Wednesday, August 01, 2007

Sebuah Kehilangan

Riko mengambil tempat duduk di sebelah tumpukan nasi kucing. Wajahnya kusut.
"Minum apa Mas?" Lik Jumakir menyapa.
"Es Teh aja Lik."
Mata Riko menerawang, agak berair. Sedih sekali tampaknya.
"Uhuk .. Uhuk .. Kok sedih banget ada apa Mas?" Pak Bejo, lelaki setengah baya yang kebetulan sering bertemu Riko di angkringan milik Lik Jumakir itu bertanya disertai suara batuknya yang khas.
"nGgak pa pa kok Pak." Riko mulanya mengelak untuk bercerita.
Pak Bejo dan Lik Jumakir paham. Tidak seperti biasa Riko dirundung duka sedalam itu. Mereka bertiga pun dibekap sunyi dalam remang-remang cahaya teplok. Langit tidak biasanya kelabu di musim kemarau seperti ini. Bulan separuh yang seharusnya menghiasi langit, hilang tertelan awan.
"Rempela atinya tolong dibakarkan satu Lik," pinta Riko.
Segera Lik Jumakir menyisihkan teko-teko air-nya untuk menyediakan tempat pembakaran.
"Saya nunut dibakarkan ini Lik." Pak Bejo, lelaki tua yang duduk di depan anglo itu mengambil dua tusuk sate kulit. Pak Bejo adalah tukang parkir yang biasa mangkal tidak jauh dari angkringan Lik Jumakir, tapi kalau pagi Pak Bejo juga nyambi jadi tukang sapu jalanan.
Tidak lama kemudian suara gemeripik bakaran sate mengisi kesenyapan di antara mereka.
* * *
Awan berarak perlahan. Matahari mengintip dari balik mega. Pucuk-pucuk daun bergoyang ditiup angin. Riko melangkah dengan sangat berat meninggalkan pusara Eyangnya yang masih basah bersama kerumunan takziyah yang beranjak pulang. Sejenak Riko menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang sekali lagi.
* * *

”Huufff ... ” Riko menghela nafas dalam-dalam.
”Saya barusan pulang dari pemakaman Eyang saya.” akhirnya Riko mau bercerita.
”Oo .. ndherek belasungkawa mas .. ” ujar Pak Bejo dan Lik Jumakir hampir berbarengan.
”Kepergian eyang saya itu mendadak sekali. Berat rasanya kehilangan seseorang seperti beliau.” Riko mencurahkan kesedihannya. ”Yaa .. walaupun sebenarnya saya nggak begitu dekat sama eyang saya, tapi tetap saja rasanya nyaris nggak percaya beliau dipanggil Gusti Allah begitu mendadak. Baru kemarin pagi masuk Rumah Sakit, malamnya sudah nggak ada.”
Lik Jumakir dan Pak Bejo cuma bisa mengangguk-angguk. Mereka sudah lama kenal dengan Riko dan seringkali bertukar cerita, namun baru kali ini Riko menumpahkan perasaan duka yang begitu mendalam kepada mereka.
Angin malam yang dingin berhembus. Lik Jumakir mengangkat bakaran satenya dari tungku, meletakkannya di atas piring-piring kecil dan melumurinya dengan kecap. Riko kemudian mengambil dua bungkus nasi kucing dan mulai makan. Pak Bejo hanya menggado dua tusuk sate kulitnya.
Sementara Riko masih sibuk dengan nasi sambel teri, Pak Bejo angkat bicara.
”Uhuk .. Saya bisa ngerti perasaan mas Riko. Tapi yang saya tahu, yang namanya ’kehilangan’ itu sebenernya ndak ada.”
”Maksudnya?” Riko agak terhenyak
”Lha kalau kita tidak memiliki kan ndak mungkin to kita kehilangan?” Pak Bejo malah balik bertanya.
Riko cuma manggut-manggut.
”Nah .. kita ini sebenernya ndak memiliki apa-apa di dunia Mas,” lanjut Pak Bejo.”Semuanya itu milik Allah to Mas?”
”Bener juga sih Pak. Tapi kalo’ orang yang dekat dengan kita meninggal dunia, tetep aja rasanya sedih banget Pak, manusiawi to Pak yang namanya kehilangan itu?”
”Iya Mas, saya juga pernah merasakannya kok. Dua dari tiga orang anak saya meninggal. Yang satu kecelakaan diserempet bis AKAP, yang satunya meninggal kena demam berdarah. Uhuk .. Trus ndak lama setelah itu istri saya juga nyusul. Kata dokternya kena liver. Tapi menurut saya, istri saya ndak kuat nanggung beban kehilangan dua anak kami itu Mas.” kenang Pak Bejo. Matanya berkaca-kaca. Raut wajah tuanya menyiratkan besarnya penderitaan yang dia alami selama ini.
Riko menggigit bibir. Perasaan yang campur aduk menyergapnya, tapi dia masih memikirkan apa yang dikatakan Pak Bejo barusan ’yang namanya ’kehilangan’ itu sebenernya nggak ada’.
”Mungkin itu sebabnya kalo’ kita kena musibah diperintahkan untuk bilang ’Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un’ ya,” Lik Jumakir menyimpulkan.
”Bener itu Lik,” Riko menanggapi.”Biar ’kehilangan’ itu rasa sakitnya nyata tapi sebenernya ’kehilangan’ itu nggak ada.” Riko menyeruput teh-nya sebelum kembali meneruskan.”Mungkin .. ’Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un’, itu artinya ’sebenarnya ’kehilangan’ cuma fatamorgana’.”
Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?
Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?
* * *
Esok harinya, Riko bertolak ke Jakarta untuk mengisi sebuah pameran seminggu lamanya. Sepulang dari Jakarta, Riko mampir ke warung angkring Lik Jumakir.
”Mas Riko, seminggu ini tidak kelihatan kemana saja?” tanya Lik Jumakir
”Wah .. saya ada pameran di Jakarta Lik.”
”nJenengan sudah dengar belum? Dua hari yang lalu Pak Bejo meninggal dunia, kena TBC kronis. Mungkin karena terlalu sering kena debu jalanan.”
Riko tertegun.
”Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un ... ”
Arkhadi Pustaka,
Perpus FK–Plosokuning, 31 Juli 2007
teruntuk Alm. Eyang Soeprijadi (1930-2007)

Saturday, July 14, 2007

Dawai Kehidupan

Demi waktu fajar, ketika langit merekah merah dan dinginnya pagi membekukan embun di pucuk daun. Saat matahari menyapu daratan yang semula kelam dengan cahaya jingga keemasan. Kehidupan yang baru dimulai dalam perputaran waktu yang semu.

Rido terjebak dialektika dengan batinnya sendiri, parahnya, ditengah-tengah sebuah khotbah Jumat. Kebetulan siang itu Rido jumatan di Masjid Kampus UGM. Kata-kata yang dilontarkan oleh khatib pada awal khotbah mengaktivasi sinyal-sinyal elektronis dalam neuron-neuron otaknya ditambah buaian sepoi angin yang berhembus lembut membuat Rido termangu dalam lamunan.

Untuk apa kita hidup di dunia? Sebuah pertanyaan klasik memang. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini, pastinya, telah ditentukan baginya serangkaian program kehidupan yang teramat kompleks dengan milyaran paket percabangan—IF THEN ELSE dan paket perulangan—WHILE DO. Segala keputusan dalam setiap percabangan dan juga stagnasi dalam keseharian akan membawa kehidupan seseorang ke ujung yang sama sekali tidak dapat ditebak. Hidup ini adalah fungsi integral dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Dan setiap pilihan yang kita ambil saat ini memiliki konsekuensi post-historis, menentukan ke ujung mana kita akan sampai.

Untuk apa aku dikirim ke dunia ini?” tanya Rido dalam hati.

... misi hidup manusia ada dua. Misi kehambaan dan misi kekhalifahan ... ” suara khatib yang tadinya memudar, kembali terdengar jelas. Namun tidak lama kemudian ketika Rido kembali tenggelam dalam lamunannya, suara sang khatib menghablur digantikan oleh suara kosmis yang sunyi.

Ugh ... ,” rintih Rido tertahan. Misi kekhalifahan. Frasa ini menusuk ulu hatinya. Mengingatkan sebuah kejadian yang ia alami belum lama ini. Sebuah kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah satu noktah kecil.”Manusia hanyalah debu bintang yang berjalan, atau lebih tepatnya, sampah supernova,” ungkap seorang pengamat supernova, Saul Perlmutter.

Beberapa waktu sebelumnya, Rido mengantar kakaknya ke Rumah Sakit. Sudah hampir satu minggu kakaknya menderita pilek berat tanpa tanda-tanda akan sembuh. Dan saat Rido berusaha mengusir rasa bosan menunggu antrian dengan membaca buku ”The Hidden Connection” milik Fritjof Capra, sebuah nuansa kontras yang gelap dan dingin menyergapnya. Di buku itu, Capra sedang berceramah mengenai organisme seluler, bioteknologi modern, neo-kapitalisme, eco-design dan ide-ide global lain. Sedangkan di sekeliling Rido duduk ”orang-orang kecil” yang entah menderita penyakit apa, dari sekedar kotoran telinga bandel yang tidak mau dibersihkan sampai tumor tenggorokan yang menyebabkan leher penderita harus dilubangi untuk jalan udara, menunggu dipanggil dan diperiksa dokter sambil berharap biaya pengobatan mereka tidak terlalu mahal. Rido dapat merasakan bahwa apa yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya mereka segera terlepas dari ketidaknyamanan yang mereka derita. Persetan dengan neo-kapitalisme. Banyak orang yang sedang menderita, namun Rido tidak dapat melakukan apa-apa. Dia bukan siapa-siapa di sana, hanya seseorang yang sehat yang tidak mampu melakukan tindakan apa pun untuk meringankan beban orang-orang di sekitarnya.

Misi kekhalifahan. ”Apa yang bisa aku perbuat? Aku hanya sebutir debu bintang ... ”

Saat itu, rasanya, air mata Rido mau tumpah, dicengkeram perasaan invalid yang akut, diselimuti ketidakberdayaan. Terduduk di tepi ruang yang begitu gelap dalam ruang maya. Suara kosmis yang tadi sunyi berubah menjadi desis rintih dari dalam kalbu orang-orang sakit yang memohon pertolongan.

Innal hamdaliLlah ... ” suara khatib tiba-tiba menyadarkan Rido dari lamunannya. Rupanya sudah masuk khotbah yang kedua.

Rido memalingkan wajah ke luar masjid. Dilihatnya atap gedung sayap masjid yang berwarna merah berkilauan tertimpa cahaya matahari. Deretan pohon palem melambai-lambaikan daunnya seakan-akan ikut berdzikir. Lalu pandangan Rido tertumbuk pada seorang bapak tua yang duduk simpuh bersandar pada tiang di tepi masjid. Bajunya sederhana saja, hanya selembar kaos. Mungkin bapak ini seorang pedagang minuman dingin yang seringkali bisa ditemui di Boulevard UGM, atau seorang tenaga kebersihan, tukang kebun atau mungkin sekedar penjual sapu ijuk yang berkelana sedemikian jauh, keluar masuk kampung dan perumahan. Mukanya penuh kerutan dan rambutnya sebagian besar sudah beruban. Namun yang istimewa adalah cahaya wajahnya. Matanya tidak sedikitpun berpaling dari mimbar tempat khatib berkhutbah. Setiap ayat yang dibacakan dan setiap nasehat dari sang khatib seperti oase yang menyejukkan, yang membasuh wajah bapak ini, wajah yang penuh kerinduan terhadap Tuhannya.

Meski Rido belum menemukan jawaban dari pertanyaan untuk apa dia dikirim ke dunia, Rido telah menemukan sesuatu dari bapak tua itu. Sesuatu yang sama yang dia lihat dari kepolosan ekspresi seorang balita yang dia jumpai ketika dia terbekap rasa ketidakberdayaan yang akut di Rumah Sakit beberapa waktu lalu. Cahaya wajah yang menuntunnya keluar dari ruang maya yang gelap. Senyum tulus seorang balita dan binar mata yang bagi Rido bermakna satu hal: kepasrahan dinamis dalam hidup.

Allahumaghfir lil mu`miniina wal mu`minaat ... ” sang khatib melantunkan doa yang menutup khutbah.

Duhai Tuhan kami yang Maha Luas Ampunan-Nya, ampunkan hamba-Mu ini atas ketidakmampuan diri mengemban misi kekhalifahan, sebagai manusia. Tanpa izin-Mu dan kuasa-Mu, yaa Allah .. maka mustahil hamba-Mu yang kecil dan tak berdaya ini mensyukuri anugerah yang telah Engkau berikan.

Rido menegakkan punggung, mengangkat kedua tangan, menghela nafas dalam-dalam, berdoa, memasrahkan kehidupannya di tangan Sang Pencipta. ”Tangan Tuhan yang akan menuntun kemana kaki ini akan melangkah ... hidupku hanyalah seutas dawai kecapi, biarlah dawai itu dipetik oleh jari-jari-Nya.” Dari luar masjid terdengar suara garengpung yang berderik-derik, bersahut-sahutan. Tanda musim segera berganti, musim kemarau menjelang.

Tak lama kemudian suara lembut ustadz Muhammad Nur mengalun lembut pada raka`at pertama. ” ... yaa ayyatuhannafsul muthma`innah, irji’ii ilaa rabbiki radliyatam mardliyyah ... .” Begitu merdunya sehingga suara itu seakan-akan mengirim Rido melayang dalam sebuah ruangan yang sangat terang, menuju Tuhan.

* * *

Untuk apa kita hidup di dunia? Itu memang bukan sebuah pertanyaan yang bisa dijawab dengan instan. Sebuah pertanyaan yang terkadang menenggelamkan seseorang ke dalam palung ketidakberdayaan yang sangat dalam, namun bukan untuk membuat perjalanan hidup terhenti pada titik itu. Pertanyaan ini hanya sekedar untuk mengingatkan bahwa kehidupan sejatinya seperti matahari dan benda-benda langit yang lain yang diperjalankan. Terbit di pagi hari dan tenggelam di kala senja. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Plosokuning-Wates, 12−14 Juli 2007

P.S.: Pelajaran moralnya 1) Jangan baca buku ”berat” di tengah-tengah keramaian, 2) Kebanyakan orang melamun saat khatib sedang berkhutbah.

Monday, May 28, 2007

Road to Conscience

Karanganyar Kebumen

Yang diatas tu pemandangan biasa aja to? pegunungan yang biasa, sawah yang biasa, pohon-pohon singkong yang biasa, teknik fotografinya juga biasa-biasa saja, dipotret sama orang biasa. Tapi itu buat orang yang nggak punya keterlibatan emosi sama foto itu.

Buat aku yang ambil foto, foto itu menggurat kenangan yang dalem banget. Dan kenangan .. terkadang memang hanya bisa dinikmati sendiri, tak bisa dibagi. Hehe .. jadi aku berbagi foto aja yak. (dengan logat banyumasan).

Tuesday, April 24, 2007

Kang Gangsar

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal masih menggantung di langit. Sayup-sayup suara rinai hujan menemani Kang Gangsar yang sedang membersihkan genangan air akibat tampias hujan di lorong Kantor Tata Usaha. Baru saja hujan deras turun, dan seperti biasa sebagai seorang Cleaning Service, Kang Gangsar selalu sigap membersihkan air yang berhasil menerobos masuk agar tidak ada orang yang terpeleset.

Dengan perlahan Kang Gangsar mengayunkan pel-nya sambil melamun. Anak sulungnya sebentar lagi menempuh Ujian Nasional dan dia masih menunggak SPP beberapa bulan. Hal ini membuatnya gundah bukan main. Entah darimana dia bisa mendapatkan uang tambahan untuk membayar tunggakan itu.

Dukk .. gagang pel-nya menabrak kaki seseorang.

“Aduh .. maaf Mas, saya ngalamun sih”

“Oh, nGgak pa pa Pak,” orang itu tersenyum. Orang ini masih muda, lelaki di pertengahan duapuluhan, baru saja selesai mengambil gelar kesarjanaan. Riko namanya.

Riko terdampar di Kantor Tata Usaha itu untuk melihat-lihat lowongan guru bantu. Meski latar belakang pendidikannya bukan Ilmu Pendidikan, tapi gelar S.Si cukuplah untuk bekal dia mengunduh cita-citanya: menjadi guru.

Riko menggeser tempat berdirinya dan meneruskan mencermati papan-papan pengumuman untuk mencari lowongan yang diinginkannya. Sementara itu Kang Gangsar meneruskan pekerjaannya dan masih saja dihantui tunggakan SPP itu.

[beberapa hari kemudian … ]

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal menggantung di langit selatan. Riko mengambil tempat duduk disamping seorang bapak tua, umurnya sekitar 50-an tahun.

“Es teh satu mas … “ pinta Riko.

“Injih mas,” sahut penjual angkring

“Lik Jumakir yang biasa jaga kemana mas?” tanya Riko.

“Oo .. teman saya itu baru ada sambatan di rumahnya, Pandansimo sana.” kata si penjual angkring sambil mengaduk gula di gelas Riko.

“nJenengan baru di sini ya Lik?”

“Iya Mas, saya nggantiin Jumakir. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan.”

“Kayaknya kita pernah ketemu ya Lik?” Riko mengamati penjual angkring itu dalam keremangan cahaya lampu teplok.

“Wah dimana ya Mas? Saya ndak inget je.” penjual angkring itu garuk-garuk kepala. “Saya sehari-hari cuma tenaga kebersihan di UNY Mas.”

“Ah iya! Berarti saya pernah lihat sampeyan di sana Lik.”

“Monggo Mas,” penjual angkring itu menyodorkan segelas es teh.

“Saya Riko Lik, langganannya Lik Jumakir.” Riko memperkenalkan diri.

“Saya Gangsar, temannya Jumakir.” balas penjual angkring itu sambil tersenyum.

Setelah menyeruput es teh-nya, Riko mangambil dua bungkus nasi kucing sambel teri dan sebuah ndhas-ndhasan ayam. Sementara Kang Gangsar menambahkan sejumlah arang ke tungku perapian.

“nJenengan ngasta dimana Mas?” tanya Kang Gangsar setelah Riko selesai menyantap nasi kucingnya.

“Wah, saya pengangguran Lik. Baru lulus kemarin. Lagi nyari-nyari kerja.” ujar Riko setelah meminum seteguk teh. “Pengennya sih jadi guru Lik. Bekerja sama anak-anak, berproses bareng mereka. Jadi guru itu cita-cita saya.” Riko menerawang ke dalam api tungku yang berwarna kuning kemerahan. “Tapi tergantung Gusti Allah maringi jalannya seperti apa. Kalo’ dapetnya kerjaan lain ya saya jalani dulu. Ning ya itu tadi, pengennya kalo’ bisa jadi guru. Guru SD.”

“Bagus itu Mas.” timpal Kang Gangsar. “Kalo’ orang kecil seperti saya ini ndak punya cita-cita. Saya dulu sempet jadi tukang bangunan, jualan mie keliling, trus diajak teman kerja jadi klining serpis sampai sekarang, trus nyambi bakul angkring buat nambah penghasilan, nyukupi biaya anak sekolah.” Kang Gangsar merapikan susunan bungkusan nasi kucing-nya.”Buat saya yang penting anak istri bisa makan, dan anak bisa terus sekolah setinggi-tingginya, biar nggak kayak bapaknya yang cuma sampe kelas tiga SD.”

“Lha itu namanya juga cita-cita Lik.”

“Tapi rak beda sama sampeyan Mas.”

“Yaa .. orang kan beda-beda Lik.” ujar Riko klise.

“Kalo’ orang tua seperti saya ini udah ndak punya cita-cita alias keinginan apa-apa … kecuali satu,” Bapak Tua disamping Riko yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.”sudah lima puluh tahun lebih saya hidup, akhirnya saya sadar kalo’ sebenernya orang itu pada akhirnya ya cuma nyari ketenangan hidup. Tentreming ati, tentreming urip. Yen atine tentrem wis alhamduliLlah …”

Riko dan Kang Gangsar manggut-manggut.

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Hujan mulai turun. Angin dingin menerobos masuk ke dalam warung angkring itu. Namun kehangatan dari api tungku yang menyala-nyala indah memberi kehangatan yang menentramkan. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Arkhadi Pustaka
Plosokuning-Sekip-Kadipaten, 24 April 2007

[teruntuk istriku dan almarhumah Ibunda sahabat terbaiknya, Aulia]

Sunday, April 01, 2007

AlhamduliLlah ...

18 Maret 2007

AlhamduliLlah .. akad berjalan lancar. Dan Bapak mertua bilang "Wuah, Gusti Allah le paring pol-polan." AlhamduliLlah yang terucap, tapi diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi teologis serta konsekuensi-konsekuensi sosio-kultural yang mengikutinya tentu. Jadi apa yang tepat? BismiLlah? AlhamduliLlah? atau malah InnaliLlah?

satu yang pasti ... Allah !

In the end of Safar, in the end of emptiness, I start new steps of my journey in my life. Allah !