Friday, September 10, 2021
L A L A
Monday, April 05, 2021
Mas Gembes
Minggu pagi kemarin, saya dan mas Riyanto "berburu" benih lele untuk mengisi kolam terpal yang sudah siap diisi. Dari info yang didapatkan mas Riyanto dari grup Facebook, ada peternak benih lele di Cangkringan, di dekat pasar ikan. Jadilah kami mobilan ke Cangkringan.
Lokasi peternak benih lele ini cukup mudah ditemukan karena tempat ini adalah tempat satu-satunya yang memiliki kolam-kolam bundar di daerah Cangkringan.
Kami turun dari mobil dan bertanya kepada bapak-bapak yang ada di situ apakah benar tempat ini jual benih lele. Bapak-bapak yang sedang ngaso dari pekerjaan membuat pagar itu kemudian berteriak,
"Mbeeess Gembeeess, ono sing nggoleki ki."
Mas Gembes tak lama kemudian muncul, "badhe tumbas pinten ewu Pak?" mau beli berapa ribu benih lele tanyanya.
Mas Riyanto menjawab bahwa kami mau lihat-lihat dulu kalo diperbolehkan. Mas Gembes lalu mempersilakan kami melihat deretan kolam yang bunder-bunder itu. Kurang lebih ada sekitar dua puluh empat kolam yang berdiameter kurang lebih 2 meter dengan kedalaman sekitar 1 meter. Ada kolam yang diisi tanaman mata ikan saja, namun kebanyakan kolam berisi benih lele yang berukuran antara 3-4 cm sampai ukuran 4-6 cm. Setiap kolam rata-rata berisi 4000 benih lele. Kalau seandainya ada 15 kolam saja yang terisi benih lele, totalnya tempat itu memelihara sekitar 60.000 benih lele.
Mas Riyanto kemudian memuji Mas Gembes atas keterampilannya memijahkan dan memelihara ribuan benih lele. Belum lagi menurut pengamatan mas Riyanto, tidak ada kolam yang diperuntukkan untuk pembesaran lele. Artinya, ribuan benih lele itu selalu laris terjual.
Mas Gembes merendah dengan mengatakan bahwa peternakan bibit lele-nya ini hanyalah hobi saja.
Obrolan kemudian berlanjut sampai pada topik dimana mas Gembes menuturkan bahwa pengeluaran terbesar untuk pemeliharaan benih adalah untuk membeli cacing. Cacing ini sangat digemari benih-benih lele tersebut.
"Lha kok mboten damel ternak cacing piyambak Mas?" mas Riyanto bertanya kenapa mas Gembes tidak sekalian membuat peternakan cacing sendiri.
"Wah, impossible Mas," sahut mas Gembes. "rejekine sampun piyambak-piyambak." Mas Gembes berpendapat ternak cacing dan memijahkan lele itu tidak mungkin dilakukan bersama-sama karena rejeki orang itu sendiri-sendiri.
"Tiyang ingkang ternak cacing niku mboten bakal saged sukses mijah Mas," lanjut mas Gembes. Katanya orang yang beternak cacing tidak bakal sukses memijahkan lele. "Saestu niku. Mpun pengalaman kula." mas Gembes menambahkan bahwa pernyataannya itu tadi tidak becanda, serius, berdasarkan pengalamannya.
Saya terkesan. Memang rejeki orang itu sendiri sendiri, ndak perlu nggragas alias rakus, ndak perlu iren-kemiren alias iri dengan rejeki orang lain. Minggu pagi itu saya dan mas Riyanto mendapatkan pelajaran berharga dari seorang peternak lele yang sederhana di Cangkringan.
Saya kemudian membeli 400 benih lele berukuran 3-4 cm dari mas Gembes. Satu benih-nya dihargai Rp. 110 oleh mas Gembes.
Saya mengulurkan uang Rp. 50.000. "Pinten dadose niki mas?" saya bertanya berapa jadinya harganya.
Mas Gembes diam sejenak lalu berkata, "wah Pak, menawi mboten ngangge kalkulator niki angel tenan. Wes angel tenan pokoke." Mas Gembes kesulitan menghitung tanpa kalkulator.
Saya hampir kehilangan composure pengen ketawa tapi kok takut menyakiti perasaan karena jadinya tidak sopan. Saya bantu hitungkan dan memberitahu beliau kalau harganya jadi Rp. 44.000 saja. Tapi saya tidak mau kembalian, sisanya untuk tanaman mata ikan-nya saja.
Saya dan mas Riyanto kemudian pulang dengan 400 benih lele, seplastik besar tanaman mata ikan, dan pelajaran kearifan dari mas Gembes.
Tuesday, March 13, 2012
Kancil
Walopun sebenernya saya juga bingung mau mendongeng apa, yang terlintas pertama langsung cerita Kancil Mencuri Timun. Kata Mama saya, waktu kecil saya memang sering didongengin cerita ini.
Jadilah saya bercerita...
#Nana nyela "satu.. dua.. udah." maksudnya cerita saya disuruh lanjut tanpa mendetailkan kejadian selama timun itu tumbuh.
Setelah dua bulan, timun-timun Pak Tani siap dipanen. Suatu sore, lewatlah si Kancil di ladang Pak Tani. Kebetulan Kancil sedang lapar. "Wah, ada timun-timun yang segar, makan ahhh..." Kancil makan beberapa buah timun Pak Tani.
Pagi harinya Pak Tani kaget. "D'oh, siapa ini yang makan timun-timun yang sudah kurawat dengan baik," tepok jidat. Tentu saja Pak Tani kesal. Kan sudah rajin merawat, e hasilnya dimakan sama orang tak dikenal.
#Nana nyela lagi, "so sad... ," katanya.
Keesokan harinya, Pak Tani terkejut lagi. "Kok tambah banyak ini timun yang hilang?!"
#Nana mulai cemberut karena berempati sama Pak Tani.
Kemudian Pak Tani bertekad menunggui ladangnya sampai sore. Dan singkat cerita si Kancil ketahuan sama Pak Tani ketika sedang menikmati timun-timun Pak Tani.
"Ooo... kamu to yang makan timun-timunku?"
Kancil berhenti makan. "Ooo... timun-timun itu punya Pak Tani to? Maaf Pak Tani, nggak tau... dan saya lapar Pak Tani."
"Makanya kalau ada ladang timun, jangan asal dimakan timunnya. Cari tahu dulu itu punya siapa. Terus datanglah ke pemiliknya, ketok pintu rumahku baik-baik trus bilang kalo' mau minta timun untuk makan." kata Pak Tani.
"Maaf Pak Tani, tidak akan saya ulangi lagi," kata Kancil. "Saya boleh minta timunnya lagi tidak besok Pak Tani?" tanya Kancil.
"Boleh saja asal kamu makan secukupnya, dan membantu aku merawat ladang timun ini," kata Pak Tani.
Sejak saat itu Kancil membantu Pak Tani membuat pupuk kompos dari campuran daun-daun kering dan kotorannya sendiri supaya ladang Pak Tani subur. Sebagai imbalannya, Kancil mendapatkan jatah timun yang cukup untuk makan setiap hari.
Selesai.
Wednesday, February 23, 2011
Mister Kelinton
"Mister Kelinton, itu toiletnya tolong dibersihkan yang bersih ya!" perintah Romo Hageng.
"Siap Romo, saya bersihkan." jawab Mister Kelinton.
Tidak berapa lama, Romo Hageng menginspeksi hasil pekerjaan Mister Kelinton di toilet. Romo Hageng geleng-geleng kepala "bersih dari Hongkong," gerundelnya. Kemudian Romo Hageng mencari Mister Kelinton di pantry.
"Mister, itu toiletnya tolong dibersihkan. YANG BERSIH!" Romo Hageng memberi instruksi dengan mata agak mendelik.
"Siap Romo!" Mister Kelinton bergegas membersihkan toilet.
Ketika Romo Hageng menengok hasil pekerjaan Mister Kelinton, beliau belum puas dengan kondisi toilet yang masih berkerak dan baunya kurang sedap. Sekali lagi Romo Hageng mencari Mister Kelinton.
"Kelinton, nanti selesai jam kantor jangan langsung pulang. Tunggu saya."
"Siap Romo!" Mister Kelinton memberi hormat seperti sedang upacara bendera.
Selesai jam kantor Romo Hageng mengajak Mister Kelinton ke rumahnya.
"Lihat baik-baik toilet saya noh... itu yang namanya BERSIH!" tunjuk Romo Hageng.
Mister Kelinton manggut-manggut.
Keesokan harinya ketika Romo Hageng ke toilet sekolah, kondisinya sudah buersih kinclong dan harum. Gantian Romo Hageng yang manggut-manggut.
Monday, March 24, 2008
Mas Ngatiyar
Sore itu langitnya mendung. Riko yang sudah lama nggak mampir ke angkringan Lik Jumakir menepikan motornya untuk silaturahim dan sekedar makan ampela bakar serta minum jahe panas favoritnya.
"wah yang sudah jadi orang ... " sapa Lik Jumakir.
"Trus tugas guru dalam kacamata Maria Montessori pada dasarnya bukan sebagai sumber belajar tapi sekedar fasilitator. Tugas guru adalah menjadi pelayan yang mempersiapkan lingkungan belajar untuk murid-muridnya sehingga muridnya sendirilah yang nantinya belajar dari lingkungan yang telah disediakan itu. Kata Montessori lagi, kalo' proses itu dialami oleh murid yang bersangkutan maka anak itu akan terbuka jiwanya dan menjadi manusia baru."
"Wheeheheh .. elok elok. Berat iki ... " Mas Ngatiyar terkekeh.
Riko hanya menanggapinya dengan bahasa tubuh lalu memakan ampela bakarnya. Awan kelabu yang dari tadi menggelayut mulai turun dan menitikkan rinai hujan yang begitu lembut.
"Sudah dulu ya Lik, keburu hujannya deres," pamit Riko sambil membayarkan sejumlah uang.
"Aku juga Lik, sekalian aja. Nanti ndak kehujanan di jalan." Mas Ngatiyar ikutan.
"Kapan-kapan ngobrol lagi ya Ko," ujar Mas Ngatiyar.
"Ok deh .. tapi lain kali Mas Ngatiyar yang harus bagi-bagi ngelmu. Heheheh ... "
Dan senyuman pun menghiasi berakhirnya majlis ilmu kecil-kecilan di warung angkring tadi. Yang tidak mereka tahu, beberapa pasang malaikat mendoakan kebaikan atas mereka bertiga. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
Arkhadi Pustaka
Plosokuning, 24 Maret 2008 pk1 dini hari
Terinspirasi obrolan dengan Mas Ngatiyar yang asli. Peace Mas :D
Tuesday, January 01, 2008
Hikayat Kumbati & Kumalit
Kumbati dan Kumalit semakin jauh masuk ke dalam hutan, memangkas setiap ranting yang menghalangi jalan mereka dan mengamati dengan seksama keadaan di sekeliling mereka, apakah terdapat jamur mentega yang berwarna kuning. Jauh di dalam hutan, Kumbati menemukan sebuah gua. Mulut gua itu nyaris tertutup oleh lumut dan sulur-sulur tanaman rambat.
Wednesday, September 26, 2007
Seberkas Cahaya
Terkadang aku melaju kencang ke depan tak terhalang, namun terkadang lintasanku agak melengkung akibat gravitasi yang begitu besar dan lebih sering lagi aku melaju zig-zag bila ada debu-debu bintang di depanku. Di dalam perjalananku ini, seringkali aku bertemu dengan teman-temanku yang berasal dari tempat yang jauh. Ada yang berkulit kemerahan, dari Antares. Ada yang tampak cerah, dari Sirius. Dan ada juga yang tempat tinggalnya tidak jauh dari tempatku berasal, Alfa Centauri.
Di awal perjalananku ini, aku tidak tahu di manakah akhir perjalananku. Aku hanya menikmatinya apa adanya. Melihat-lihat pemandangan indah di angkasa raya yang begitu luas.
Setelah enam menit perjalanan, sekilas aku melihat ada bola padat yang sangat besar berwarna abu-abu kecoklatan. Permukaannya penuh dengan kawah.
“Hmmm .. benda apa itu ya?” gumamku.
“Itu Venus,” tiba-tiba seorang teman yang melaju dari arah bola itu menyapa.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku baru saja mampir di atmosfernya,” katanya, “Ah .. sudah ya, aku harus segera pergi.” Tanpa bisa banyak bercakap-cakap dan memperkenalkan diri, temanku itu melaju pergi. Begitulah memang tradisi dari spesies kami.
Venus ... mungkin Kamu mengenalnya sebagai bintang fajar atau bintang kejora. Terkadang dia juga terlihat berjajar di sebelah Bulan di sore hari. Dan orang muslim biasa menggambarnya jadi satu sebagai Bulan-Bintang. Tapi kuberitahu sesuatu, Venus bukan bintang. Dia tidak bersinar. Venus hanya bercahaya. Itu karena beberapa dari kami senang untuk singgah sejenak ke sana, dan pergi lagi. Seperti temanku yang barusan.
Tak lama kemudian aku melihat bola yang lain tepat di depanku. Warnanya biru dengan saputan warna putih di sana sini. Indah sekali. Tidak ada benda langit lain yang seindah ini. Warnanya yang begitu berbeda membuatku ingin singgah ke tempat itu.
Atmosfernya cukup tebal dilapisi awan. Tenaga ultravioletku sebagian terserap oleh lapisan ozon saat memasuki stratosfer. Aku melemah. Jatuh tak terkendali ke tanah. Terpental lalu menabrak lapisan CO2 yang tebal di langit dan jatuh tak berdaya ke permukaan tanah lagi.
Hal terakhir yang kuingat adalah hamparan hijau yang sangat luas. Setelah itu sepertinya aku terperangkap dalam tilakoid dan berakhirlah kisah hidupku sebagai cahaya. Tahukah Kamu? Hidupku tidak lebih dari 9 menit! Sangat singkat bukan. Bandingkan saja dengan umurmu.
Pilihanku untuk mampir ke bola biru yang sangat indah, yang akhirnya aku tahu bernama Bumi, ternyata berujung pada kematianku. Padahal teman-temanku yang lain bisa berumur jutaan tahun. Temanku yang berasal dari galaksi Andromeda bisa memiliki usia sampai 2,36 juta tahun. Tapi aku tidak menyesali hidupku yang singkat ini. Malah aku bersyukur. Walaupun terkadang aku merindukan rumahku, Matahari. Kalau tidak memutuskan untuk mampir ke Bumi, mungkin aku tidak bisa berbicara denganmu saat ini.
Ya. Aku sedang berbicara denganmu.
Kamu heran bagaimana aku bisa berbicara denganmu? Saat terperangkap dalam tilakoid, bersama karbondioksida dan air, aku berubah bentuk menjadi glukosa yang tersimpan pada biji padi. Aku bisa berbicara denganmu karena sekarang aku berada di dalam aliran darahmu. Tidak ingatkah Kamu? Barusan aku berada di dalam nasi yang Kamu makan.
O ya .. aku hanya ingin mengatakan, aku begitu bersyukur bisa berada di dalam tubuhmu sekarang dan berkontribusi untuk kehidupan seorang anak manusia. Karena manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan Tuhan. Melayani manusia adalah sesuatu yang cukup berharga untuk ditukar oleh nyawaku. Setidaknya hidupku yang hanya kurang dari 9 menit itu bisa jadi berarti.
Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Arkhadi Pustaka,
Plosokuning 26 September 2007
Wednesday, August 01, 2007
Sebuah Kehilangan
”Huufff ... ” Riko menghela nafas dalam-dalam.
Perpus FK–Plosokuning, 31 Juli 2007
teruntuk Alm. Eyang Soeprijadi (1930-2007)
Saturday, July 14, 2007
Dawai Kehidupan
Demi waktu fajar, ketika langit merekah merah dan dinginnya pagi membekukan embun di pucuk daun. Saat matahari menyapu daratan yang semula kelam dengan cahaya jingga keemasan. Kehidupan yang baru dimulai dalam perputaran waktu yang semu.
Rido terjebak dialektika dengan batinnya sendiri, parahnya, ditengah-tengah sebuah khotbah Jumat. Kebetulan siang itu Rido jumatan di Masjid Kampus UGM. Kata-kata yang dilontarkan oleh khatib pada awal khotbah mengaktivasi sinyal-sinyal elektronis dalam neuron-neuron otaknya ditambah buaian sepoi angin yang berhembus lembut membuat Rido termangu dalam lamunan.
Untuk apa kita hidup di dunia? Sebuah pertanyaan klasik memang. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini, pastinya, telah ditentukan baginya serangkaian program kehidupan yang teramat kompleks dengan milyaran paket percabangan—IF THEN ELSE dan paket perulangan—WHILE DO. Segala keputusan dalam setiap percabangan dan juga stagnasi dalam keseharian akan membawa kehidupan seseorang ke ujung yang sama sekali tidak dapat ditebak. Hidup ini adalah fungsi integral dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Dan setiap pilihan yang kita ambil saat ini memiliki konsekuensi post-historis, menentukan ke ujung mana kita akan sampai.
”Untuk apa aku dikirim ke dunia ini?” tanya Rido dalam hati.
” ... misi hidup manusia ada dua. Misi kehambaan dan misi kekhalifahan ... ” suara khatib yang tadinya memudar, kembali terdengar jelas. Namun tidak lama kemudian ketika Rido kembali tenggelam dalam lamunannya, suara sang khatib menghablur digantikan oleh suara kosmis yang sunyi.
”Ugh ... ,” rintih Rido tertahan. Misi kekhalifahan. Frasa ini menusuk ulu hatinya. Mengingatkan sebuah kejadian yang ia alami belum lama ini. Sebuah kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah satu noktah kecil.”Manusia hanyalah debu bintang yang berjalan, atau lebih tepatnya, sampah supernova,” ungkap seorang pengamat supernova, Saul Perlmutter.
Beberapa waktu sebelumnya, Rido mengantar kakaknya ke Rumah Sakit. Sudah hampir satu minggu kakaknya menderita pilek berat tanpa tanda-tanda akan sembuh. Dan saat Rido berusaha mengusir rasa bosan menunggu antrian dengan membaca buku ”The Hidden Connection” milik Fritjof Capra, sebuah nuansa kontras yang gelap dan dingin menyergapnya. Di buku itu, Capra sedang berceramah mengenai organisme seluler, bioteknologi modern, neo-kapitalisme, eco-design dan ide-ide global lain. Sedangkan di sekeliling Rido duduk ”orang-orang kecil” yang entah menderita penyakit apa, dari sekedar kotoran telinga bandel yang tidak mau dibersihkan sampai tumor tenggorokan yang menyebabkan leher penderita harus dilubangi untuk jalan udara, menunggu dipanggil dan diperiksa dokter sambil berharap biaya pengobatan mereka tidak terlalu mahal. Rido dapat merasakan bahwa apa yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya mereka segera terlepas dari ketidaknyamanan yang mereka derita. Persetan dengan neo-kapitalisme. Banyak orang yang sedang menderita, namun Rido tidak dapat melakukan apa-apa. Dia bukan siapa-siapa di sana, hanya seseorang yang sehat yang tidak mampu melakukan tindakan apa pun untuk meringankan beban orang-orang di sekitarnya.
Misi kekhalifahan. ”Apa yang bisa aku perbuat? Aku hanya sebutir debu bintang ... ”
Saat itu, rasanya, air mata Rido mau tumpah, dicengkeram perasaan invalid yang akut, diselimuti ketidakberdayaan. Terduduk di tepi ruang yang begitu gelap dalam ruang maya. Suara kosmis yang tadi sunyi berubah menjadi desis rintih dari dalam kalbu orang-orang sakit yang memohon pertolongan.
”Innal hamdaliLlah ... ” suara khatib tiba-tiba menyadarkan Rido dari lamunannya. Rupanya sudah masuk khotbah yang kedua.
Rido memalingkan wajah ke luar masjid. Dilihatnya atap gedung sayap masjid yang berwarna merah berkilauan tertimpa cahaya matahari. Deretan pohon palem melambai-lambaikan daunnya seakan-akan ikut berdzikir. Lalu pandangan Rido tertumbuk pada seorang bapak tua yang duduk simpuh bersandar pada tiang di tepi masjid. Bajunya sederhana saja, hanya selembar kaos. Mungkin bapak ini seorang pedagang minuman dingin yang seringkali bisa ditemui di Boulevard UGM, atau seorang tenaga kebersihan, tukang kebun atau mungkin sekedar penjual sapu ijuk yang berkelana sedemikian jauh, keluar masuk kampung dan perumahan. Mukanya penuh kerutan dan rambutnya sebagian besar sudah beruban. Namun yang istimewa adalah cahaya wajahnya. Matanya tidak sedikitpun berpaling dari mimbar tempat khatib berkhutbah. Setiap ayat yang dibacakan dan setiap nasehat dari sang khatib seperti oase yang menyejukkan, yang membasuh wajah bapak ini, wajah yang penuh kerinduan terhadap Tuhannya.
Meski Rido belum menemukan jawaban dari pertanyaan untuk apa dia dikirim ke dunia, Rido telah menemukan sesuatu dari bapak tua itu. Sesuatu yang sama yang dia lihat dari kepolosan ekspresi seorang balita yang dia jumpai ketika dia terbekap rasa ketidakberdayaan yang akut di Rumah Sakit beberapa waktu lalu. Cahaya wajah yang menuntunnya keluar dari ruang maya yang gelap. Senyum tulus seorang balita dan binar mata yang bagi Rido bermakna satu hal: kepasrahan dinamis dalam hidup.
”Allahumaghfir lil mu`miniina wal mu`minaat ... ” sang khatib melantunkan doa yang menutup khutbah.
Duhai Tuhan kami yang Maha Luas Ampunan-Nya, ampunkan hamba-Mu ini atas ketidakmampuan diri mengemban misi kekhalifahan, sebagai manusia. Tanpa izin-Mu dan kuasa-Mu, yaa Allah .. maka mustahil hamba-Mu yang kecil dan tak berdaya ini mensyukuri anugerah yang telah Engkau berikan.
Rido menegakkan punggung, mengangkat kedua tangan, menghela nafas dalam-dalam, berdoa, memasrahkan kehidupannya di tangan Sang Pencipta. ”Tangan Tuhan yang akan menuntun kemana kaki ini akan melangkah ... hidupku hanyalah seutas dawai kecapi, biarlah dawai itu dipetik oleh jari-jari-Nya.” Dari luar masjid terdengar suara garengpung yang berderik-derik, bersahut-sahutan. Tanda musim segera berganti, musim kemarau menjelang.
Tak lama kemudian suara lembut ustadz Muhammad Nur mengalun lembut pada raka`at pertama. ” ... yaa ayyatuhannafsul muthma`innah, irji’ii ilaa rabbiki radliyatam mardliyyah ... .” Begitu merdunya sehingga suara itu seakan-akan mengirim Rido melayang dalam sebuah ruangan yang sangat terang, menuju Tuhan.
* * *
Untuk apa kita hidup di dunia? Itu memang bukan sebuah pertanyaan yang bisa dijawab dengan instan. Sebuah pertanyaan yang terkadang menenggelamkan seseorang ke dalam palung ketidakberdayaan yang sangat dalam, namun bukan untuk membuat perjalanan hidup terhenti pada titik itu. Pertanyaan ini hanya sekedar untuk mengingatkan bahwa kehidupan sejatinya seperti matahari dan benda-benda langit yang lain yang diperjalankan. Terbit di pagi hari dan tenggelam di kala senja. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
Plosokuning-Wates, 12−14 Juli 2007
P.S.: Pelajaran moralnya 1) Jangan baca buku ”berat” di tengah-tengah keramaian, 2) Kebanyakan orang melamun saat khatib sedang berkhutbah.
Tuesday, April 24, 2007
Kang Gangsar
Dengan perlahan Kang Gangsar mengayunkan pel-nya sambil melamun. Anak sulungnya sebentar lagi menempuh Ujian Nasional dan dia masih menunggak SPP beberapa bulan. Hal ini membuatnya gundah bukan main. Entah darimana dia bisa mendapatkan uang tambahan untuk membayar tunggakan itu.
Dukk .. gagang pel-nya menabrak kaki seseorang.
“Aduh .. maaf Mas, saya ngalamun sih”
“Oh, nGgak pa pa Pak,” orang itu tersenyum. Orang ini masih muda, lelaki di pertengahan duapuluhan, baru saja selesai mengambil gelar kesarjanaan. Riko namanya.
Riko terdampar di Kantor Tata Usaha itu untuk melihat-lihat lowongan guru bantu. Meski latar belakang pendidikannya bukan Ilmu Pendidikan, tapi gelar S.Si cukuplah untuk bekal dia mengunduh cita-citanya: menjadi guru.
Riko menggeser tempat berdirinya dan meneruskan mencermati papan-papan pengumuman untuk mencari lowongan yang diinginkannya. Sementara itu Kang Gangsar meneruskan pekerjaannya dan masih saja dihantui tunggakan SPP itu.
[beberapa hari kemudian … ]
Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal menggantung di langit selatan. Riko mengambil tempat duduk disamping seorang bapak tua, umurnya sekitar 50-an tahun.
“Es teh satu mas … “ pinta Riko.
“Injih mas,” sahut penjual angkring
“Lik Jumakir yang biasa jaga kemana mas?” tanya Riko.
“Oo .. teman saya itu baru ada sambatan di rumahnya, Pandansimo sana.” kata si penjual angkring sambil mengaduk gula di gelas Riko.
“nJenengan baru di sini ya Lik?”
“Iya Mas, saya nggantiin Jumakir. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan.”
“Kayaknya kita pernah ketemu ya Lik?” Riko mengamati penjual angkring itu dalam keremangan cahaya lampu teplok.
“Wah dimana ya Mas? Saya ndak inget je.” penjual angkring itu garuk-garuk kepala. “Saya sehari-hari cuma tenaga kebersihan di UNY Mas.”
“Ah iya! Berarti saya pernah lihat sampeyan di sana Lik.”
“Monggo Mas,” penjual angkring itu menyodorkan segelas es teh.
“Saya Riko Lik, langganannya Lik Jumakir.” Riko memperkenalkan diri.
“Saya Gangsar, temannya Jumakir.” balas penjual angkring itu sambil tersenyum.
Setelah menyeruput es teh-nya, Riko mangambil dua bungkus nasi kucing sambel teri dan sebuah ndhas-ndhasan ayam. Sementara Kang Gangsar menambahkan sejumlah arang ke tungku perapian.
“nJenengan ngasta dimana Mas?” tanya Kang Gangsar setelah Riko selesai menyantap nasi kucingnya.
“Wah, saya pengangguran Lik. Baru lulus kemarin. Lagi nyari-nyari kerja.” ujar Riko setelah meminum seteguk teh. “Pengennya sih jadi guru Lik. Bekerja sama anak-anak, berproses bareng mereka. Jadi guru itu cita-cita saya.” Riko menerawang ke dalam api tungku yang berwarna kuning kemerahan. “Tapi tergantung Gusti Allah maringi jalannya seperti apa. Kalo’ dapetnya kerjaan lain ya saya jalani dulu. Ning ya itu tadi, pengennya kalo’ bisa jadi guru. Guru SD.”
“Bagus itu Mas.” timpal Kang Gangsar. “Kalo’ orang kecil seperti saya ini ndak punya cita-cita. Saya dulu sempet jadi tukang bangunan, jualan mie keliling, trus diajak teman kerja jadi klining serpis sampai sekarang, trus nyambi bakul angkring buat nambah penghasilan, nyukupi biaya anak sekolah.” Kang Gangsar merapikan susunan bungkusan nasi kucing-nya.”Buat saya yang penting anak istri bisa makan, dan anak bisa terus sekolah setinggi-tingginya, biar nggak kayak bapaknya yang cuma sampe kelas tiga SD.”
“Lha itu namanya juga cita-cita Lik.”
“Tapi rak beda sama sampeyan Mas.”
“Yaa .. orang kan beda-beda Lik.” ujar Riko klise.
“Kalo’ orang tua seperti saya ini udah ndak punya cita-cita alias keinginan apa-apa … kecuali satu,” Bapak Tua disamping Riko yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.”sudah lima puluh tahun lebih saya hidup, akhirnya saya sadar kalo’ sebenernya orang itu pada akhirnya ya cuma nyari ketenangan hidup. Tentreming ati, tentreming urip. Yen atine tentrem wis alhamduliLlah …”
Riko dan Kang Gangsar manggut-manggut.
Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Hujan mulai turun. Angin dingin menerobos masuk ke dalam warung angkring itu. Namun kehangatan dari api tungku yang menyala-nyala indah memberi kehangatan yang menentramkan. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
Arkhadi Pustaka
Plosokuning-Sekip-Kadipaten, 24 April 2007
[teruntuk istriku dan almarhumah Ibunda sahabat terbaiknya, Aulia]
Tuesday, February 20, 2007
Kearifan Biasa
Saat Riko mencomot sebuah tahu susur, seorang bapak tua datang. Jadilah mereka bertiga di bawah tenda angkring itu. Di bawah penerangan lampu teplok yang remang-remang Riko melihat gurat-gurat kepenatan di wajah si Bapak.
“Minumnya apa Pak?” tanya penjual angkring kepada si Bapak.
“Kopi panas mawon Mas,” ujar si Bapak sambil mengambil 2 bungkus nasi.
Beberapa saat setelah itu waktu berlalu dalam diam sampai si Bapak selesai makan, begitu juga Riko.
“Rokok setunggal Mas,”
“Monggo Pak,” penjual angkring itu mengambil sebuah toples yang berisi berbagai macam rokok dan menyodorkannya pada si Bapak.
Hujan masih turun rintik-rintik. Hujan yang seperti ini biasanya awet. Sesekali cahaya lampu mobil yang lewat memberi penerangan lebih ke dalam warung itu.
“Bapak dari mana Pak?” tanya Riko memecah suasana.
“Oh, saya dari Rumah Sakit situ .. nemenin kakak saya yang lagi sakit.”
“Kakaknya sakit apa Pak?”
“Batu ginjal Dik.”
Si Bapak menyeruput kopinya.
“Kemaren sempet di laser tapi batu ginjalnya nGgak mau hancur. Jadinya sekarang di operasi. Udah dua minggu kakak saya dirawat di sini. Lha di tempat saya fasilitas Rumah Sakit-nya kurang memadai, jadi kakak saya dirujuk ke Jogja.”
“Oo.” Riko manggut-manggut. “Bapak aslinya mana to?”
“Gombong Dik.”
“Batu ginjalnya itu udah gede lho Dik. Segedhe ini.” lanjut Bapak itu sambil menunjukkan batu akik di jari manis tangan kanannya.”eh, lebih panjang sedikit dari ini.”
“wah, udah gedhe banget ya Pak.”
“Iya. Sebenernya kakak saya itu sakitnya udah lama tapi nGgak mau diperiksa. Katanya takut penyakitnya ketahuan semua. Lha terus kemarin itu tiap bangun tidur nGgak bisa langsung bangun. Pinggangnya sakit banget katanya. Akhirnya diperiksakan di Gombong sana, ketahuan kalo’ punya batu ginjal yang udah terlanjur gedhe.”
“Gara-gara minum air ledeng itu lho Dik.” sambung si Bapak lagi.”makanya ati-ati sekarang kalo’ minum air.”
“Iya ya. Banyak kaporitnya sih.”
“Usia kakak Bapak berapa to?” kejar Riko.
“Dia sudah enam puluh satu Dik. Saya lima puluh sembilan.”
“Lha kalo’ kakak saya sakit begitu yang repot jadi saya. Dia itu perjoko tuwo. nGgak punya istri. Saudara yang lain nGgak mau ngurusin. Saya juga sebenernya dimarahin istri saya, katanya kok yang ngurusin saya terus.”
“Tapi ya gimana ya Dik, lha dia itu kakak saya je.” getar-getar kesedihan terdengar jelas dalam setiap katanya.”Saya sudah di sini dua minggu nGgak balik ke Gombong. Pusing saya mikirin pekerjaan yang saya tinggal juga.”
Hujan masih turun rintik-rintik. Sesekali langit diterangi cahaya kilat. Bapak itu menghisap rokoknya dalam-dalam. Pahit benar rasanya hidup. Garis-garis kelelahan di wajah tua Bapak yang kurus itu sampai mampu menceritakan bagaimana berat perjalanan hidupnya.
“Bapak ngasta dimana Pak?” sela penjual angkring yang sejak tadi diam.
“Saya di PU Mas.”
Sejenak si Bapak kembali menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskan seakan melepas segala beban hidupnya. Sampai-sampai suara hembusan nafasnya terdengar jelas.
“Lha sampeyan udah punya istri belum?" si Bapak balik bertanya kepada penjual angkring. “Kalo’ belum punya istri, gek cepet cari istri. Nanti keburu jadi perjoko tuwo seperti kakak saya itu. Kalo’ sakit nggak ada yang ngopeni nanti, ngrepoti saudara-saudaranya .. ha ha hah,” kelakar si Bapak sambil menepuk pundak penjual angkring.
Penjual angkring yang masih muda itu cuma tersipu-sipu saja.
“Belum berani nikah Pak, hasil dari jualan angkring begini belum seberapa. Takut nGgak bisa menafkahi istri saya nanti,” kata penjual angkring merendah.
“Halaahh … urip, jodho, rejeki itu yang ngatur Gusti Allah Mas,” ujar si Bapak klise, “ndak usah takut. Kalo sampeyan tawakkal, mewakilkan urusan-urusan sampeyan sama Gusti Allah, wis mesti beres.”
Sebuah mobil melintas. Cahaya lampunya menelusup ke dalam warung angkring itu. Bara arang di tungku mengeluarkan suara “plethak” dan mendadak si Bapak tertegun karena kata-katanya sendiri. Pelan-pelan garis penat di wajah si Bapak memudar. Hisapan rokoknya juga sudah tidak sedalam tadi. Ringan.
Tak lama kemudian Bapak itu berdiri dan membayarkan sejumlah uang.
“Saya mau balik ke Rumah Sakit dulu ya Dik. Permisi,” pamit si Bapak sambil tersenyum.
“Ndherekaken Pak. Semoga kakaknya lekas sembuh.” ujar Riko.
“Oh ya, Terimakasih.”
Hujan masih turun rintik-rintik. Namun langit malam tak lagi terlihat kelabu. Sebentar lagi pasti akan mereda. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
Minomartani,
20 Februari 2007, 06.27 WIB
Sunday, November 12, 2006
Iedul Fitri
"Pak, nGgak usah ngebut ... bahaya !" kata Ibu.
"Kalau kelamaan di perjalanan nanti Fitri tambah parah Bu."
"Iya sih, tapi khan di jalanan rame begini bahaya kalo' ngebut." sahut Ibu lagi.
"Sudahlah Bu ... ," Fitri menyela lemah "Percaya saja sama Bapak." ujarnya sambil tersenyum. Semua terdiam ... senyap menyergap di tengah keramaian jalan Jogja-Semarang untuk beberapa saat.
[ beberapa jam sebelumnya ... ]
Shalat Ied di halaman Masjid At-Takwa baru saja usai. Fitri berjalan tergesa menuju rumah sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia sangat kesakitan.
"Assalamu'alaykum" salam Fitri saat masuk rumah. Orang pertama yang dicarinya adalah ibu. Setelah sungkem di hadapan ibu dan bapak, sambil masih memegangi perutnya Fitri langsung menuju kamar tidur.
"Aduu...uuhhh ... , sakit sekali ... " Fitri tergeletak di tempat tidur, kesakitan.
"Kenapa Dek ? Sakit perut ya ?" Ibu bertanya khawatir
"nGgak tahu nih, tapi perutku rasanya sakit banget."
"Wah badanmu juga panas banget begini !" ujar Ibu sambil memegang dahi Fitri
"Bisa-bisa gejala tifus, lagi musim loh" kata Bapak "kamu istirahat aja yach."
Fitri mengangguk lemah.
Fitri adikku satu-satunya. Dia lahir saat aku berumur 5 tahun. Dan setelah itu Ibu nGgak ngasih aku adik lagi. Anaknya aktif banget ... hiperaktif mungkin (;p). Sampe sekarang pun dia masih aktif banget di kampusnya. Entah berapa organisasi dia coba masuki. Setiap ditanya, katanya pengen cari pengalaman aja. Saking aktifnya kadang-kadang capek pun nggak dirasain. Yaa.. jadinya sakit parah kaya' gitu. Baru tau rasa kalo' sakitnya pas hari raya begini :)
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Gelombang tamu yang bersilaturahmi ke rumah udah abis. Kalo' udah begini biasanya kami sekeluarga siap-siap mudik ke rumah Eyang di Demak. Fitri masih saja terbaring lemah di pembaringan, bahkan nggak kuat nemuin tamu-tamu yang tadi dateng.
"Gimana dek ? Udah baikan ?" tanya Ibu.
"Belum nih Bu, masih sakit banget."
"Trus gimana dong ? Jadi ke rumah Eyang nGgak ?"
Fitri diam.
"Atau Fitri berani ditinggal sendirian di rumah ? Tapi Ibu nGgak tega ninggalin Fitri sakit sendirian." kata Ibu penuh kasih sayang. Fitri masih diam saja. "Kalo' gitu kita sekeluarga Lebaran ini nGgak usah ke rumah Eyang aja ya ? Fitri kan lagi sakit. Nanti kalo' dipaksakan malah tambah parah." lanjut Ibu.
Detak-detak jarum jam mengisi kesunyian. Muka Fitri pucat, tatapannya kosong.
"Gimana Fit ?" Ibu kembali bertanya
"Mmmm ... " Fitri diam sejenak sebelum kembali berujar, "Kita ke rumah Eyang sekarang."
"nGgak usah dipaksain Fit. nTar kamu tambah parah lagi."
"nGgak !! Pokoknya Fitri mau ke rumah Eyang."
"Tapi ... "
"Fitri jarang banget ketemu Eyang. Kalo' udah di kampus pasti nGgak bisa mudik ke rumah Eyang. Fitri pengen ketemu Eyang ... ."
Ibu terdiam bimbang
"Please ... Fitri mohon bu ... nGgak pa pa ya ? Fitri pengen ke rumah Eyang."
"Fitri ... kenapa nekat maksain mudik ke rumah Eyang ?"
" ... ," sejenak ia tercekat, " Karena ... ini Iedul Fitri." seru Fitri pelan.
" ... karena ini Iedul Fitri ... "
Ya ... Iedul Fitri. Hari Kemenangan ! Kebahagiaan Iedul Fitri sudah menunggu Fitri sekeluarga di kampung halaman. Keharuan saat bertemu sanak keluarga yang dicintai, gelak tawa riang anak-anak, cerita-cerita pengalaman hidup saudara-saudara yang ada di rantau dan semua keindahan Iedul Fitri menyambut kita semua yang mengharapkan kasih sayang Allah.
Fitri masih terbaring lemah di kehangatan pangkuan Ibu dalam perjalanan menuju rumah Eyang. Matanya memandang jok depan disamping Bapak yang kosong. Matanya berair dan tak lama berlinang air mata. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin Fitri menangis bahagia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Mungkin Fitri menangis karena bersyukur mendapatkan anugerah dari Allah berupa sakit yang didapatnya saat Hari Raya Iedul Fitri, yang membuat Iedul Fitri kali ini terasa sangat indah. Atau mungkin ... Fitri menangis karena merindukan aku, kakaknya ??? Yach .. kalo' aku masih hidup, aku pasti duduk di jok yang kosong di depan itu dan merasakan indahnya Iedul Fitri ini bersama mereka.
-was written in 3 Syawwal 1423 H (7 November 2002)
Sunday, October 01, 2006
Joni
Aku dan adikku baru aja turun dari Shopping Center lantai dua bawa 2 tumpuk kitab tafsir.
"Mas, jadi beli sate nggak?"
"Jadi deh. Dek yang beli ya. Aku nunggu di kursi itu." kataku sambil menunjuk kursi taman berwarna hitam.
Aku kemudian membawa kedua tumpukan besar buku itu ke kursi taman dan duduk menunggu adikku beli sate di dekat pintu masuk Taman Pintar. Aku baru sadar kalo' ada seorang anak kecil yang endut dan item, rambutnya jabrik (kayak aku banget) dan nggak pake sandal duduk sendirian di kursi yang sama.
Entah kenapa aku tau-tau tanya ke anak kecil itu. "Udah masuk Taman Pintar dik?" tanyaku sok ramah.
Anak itu cuma mengangguk.
"Kok sendirian?"
"Mmau Ppulang ttapi mmama nGgak adaaa ..." tangisnya pecah.
"Ooo .." aku masygul "Ntar habis adik Om selesai beli sate, kamu aku anter ke bagian informasi deh. Biar nanti diumumin pake pengeras suara." Aku jadi ingat kejadian pas dulu aku kehilangan mama-ku di Dufan. Anak itu mengangguk lemah. Airmatanya mengalir. Orang yang berlalu lalang tampak tidak memperhatikan. Semuanya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
"Nama kamu siapa?" aku berusaha menenangkan anak itu.
"Joni."
"Zeni?" aku agak nggak jelas menangkap ucapannya
"Joni."
"Jeni?"
"Joni!!" anak kecil itu agak berteriak.
"Ooo ... Jhonny ..." aku tampak sangat blo'on. Si Joni tersenyum kecil.
"Rumahnya mana?"
"Sana." kata Joni sambil menunjuk arah nggak jelas Aku agak kebingungan juga menghadapi anak kecil yang kehilangan induknya seperti ini (emang ayam!?)
"Sekolahnya dimana?"
"Kanisius."
"Kanisius kan banyak. Kanisius yang mana?" aku cuma mBatin. Soalnya kalo' aku terusin pertanyaanku nanti si Joni malah tambah bingung.
"Sekolahnya deket rumah?"
"Ho-oh" dia manthuk-manthuk.
Aku udah hampir kehabisan pertanyaan. Untung adikku datang. Aku ceritain kejadiannya. Lalu kami mengantarnya ke Kantor Taman Pintar. Beberapa minggu sebelumnya aku pernah blusukan ke Taman Pintar bareng anak-anak hiddenleaf, sampe diteriakin penjaganya pake megaphon segala gara-gara naek-naek ke atep gedung. Jadi nggak susah cari orang yang bertanggungjawab atas anak hilang di Taman Pintar.
Setelah kami mempasrahkan si Joni ke bagian informasi dan meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja di sana, kami pulang.
Aku berharap Joni sudah bertemu mama-nya saat ini.
"Tadi dianter ke sini sama siapa Jon?"
"nGgak tau ..."
Alhamdu liLlah ... Segala puji hanyalah untuk-Mu, yaa Allah.
Tuesday, September 05, 2006
Kacang Godhog Di Bawah Rintik Hujan
“Permisi Pak, numpang berteduh ya?” ujar Tejo.
“Oh .. silakan Nakmas[2], saya juga cuma numpang berteduh kok.” balas penjual kacang itu dengan senyuman.
Hujan semakin bertambah deras. Tejo menunggu hujan mereda dengan gelisah. Hari ini adalah batas pengumpulan terakhir Lomba Cerpen Remaja yang akan diikuti Tejo. Siang ini sewaktu Tejo hendak mendaftarkan diri, pas foto 3x4 yang menjadi syarat pendaftaran tercecer entah di mana. Untunglah Tejo masih menyimpan cadangannya di rumah. Jadi langsung saja Tejo tancap gas, pulang untuk mengambil pas foto cadangan. Tapi apesnya, sekitar 3 kilo dari rumahnya, di daerah bulak Desa Panjangrejo, hujan deras mengguyur. Dus, stofmap folio yang berisi naskah cerpen Tejo ikut basah dan tinta printernya mblobor[3] kemana-mana. Mau balik ke rumah tanggung, mau terus ke tempat pendaftaran juga nggak bisa.
Tejo masih saja merutuk-rutuk kesialan yang menimpa dirinya siang itu sambil menggigil kedinginan. “Hujan sialan!” umpatnya dalam hati. Mukanya ditekuk, bibirnya dimonyongkan tapi giginya bergemeletuk karena kedinginan.
“Nakmas mau mengicipi kacang rebus saya po?” Tiba-tiba penjual kacang itu menawari kacang pada Tejo. Sedikit terkejut, Tejo hanya memalingkan wajah kearah penjual itu dan memandang bapak itu dengan tatapan bingung.”Itu juga kalo Nakmas mau. Kaya’-nya Nakmas kedinginan. Mungkin sedikit kacang bisa membantu”.
”Ooh .. makasih Pak”. Tejo tidak menyia-nyiakan rejeki di tengah keapesannya hari itu. Dia mengambil beberapa biji kacang.
Hangat dan gurih. Kacang rebus memang cocok jadi camilan di saat hujan. Tejo melahap kacang-kacang di tangannya dengan penuh gusto[4].
”Kacangnya enak Pak”.
Si penjual kacang tersenyum.
”Sudah lama jualan kacang Pak?” tanya Tejo.
“Ya sudah lumayan lama Nakmas. Orang bodoh seperti saya bisanya ya cuma jualan kacang kecil-kecilan seperti ini.” .
Tejo tertegun. ”Biasanya jualan di mana Pak?”. Tejo memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.
“Saya biasanya mangkal di pertigaan Pucung sana, di bawah pohon beringin” jawab si penjual sambil menunjuk arahnya.
Tejo manggut-manggut. “Laris Pak?”.
” Ya lumayanlah Nakmas, paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi ya itu Nakmas, hidup di jaman sekarang harus prihatin. Harga barang semuanya mahal. Saya bisa dapat penghasilan lebih untuk membelikan anak-anak saya lauk yang agak lumayan ya kalo’ ada hujan seperti ini. Kalo’ hawanya dingin, yang beli kacang godhog lebih banyak.”
Hati Tejo angles[5]. Kegusarannya kepada hujan yang telah menggagalkan rencananya untuk mengikuti Lomba Cerpen Remaja mereda. Tetes-tetes air terpercik dari genangan di jalan. Awan hitam di angkasa memudar.
“Keliatannya hujannya sudah reda Nakmas. Saya permisi dulu.” Si penjual kacang mendorong gerobak kecilnya keluar dari kios.
“Eh, sebentar Pak.” Tejo merogoh saku celananya dan menemukan tiga lembar uang ribuan yang sedianya akan dia gunakan untuk mendaftar Lomba Cerpen Remaja. “Saya mau beli kacangnya, tiga ribu dapat berapa Pak?”
Segera si penjual kacang membungkus sejumlah kacang rebus dalam plastik ukuran besar. “Terimakasih Nakmas” ujarnya sambil mengulurkan bungkusan kacang itu kepada Tejo.
“Sama-sama Pak.” Tejo tersenyum penuh arti.
Penjual kacang itu berjalan di bawah rintik hujan. Tejo masih berdiri sejenak memandang bapak tua itu berjalan sembari mendorong gerobak kecilnya. Kemudian ia memacu Astrea hitamnya pulang ke rumah, melewati bulak dan jembatan Kali Jambu. Sungai yang selama musim kemarau kemarin kering sekarang sudah penuh terisi air. Sepintas Tejo melihat seekor menthok[6] memimpin anak-anaknya berenang riang di tepi Kali Jambu. Rerumputan di pinggir jalan pun terlihat lebih hijau. Hujan ini adalah hujan yang pertama kali turun setelah kemarau panjang sejak 8 bulan yang lalu. Berkas-berkas sinar matahari berwarna kuning menembus awan yang mulai menghilang. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
---------------------------------------------------------------------------------
[1] bulak (bhs. Jawa) : jalan panjang yang membelah persawahan
[2] Nakmas (bhs. Jawa) : panggilan hormat kepada anak yang lebih muda
[3] mblobor (bhs. Jawa) : tinta yang membasahi kertas secara acak karena terkena air
[4] gusto (bhs. Jawa) : lahap, menunjukkan ketertarikan yang amat sangat
[5] angles (bhs. Jawa) : terenyuh
[6] menthok (bhs. Jawa) : sejenis bebek
Wednesday, August 16, 2006
Mas Bambang Supir Taksi
Kebetulan masalah taksi menaksi, mama-ku jagonya. Mama punya beberapa langganan supir taksi. Salah satunya adalah Mas Bambang. Supir taksi yang satu ini tampilannya modis dan masih muda. Gaya bicaranya juga gaul. Walopun cuma bicara satu dua patah kata dengannya, aku merasa ada yang tidak biasa sama orang ini.
"Mau kemana mas?" tanya mas Bambang setelah aku duduk di sampingnya.
"Sarjito."
"Wah, tangannya kenapa mas?"
"Patah."
"Latihan karate-nya terlalu serius tu."
Aku cuma tertawa kecil. "Sok tau .." batinku.
"Oiya, nama saya Bambang. Saya supir langganannya Ibu lho," kata dia. Aku cuma manthuk-manthuk. "Mas-nya kok nGgak naek mobil sendiri? Kan yang patah cuma tangan kanan. Nyopir pakai tangan kiri aja bisa lho mas." dia nyerocos panjang lebar. Dasar supir taksi nGgak ada matinya.
"Oo .. bisa to mas?!" aku menyahut dan berusaha tampak excited.
"Wooo ... bisa mas. Nih liat ..." mas Bambang langsung beratraksi pindah gigi dengan lepas stir dan mengemudi pakai satu tangan -tangan kiri- untuk beberapa lama.
"Guendheeeng!!!" aku cuma bisa berteriak dalam hati
