Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, September 10, 2021

Monday, April 05, 2021

Mas Gembes

Minggu pagi kemarin, saya dan mas Riyanto "berburu" benih lele untuk mengisi kolam terpal yang sudah siap diisi. Dari info yang didapatkan mas Riyanto dari grup Facebook, ada peternak benih lele di Cangkringan, di dekat pasar ikan. Jadilah kami mobilan ke Cangkringan.

Lokasi peternak benih lele ini cukup mudah ditemukan karena tempat ini adalah tempat satu-satunya yang memiliki kolam-kolam bundar di daerah Cangkringan.

Kami turun dari mobil dan bertanya kepada bapak-bapak yang ada di situ apakah benar tempat ini jual benih lele. Bapak-bapak yang sedang ngaso dari pekerjaan membuat pagar itu kemudian berteriak,

"Mbeeess Gembeeess, ono sing nggoleki ki."

Mas Gembes tak lama kemudian muncul, "badhe tumbas pinten ewu Pak?" mau beli berapa ribu benih lele tanyanya.

Mas Riyanto menjawab bahwa kami mau lihat-lihat dulu kalo diperbolehkan. Mas Gembes lalu mempersilakan kami melihat deretan kolam yang bunder-bunder itu. Kurang lebih ada sekitar dua puluh empat kolam yang berdiameter kurang lebih 2 meter dengan kedalaman sekitar 1 meter. Ada kolam yang diisi tanaman mata ikan saja, namun kebanyakan kolam berisi benih lele yang berukuran antara 3-4 cm sampai ukuran 4-6 cm. Setiap kolam rata-rata berisi 4000 benih lele. Kalau seandainya ada 15 kolam saja yang terisi benih lele, totalnya tempat itu memelihara sekitar 60.000 benih lele. 

Mas Riyanto kemudian memuji Mas Gembes atas keterampilannya memijahkan dan memelihara ribuan benih lele. Belum lagi menurut pengamatan mas Riyanto, tidak ada kolam yang diperuntukkan untuk pembesaran lele. Artinya, ribuan benih lele itu selalu laris terjual.

Mas Gembes merendah dengan mengatakan bahwa peternakan bibit lele-nya ini hanyalah hobi saja.

Obrolan kemudian berlanjut sampai pada topik dimana mas Gembes menuturkan bahwa pengeluaran terbesar untuk pemeliharaan benih adalah untuk membeli cacing. Cacing ini sangat digemari benih-benih lele tersebut.

"Lha kok mboten damel ternak cacing piyambak Mas?" mas Riyanto bertanya kenapa mas Gembes tidak sekalian membuat peternakan cacing sendiri.

"Wah, impossible Mas," sahut mas Gembes. "rejekine sampun piyambak-piyambak." Mas Gembes berpendapat ternak cacing dan memijahkan lele itu tidak mungkin dilakukan bersama-sama karena rejeki orang itu sendiri-sendiri.

"Tiyang ingkang ternak cacing niku mboten bakal saged sukses mijah Mas," lanjut mas Gembes. Katanya orang yang beternak cacing tidak bakal sukses memijahkan lele. "Saestu niku. Mpun pengalaman kula." mas Gembes menambahkan bahwa pernyataannya itu tadi tidak becanda, serius, berdasarkan pengalamannya.

Saya terkesan. Memang rejeki orang itu sendiri sendiri, ndak perlu nggragas alias rakus, ndak perlu iren-kemiren alias iri dengan rejeki orang lain. Minggu pagi itu saya dan mas Riyanto mendapatkan pelajaran berharga dari seorang peternak lele yang sederhana di Cangkringan.

Saya kemudian membeli 400 benih lele berukuran 3-4 cm dari mas Gembes. Satu benih-nya dihargai Rp. 110 oleh mas Gembes.

Saya mengulurkan uang Rp. 50.000. "Pinten dadose niki mas?" saya bertanya berapa jadinya harganya.

Mas Gembes diam sejenak lalu berkata, "wah Pak, menawi mboten ngangge kalkulator niki angel tenan. Wes angel tenan pokoke." Mas Gembes kesulitan menghitung tanpa kalkulator.

Saya hampir kehilangan composure pengen ketawa tapi kok takut menyakiti perasaan karena jadinya tidak sopan. Saya bantu hitungkan dan memberitahu beliau kalau harganya jadi Rp. 44.000 saja. Tapi saya tidak mau kembalian, sisanya untuk tanaman mata ikan-nya saja. 

Saya dan mas Riyanto kemudian pulang dengan 400 benih lele, seplastik besar tanaman mata ikan, dan pelajaran kearifan dari mas Gembes. 

Tuesday, March 13, 2012

Kancil

Setelah selesai makan, Nana masih duduk di kursinya. Tumben. Biasanya langsung minta main. Kayaknya kekenyangan atau perutnya agak nggak enak, sesak, karena belum buang air besar. Sambil menunggu mood-nya balik, saya dongengin Nana. Awalnya Nana minta dibacain buku cerita, tapi saya insist kalo' saya bisa mendongeng tanpa buku cerita.

Walopun sebenernya saya juga bingung mau mendongeng apa, yang terlintas pertama langsung cerita Kancil Mencuri Timun. Kata Mama saya, waktu kecil saya memang sering didongengin cerita ini.

Jadilah saya bercerita...
***
Pada suatu ketika, ada seorang Pak Tani mengolah lahan. Dicangkulnya tanah itu dan ditanami benih timun. Setelah benih ditanam, Pak Tani rajin merawat tanamannya setiap hari. Lahan itu menjadi ladang timun yang rajin disirami setiap hari. Selama dua bulan...

#Nana nyela "satu.. dua.. udah." maksudnya cerita saya disuruh lanjut tanpa mendetailkan kejadian selama timun itu tumbuh.

Setelah dua bulan, timun-timun Pak Tani siap dipanen. Suatu sore, lewatlah si Kancil di ladang Pak Tani. Kebetulan Kancil sedang lapar. "Wah, ada timun-timun yang segar, makan ahhh..." Kancil makan beberapa buah timun Pak Tani.

Pagi harinya Pak Tani kaget. "D'oh, siapa ini yang makan timun-timun yang sudah kurawat dengan baik," tepok jidat. Tentu saja Pak Tani kesal. Kan sudah rajin merawat, e hasilnya dimakan sama orang tak dikenal.

#Nana nyela lagi, "so sad... ," katanya.

Keesokan harinya, Pak Tani terkejut lagi. "Kok tambah banyak ini timun yang hilang?!"

#Nana mulai cemberut karena berempati sama Pak Tani.

Kemudian Pak Tani bertekad menunggui ladangnya sampai sore. Dan singkat cerita si Kancil ketahuan sama Pak Tani ketika sedang menikmati timun-timun Pak Tani.

"Ooo... kamu to yang makan timun-timunku?"

Kancil berhenti makan. "Ooo... timun-timun itu punya Pak Tani to? Maaf Pak Tani, nggak tau... dan saya lapar Pak Tani."

"Makanya kalau ada ladang timun, jangan asal dimakan timunnya. Cari tahu dulu itu punya siapa. Terus datanglah ke pemiliknya, ketok pintu rumahku baik-baik trus bilang kalo' mau minta timun untuk makan." kata Pak Tani.

"Maaf Pak Tani, tidak akan saya ulangi lagi," kata Kancil. "Saya boleh minta timunnya lagi tidak besok Pak Tani?" tanya Kancil.

"Boleh saja asal kamu makan secukupnya, dan membantu aku merawat ladang timun ini," kata Pak Tani.

Sejak saat itu Kancil membantu Pak Tani membuat pupuk kompos dari campuran daun-daun kering dan kotorannya sendiri supaya ladang Pak Tani subur. Sebagai imbalannya, Kancil mendapatkan jatah timun yang cukup untuk makan setiap hari.

Selesai.
***
gambar diambil dari sini: http://stamps.livingat.org

Wednesday, February 23, 2011

Mister Kelinton

Alkisah seorang petugas kebersihan gedung Sekolah Sukamaju (bukan nama sebenarnya) ditugasi untuk membersihkan toilet oleh atasan barunya.

"Mister Kelinton, itu toiletnya tolong dibersihkan yang bersih ya!" perintah Romo Hageng.

"Siap Romo, saya bersihkan." jawab Mister Kelinton.

Tidak berapa lama, Romo Hageng menginspeksi hasil pekerjaan Mister Kelinton di toilet. Romo Hageng geleng-geleng kepala "bersih dari Hongkong," gerundelnya. Kemudian Romo Hageng mencari Mister Kelinton di pantry.

"Mister, itu toiletnya tolong dibersihkan. YANG BERSIH!" Romo Hageng memberi instruksi dengan mata agak mendelik.

"Siap Romo!" Mister Kelinton bergegas membersihkan toilet.

Ketika Romo Hageng menengok hasil pekerjaan Mister Kelinton, beliau belum puas dengan kondisi toilet yang masih berkerak dan baunya kurang sedap. Sekali lagi Romo Hageng mencari Mister Kelinton.

"Kelinton, nanti selesai jam kantor jangan langsung pulang. Tunggu saya."

"Siap Romo!" Mister Kelinton memberi hormat seperti sedang upacara bendera.

Selesai jam kantor Romo Hageng mengajak Mister Kelinton ke rumahnya.

"Lihat baik-baik toilet saya noh... itu yang namanya BERSIH!" tunjuk Romo Hageng.

Mister Kelinton manggut-manggut.

Keesokan harinya ketika Romo Hageng ke toilet sekolah, kondisinya sudah buersih kinclong dan harum. Gantian Romo Hageng yang manggut-manggut.

***
Pelajaran moralnya, terkadang apa yang kita bilang bersih belum tentu bersih bagi orang lain. Perbedaan pengetahuan menyebabkan perbedaan persepsi. Dalam komunikasi (dan pembelajaran), menjadi penting untuk meyakinkan bahwa ada kesamaan persepsi terhadap suatu konsep antara kita dan lawan bicara (murid).

*cerita diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi di UGM dan ditulis dengan gaya bercerita Prof. Umar Kayam (hope it works)

Monday, March 24, 2008

Mas Ngatiyar

Sore itu langitnya mendung. Riko yang sudah lama nggak mampir ke angkringan Lik Jumakir menepikan motornya untuk silaturahim dan sekedar makan ampela bakar serta minum jahe panas favoritnya.

"wah yang sudah jadi orang ... " sapa Lik Jumakir.

"bukannya dari dulu sudah orang ya mas," Riko membalas klise.

"ho oh kie .. mentang mentang sudah bekerja, trus jarang nongkrong," sambar seseorang.

"wee .. ada mas Ngatiyar juga to."

Rupanya Riko bertemu teman lama yang suka nongkrong di angkringan Lik Jumakir. Mas Ngatiyar namanya, seorang aktivis LSM yang sudah punya jam terbang tinggi.

"Ampela bakar sama jahe Lik, biasa ... " pesan Riko sambil mengambil tempat duduk favoritnya, di dekat tungku.

"Sekarang sibuk ngapain Ko?" tanya Mas Ngatiyar

"Biasa mas ... dari dulu juga kerjaannya main-main sama anak-anak SD."

"Hayah ndobos banget," cibir Mas Ngatiyar. "Kalo' sudah jarang nongkrong di angkringan ini berarti udah punya tempat tongkrongan lain. Ya to?" kejarnya.

"ho oh itu ... " Lik Jumakir ikut nimbrung sambil menyodorkan segelas jahe panas.

"Ya iya sih mas, tapi ya minatku sama pengembangan pendidikan sains untuk anak nggak berubah mas. Kayak sampeyan nggak tahu aku aja."

"Lha kok bisa betah banget dolanan sama anak-anak SD tu kamu ngapain aja to?"

"Ya bikin mainan-mainan sederhana yang bisa dimainin anak-anak SD di rumahnya. Ya masuk ke SD-SD, berbagi sama guru-guru sepuh yang sudah punya banyak pengalaman sekaligus belajar dari mereka. Seru lho mas."

"Lha iya .. tapi dolananmu tu contohnya kayak apa?" kejar Mas Ngatiyar.

Sambil mengambil ampelanya yang sudah dibakar dan dilumuri kecap, Riko meminta dua batang lilin ke Lik Jumakir.

"Contohnya ini ni mas," Riko menyalakan kedua lilin tadi. Sebuah lilin dalam posisi tegak dan lilin kedua dipegang di tangan kanan. Sembari tangan kirinya melindungi api lilin pertama supaya stabil, Riko mengatur letak lilin di tangannya sedemikian rupa sehingga api lilinnya membumbung ke atas dan menghilang. Apinya terbang!

"Wuehh!! Elok tenan!" seru Mas Ngatiyar. "Kok bisa gitu Ko?"

"Lha menurut Mas gimana bisa gitu?"

"Wah .. aku nggak ngerti sains Ko."

"Ini ceritanya panas api lilin yang di bawah mendorong uap parafin di lilin kedua sehingga parafin tidak terbakar di sumbu lilin tapi terbakar beberapa senti dari sumbu."

"Yang kayak gini ini yang kamu mainin sama anak-anak SD?"

"Ho oh." Riko menyeruput jahe panasnya. "Tapi yang pokok itu bukan mainannya mas, yang pokok adalah menanamkan sikap ilmiah ke anak-anak dengan menggunakan fenomena-fenomena sains di sekitar kita," lanjutnya.

"Maksude gimana itu?"

"Ya dengan permainan seperti ini kan kita bisa ngajak diskusi, tanya jawab. Jawaban tentang gimana sesuatu terjadi jangan langsung dikasih tapi kalo' bisa anaknya sendiri yang menyimpulkan. Namanya kalo' nggak salah 'socratic questioning'."

"Hmmm .. kayaknya aku dulu pernah dapet itu pas kuliah filsafat tapi udah lupa .. " gumam Mas Ngatiyar.

"Trus tugas guru dalam kacamata Maria Montessori pada dasarnya bukan sebagai sumber belajar tapi sekedar fasilitator. Tugas guru adalah menjadi pelayan yang mempersiapkan lingkungan belajar untuk murid-muridnya sehingga muridnya sendirilah yang nantinya belajar dari lingkungan yang telah disediakan itu. Kata Montessori lagi, kalo' proses itu dialami oleh murid yang bersangkutan maka anak itu akan terbuka jiwanya dan menjadi manusia baru."

"Wheeheheh .. elok elok. Berat iki ... " Mas Ngatiyar terkekeh.

Riko hanya menanggapinya dengan bahasa tubuh lalu memakan ampela bakarnya. Awan kelabu yang dari tadi menggelayut mulai turun dan menitikkan rinai hujan yang begitu lembut.

"Sudah dulu ya Lik, keburu hujannya deres," pamit Riko sambil membayarkan sejumlah uang.

"Aku juga Lik, sekalian aja. Nanti ndak kehujanan di jalan." Mas Ngatiyar ikutan.

"Kapan-kapan ngobrol lagi ya Ko," ujar Mas Ngatiyar.

"Ok deh .. tapi lain kali Mas Ngatiyar yang harus bagi-bagi ngelmu. Heheheh ... "

Dan senyuman pun menghiasi berakhirnya majlis ilmu kecil-kecilan di warung angkring tadi. Yang tidak mereka tahu, beberapa pasang malaikat mendoakan kebaikan atas mereka bertiga. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Arkhadi Pustaka

Plosokuning, 24 Maret 2008 pk1 dini hari

Terinspirasi obrolan dengan Mas Ngatiyar yang asli. Peace Mas :D

Tuesday, January 01, 2008

Hikayat Kumbati & Kumalit

Pada zaman dahulu kala di negeri dongeng, hiduplah sekawanan hewan yang disebut kumang-kumang. Hewan ini sejenis tupai dan tinggal di antara akar-akar pohon besar yang menonjol di tanah. Makanan sehari-hari kumang-kumang adalah jamur mentega dan beberapa jenis buah beri. Sebagian besar makanan kumang-kumang akan menghilang ketika musim kemarau tiba. Oleh karena itu, kumang-kumang memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan jamur mentega di musim penghujan sebagai persediaan makanan di musim kemarau. Buah beri akan cepat busuk, sedang jamur mentega cenderung lebih awet.
Pada suatu ketika di akhir musim penghujan, Kumaratungga, raja kumang-kumang yang bijak, mengumumkan bahwa musim kemarau depan akan menjadi musim kemarau panjang. Oleh karena itu, Kumaratungga memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk mencari jamur mentega sebanyak-banyaknya sebagai persiapan menghadapi paceklik panjang tersebut.
Kumbati dan Kumalit, dua ekor kumang-kumang yang hidup di pinggir sungai tidak mau ketinggalan untuk mencari jamur mentega sebanyak-banyaknya bersama kumang-kumang yang lain, Kumiola, Kumalinggis, Kumpret dan Kumatirus. Keenam kumang-kumang itu mencari jamur mentega sampai ke dalam Hutan Kumalindung yang lebat. Dalam pencarian jamur mentega itu keenam kumang-kumang terpisah-pisah. Kumiola dan Kumatirus memutuskan untuk mencari jamur mentega dengan menyusuri aliran sungai kecil yang membelah Hutan Kumalindung agar tidak tersesat. Kumpret dan Kumalinggis mencari jamur mentega di sepanjang jalan setapak Hutan Kumalindung, dengan tujuan yang sama; agar tidak tersesat. Sedang Kumbati dan Kumalit memutuskan untuk menerobos kegelapan Hutan Kumalindung dengan berbekal sebilah parang.
Kumbati dan Kumalit semakin jauh masuk ke dalam hutan, memangkas setiap ranting yang menghalangi jalan mereka dan mengamati dengan seksama keadaan di sekeliling mereka, apakah terdapat jamur mentega yang berwarna kuning. Jauh di dalam hutan, Kumbati menemukan sebuah gua. Mulut gua itu nyaris tertutup oleh lumut dan sulur-sulur tanaman rambat.
”Lit, lihat ke sini,” panggil Kumbati. ”Ada sebuah gua.”
”Mana?” Kumalit mendekat.
Kumbati menunjuk pintu gua itu dengan parangnya.
”Bolehlah kita coba telusuri gua itu.” usul Kumalit.
”Iya Lit, siapa tahu di dalam gua itu ada jamur mentega. Dari tadi kita belum menemukan jamur mentega.” Kumbati mengamini usul Kumalit.
Akhirnya kedua kumang-kumang itu memasuki gua berbekal obor yang mereka buat dari getah kayu api. Gua itu begitu gelap dan cukup panjang. Sesekali mereka harus setengah merayap di beberapa bagian gua yang menyempit. Badan mereka basah karena keringat yang bercampur lumpur gua. Pada bagian tertentu dari gua itu mereka berdua harus mengangkat obor tinggi-tinggi karena air menggenang setinggi leher mereka. Nafas mereka mulai pendek pendek, api obor juga meredup. Tanda bahwa kandungan oksigen di tempat itu menipis. Namun perjuangan mereka tidak sia-sia. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh air. Kedua kumang-kumang itu mempercepat langkahnya.
Di ujung gua itu terdapat ruangan yang cukup luas. Suara gemuruh air memenuhi ruangan. Mereka menemukan sungai bawah tanah yang cukup besar. Kumbati mengangkat obornya dan memeriksa sekeliling ruangan itu. Benda yang berwarna kuning berkilauan memantulkan cahaya obor mereka.
”Jamur mentega!!” seru kedua kumang-kumang itu hampir bersamaan.
Dinding gua itu dipenuhi oleh jamur mentega.
”Ini cukup untuk persediaan selama enam bulan lebih.” ujar Kumalit
”Iya, banyak sekali.” timpal Kumbati.
Segera mereka mengeluarkan karung besar dari anyaman pandan untuk mengambil jamur-jamur mentega itu. Kemudian dengan menyusuri bekas tebasan parang dan tanda yang telah mereka buat di pohon, Kumbati dan Kumalit berhasil keluar dari kegelapan Hutan Kumalindung. Mereka pulang dengan masing-masing membawa satu karung penuh jamur mentega. Di antara kawanan kumang-kumang, Kumbati dan Kumalit-lah yang memiliki simpanan jamur mentega yang paling banyak.
* * *
Enam bulan telah berlalu, namun tanda-tanda akan datangnya musim penghujan belum juga nampak. Sepertinya musim kemarau ini lebih panjang dari dugaan semua kumang-kumang. Seminggu kemudian, hampir semua kumang-kumang telah kehabisan persediaan makanannya kecuali Kumbati dan Kumalit yang masih memiliki beberapa potong jamur mentega. Beberapa kumang-kumang mulai memakan rumput yang masih cukup segar yang bisa mereka temukan di dalam hutan. Meskipun rasanya getir dan membuat perut mereka terasa mual, mereka tidak punya pilihan lain untuk bisa bertahan hidup. Namun sebagian besar kumang-kumang yang lain memilih untuk menghentikan semua aktivitas dan berdiam diri di rumah masing-masing untuk menghemat cadangan lemak dalam tubuh mereka. Demikian juga yang dilakukan oleh Kumbati dan Kumalit.
Pada suatu sore, Kumiola dan Kumpret berjalan tertatih-tatih melewati rumah Kumbati dan Kumalit yang saling berseberangan. Rupanya mereka berdua hendak menuju hutan untuk mencari rumput. Kumiola, kumang-kumang yang biasanya ceria dan bermain biola, tampak sangat lemah. Demikian juga dengan Kumpret, kumang-kumang pemain terompet, berjalan dengan menyeret kakinya. Keduanya saling menopang badan.
Kumalit melihat mereka berdua dari balik jendela. Namun, Kumalit diam saja, berbeda dengan Kumbati yang tinggal di seberang rumah Kumalit. Kumbati langsung keluar dari rumah, mengajak Kumiola dan Kumpret untuk mampir ke rumahnya untuk makan jamur mentega yang masih tersisa miliknya. Beberapa lama kemudian, Kumiola dan Kumpret keluar dari rumah Kumbati. Mereka berdua tampak lebih segar setelah makan jamur mentega. Kumbati mengantar mereka sampai halaman.
Begitu Kumiola dan Kumpret pergi cukup jauh, Kumalit menghampiri Kumbati.
”Apa kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan Bat?” tanya Kumalit.
”Apa maksudmu?” Kumbati tidak paham.
”Kamu mengundang mereka makan jamur mentega ke rumahmu. Apa kamu tidak takut kehabisan persediaan jamur mentega?” ujar Kumalit. ”Kita tidak tahu kapan musim kemarau akan berakhir.”
”Ah .. jangan terlalu egois Lit. Apakah kamu tega melihat teman-temanmu kelaparan sedang kamu sendiri masih memiliki beberapa potong jamur potong yang tersisa?” Kumbati gusar.
”Tapi jamur mentega itu kan jamur yang aku cari dengan susah payah. Aku berhak untuk menyimpan jamur itu untuk diriku sendiri.”
”Aku? Kamu lupa Lit, KITA yang menemukannya bersama-sama.”
”Yaa .. maksudku, kamu seharusnya juga tidak perlu membagi-bagikan jamur mentega hasil jerih payahmu.” jelas Kumalit. ”Kamu bodoh Bat!”
”Jika pandai adalah kata sifat untuk orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, maka aku memilih untuk menjadi bodoh Lit!” tangkis Kumbati. ”Lagipula, musim kemarau pasti akan berakhir Lit.”
”Yah .. terserah kamu Bat. Kamu memilih untuk kelaparan.”
”Aku memilih sesuatu yang memang seharusnya aku lakukan. Berbagi makanan dengan teman-teman lain yang membutuhkan.” ujar Kumbati tegas sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Kumalit tersenyum sinis. Di dalam rumah, Kumalit menghitung-hitung persediaan jamur mentega yang telah memudar warna kuningnya. ”Hmm .. ini masih cukup untuk beberapa minggu lagi.” ujar Kumalit pada dirinya sendiri.
* * *
Pada akhir bulan ketujuh musim kemarau, persediaan jamur mentega Kumbati telah habis. Sedang jamur-jamur mentega milik Kumalit mengalami perubahan warna. Jamur mentega yang tadinya berwarna kuning berubah menjadi putih dan timbul bercak-bercak kecil berwarna biru. Kumalit sehari-hari makan persediaan jamur mentega yang masih tersisa, sedang Kumbati mulai sering ke hutan bersama Kumiola dan Kumpret untuk mencari rumput hijau yang masih bisa dimakan.
”Sampai kapan ya musim kemarau ini berlangsung?” tanya Kumpret pada suatu hari saat mencari rumput bersama Kumbati di hutan.
”Tidak akan lama Pret .. tidak akan lama.” jawab Kumbati.
Rupanya Tuhan mengamini doa Kumbati. Tiga hari kemudian awan gelap menggantung di langit dan hujan tercurah dari langit. Seiring dengan datangnya hujan, jamur-jamur mentega bermunculan di tepian sungai. Semua kumang-kumang bersuka cita. Namun Kumalit tidak tampak bersama mereka.
”Apakah kamu melihat Kumalit Rus?” tanya Kumbati kepada Kumatirus yang sedang mencari jamur mentega di tepian sungai.
”Nggak tu Bat.” jawab Kumatirus dingin.
Kumbati memungut beberapa jamur mentega segar. Lalu bergegas ke rumah Kumalit.
* * *
”Halo ... Lit, apa kamu di rumah?” teriak Kumbati sambil mengetuk pintu rumah Kumalit.
Tidak ada jawaban.
”Halo ... Lit ... ,” Kumbati membuka pintu. Pintunya tidak dikunci. Dia mencium bau yang busuk dan menyengat. Kumbati terkejut ketika melihat Kumalit tergeletak di lantai. Segera Kumbati memeriksa keadaan Kumalit. Kumalit masih hidup, dia hanya pingsan. Kumbati bergegas mengambil akar kayu wangi di rumahnya untuk membangunkan Kumalit.
”Makanlah ini Lit,” ujar Kumbati menyodorkan jamur mentega segar saat Kumalit sadar. Dengan sangat lemah Kumalit berusaha menelan jamur yang diberikan Kumbati.
”Apa yang terjadi Lit?” tanya Kumbati saat Kumalit terlihat lebih baik.
”Sepertinya aku pingsan setelah memakan jamur mentega yang telah berubah warna Bat.”
Kumbati teringat bau menyengat yang diciumnya saat masuk ke rumah Kumalit. Kemudian dia mencari sumber bau itu. Ternyata bau itu berasal dari persediaan jamur mentega milik Kumalit yang kini telah berwarna biru. Rupanya setelah tujuh bulan dicabut dari tempatnya tumbuh, jamur mentega akan membusuk dan beracun.
”Rupanya kamu keracunan jamur mentega busuk Lit.” ujar Kumbati.
Kumalit mengangguk mengiyakan.
”Lain kali kamu tidak perlu menimbun jamur mentega Lit. Menimbun jamur mentega akhirnya malah akan mencelakakan dirimu sendiri.” nasehat Kumbati.
Kumalit diam saja.
”Sebaiknya persediaan jamur mentega dibagikan untuk teman-teman yang membutuhkan daripada dibiarkan membusuk seperti ini.” lanjut Kumbati. ”Toh musim penghujan pasti akan datang lagi Lit. Begitulah hukum alam yang berlaku.”
”Aku rasa kamu benar Bat. Maafkan aku kalau ucapanku dulu menyakitimu.” akhirnya Kumalit mengakui kesalahannya.
(It supposed to be an anonymous story)

Wednesday, September 26, 2007

Seberkas Cahaya

Pada suhu enam ribu kelvin aku terbentuk dari reaksi elektron dengan atom hidrogen yang membentuk hidrogen negatif. Sesaat kemudian aku meninggalkan tempat asalku yang berdenyut-denyut. Diiringi lambaian plasma, aku memasuki ruang tak bertepi. Melaju kencang dan menghirup kebebasan di bawah naungan bintang gemintang.

Terkadang aku melaju kencang ke depan tak terhalang, namun terkadang lintasanku agak melengkung akibat gravitasi yang begitu besar dan lebih sering lagi aku melaju zig-zag bila ada debu-debu bintang di depanku. Di dalam perjalananku ini, seringkali aku bertemu dengan teman-temanku yang berasal dari tempat yang jauh. Ada yang berkulit kemerahan, dari Antares. Ada yang tampak cerah, dari Sirius. Dan ada juga yang tempat tinggalnya tidak jauh dari tempatku berasal, Alfa Centauri.

Di awal perjalananku ini, aku tidak tahu di manakah akhir perjalananku. Aku hanya menikmatinya apa adanya. Melihat-lihat pemandangan indah di angkasa raya yang begitu luas.

Setelah enam menit perjalanan, sekilas aku melihat ada bola padat yang sangat besar berwarna abu-abu kecoklatan. Permukaannya penuh dengan kawah.

“Hmmm .. benda apa itu ya?” gumamku.

“Itu Venus,” tiba-tiba seorang teman yang melaju dari arah bola itu menyapa.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Aku baru saja mampir di atmosfernya,” katanya, “Ah .. sudah ya, aku harus segera pergi.” Tanpa bisa banyak bercakap-cakap dan memperkenalkan diri, temanku itu melaju pergi. Begitulah memang tradisi dari spesies kami.

Venus ... mungkin Kamu mengenalnya sebagai bintang fajar atau bintang kejora. Terkadang dia juga terlihat berjajar di sebelah Bulan di sore hari. Dan orang muslim biasa menggambarnya jadi satu sebagai Bulan-Bintang. Tapi kuberitahu sesuatu, Venus bukan bintang. Dia tidak bersinar. Venus hanya bercahaya. Itu karena beberapa dari kami senang untuk singgah sejenak ke sana, dan pergi lagi. Seperti temanku yang barusan.

Tak lama kemudian aku melihat bola yang lain tepat di depanku. Warnanya biru dengan saputan warna putih di sana sini. Indah sekali. Tidak ada benda langit lain yang seindah ini. Warnanya yang begitu berbeda membuatku ingin singgah ke tempat itu.

Atmosfernya cukup tebal dilapisi awan. Tenaga ultravioletku sebagian terserap oleh lapisan ozon saat memasuki stratosfer. Aku melemah. Jatuh tak terkendali ke tanah. Terpental lalu menabrak lapisan CO2 yang tebal di langit dan jatuh tak berdaya ke permukaan tanah lagi.

Hal terakhir yang kuingat adalah hamparan hijau yang sangat luas. Setelah itu sepertinya aku terperangkap dalam tilakoid dan berakhirlah kisah hidupku sebagai cahaya. Tahukah Kamu? Hidupku tidak lebih dari 9 menit! Sangat singkat bukan. Bandingkan saja dengan umurmu.

Pilihanku untuk mampir ke bola biru yang sangat indah, yang akhirnya aku tahu bernama Bumi, ternyata berujung pada kematianku. Padahal teman-temanku yang lain bisa berumur jutaan tahun. Temanku yang berasal dari galaksi Andromeda bisa memiliki usia sampai 2,36 juta tahun. Tapi aku tidak menyesali hidupku yang singkat ini. Malah aku bersyukur. Walaupun terkadang aku merindukan rumahku, Matahari. Kalau tidak memutuskan untuk mampir ke Bumi, mungkin aku tidak bisa berbicara denganmu saat ini.

Ya. Aku sedang berbicara denganmu.

Kamu heran bagaimana aku bisa berbicara denganmu? Saat terperangkap dalam tilakoid, bersama karbondioksida dan air, aku berubah bentuk menjadi glukosa yang tersimpan pada biji padi. Aku bisa berbicara denganmu karena sekarang aku berada di dalam aliran darahmu. Tidak ingatkah Kamu? Barusan aku berada di dalam nasi yang Kamu makan.

O ya .. aku hanya ingin mengatakan, aku begitu bersyukur bisa berada di dalam tubuhmu sekarang dan berkontribusi untuk kehidupan seorang anak manusia. Karena manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan Tuhan. Melayani manusia adalah sesuatu yang cukup berharga untuk ditukar oleh nyawaku. Setidaknya hidupku yang hanya kurang dari 9 menit itu bisa jadi berarti.

Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Arkhadi Pustaka,
Plosokuning 26 September 2007

Wednesday, August 01, 2007

Sebuah Kehilangan

Riko mengambil tempat duduk di sebelah tumpukan nasi kucing. Wajahnya kusut.
"Minum apa Mas?" Lik Jumakir menyapa.
"Es Teh aja Lik."
Mata Riko menerawang, agak berair. Sedih sekali tampaknya.
"Uhuk .. Uhuk .. Kok sedih banget ada apa Mas?" Pak Bejo, lelaki setengah baya yang kebetulan sering bertemu Riko di angkringan milik Lik Jumakir itu bertanya disertai suara batuknya yang khas.
"nGgak pa pa kok Pak." Riko mulanya mengelak untuk bercerita.
Pak Bejo dan Lik Jumakir paham. Tidak seperti biasa Riko dirundung duka sedalam itu. Mereka bertiga pun dibekap sunyi dalam remang-remang cahaya teplok. Langit tidak biasanya kelabu di musim kemarau seperti ini. Bulan separuh yang seharusnya menghiasi langit, hilang tertelan awan.
"Rempela atinya tolong dibakarkan satu Lik," pinta Riko.
Segera Lik Jumakir menyisihkan teko-teko air-nya untuk menyediakan tempat pembakaran.
"Saya nunut dibakarkan ini Lik." Pak Bejo, lelaki tua yang duduk di depan anglo itu mengambil dua tusuk sate kulit. Pak Bejo adalah tukang parkir yang biasa mangkal tidak jauh dari angkringan Lik Jumakir, tapi kalau pagi Pak Bejo juga nyambi jadi tukang sapu jalanan.
Tidak lama kemudian suara gemeripik bakaran sate mengisi kesenyapan di antara mereka.
* * *
Awan berarak perlahan. Matahari mengintip dari balik mega. Pucuk-pucuk daun bergoyang ditiup angin. Riko melangkah dengan sangat berat meninggalkan pusara Eyangnya yang masih basah bersama kerumunan takziyah yang beranjak pulang. Sejenak Riko menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang sekali lagi.
* * *

”Huufff ... ” Riko menghela nafas dalam-dalam.
”Saya barusan pulang dari pemakaman Eyang saya.” akhirnya Riko mau bercerita.
”Oo .. ndherek belasungkawa mas .. ” ujar Pak Bejo dan Lik Jumakir hampir berbarengan.
”Kepergian eyang saya itu mendadak sekali. Berat rasanya kehilangan seseorang seperti beliau.” Riko mencurahkan kesedihannya. ”Yaa .. walaupun sebenarnya saya nggak begitu dekat sama eyang saya, tapi tetap saja rasanya nyaris nggak percaya beliau dipanggil Gusti Allah begitu mendadak. Baru kemarin pagi masuk Rumah Sakit, malamnya sudah nggak ada.”
Lik Jumakir dan Pak Bejo cuma bisa mengangguk-angguk. Mereka sudah lama kenal dengan Riko dan seringkali bertukar cerita, namun baru kali ini Riko menumpahkan perasaan duka yang begitu mendalam kepada mereka.
Angin malam yang dingin berhembus. Lik Jumakir mengangkat bakaran satenya dari tungku, meletakkannya di atas piring-piring kecil dan melumurinya dengan kecap. Riko kemudian mengambil dua bungkus nasi kucing dan mulai makan. Pak Bejo hanya menggado dua tusuk sate kulitnya.
Sementara Riko masih sibuk dengan nasi sambel teri, Pak Bejo angkat bicara.
”Uhuk .. Saya bisa ngerti perasaan mas Riko. Tapi yang saya tahu, yang namanya ’kehilangan’ itu sebenernya ndak ada.”
”Maksudnya?” Riko agak terhenyak
”Lha kalau kita tidak memiliki kan ndak mungkin to kita kehilangan?” Pak Bejo malah balik bertanya.
Riko cuma manggut-manggut.
”Nah .. kita ini sebenernya ndak memiliki apa-apa di dunia Mas,” lanjut Pak Bejo.”Semuanya itu milik Allah to Mas?”
”Bener juga sih Pak. Tapi kalo’ orang yang dekat dengan kita meninggal dunia, tetep aja rasanya sedih banget Pak, manusiawi to Pak yang namanya kehilangan itu?”
”Iya Mas, saya juga pernah merasakannya kok. Dua dari tiga orang anak saya meninggal. Yang satu kecelakaan diserempet bis AKAP, yang satunya meninggal kena demam berdarah. Uhuk .. Trus ndak lama setelah itu istri saya juga nyusul. Kata dokternya kena liver. Tapi menurut saya, istri saya ndak kuat nanggung beban kehilangan dua anak kami itu Mas.” kenang Pak Bejo. Matanya berkaca-kaca. Raut wajah tuanya menyiratkan besarnya penderitaan yang dia alami selama ini.
Riko menggigit bibir. Perasaan yang campur aduk menyergapnya, tapi dia masih memikirkan apa yang dikatakan Pak Bejo barusan ’yang namanya ’kehilangan’ itu sebenernya nggak ada’.
”Mungkin itu sebabnya kalo’ kita kena musibah diperintahkan untuk bilang ’Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un’ ya,” Lik Jumakir menyimpulkan.
”Bener itu Lik,” Riko menanggapi.”Biar ’kehilangan’ itu rasa sakitnya nyata tapi sebenernya ’kehilangan’ itu nggak ada.” Riko menyeruput teh-nya sebelum kembali meneruskan.”Mungkin .. ’Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un’, itu artinya ’sebenarnya ’kehilangan’ cuma fatamorgana’.”
Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
* * *
Esok harinya, Riko bertolak ke Jakarta untuk mengisi sebuah pameran seminggu lamanya. Sepulang dari Jakarta, Riko mampir ke warung angkring Lik Jumakir.
”Mas Riko, seminggu ini tidak kelihatan kemana saja?” tanya Lik Jumakir
”Wah .. saya ada pameran di Jakarta Lik.”
”nJenengan sudah dengar belum? Dua hari yang lalu Pak Bejo meninggal dunia, kena TBC kronis. Mungkin karena terlalu sering kena debu jalanan.”
Riko tertegun.
”Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un ... ”
Arkhadi Pustaka,
Perpus FK–Plosokuning, 31 Juli 2007
teruntuk Alm. Eyang Soeprijadi (1930-2007)

Saturday, July 14, 2007

Dawai Kehidupan

Demi waktu fajar, ketika langit merekah merah dan dinginnya pagi membekukan embun di pucuk daun. Saat matahari menyapu daratan yang semula kelam dengan cahaya jingga keemasan. Kehidupan yang baru dimulai dalam perputaran waktu yang semu.

Rido terjebak dialektika dengan batinnya sendiri, parahnya, ditengah-tengah sebuah khotbah Jumat. Kebetulan siang itu Rido jumatan di Masjid Kampus UGM. Kata-kata yang dilontarkan oleh khatib pada awal khotbah mengaktivasi sinyal-sinyal elektronis dalam neuron-neuron otaknya ditambah buaian sepoi angin yang berhembus lembut membuat Rido termangu dalam lamunan.

Untuk apa kita hidup di dunia? Sebuah pertanyaan klasik memang. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini, pastinya, telah ditentukan baginya serangkaian program kehidupan yang teramat kompleks dengan milyaran paket percabangan—IF THEN ELSE dan paket perulangan—WHILE DO. Segala keputusan dalam setiap percabangan dan juga stagnasi dalam keseharian akan membawa kehidupan seseorang ke ujung yang sama sekali tidak dapat ditebak. Hidup ini adalah fungsi integral dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Dan setiap pilihan yang kita ambil saat ini memiliki konsekuensi post-historis, menentukan ke ujung mana kita akan sampai.

”Untuk apa aku dikirim ke dunia ini?” tanya Rido dalam hati.

” ... misi hidup manusia ada dua. Misi kehambaan dan misi kekhalifahan ... ” suara khatib yang tadinya memudar, kembali terdengar jelas. Namun tidak lama kemudian ketika Rido kembali tenggelam dalam lamunannya, suara sang khatib menghablur digantikan oleh suara kosmis yang sunyi.

”Ugh ... ,” rintih Rido tertahan. Misi kekhalifahan. Frasa ini menusuk ulu hatinya. Mengingatkan sebuah kejadian yang ia alami belum lama ini. Sebuah kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah satu noktah kecil.”Manusia hanyalah debu bintang yang berjalan, atau lebih tepatnya, sampah supernova,” ungkap seorang pengamat supernova, Saul Perlmutter.

Beberapa waktu sebelumnya, Rido mengantar kakaknya ke Rumah Sakit. Sudah hampir satu minggu kakaknya menderita pilek berat tanpa tanda-tanda akan sembuh. Dan saat Rido berusaha mengusir rasa bosan menunggu antrian dengan membaca buku ”The Hidden Connection” milik Fritjof Capra, sebuah nuansa kontras yang gelap dan dingin menyergapnya. Di buku itu, Capra sedang berceramah mengenai organisme seluler, bioteknologi modern, neo-kapitalisme, eco-design dan ide-ide global lain. Sedangkan di sekeliling Rido duduk ”orang-orang kecil” yang entah menderita penyakit apa, dari sekedar kotoran telinga bandel yang tidak mau dibersihkan sampai tumor tenggorokan yang menyebabkan leher penderita harus dilubangi untuk jalan udara, menunggu dipanggil dan diperiksa dokter sambil berharap biaya pengobatan mereka tidak terlalu mahal. Rido dapat merasakan bahwa apa yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya mereka segera terlepas dari ketidaknyamanan yang mereka derita. Persetan dengan neo-kapitalisme. Banyak orang yang sedang menderita, namun Rido tidak dapat melakukan apa-apa. Dia bukan siapa-siapa di sana, hanya seseorang yang sehat yang tidak mampu melakukan tindakan apa pun untuk meringankan beban orang-orang di sekitarnya.

Misi kekhalifahan. ”Apa yang bisa aku perbuat? Aku hanya sebutir debu bintang ... ”

Saat itu, rasanya, air mata Rido mau tumpah, dicengkeram perasaan invalid yang akut, diselimuti ketidakberdayaan. Terduduk di tepi ruang yang begitu gelap dalam ruang maya. Suara kosmis yang tadi sunyi berubah menjadi desis rintih dari dalam kalbu orang-orang sakit yang memohon pertolongan.

”Innal hamdaliLlah ... ” suara khatib tiba-tiba menyadarkan Rido dari lamunannya. Rupanya sudah masuk khotbah yang kedua.

Rido memalingkan wajah ke luar masjid. Dilihatnya atap gedung sayap masjid yang berwarna merah berkilauan tertimpa cahaya matahari. Deretan pohon palem melambai-lambaikan daunnya seakan-akan ikut berdzikir. Lalu pandangan Rido tertumbuk pada seorang bapak tua yang duduk simpuh bersandar pada tiang di tepi masjid. Bajunya sederhana saja, hanya selembar kaos. Mungkin bapak ini seorang pedagang minuman dingin yang seringkali bisa ditemui di Boulevard UGM, atau seorang tenaga kebersihan, tukang kebun atau mungkin sekedar penjual sapu ijuk yang berkelana sedemikian jauh, keluar masuk kampung dan perumahan. Mukanya penuh kerutan dan rambutnya sebagian besar sudah beruban. Namun yang istimewa adalah cahaya wajahnya. Matanya tidak sedikitpun berpaling dari mimbar tempat khatib berkhutbah. Setiap ayat yang dibacakan dan setiap nasehat dari sang khatib seperti oase yang menyejukkan, yang membasuh wajah bapak ini, wajah yang penuh kerinduan terhadap Tuhannya.

Meski Rido belum menemukan jawaban dari pertanyaan untuk apa dia dikirim ke dunia, Rido telah menemukan sesuatu dari bapak tua itu. Sesuatu yang sama yang dia lihat dari kepolosan ekspresi seorang balita yang dia jumpai ketika dia terbekap rasa ketidakberdayaan yang akut di Rumah Sakit beberapa waktu lalu. Cahaya wajah yang menuntunnya keluar dari ruang maya yang gelap. Senyum tulus seorang balita dan binar mata yang bagi Rido bermakna satu hal: kepasrahan dinamis dalam hidup.

”Allahumaghfir lil mu`miniina wal mu`minaat ... ” sang khatib melantunkan doa yang menutup khutbah.

Duhai Tuhan kami yang Maha Luas Ampunan-Nya, ampunkan hamba-Mu ini atas ketidakmampuan diri mengemban misi kekhalifahan, sebagai manusia. Tanpa izin-Mu dan kuasa-Mu, yaa Allah .. maka mustahil hamba-Mu yang kecil dan tak berdaya ini mensyukuri anugerah yang telah Engkau berikan.

Rido menegakkan punggung, mengangkat kedua tangan, menghela nafas dalam-dalam, berdoa, memasrahkan kehidupannya di tangan Sang Pencipta. ”Tangan Tuhan yang akan menuntun kemana kaki ini akan melangkah ... hidupku hanyalah seutas dawai kecapi, biarlah dawai itu dipetik oleh jari-jari-Nya.” Dari luar masjid terdengar suara garengpung yang berderik-derik, bersahut-sahutan. Tanda musim segera berganti, musim kemarau menjelang.

Tak lama kemudian suara lembut ustadz Muhammad Nur mengalun lembut pada raka`at pertama. ” ... yaa ayyatuhannafsul muthma`innah, irji’ii ilaa rabbiki radliyatam mardliyyah ... .” Begitu merdunya sehingga suara itu seakan-akan mengirim Rido melayang dalam sebuah ruangan yang sangat terang, menuju Tuhan.

* * *

Untuk apa kita hidup di dunia? Itu memang bukan sebuah pertanyaan yang bisa dijawab dengan instan. Sebuah pertanyaan yang terkadang menenggelamkan seseorang ke dalam palung ketidakberdayaan yang sangat dalam, namun bukan untuk membuat perjalanan hidup terhenti pada titik itu. Pertanyaan ini hanya sekedar untuk mengingatkan bahwa kehidupan sejatinya seperti matahari dan benda-benda langit yang lain yang diperjalankan. Terbit di pagi hari dan tenggelam di kala senja. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Plosokuning-Wates, 12−14 Juli 2007

P.S.: Pelajaran moralnya 1) Jangan baca buku ”berat” di tengah-tengah keramaian, 2) Kebanyakan orang melamun saat khatib sedang berkhutbah.

Tuesday, April 24, 2007

Kang Gangsar

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal masih menggantung di langit. Sayup-sayup suara rinai hujan menemani Kang Gangsar yang sedang membersihkan genangan air akibat tampias hujan di lorong Kantor Tata Usaha. Baru saja hujan deras turun, dan seperti biasa sebagai seorang Cleaning Service, Kang Gangsar selalu sigap membersihkan air yang berhasil menerobos masuk agar tidak ada orang yang terpeleset.

Dengan perlahan Kang Gangsar mengayunkan pel-nya sambil melamun. Anak sulungnya sebentar lagi menempuh Ujian Nasional dan dia masih menunggak SPP beberapa bulan. Hal ini membuatnya gundah bukan main. Entah darimana dia bisa mendapatkan uang tambahan untuk membayar tunggakan itu.

Dukk .. gagang pel-nya menabrak kaki seseorang.

“Aduh .. maaf Mas, saya ngalamun sih”

“Oh, nGgak pa pa Pak,” orang itu tersenyum. Orang ini masih muda, lelaki di pertengahan duapuluhan, baru saja selesai mengambil gelar kesarjanaan. Riko namanya.

Riko terdampar di Kantor Tata Usaha itu untuk melihat-lihat lowongan guru bantu. Meski latar belakang pendidikannya bukan Ilmu Pendidikan, tapi gelar S.Si cukuplah untuk bekal dia mengunduh cita-citanya: menjadi guru.

Riko menggeser tempat berdirinya dan meneruskan mencermati papan-papan pengumuman untuk mencari lowongan yang diinginkannya. Sementara itu Kang Gangsar meneruskan pekerjaannya dan masih saja dihantui tunggakan SPP itu.

[beberapa hari kemudian … ]

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal menggantung di langit selatan. Riko mengambil tempat duduk disamping seorang bapak tua, umurnya sekitar 50-an tahun.

“Es teh satu mas … “ pinta Riko.

“Injih mas,” sahut penjual angkring

“Lik Jumakir yang biasa jaga kemana mas?” tanya Riko.

“Oo .. teman saya itu baru ada sambatan di rumahnya, Pandansimo sana.” kata si penjual angkring sambil mengaduk gula di gelas Riko.

“nJenengan baru di sini ya Lik?”

“Iya Mas, saya nggantiin Jumakir. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan.”

“Kayaknya kita pernah ketemu ya Lik?” Riko mengamati penjual angkring itu dalam keremangan cahaya lampu teplok.

“Wah dimana ya Mas? Saya ndak inget je.” penjual angkring itu garuk-garuk kepala. “Saya sehari-hari cuma tenaga kebersihan di UNY Mas.”

“Ah iya! Berarti saya pernah lihat sampeyan di sana Lik.”

“Monggo Mas,” penjual angkring itu menyodorkan segelas es teh.

“Saya Riko Lik, langganannya Lik Jumakir.” Riko memperkenalkan diri.

“Saya Gangsar, temannya Jumakir.” balas penjual angkring itu sambil tersenyum.

Setelah menyeruput es teh-nya, Riko mangambil dua bungkus nasi kucing sambel teri dan sebuah ndhas-ndhasan ayam. Sementara Kang Gangsar menambahkan sejumlah arang ke tungku perapian.

“nJenengan ngasta dimana Mas?” tanya Kang Gangsar setelah Riko selesai menyantap nasi kucingnya.

“Wah, saya pengangguran Lik. Baru lulus kemarin. Lagi nyari-nyari kerja.” ujar Riko setelah meminum seteguk teh. “Pengennya sih jadi guru Lik. Bekerja sama anak-anak, berproses bareng mereka. Jadi guru itu cita-cita saya.” Riko menerawang ke dalam api tungku yang berwarna kuning kemerahan. “Tapi tergantung Gusti Allah maringi jalannya seperti apa. Kalo’ dapetnya kerjaan lain ya saya jalani dulu. Ning ya itu tadi, pengennya kalo’ bisa jadi guru. Guru SD.”

“Bagus itu Mas.” timpal Kang Gangsar. “Kalo’ orang kecil seperti saya ini ndak punya cita-cita. Saya dulu sempet jadi tukang bangunan, jualan mie keliling, trus diajak teman kerja jadi klining serpis sampai sekarang, trus nyambi bakul angkring buat nambah penghasilan, nyukupi biaya anak sekolah.” Kang Gangsar merapikan susunan bungkusan nasi kucing-nya.”Buat saya yang penting anak istri bisa makan, dan anak bisa terus sekolah setinggi-tingginya, biar nggak kayak bapaknya yang cuma sampe kelas tiga SD.”

“Lha itu namanya juga cita-cita Lik.”

“Tapi rak beda sama sampeyan Mas.”

“Yaa .. orang kan beda-beda Lik.” ujar Riko klise.

“Kalo’ orang tua seperti saya ini udah ndak punya cita-cita alias keinginan apa-apa … kecuali satu,” Bapak Tua disamping Riko yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.”sudah lima puluh tahun lebih saya hidup, akhirnya saya sadar kalo’ sebenernya orang itu pada akhirnya ya cuma nyari ketenangan hidup. Tentreming ati, tentreming urip. Yen atine tentrem wis alhamduliLlah …”

Riko dan Kang Gangsar manggut-manggut.

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Hujan mulai turun. Angin dingin menerobos masuk ke dalam warung angkring itu. Namun kehangatan dari api tungku yang menyala-nyala indah memberi kehangatan yang menentramkan. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Arkhadi Pustaka
Plosokuning-Sekip-Kadipaten, 24 April 2007

[teruntuk istriku dan almarhumah Ibunda sahabat terbaiknya, Aulia]

Tuesday, February 20, 2007

Kearifan Biasa

Hujan turun rintik-rintik. Riko sedang melahap nasi kucing dengan sambel teri di sebuah warung angkring dekat Rumah Sakit Panti Rapih. Jalanan agak lengang. Maklumlah, kalau lagi hujan biasanya orang-orang memilih untuk berdiam diri di rumah. Riko sendiri memilih ke warung angkring karena memang sejak siang belum makan. Angkringan buat anak kos seperti dia adalah tempat yang paling terjangkau kocek untuk mendapatkan makan dan kehangatan dengan berdiang di dekat bara arang angkringan yang selalu menyala dan sesekali mengeluarkan suara “plethak”.

Saat Riko mencomot sebuah tahu susur, seorang bapak tua datang. Jadilah mereka bertiga di bawah tenda angkring itu. Di bawah penerangan lampu teplok yang remang-remang Riko melihat gurat-gurat kepenatan di wajah si Bapak.

“Minumnya apa Pak?” tanya penjual angkring kepada si Bapak.

“Kopi panas mawon Mas,” ujar si Bapak sambil mengambil 2 bungkus nasi.

Beberapa saat setelah itu waktu berlalu dalam diam sampai si Bapak selesai makan, begitu juga Riko.

“Rokok setunggal Mas,”

“Monggo Pak,” penjual angkring itu mengambil sebuah toples yang berisi berbagai macam rokok dan menyodorkannya pada si Bapak.

Hujan masih turun rintik-rintik. Hujan yang seperti ini biasanya awet. Sesekali cahaya lampu mobil yang lewat memberi penerangan lebih ke dalam warung itu.

“Bapak dari mana Pak?” tanya Riko memecah suasana.

“Oh, saya dari Rumah Sakit situ .. nemenin kakak saya yang lagi sakit.”

“Kakaknya sakit apa Pak?”

“Batu ginjal Dik.”

Si Bapak menyeruput kopinya.

“Kemaren sempet di laser tapi batu ginjalnya nGgak mau hancur. Jadinya sekarang di operasi. Udah dua minggu kakak saya dirawat di sini. Lha di tempat saya fasilitas Rumah Sakit-nya kurang memadai, jadi kakak saya dirujuk ke Jogja.”

“Oo.” Riko manggut-manggut. “Bapak aslinya mana to?”

“Gombong Dik.”

“Batu ginjalnya itu udah gede lho Dik. Segedhe ini.” lanjut Bapak itu sambil menunjukkan batu akik di jari manis tangan kanannya.”eh, lebih panjang sedikit dari ini.”

“wah, udah gedhe banget ya Pak.”

“Iya. Sebenernya kakak saya itu sakitnya udah lama tapi nGgak mau diperiksa. Katanya takut penyakitnya ketahuan semua. Lha terus kemarin itu tiap bangun tidur nGgak bisa langsung bangun. Pinggangnya sakit banget katanya. Akhirnya diperiksakan di Gombong sana, ketahuan kalo’ punya batu ginjal yang udah terlanjur gedhe.”

“Gara-gara minum air ledeng itu lho Dik.” sambung si Bapak lagi.”makanya ati-ati sekarang kalo’ minum air.”

“Iya ya. Banyak kaporitnya sih.”

“Usia kakak Bapak berapa to?” kejar Riko.

“Dia sudah enam puluh satu Dik. Saya lima puluh sembilan.”

“Lha kalo’ kakak saya sakit begitu yang repot jadi saya. Dia itu perjoko tuwo. nGgak punya istri. Saudara yang lain nGgak mau ngurusin. Saya juga sebenernya dimarahin istri saya, katanya kok yang ngurusin saya terus.”

“Tapi ya gimana ya Dik, lha dia itu kakak saya je.” getar-getar kesedihan terdengar jelas dalam setiap katanya.”Saya sudah di sini dua minggu nGgak balik ke Gombong. Pusing saya mikirin pekerjaan yang saya tinggal juga.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Sesekali langit diterangi cahaya kilat. Bapak itu menghisap rokoknya dalam-dalam. Pahit benar rasanya hidup. Garis-garis kelelahan di wajah tua Bapak yang kurus itu sampai mampu menceritakan bagaimana berat perjalanan hidupnya.

“Bapak ngasta dimana Pak?” sela penjual angkring yang sejak tadi diam.

“Saya di PU Mas.”

Sejenak si Bapak kembali menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskan seakan melepas segala beban hidupnya. Sampai-sampai suara hembusan nafasnya terdengar jelas.

“Lha sampeyan udah punya istri belum?" si Bapak balik bertanya kepada penjual angkring. “Kalo’ belum punya istri, gek cepet cari istri. Nanti keburu jadi perjoko tuwo seperti kakak saya itu. Kalo’ sakit nggak ada yang ngopeni nanti, ngrepoti saudara-saudaranya .. ha ha hah,” kelakar si Bapak sambil menepuk pundak penjual angkring.

Penjual angkring yang masih muda itu cuma tersipu-sipu saja.

“Belum berani nikah Pak, hasil dari jualan angkring begini belum seberapa. Takut nGgak bisa menafkahi istri saya nanti,” kata penjual angkring merendah.

“Halaahh … urip, jodho, rejeki itu yang ngatur Gusti Allah Mas,” ujar si Bapak klise, “ndak usah takut. Kalo sampeyan tawakkal, mewakilkan urusan-urusan sampeyan sama Gusti Allah, wis mesti beres.”

Sebuah mobil melintas. Cahaya lampunya menelusup ke dalam warung angkring itu. Bara arang di tungku mengeluarkan suara “plethak” dan mendadak si Bapak tertegun karena kata-katanya sendiri. Pelan-pelan garis penat di wajah si Bapak memudar. Hisapan rokoknya juga sudah tidak sedalam tadi. Ringan.

Tak lama kemudian Bapak itu berdiri dan membayarkan sejumlah uang.

“Saya mau balik ke Rumah Sakit dulu ya Dik. Permisi,” pamit si Bapak sambil tersenyum.

“Ndherekaken Pak. Semoga kakaknya lekas sembuh.” ujar Riko.

“Oh ya, Terimakasih.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Namun langit malam tak lagi terlihat kelabu. Sebentar lagi pasti akan mereda. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Minomartani,
20 Februari 2007, 06.27 WIB

Sunday, November 12, 2006

Iedul Fitri

Sebuah Corona Hitam meluncur kencang. Fitri terbaring di pangkuan Ibu di jok belakang. Kondisinya sangat lemah.

"Pak, nGgak usah ngebut ... bahaya !" kata Ibu.

"Kalau kelamaan di perjalanan nanti Fitri tambah parah Bu."

"Iya sih, tapi khan di jalanan rame begini bahaya kalo' ngebut." sahut Ibu lagi.

"Sudahlah Bu ... ," Fitri menyela lemah "Percaya saja sama Bapak." ujarnya sambil tersenyum. Semua terdiam ... senyap menyergap di tengah keramaian jalan Jogja-Semarang untuk beberapa saat.

* * *


[ beberapa jam sebelumnya ... ]

Shalat Ied di halaman Masjid At-Takwa baru saja usai. Fitri berjalan tergesa menuju rumah sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia sangat kesakitan.

"Assalamu'alaykum" salam Fitri saat masuk rumah. Orang pertama yang dicarinya adalah ibu. Setelah sungkem di hadapan ibu dan bapak, sambil masih memegangi perutnya Fitri langsung menuju kamar tidur.

"Aduu...uuhhh ... , sakit sekali ... " Fitri tergeletak di tempat tidur, kesakitan.

"Kenapa Dek ? Sakit perut ya ?" Ibu bertanya khawatir

"nGgak tahu nih, tapi perutku rasanya sakit banget."

"Wah badanmu juga panas banget begini !" ujar Ibu sambil memegang dahi Fitri

"Bisa-bisa gejala tifus, lagi musim loh" kata Bapak "kamu istirahat aja yach."

Fitri mengangguk lemah.

Fitri adikku satu-satunya. Dia lahir saat aku berumur 5 tahun. Dan setelah itu Ibu nGgak ngasih aku adik lagi. Anaknya aktif banget ... hiperaktif mungkin (;p). Sampe sekarang pun dia masih aktif banget di kampusnya. Entah berapa organisasi dia coba masuki. Setiap ditanya, katanya pengen cari pengalaman aja. Saking aktifnya kadang-kadang capek pun nggak dirasain. Yaa.. jadinya sakit parah kaya' gitu. Baru tau rasa kalo' sakitnya pas hari raya begini :)

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Gelombang tamu yang bersilaturahmi ke rumah udah abis. Kalo' udah begini biasanya kami sekeluarga siap-siap mudik ke rumah Eyang di Demak. Fitri masih saja terbaring lemah di pembaringan, bahkan nggak kuat nemuin tamu-tamu yang tadi dateng.

"Gimana dek ? Udah baikan ?" tanya Ibu.

"Belum nih Bu, masih sakit banget."

"Trus gimana dong ? Jadi ke rumah Eyang nGgak ?"

Fitri diam.

"Atau Fitri berani ditinggal sendirian di rumah ? Tapi Ibu nGgak tega ninggalin Fitri sakit sendirian." kata Ibu penuh kasih sayang. Fitri masih diam saja. "Kalo' gitu kita sekeluarga Lebaran ini nGgak usah ke rumah Eyang aja ya ? Fitri kan lagi sakit. Nanti kalo' dipaksakan malah tambah parah." lanjut Ibu.

Detak-detak jarum jam mengisi kesunyian. Muka Fitri pucat, tatapannya kosong.

"Gimana Fit ?" Ibu kembali bertanya

"Mmmm ... " Fitri diam sejenak sebelum kembali berujar, "Kita ke rumah Eyang sekarang."

"nGgak usah dipaksain Fit. nTar kamu tambah parah lagi."

"nGgak !! Pokoknya Fitri mau ke rumah Eyang."

"Tapi ... "

"Fitri jarang banget ketemu Eyang. Kalo' udah di kampus pasti nGgak bisa mudik ke rumah Eyang. Fitri pengen ketemu Eyang ... ."

Ibu terdiam bimbang

"Please ... Fitri mohon bu ... nGgak pa pa ya ? Fitri pengen ke rumah Eyang."

"Fitri ... kenapa nekat maksain mudik ke rumah Eyang ?"

" ... ," sejenak ia tercekat, " Karena ... ini Iedul Fitri." seru Fitri pelan.

" ... karena ini Iedul Fitri ... "

Ya ... Iedul Fitri. Hari Kemenangan ! Kebahagiaan Iedul Fitri sudah menunggu Fitri sekeluarga di kampung halaman. Keharuan saat bertemu sanak keluarga yang dicintai, gelak tawa riang anak-anak, cerita-cerita pengalaman hidup saudara-saudara yang ada di rantau dan semua keindahan Iedul Fitri menyambut kita semua yang mengharapkan kasih sayang Allah.

* * *


Fitri masih terbaring lemah di kehangatan pangkuan Ibu dalam perjalanan menuju rumah Eyang. Matanya memandang jok depan disamping Bapak yang kosong. Matanya berair dan tak lama berlinang air mata. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin Fitri menangis bahagia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Mungkin Fitri menangis karena bersyukur mendapatkan anugerah dari Allah berupa sakit yang didapatnya saat Hari Raya Iedul Fitri, yang membuat Iedul Fitri kali ini terasa sangat indah. Atau mungkin ... Fitri menangis karena merindukan aku, kakaknya ??? Yach .. kalo' aku masih hidup, aku pasti duduk di jok yang kosong di depan itu dan merasakan indahnya Iedul Fitri ini bersama mereka.

-was written in 3 Syawwal 1423 H (7 November 2002)

Sunday, October 01, 2006

Joni

20 Agustus 2006

Aku dan adikku baru aja turun dari Shopping Center lantai dua bawa 2 tumpuk kitab tafsir.

"Mas, jadi beli sate nggak?"

"Jadi deh. Dek yang beli ya. Aku nunggu di kursi itu." kataku sambil menunjuk kursi taman berwarna hitam.

Aku kemudian membawa kedua tumpukan besar buku itu ke kursi taman dan duduk menunggu adikku beli sate di dekat pintu masuk Taman Pintar. Aku baru sadar kalo' ada seorang anak kecil yang endut dan item, rambutnya jabrik (kayak aku banget) dan nggak pake sandal duduk sendirian di kursi yang sama.

Entah kenapa aku tau-tau tanya ke anak kecil itu. "Udah masuk Taman Pintar dik?" tanyaku sok ramah.

Anak itu cuma mengangguk.

"Kok sendirian?"

"Mmau Ppulang ttapi mmama nGgak adaaa ..." tangisnya pecah.

"Ooo .." aku masygul "Ntar habis adik Om selesai beli sate, kamu aku anter ke bagian informasi deh. Biar nanti diumumin pake pengeras suara." Aku jadi ingat kejadian pas dulu aku kehilangan mama-ku di Dufan. Anak itu mengangguk lemah. Airmatanya mengalir. Orang yang berlalu lalang tampak tidak memperhatikan. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

"Nama kamu siapa?" aku berusaha menenangkan anak itu.

"Joni."

"Zeni?" aku agak nggak jelas menangkap ucapannya

"Joni."

"Jeni?"

"Joni!!" anak kecil itu agak berteriak.

"Ooo ... Jhonny ..." aku tampak sangat blo'on. Si Joni tersenyum kecil.

"Rumahnya mana?"

"Sana." kata Joni sambil menunjuk arah nggak jelas Aku agak kebingungan juga menghadapi anak kecil yang kehilangan induknya seperti ini (emang ayam!?)

"Sekolahnya dimana?"

"Kanisius."

"Kanisius kan banyak. Kanisius yang mana?" aku cuma mBatin. Soalnya kalo' aku terusin pertanyaanku nanti si Joni malah tambah bingung.

"Sekolahnya deket rumah?"

"Ho-oh" dia manthuk-manthuk.

Aku udah hampir kehabisan pertanyaan. Untung adikku datang. Aku ceritain kejadiannya. Lalu kami mengantarnya ke Kantor Taman Pintar. Beberapa minggu sebelumnya aku pernah blusukan ke Taman Pintar bareng anak-anak hiddenleaf, sampe diteriakin penjaganya pake megaphon segala gara-gara naek-naek ke atep gedung. Jadi nggak susah cari orang yang bertanggungjawab atas anak hilang di Taman Pintar.

Setelah kami mempasrahkan si Joni ke bagian informasi dan meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja di sana, kami pulang.

Aku berharap Joni sudah bertemu mama-nya saat ini.


* * *

"Tadi dianter ke sini sama siapa Jon?"

"nGgak tau ..."

* * *

Alhamdu liLlah ... Segala puji hanyalah untuk-Mu, yaa Allah.

Tuesday, September 05, 2006

Kacang Godhog Di Bawah Rintik Hujan

Burung-burung gereja terbang rendah dengan sayap yang basah. Langit tertutup awan hitam dan air hujan seperti ditumpahkan dari langit. Sebuah motor Astrea hitam dipacu kencang sepanjang bulak[1]. “Sial ! Aku nggak bawa jas hujan!” umpat Tejo, pengendara Astrea itu. Sambil mendekap stofmap folio yang tak luput dari guyuran air hujan, Tejo terus saja memacu Astrea-nya sambil mencari tempat untuk berteduh. Untunglah beberapa puluh meter di depan ada sebuah kios terbuka. Tejo menepi dan berteduh di bawah kios yang tak terpakai itu. Di dalam kios ternyata juga ada seorang penjual dengan segerobak kacang rebus.

“Permisi Pak, numpang berteduh ya?” ujar Tejo.

“Oh .. silakan Nakmas[2], saya juga cuma numpang berteduh kok.” balas penjual kacang itu dengan senyuman.

Hujan semakin bertambah deras. Tejo menunggu hujan mereda dengan gelisah. Hari ini adalah batas pengumpulan terakhir Lomba Cerpen Remaja yang akan diikuti Tejo. Siang ini sewaktu Tejo hendak mendaftarkan diri, pas foto 3x4 yang menjadi syarat pendaftaran tercecer entah di mana. Untunglah Tejo masih menyimpan cadangannya di rumah. Jadi langsung saja Tejo tancap gas, pulang untuk mengambil pas foto cadangan. Tapi apesnya, sekitar 3 kilo dari rumahnya, di daerah bulak Desa Panjangrejo, hujan deras mengguyur. Dus, stofmap folio yang berisi naskah cerpen Tejo ikut basah dan tinta printernya mblobor[3] kemana-mana. Mau balik ke rumah tanggung, mau terus ke tempat pendaftaran juga nggak bisa.

Tejo masih saja merutuk-rutuk kesialan yang menimpa dirinya siang itu sambil menggigil kedinginan. “Hujan sialan!” umpatnya dalam hati. Mukanya ditekuk, bibirnya dimonyongkan tapi giginya bergemeletuk karena kedinginan.

“Nakmas mau mengicipi kacang rebus saya po?” Tiba-tiba penjual kacang itu menawari kacang pada Tejo. Sedikit terkejut, Tejo hanya memalingkan wajah kearah penjual itu dan memandang bapak itu dengan tatapan bingung.”Itu juga kalo Nakmas mau. Kaya’-nya Nakmas kedinginan. Mungkin sedikit kacang bisa membantu”.

”Ooh .. makasih Pak”. Tejo tidak menyia-nyiakan rejeki di tengah keapesannya hari itu. Dia mengambil beberapa biji kacang.

Hangat dan gurih. Kacang rebus memang cocok jadi camilan di saat hujan. Tejo melahap kacang-kacang di tangannya dengan penuh gusto[4].

”Kacangnya enak Pak”.

Si penjual kacang tersenyum.

”Sudah lama jualan kacang Pak?” tanya Tejo.

“Ya sudah lumayan lama Nakmas. Orang bodoh seperti saya bisanya ya cuma jualan kacang kecil-kecilan seperti ini.” .

Tejo tertegun. ”Biasanya jualan di mana Pak?”. Tejo memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.

“Saya biasanya mangkal di pertigaan Pucung sana, di bawah pohon beringin” jawab si penjual sambil menunjuk arahnya.

Tejo manggut-manggut. “Laris Pak?”.

” Ya lumayanlah Nakmas, paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi ya itu Nakmas, hidup di jaman sekarang harus prihatin. Harga barang semuanya mahal. Saya bisa dapat penghasilan lebih untuk membelikan anak-anak saya lauk yang agak lumayan ya kalo’ ada hujan seperti ini. Kalo’ hawanya dingin, yang beli kacang godhog lebih banyak.”
Hati Tejo angles[5]. Kegusarannya kepada hujan yang telah menggagalkan rencananya untuk mengikuti Lomba Cerpen Remaja mereda. Tetes-tetes air terpercik dari genangan di jalan. Awan hitam di angkasa memudar.

“Keliatannya hujannya sudah reda Nakmas. Saya permisi dulu.” Si penjual kacang mendorong gerobak kecilnya keluar dari kios.

“Eh, sebentar Pak.” Tejo merogoh saku celananya dan menemukan tiga lembar uang ribuan yang sedianya akan dia gunakan untuk mendaftar Lomba Cerpen Remaja. “Saya mau beli kacangnya, tiga ribu dapat berapa Pak?”

Segera si penjual kacang membungkus sejumlah kacang rebus dalam plastik ukuran besar. “Terimakasih Nakmas” ujarnya sambil mengulurkan bungkusan kacang itu kepada Tejo.

“Sama-sama Pak.” Tejo tersenyum penuh arti.

Penjual kacang itu berjalan di bawah rintik hujan. Tejo masih berdiri sejenak memandang bapak tua itu berjalan sembari mendorong gerobak kecilnya. Kemudian ia memacu Astrea hitamnya pulang ke rumah, melewati bulak dan jembatan Kali Jambu. Sungai yang selama musim kemarau kemarin kering sekarang sudah penuh terisi air. Sepintas Tejo melihat seekor menthok[6] memimpin anak-anaknya berenang riang di tepi Kali Jambu. Rerumputan di pinggir jalan pun terlihat lebih hijau. Hujan ini adalah hujan yang pertama kali turun setelah kemarau panjang sejak 8 bulan yang lalu. Berkas-berkas sinar matahari berwarna kuning menembus awan yang mulai menghilang. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

---------------------------------------------------------------------------------

[1] bulak (bhs. Jawa) : jalan panjang yang membelah persawahan
[2] Nakmas (bhs. Jawa) : panggilan hormat kepada anak yang lebih muda
[3] mblobor (bhs. Jawa) : tinta yang membasahi kertas secara acak karena terkena air
[4] gusto (bhs. Jawa) : lahap, menunjukkan ketertarikan yang amat sangat
[5] angles (bhs. Jawa) : terenyuh
[6] menthok (bhs. Jawa) : sejenis bebek

Wednesday, August 16, 2006

Mas Bambang Supir Taksi

29 April 2006. Saat itu aku nGgak bisa mengatur mood-ku. Dan bayarannya atas kecerobohan itu adalah patah tangan, os metacarpal digiti V. Gara-gara itu, beberapa pekerjaan terbengkalai dan aku harus memulai dari awal lagi. Start all over again. Tapi gara-gara itu juga aku jadi pengkonsumsi taksi untuk beberapa hari. Dan menemui sebuah serpihan kehidupan yang cukup menarik.

Kebetulan masalah taksi menaksi, mama-ku jagonya. Mama punya beberapa langganan supir taksi. Salah satunya adalah Mas Bambang. Supir taksi yang satu ini tampilannya modis dan masih muda. Gaya bicaranya juga gaul. Walopun cuma bicara satu dua patah kata dengannya, aku merasa ada yang tidak biasa sama orang ini.

"Mau kemana mas?" tanya mas Bambang setelah aku duduk di sampingnya.

"Sarjito."

"Wah, tangannya kenapa mas?"

"Patah."

"Latihan karate-nya terlalu serius tu."

Aku cuma tertawa kecil. "Sok tau .." batinku.

"Oiya, nama saya Bambang. Saya supir langganannya Ibu lho," kata dia. Aku cuma manthuk-manthuk. "Mas-nya kok nGgak naek mobil sendiri? Kan yang patah cuma tangan kanan. Nyopir pakai tangan kiri aja bisa lho mas." dia nyerocos panjang lebar. Dasar supir taksi nGgak ada matinya.

"Oo .. bisa to mas?!" aku menyahut dan berusaha tampak excited.

"Wooo ... bisa mas. Nih liat ..." mas Bambang langsung beratraksi pindah gigi dengan lepas stir dan mengemudi pakai satu tangan -tangan kiri- untuk beberapa lama.

"Guendheeeng!!!" aku cuma bisa berteriak dalam hati

* * *
Setelah beberapa waktu berlalu, entah darimana ujung pangkalnya, mama cerita soal mas Bambang supir taksi itu.
"Dik, tahu nGgak supir taksi langganan mama yang namanya mas Bambang?"
"Iya tau. Dulu pas patah tulang pernah dianterin ama dia."
"mas Bambang itu S-2-nya di Jepang lho."
"Hah?? S-2 jadi supir taksi??"
"Iya. Dia dulu mahasiswa Teknik Mesin. Trus pas kuliah dia nyambi jadi supir taksi. Selesai S-1 dia kuliah S-2 di Jepang. Di sana dia nyambi kerja juga. Terus katanya dia pernah kerja juga di perusahaan Jepang tapi dia nGgak lama mengundurkan diri dan pilih jadi supir taksi."
Aku cuma bisa mBatin, "Jan, wong gendheng tenan!"
"Ampuh yo? mas Bambang itu biar supir taksi tapi cerdas lho Dik. Katanya dia bisa ndandani sendiri mobilnya kalo' macet. Pelanggannya juga banyak. Tadi aja pas nganter mama HP-nya bunyi 2 kali. Dua-duanya minta dianterin. Supir panggilan profesional tenan."
Pembicaraan ama mama terhenti di situ. Aku masih termangu-mangu. Ada juga ya orang gila macam dia. Memang kalo' udah panggilan hidup, profesi yang sangat sederhana seperti tukang sapu jalanan ataupun supir taksi seperti mas Bambang emang nGgak bisa ditolak. Selama rejeki yang datang dari pekerjaan itu barokah dan Allah ridha, apalah arti kedudukan sosial kita.