Monday, May 28, 2007

Road to Conscience

Karanganyar Kebumen

Yang diatas tu pemandangan biasa aja to? pegunungan yang biasa, sawah yang biasa, pohon-pohon singkong yang biasa, teknik fotografinya juga biasa-biasa saja, dipotret sama orang biasa. Tapi itu buat orang yang nggak punya keterlibatan emosi sama foto itu.

Buat aku yang ambil foto, foto itu menggurat kenangan yang dalem banget. Dan kenangan .. terkadang memang hanya bisa dinikmati sendiri, tak bisa dibagi. Hehe .. jadi aku berbagi foto aja yak. (dengan logat banyumasan).

Tuesday, April 24, 2007

Kang Gangsar

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal masih menggantung di langit. Sayup-sayup suara rinai hujan menemani Kang Gangsar yang sedang membersihkan genangan air akibat tampias hujan di lorong Kantor Tata Usaha. Baru saja hujan deras turun, dan seperti biasa sebagai seorang Cleaning Service, Kang Gangsar selalu sigap membersihkan air yang berhasil menerobos masuk agar tidak ada orang yang terpeleset.

Dengan perlahan Kang Gangsar mengayunkan pel-nya sambil melamun. Anak sulungnya sebentar lagi menempuh Ujian Nasional dan dia masih menunggak SPP beberapa bulan. Hal ini membuatnya gundah bukan main. Entah darimana dia bisa mendapatkan uang tambahan untuk membayar tunggakan itu.

Dukk .. gagang pel-nya menabrak kaki seseorang.

“Aduh .. maaf Mas, saya ngalamun sih”

“Oh, nGgak pa pa Pak,” orang itu tersenyum. Orang ini masih muda, lelaki di pertengahan duapuluhan, baru saja selesai mengambil gelar kesarjanaan. Riko namanya.

Riko terdampar di Kantor Tata Usaha itu untuk melihat-lihat lowongan guru bantu. Meski latar belakang pendidikannya bukan Ilmu Pendidikan, tapi gelar S.Si cukuplah untuk bekal dia mengunduh cita-citanya: menjadi guru.

Riko menggeser tempat berdirinya dan meneruskan mencermati papan-papan pengumuman untuk mencari lowongan yang diinginkannya. Sementara itu Kang Gangsar meneruskan pekerjaannya dan masih saja dihantui tunggakan SPP itu.

[beberapa hari kemudian … ]

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Awan tebal menggantung di langit selatan. Riko mengambil tempat duduk disamping seorang bapak tua, umurnya sekitar 50-an tahun.

“Es teh satu mas … “ pinta Riko.

“Injih mas,” sahut penjual angkring

“Lik Jumakir yang biasa jaga kemana mas?” tanya Riko.

“Oo .. teman saya itu baru ada sambatan di rumahnya, Pandansimo sana.” kata si penjual angkring sambil mengaduk gula di gelas Riko.

“nJenengan baru di sini ya Lik?”

“Iya Mas, saya nggantiin Jumakir. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan.”

“Kayaknya kita pernah ketemu ya Lik?” Riko mengamati penjual angkring itu dalam keremangan cahaya lampu teplok.

“Wah dimana ya Mas? Saya ndak inget je.” penjual angkring itu garuk-garuk kepala. “Saya sehari-hari cuma tenaga kebersihan di UNY Mas.”

“Ah iya! Berarti saya pernah lihat sampeyan di sana Lik.”

“Monggo Mas,” penjual angkring itu menyodorkan segelas es teh.

“Saya Riko Lik, langganannya Lik Jumakir.” Riko memperkenalkan diri.

“Saya Gangsar, temannya Jumakir.” balas penjual angkring itu sambil tersenyum.

Setelah menyeruput es teh-nya, Riko mangambil dua bungkus nasi kucing sambel teri dan sebuah ndhas-ndhasan ayam. Sementara Kang Gangsar menambahkan sejumlah arang ke tungku perapian.

“nJenengan ngasta dimana Mas?” tanya Kang Gangsar setelah Riko selesai menyantap nasi kucingnya.

“Wah, saya pengangguran Lik. Baru lulus kemarin. Lagi nyari-nyari kerja.” ujar Riko setelah meminum seteguk teh. “Pengennya sih jadi guru Lik. Bekerja sama anak-anak, berproses bareng mereka. Jadi guru itu cita-cita saya.” Riko menerawang ke dalam api tungku yang berwarna kuning kemerahan. “Tapi tergantung Gusti Allah maringi jalannya seperti apa. Kalo’ dapetnya kerjaan lain ya saya jalani dulu. Ning ya itu tadi, pengennya kalo’ bisa jadi guru. Guru SD.”

“Bagus itu Mas.” timpal Kang Gangsar. “Kalo’ orang kecil seperti saya ini ndak punya cita-cita. Saya dulu sempet jadi tukang bangunan, jualan mie keliling, trus diajak teman kerja jadi klining serpis sampai sekarang, trus nyambi bakul angkring buat nambah penghasilan, nyukupi biaya anak sekolah.” Kang Gangsar merapikan susunan bungkusan nasi kucing-nya.”Buat saya yang penting anak istri bisa makan, dan anak bisa terus sekolah setinggi-tingginya, biar nggak kayak bapaknya yang cuma sampe kelas tiga SD.”

“Lha itu namanya juga cita-cita Lik.”

“Tapi rak beda sama sampeyan Mas.”

“Yaa .. orang kan beda-beda Lik.” ujar Riko klise.

“Kalo’ orang tua seperti saya ini udah ndak punya cita-cita alias keinginan apa-apa … kecuali satu,” Bapak Tua disamping Riko yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.”sudah lima puluh tahun lebih saya hidup, akhirnya saya sadar kalo’ sebenernya orang itu pada akhirnya ya cuma nyari ketenangan hidup. Tentreming ati, tentreming urip. Yen atine tentrem wis alhamduliLlah …”

Riko dan Kang Gangsar manggut-manggut.

Suara gemuruh guruh terdengar dari kejauhan. Hujan mulai turun. Angin dingin menerobos masuk ke dalam warung angkring itu. Namun kehangatan dari api tungku yang menyala-nyala indah memberi kehangatan yang menentramkan. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Arkhadi Pustaka
Plosokuning-Sekip-Kadipaten, 24 April 2007

[teruntuk istriku dan almarhumah Ibunda sahabat terbaiknya, Aulia]

Sunday, April 01, 2007

AlhamduliLlah ...

18 Maret 2007

AlhamduliLlah .. akad berjalan lancar. Dan Bapak mertua bilang "Wuah, Gusti Allah le paring pol-polan." AlhamduliLlah yang terucap, tapi diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi teologis serta konsekuensi-konsekuensi sosio-kultural yang mengikutinya tentu. Jadi apa yang tepat? BismiLlah? AlhamduliLlah? atau malah InnaliLlah?

satu yang pasti ... Allah !

In the end of Safar, in the end of emptiness, I start new steps of my journey in my life. Allah !

Tuesday, February 20, 2007

Kearifan Biasa

Hujan turun rintik-rintik. Riko sedang melahap nasi kucing dengan sambel teri di sebuah warung angkring dekat Rumah Sakit Panti Rapih. Jalanan agak lengang. Maklumlah, kalau lagi hujan biasanya orang-orang memilih untuk berdiam diri di rumah. Riko sendiri memilih ke warung angkring karena memang sejak siang belum makan. Angkringan buat anak kos seperti dia adalah tempat yang paling terjangkau kocek untuk mendapatkan makan dan kehangatan dengan berdiang di dekat bara arang angkringan yang selalu menyala dan sesekali mengeluarkan suara “plethak”.

Saat Riko mencomot sebuah tahu susur, seorang bapak tua datang. Jadilah mereka bertiga di bawah tenda angkring itu. Di bawah penerangan lampu teplok yang remang-remang Riko melihat gurat-gurat kepenatan di wajah si Bapak.

“Minumnya apa Pak?” tanya penjual angkring kepada si Bapak.

“Kopi panas mawon Mas,” ujar si Bapak sambil mengambil 2 bungkus nasi.

Beberapa saat setelah itu waktu berlalu dalam diam sampai si Bapak selesai makan, begitu juga Riko.

“Rokok setunggal Mas,”

“Monggo Pak,” penjual angkring itu mengambil sebuah toples yang berisi berbagai macam rokok dan menyodorkannya pada si Bapak.

Hujan masih turun rintik-rintik. Hujan yang seperti ini biasanya awet. Sesekali cahaya lampu mobil yang lewat memberi penerangan lebih ke dalam warung itu.

“Bapak dari mana Pak?” tanya Riko memecah suasana.

“Oh, saya dari Rumah Sakit situ .. nemenin kakak saya yang lagi sakit.”

“Kakaknya sakit apa Pak?”

“Batu ginjal Dik.”

Si Bapak menyeruput kopinya.

“Kemaren sempet di laser tapi batu ginjalnya nGgak mau hancur. Jadinya sekarang di operasi. Udah dua minggu kakak saya dirawat di sini. Lha di tempat saya fasilitas Rumah Sakit-nya kurang memadai, jadi kakak saya dirujuk ke Jogja.”

“Oo.” Riko manggut-manggut. “Bapak aslinya mana to?”

“Gombong Dik.”

“Batu ginjalnya itu udah gede lho Dik. Segedhe ini.” lanjut Bapak itu sambil menunjukkan batu akik di jari manis tangan kanannya.”eh, lebih panjang sedikit dari ini.”

“wah, udah gedhe banget ya Pak.”

“Iya. Sebenernya kakak saya itu sakitnya udah lama tapi nGgak mau diperiksa. Katanya takut penyakitnya ketahuan semua. Lha terus kemarin itu tiap bangun tidur nGgak bisa langsung bangun. Pinggangnya sakit banget katanya. Akhirnya diperiksakan di Gombong sana, ketahuan kalo’ punya batu ginjal yang udah terlanjur gedhe.”

“Gara-gara minum air ledeng itu lho Dik.” sambung si Bapak lagi.”makanya ati-ati sekarang kalo’ minum air.”

“Iya ya. Banyak kaporitnya sih.”

“Usia kakak Bapak berapa to?” kejar Riko.

“Dia sudah enam puluh satu Dik. Saya lima puluh sembilan.”

“Lha kalo’ kakak saya sakit begitu yang repot jadi saya. Dia itu perjoko tuwo. nGgak punya istri. Saudara yang lain nGgak mau ngurusin. Saya juga sebenernya dimarahin istri saya, katanya kok yang ngurusin saya terus.”

“Tapi ya gimana ya Dik, lha dia itu kakak saya je.” getar-getar kesedihan terdengar jelas dalam setiap katanya.”Saya sudah di sini dua minggu nGgak balik ke Gombong. Pusing saya mikirin pekerjaan yang saya tinggal juga.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Sesekali langit diterangi cahaya kilat. Bapak itu menghisap rokoknya dalam-dalam. Pahit benar rasanya hidup. Garis-garis kelelahan di wajah tua Bapak yang kurus itu sampai mampu menceritakan bagaimana berat perjalanan hidupnya.

“Bapak ngasta dimana Pak?” sela penjual angkring yang sejak tadi diam.

“Saya di PU Mas.”

Sejenak si Bapak kembali menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskan seakan melepas segala beban hidupnya. Sampai-sampai suara hembusan nafasnya terdengar jelas.

“Lha sampeyan udah punya istri belum?" si Bapak balik bertanya kepada penjual angkring. “Kalo’ belum punya istri, gek cepet cari istri. Nanti keburu jadi perjoko tuwo seperti kakak saya itu. Kalo’ sakit nggak ada yang ngopeni nanti, ngrepoti saudara-saudaranya .. ha ha hah,” kelakar si Bapak sambil menepuk pundak penjual angkring.

Penjual angkring yang masih muda itu cuma tersipu-sipu saja.

“Belum berani nikah Pak, hasil dari jualan angkring begini belum seberapa. Takut nGgak bisa menafkahi istri saya nanti,” kata penjual angkring merendah.

“Halaahh … urip, jodho, rejeki itu yang ngatur Gusti Allah Mas,” ujar si Bapak klise, “ndak usah takut. Kalo sampeyan tawakkal, mewakilkan urusan-urusan sampeyan sama Gusti Allah, wis mesti beres.”

Sebuah mobil melintas. Cahaya lampunya menelusup ke dalam warung angkring itu. Bara arang di tungku mengeluarkan suara “plethak” dan mendadak si Bapak tertegun karena kata-katanya sendiri. Pelan-pelan garis penat di wajah si Bapak memudar. Hisapan rokoknya juga sudah tidak sedalam tadi. Ringan.

Tak lama kemudian Bapak itu berdiri dan membayarkan sejumlah uang.

“Saya mau balik ke Rumah Sakit dulu ya Dik. Permisi,” pamit si Bapak sambil tersenyum.

“Ndherekaken Pak. Semoga kakaknya lekas sembuh.” ujar Riko.

“Oh ya, Terimakasih.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Namun langit malam tak lagi terlihat kelabu. Sebentar lagi pasti akan mereda. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Minomartani,
20 Februari 2007, 06.27 WIB

Sunday, February 18, 2007

Kesendirian

Adalah momen-momen dimana aku bisa merefleksikan kembali apa pun yang telah aku alami dalam perjalanan hidupku. Momen-momen dimana pada suatu waktu yang tak tentu aku menemukan Tuhan begitu dekat melalui apa yang dinamakan "penghikmatan hidup"... begitu dekat .. begiitu dekat ... sampai kata tercekat dan waktu serasa berhenti, hanya bulir-bulir air mata mengalir di pipi.

Tepat satu bulan lagi ... aku mungkin tak akan mudah mendapatkan momen-momen kesendirian untuk menyelam dalam ke lubuk hati dan menemukan Tuhan di sana.

Tapi ... aku ingin kau baca ini istriku ... .

Momen-momen privat itu .. yang selama ini tak pernah kubagi dengan orang lain .. besok akan menjadi milikmu juga. Aku ingin kebersamaan-kebersamaan kita nantinya adalah kebersamaan di bawah naungan asma Allah ... .

Kebersamaan dimana kita bisa berbagi penghikmatan atas kehidupan dan menemukan Tuhan dimana saja .. bersama-sama ... .

Yaa Allah Yaa Mannaanu Yaa Kariim

Yaa Allahu Yaa Rahmaanu Yaa Rahiim

Yaa Allahu Yaa Fattaahu Yaa Haliim ...

hanya ridha-Mu pengharapanku ...