerintahan yang welas kasih—sebuah wujud nyata kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat. Namun pada praktiknya, rezim yang berkuasa saat ini telah mengubah inisiatif ini, dari yang seharusnya sebuah program yang bermanfaat untuk orang banyak, menjadi instrumen pemenangan petahana untuk Pemilu 2029. 

Terlebih lagi, fitur yang paling menonjol dari program ini tidak lagi semata-mata tentang memberi makan rakyat, tetapi lebih tentang membungkam kritik. Hal ini dilakukan melalui manuver politik yang opresif: mempersenjatai rasa syukur (weaponizing gratitude). Dengan membingkai setiap kritik terhadap program MBG sebagai tindakan tidak bersyukur, rezim tidak sekedar menepis keberatan; mereka sedang melakukan tindakan penyalahgunaan kekuasaan (power abuse), dengan bermain peran seolah-olah mereka adalah Tuhan—menyamakan program bantuan negara yang bersifat transaksional dengan utang moral yang tak boleh digugat. Ini bukanlah good governance; ini adalah subversi berbahaya atas relasi antara rakyat dan pemerintah.

Ketika warga negara, ekonom, atau pakar kesehatan masyarakat mengemukakan kekhawatiran yang sah mengenai keberlanjutan fiskal program, kegagalan logistik, atau potensi korupsi, respons dari kubu rezim seringkali seragam: tukang kritik itu tidak tahu terima kasih. Pesan yang tersirat adalah bahwa tindakan menerima makanan seharusnya membatalkan hak untuk bertanya. Dengan memposisikan diri sebagai dermawan, rezim berusaha menciptakan hierarki moral di mana pemerintah adalah orangtua yang memberi segalanya, sementara rakyat adalah anak peminta yang harus menerima apa pun tanpa keluh kesah. Narasi ini secara fundamental bertentangan dengan prinsip negara republik yang demokratis, di mana rakyat adalah pemilik kedaulatan yang memiliki hak untuk mengawasi, bukan sekadar penerima pasif.

Mengkritik program pemerintah bukanlah tindakan tidak tahu terima kasih; kritik adalah tindakan patriotik. Demokrasi yang sehat bertumpu pada prinsip akuntabilitas. Ketika pemerintah meluncurkan inisiatif berskala besar yang dibiayai uang rakyat, mereka memiliki kewajiban etis untuk memastikan efektivitasnya. Melabeli kritik kebijakan sebagai "tidak bersyukur" berarti berargumen bahwa niat baik saja sudah cukup untuk membebaskan pemerintah dari tanggung jawab untuk bekerja dengan baik. 

Logika ini sangat berbahaya. Jika kita tidak diizinkan untuk mempertanyakan apakah anggaran dikorupsi, apakah makanan memenuhi standar gizi, atau apakah program ini menciptakan ketergantungan yang tidak sehat, maka kita tidak sedang dipimpin—kita sedang dikelola. Kita disuruh bersyukur atas nasi yang diberikan, sementara hak kita untuk bersuara dalam perhelatan demokrasi ini dicabut. Strategi rezim ini adalah menyamakan kebijakan dengan kebajikan, sehingga program tersebut ditempatkan di luar jangkauan pengawasan publik.

Lebih jauh lagi, dengan memposisikan diri sebagai satu-satunya pemberi kebutuhan pokok, rezim ini terlibat dalam bentuk kesombongan mesianik—mereka "bermain peran menjadi Tuhan (playing God)". Ketika pejabat pemerintah menuntut rasa syukur atas makanan, secara halus mereka menyiratkan bahwa hak rakyat untuk mendapatkan pangan hanya ada karena kemurahan hati rezim yang sedang berkuasa. 

Itu adalah distorsi realitas yang menyesatkan. Dalam negara yang berfungsi dengan baik, akses terhadap makanan bergizi adalah hak yang harus dipenuhi pemerintah kepada rakyat yang membiayai negara. Itu bukanlah hadiah dari partai penguasa. Memperlakukan hak sebagai hadiah berarti mengangkat rezim di atas konstitusi yang seharusnya mereka junjung. Ini mengindikasikan bahwa di dalam benak penguasa, pemerintah bukanlah pelayan rakyat, melainkan tuan yang kemurahan hatinya tak boleh dipertanyakan. Ini adalah bahasa monarki, bukan republik. 

Rezim yang mengklaim superioritas moral karena memberi makan rakyat, sambil secara bersamaan menghancurkan kemampuan rakyat untuk mengkritik cara pemberiannya, membuktikan bahwa mereka tidak lebih baik dari setumpuk kotoran—sebuah struktur yang, meskipun tampak normal di permukaan, pada dasarnya korup, busuk, dan tidak memiliki legitimasi demokratis.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebenarnya dari sebuah pemerintah bukanlah tentang apakah mereka memulai program yang populer, tetapi bagaimana mereka merespons kritik terhadap program tersebut. Dengan mempersenjatai rasa syukur, rezim yang berkuasa saat ini telah mengungkap prioritas mereka: mereka lebih mengutamakan kesetiaan dan pembungkaman daripada keadilan dan demokrasi. 

Program MBG, jika ditelanjangi lapisan-lapisan propaganda-nya, telah terbukti menjadi kendaraan untuk patronase politik dan intimidasi moral. Warga negara harus menolak paradigma ini. Kita harus menolak pilihan palsu antara menerima makanan atau menerima penindasan. 

Pemerintah yang membungkam rakyatnya dengan remah-remah makanan bukanlah pemerintah yang patut disyukuri; ia adalah pemerintah yang harus dimintai pertanggungjawaban. Kita bukan tidak tahu terima kasih karena menuntut yang lebih baik. Kita adalah warga negara yang menjalankan tugas tertinggi kita: memastikan bahwa pemerintah melayani rakyat, bukan sebaliknya.


Catatan: esai ini ditulis dengan menggunakan AI.

Tuesday, February 17, 2026

Nexus

Hari-hari ini adalah momen-momen yang menarik di kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Tanggal 14 Februari lalu beberapa orang merayakan Hari Valentine. Tanggal 17 Februari ada perayaan Tahun Baru Imlek. Tanggal 18 Februari Rabu Abu, dan tanggal 19 Februari awal puasa. Itu pun ada yang sudah mulai puasa tanggal 18 Februari. Momen kultural dan keagamaan bersilangan, berkelindan, sampai ada Mall yang bingung mau pasang warna apa. Kalau pasang warna pink, tapi kok Imlek itu merah. Kalau mau pasang hijau untuk menyambut Ramadhan, tapi kok Valentinan. Akhirnya ada yang pasang warna biru neon...

Nexus Moment seperti ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali "kepercayaan" atau "beliefs". Manusia pada saat ini bukan hanya "Homo Sapiens" (wise human) tapi juga "Homo Fidelis" (faithful human). Dalam jalinan tenun kemasyarakatan yang semakin kompleks, kepercayaan seseorang membentuk identitas diri di tengah milyaran manusia, baik itu kepercayaan relijius-spiritual, kultural, politik, epistemologis, ataupun kepercayaan-kepercayaan yang lain.


Secara etimologis, kata "percaya" dalam Bahasa Indonesia memiliki akar Sanskrit प्रत्यय (pratyaya) yang merupakan kata gabungan dari kata प्रति- (prati-, “towards”) dan अय (aya, “going”). Terjemahan Bahasa Indonesia bebas-nya "pratyaya" itu bermakna "condong menuju". Secara definisi bahasa, "beliefs" atau "kepercayaan" itu bersifat sirkular: kecenderungan seseorang untuk mempercayai suatu ide, proposisi, atau keadaan sebagai kebenaran, yang terkadang tidak memerlukan bukti absolut yang dapat diuji. Artinya bahwa kepercayaan tidak identik dengan sekumpulan pengetahuan yang dibangun melalui verifikasi empiris, melainkan lebih dekat kepada disposisi kognitif-afektif: kecenderungan untuk memberi bobot kebenaran pada suatu proposisi sebelum, atau bahkan tanpa, konfirmasi final. Beberapa orang mungkin berusaha menjustifikasi kepercayaan-nya dengan cara ilmiah, namun ketika ide atau proposisi tersebut sudah masuk dalam ranah kepercayaan, ia sudah tidak lagi bisa didekati secara ilmiah. 


Kepercayaan bersifat personal, intim, dan sakral. Namun dalam proses pembentukan kepercayaan pada seorang individu, yang terjadi adalah negosiasi identitas sosial. Seseorang tidak pernah membangun kepercayaannya di ruang hampa; ia selalu berada dalam jejaring diskursus, norma, simbol, dan relasi kuasa yang membentuk dirinya. Setiap keyakinan yang tampak sebagai pilihan privat sesungguhnya lahir dari dialog yang terkadang harmonis, namun seringkali pula konfliktual, antara pengalaman personal dan ekspektasi kolektif. Dalam kerangka ini, kepercayaan menjadi arena tempat “aku”, "kita" dan “mereka” saling berkelindan: apa yang diyakini seseorang tentang dunia, tentang kebenaran, bahkan tentang dirinya sendiri, adalah hasil interaksi antara narasi internal dan pengakuan eksternal. 


Di sinilah kemudian fenomena yang sering terjadi di media sosial berakar: kontestasi kepercayaan. Jadi meskipun secara individu kepercayaan itu sifatnya personal, seseorang tidak lepas dari kebutuhan untuk menegosiasikan kepercayaan mereka pada ranah interpersonal. Sebagian besar individu melakukan hal tersebut mungkin hanya bertujuan untuk menunjukkan siapa dirinya (eksistensi), namun tidak sedikit pula yang memang bertujuan untuk men-challenge kepercayaan orang lain. Karena memang beliefs itu tidak bisa diubah oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mengubahnya, namun orang lain bisa menantang (to challenge) kepercayaan yang kita miliki baik itu kepercayaan epistemologis, spiritual-relijius, politis, ataupun yang lainnya.


Pada momen neksus kultural seperti yang terjadi di pertengahan Februari 2026 ini, kontestasi kepercayaan jamak terjadi di media sosial. Yang paling ramai mungkin tentang perbedaan awal bulan puasa. Padahal biasanya kalau pas tidak saling bebarengan terjadinya, topik hangatnya bergeser satu-satu mulai dari pro-kontra perayaan Valentine sampai dengan pro-kontra Shio/Zodiak yang berkaitan erat dengan perayaan Imlek. Kontestasi ini berasa seperti konflik karena sifat kepercayaan yang personal, intim, dan sakral itu tadi. Kritik atau tantangan yang ditujukan untuk sebuah ide atau proposisi dirasakan oleh pemilik ide/proposisi itu tadi sebagai serangan terhadap pribadi-nya.


Barangkali yang perlu kita sadari dalam Nexus Moment seperti ini bukanlah bagaimana membuat semua benang dalam jalinan tenun kemanusiaan itu menjadi satu warna, melainkan bagaimana kita mengusahakan agar setiap warna benang itu ada tanpa merasa terancam. Pink, merah, abu-abu, hijau, bahkan biru neon yang canggung, semuanya adalah simbol dari kecenderungan manusia untuk “condong menuju” sesuatu yang diyakininya benar. Ketika jutaan orang condong menuju arah yang berbeda pada waktu yang bersamaan, saya rasa yang terjadi bukanlah kekacauan, melainkan orkestrasi yang belum kita pahami nadanya sahaja.


Mungkin kedewasaan kultural justru lahir dari ruas sambung (neksus) ketika kita menyadari bahwa setiap orang sedang “mempercayai” sesuatu yang baginya bermakna. Kita tidak perlu bersepakat untuk bisa saling mengakui eksistensi diri. Kita tidak perlu menyatukan kalender untuk bisa berbagi ruang. Sebab pada akhirnya, menjadi Homo Fidelis bukan hanya soal apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama manusia yang percaya pada hal yang berbeda. Dan di tengah persilangan warna, tanggal, dan narasi, mungkin itulah iman sosial yang paling sunyi, sekaligus paling diperlukan.

Saturday, January 17, 2026

Omaggio Manifesto

 

Omaggio berasal dari Bahasa Italia. Padanannya dalam Bahasa Inggris adalah homage —sebuah penghormatan, sebuah persembahan.

Nama ini pertama kali saya gunakan pada tahun 2021, ketika membuka pre-ordered pizza untuk lingkar kecil teman-teman di WhatsApp Group. Pizza yang saya buat saat itu merupakan sebuah penghormatan kepada Roberto, seorang pembuat pizza yang saya kenal ketika tinggal di Mt. Washington. Dari beliaulah saya pertama kali terinspirasi untuk belajar membuat pizza dengan sungguh-sungguh.

Pada 10 Agustus 2024, Papah saya —Pak Sudjarwadi— wafat. Sepeninggal beliau, saya mewarisi sebuah struktur bangunan yang belum jadi di Jalan Cindelaras I —bangunan yang sedianya akan beliau jadikan sebuah warung. Papah membayangkan tempat itu sebagai ruang berkumpul dengan kolega-kolega beliau, untuk berdiskusi di akhir pekan, berbagi gagasan, dan menjalin jejaring. Bagi beliau, warung bukan sekadar tempat berjualan makanan, melainkan wadah untuk pertukaran ide dan penciptaan pengetahuan. Konsepnya mirip seperti asal muasal angkringan dan warung kopi tradisional walaupun sebenarnya inspirasi Papah saya datang dari Ikujiro Nonaka.

Saya melanjutkan pembangunan struktur tersebut hingga menjadi warung seperti sekarang. Sebagian koleksi buku beliau saya kurasi dan menjadi sebuah pojok baca. Idealisme beliau saya teruskan: bahwa tempat ini hidup bukan hanya dari makanan yang disajikan, tetapi dari percakapan yang tumbuh di dalamnya. Menu Omaggio adalah menu eksperimental yang mewakili ruh co-creation of knowledge.

Penghormatan yang semula saya tujukan kepada Roberto, kini bertambah satu lapisan makna—sebagai penghormatan kepada Papah saya, pada nilai-nilai yang beliau hidupi, dan pada gagasan tentang ruang bersama yang bermakna.


You are more than welcome to be part of it.