Thursday, March 25, 2010

Berhenti hanya memikirkan diri sendiri

Yang di atas itu adalah pesan yang aku titipkan ke anak-anak kelas XII yang lagi pada menghadapi UN dan UM UGM. Di saat setiap anak khawatir tentang apakah dia bisa lulus atau tidak dan perhatiannya terpusat pada dirinya sendiri, adalah waktu yang tepat untuk menarik mereka keluar dan mengajak mereka untuk melihat dunia yang lebih besar.

Bagaimana caranya untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri? Apakah dengan memberikan contekan kepada teman saat ujian? Hehe, tentu bukan.

Sederhana sebenarnya. Caranya adalah dengan membuat kontrak mati, dengan diri sendiri, untuk mengabdikan diri melayani orang banyak. Sehingga ujian kita, belajar kita, tidak kita niatkan untuk diri kita sendiri tapi kita niatkan agar di kemudian hari ilmu yang kita pelajari sekarang bermanfaat untuk orang lain.

Moga-moga semua dapat yang terbaik dah. Semangat dan tetap sehat ^_-

Saturday, February 06, 2010

A Speed Test Diary

Chan dan Na berlari kecil ke Matematika 2 karena melihatku melambai-lambaikan tangan memberi tanda. Ketika mereka masuk, Speed Test dimulai. Aku memulai Speed Test jam 13.33, terlambat tiga menit dari yang seharusnya karena aku harus mampir ke Bank dulu setelah sholat Jumat.

Beberapa saat aku ikut berkutat dengan soal-soal itu, memikirkan hal apa yang perlu aku tekankan untuk mereka pelajari ketika pembahasan. Dan kemudian seperti biasa, menunggu 2x20 menit itu berlalu membuat waktu berjalan sangat lambat bagiku. Tapi tidak untuk mereka.

Hari ini ada 8 orang yang ikut Speed Test, Pus, Qor, Git, Chan, Na, Thor, Wik, dan Dev. Sembilan orang pada akhirnya, karena Son datang 8 menit sebelum Speed Test sesi kedua berakhir. Aku sampai lupa bertanya kenapa dia datang terlambat.

Mendung menggelayut di atas Sekolah. Aku sempat kehujanan waktu keluar dari Bank. Namun sepertinya sang awan berjalan pelan ke selatan dan baru turun lebat di Kotabaru ketika pembahasan Speed Test setengah jalan.

Hujan, daun felisium yang berguguran, dan gedung sekolah adalah tiga hal yang dapat menjadi mesin waktu bagiku, membawaku kembali ke masa SMA dulu. Romantikanya. Melankolinya. Dan semua tawa, tangis dan emosi yang ada di dalamnya.

Aku berdiri di antara deretan bangku-bangku menghadap ke papan tulis, mengamati anak-anak yang sedang berkutat dengan kesepuluh soal itu. Lalu, aku menengok keluar jendela, melihat awan hitam di luar yang tampak angkuh. Dan seketika aku menyadari sesuatu.

Aku lupa sejak tahun berapa Sekolah ini menerapkan sistem kelas berpindah dan nama-nama kelas berubah menjadi Biologi 1, Matematika 2, Bahasa 1 dan sebagainya. Waktu aku SMA dulu, ruang-ruang kelas masih ruang kelas II-3, kelas III-IPA-2, et cetera. Sehingga, ada masa dimana seorang siswa menghabiskan lebih dari 6 jam dalam sehari di dalam kelas.

Aku baru sadar, Matematika 2 adalah kelas III-IPA-2. Kelasku dulu! Tidak heran aku begitu familiar dengan ruangan ini. Aku juga terbiasa memandang awan dari jendela itu. Seketika memori fotografisku menghadirkan kembali teman-teman yang duduk di deretan bangku itu. Kelas III adalah masa-masa dimana seorang siswa sedang giat-giatnya belajar untuk lulus dan masuk perguruan tinggi. Aku tidak pernah lupa akan rasa itu, semangat itu.

Dan sekarang aku berada di depan kelas, menemani generasi yang baru berjuang untuk masa depan mereka. Aku bisa melihat kegelisahan mereka, namun juga semburat semangat dari wajah-wajah mereka.

Hari ini menjadi istimewa karena hujan lebat adalah pertanda baik.

Dalam perjalanan pulang, di bawah derai hujan dan ditemani sayup-sayup sebuah nomor jazz dari radio mobilku, aku merasa bersyukur dapat menemani mereka. Dan aku lebih bersyukur lagi karena anak-anak itu telah memperlihatkan semangat yang aku kenali, semangat anak Padmanaba.

Bhakti Vidya Ksatria Tama ...

Wednesday, January 27, 2010

Narsis



versi BESAR

Ikut-ikutan Nadya



I'm Purple Monkey ... who can make decisions with calm intelligence.
I can put things in action that would lead to results.
I have a personality that shows consideration for my fellow workers, my boss and those who are working under me.
Before going on a vocation, I tend to collect all the information I can to go over the plan.
I take time in preparing.
But once I am decided, the rest follows smoothly.
I dislike getting in conflict with people around me.
I don't show my emotions to others, and build a rational, conservative and safe living environment.
I have a sharp sensitivity and instinct.
I have an excellent skill to read the other person's mind from just a key word.
I am intelligent and full of knowledge.
If a person I met is likely to become useful to me, that data is quickly stored in my mind.
I possess perseverance to achieve your objective.
I will not give in to obstacles.
But I can not let others do my work.
I am not suited to be a commander.
I tend to be precise and orderly, so by facing people around me, I will be able to recieve help

*whew .. it's correct somehow. taken from here

Monday, December 21, 2009

Catatan Kuliah Mulmed Pak Naryo

instance name: bola1 (Movie Clip)

bola1.onPress = function() {
this.startDrag();
}

bola1.onRelease = function() {
this.stopDrag();
}