Thursday, December 16, 2010

Catatan Acak ke Tepus 16122010

Sudah dua kali dalam seminggu ini saya dan mas Ali ngelajo ke Tepus, ngurus tanah, menanam Jati de es be. Yang pertama Sabtu, tanggal 11 dan yang kedua Kamis ini tanggal 16.

Dari 800 sekian bibit, tadi kami cek di pos masih ada 3 bibit yang belum ditanam. Kebetulan hari ini di dusun Tepus sedang ada sripah, jadi para pekerja nggak masuk ngurus sripah itu.

Pas tanggal 11 kemaren, acaranya nglangsir Jati dari pinggir jalan ke pos di dalam sambil memastikan jumlahnya. Sempet juga sih, kami menanam beberapa bibit. Tapi sisanya dilanjutkan sama para pekerja. Pak Lurah sempet bilang kalo' nanem 800 bibit paling cuma butuh 1-2 hari. Tapi ternyata, berhubung medannya nggak rata (naik turun) sampai Kamis ini masih ada bibit yang kesisa.

Hari ini kami berangkat jam 5 pagi, sampai Tepus sekitar jam 7. Kami sempet muter-muter sebentar nyari Pak Lur karena ternyata beliau belum berangkat ke tegalan. Saya sempet kenalan sama Pak Tamsi, penjaga Balai Desa. OOT, balai desanya lumayan bagus.

Pas ketemu Pak Lur, kami diberitahu kalo' ada sripah di tempat Pak Dukuh. Oia, f.y.i. desa Tepus terdiri dari 20 pedukuhan. Lumayan luas. Well then, kami ke tegalan sambil nunggu keputusan pak Lur untuk urusan administrasi.

Di tegalan, kami survey untuk pelebaran gubuk untuk pos transit, memilih akasia yang akan ditebang dan mengambil sampel tanah untuk diuji kadar airnya di Lab. Kami pakai baju lengan pendek dan sandal jepit seperti halnya penduduk setempat. Tapi, naudzubillah, ternyata di tegalan nyamuknya guedhi-guedhi wal ganas. Habis sudah tangan kami digigiti nyamuk. Belum lagi, sandal kami nyaris putus karena lempung yang melekat bertambah-tambah. Pengalaman turun ke lapangan emang berharga.

Besok lagi, jelas kami mungkin bakal bawa boot dan autan!

Kira-kira jam 9 kami balik lagi ke tempat Pak Lurah ngurus administrasi. Sambil nunggu, kami sempet diceritain Pak Bambang dan Pak Lur (nama aslinya Pak Broto) soal kera-kera yang suka merampok panenan jagung. Makanya, kalo' punya taneman jagung harus ditungguin biar nggak dirampok kera ekor panjang.

Sebenernya agenda hari ini masih satu lagi: ngobrol sama Mbah Iman soal pengelolaan tegalan kami yang disono. Namun karena ada sripah, obrolan sama Mbah Iman ditunda dulu...

Well, di masyarakat Jawa social cost-nya emang tinggi. Harus bisa fleksibel. Ini yang kemudian menjadi seni dimana kita harus pandai-pandai mengatur tarik ulur antara produktifitas kerja dan menjaga budaya masyarakat.

Thursday, December 09, 2010

Merapi dan Pembelajaran (2)

nerusin obrolan kemaren,,,

Karena Merapi beraktifitas di daerah yang banyak penduduknya, maka selain menjadi fenomena alam erupsi gunung api, Merapi mengimbas pada fenomena sosial yang bernama tanggap bencana. Dalam kondisi tanggap bencana inilah kemudian muncul banyak pelajaran tentang hidup. Reposting mas Komo dari Harum adalah salah satu contoh dari pelajaran tentang hidup. Kisah pembelajaran yang lain tentu banyak...

Dengan adanya dialog antara fenomena alam dan manusia, muncul interpretasi terhadap fenomena alam itu sendiri dari sudut pandang humanistik dan juga membawa pada introspeksi manusia tentang hidup itu sendiri.

Itu baru bicara tentang kondisi tanggap bencana-nya, belum lagi kita bicara tentang Mbah Maridjan, atau bicara tentang potensi ekonomi yang dimuntahkan Gunung Merapi.Oleh karenanya, aku setuju banget sama piwelingnya Mbah Maridjan bahwa kita bisa belajar dari Merapi untuk menjadi Numrapi, menjadi bermanfaat untuk lingkungan di sekitar kita.

Kisah-kisah pembelajaran yang dibabar oleh Merapi yang pengen aku kasih garis tebal di sini adalah tentang bagaimana kita berusaha melihat suatu permasalahan dari sudut pandang orang lain sehingga kita mampu memahami permasalahan dengan lebih komprehensif. Misalnya kasus wafatnya Mbah Maridjan. Bagaimana stand point kita tentang hal tersebut? Menilai Mbah Maridjan kemlinthi? Atau memuji bahwa Mbah Maridjan teguh pendirian? Atau keduanya tidak ada yang mendekati benar? Dalam satu kasus ini saja, Merapi menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengajarkan kepada kita bahwa kita janganlah buru-buru memberi penilaian terhadap sebuah kejadian/fenomena.

Hal ini juga berlaku dalam kasus penilaian orang terhadap Merapi itu sendiri. Apakah Merapi merupakan ancaman? Apakah Merapi sedang marah karena orang Jogja mulai hilang keistimewaannya? Apakah Merapi sedang berdehem karena pembahasan RUUK Jogja berlarut-larut nggak selesai ujung pangkalnya? wah, bisa mremen kemana-mana... Yang muaranya adalah pelajaran untuk tidak tergesa-gesa memberi penilaian pada segala sesuatu.

Kalo' teman-teman pecinta PSSI sering berdoa "jauhkanlah kami dari Nurdin yang terkutuk", maka Merapi sedang mengingatkan kita untuk berdoa "jauhkanlah kami dari kegemaran membuat prasangka tak berdasar"

Tuesday, November 30, 2010

Merapi dan Pembelajaran (1)

Well, sambil nunggu jam14. moga-moga tulisan ini bisa berlanjut ya? lha wong udah dinomeri je ...

Merapi menjadi sebuah fenomena alam yang sangat menarik untuk dipelajari dari berbagai segi, mulai dari klenik, ilmu geologi, dan sosial masyarakatnya. Saya tentu saja tidak mampu untuk menggali semuanya secara komprehensif. Tulisan ini cuma mau mencatat hal-hal kecil yang sempat terlintas selama sebulan lebih aktifitas Merapi yang meninggi di tahun 2010 ini.

Ilmu kebumian. Ya, dengan aktifitasnya yang tinggi Merapi menarik perhatian beberapa orang (termasuk saya) untuk kemabli belajar tentang ilmu kebumian. Terutama, menjawab pertanyaan bagaimana sih kok bisa ada erupsi? Oh, ternyata jebnis erupsi itu macam-macam to? Dan masih banyak segudang pertanyaan lain. Untuk menggali ilmu bumi ini lebih dalam lagi, beruntung sekali Indonesia punya Pakdhe Rovicky yang dengan senang hati mendongeng untuk kita.

Nah, dari ilmu kebumian yang nyains ini, Sabrang (which is well known as Noe Letto) mengungkapkan pendapatnya pas Maiyah 17 November 2010. Menurut Sabrang, ilmu alam didekati secara humanistik oleh orang Jawa. Sebagai contoh, melalui ilmu titen, orang Jawa memberi nama untuk tipe petir. Kalo' bunyinya "gludhuk-gludhuk jedherr" misalnya, orang Jawa mengatakan "woh, iki Kyai Sengkelat". Kalo' bunyinya lain lagi, misalnya ... "clapp bledhuaarrr" orang Jawa mungkin punya nama lain lagi. Tidak jauh beda dimana orang barat menamai Nukleus untuk inti atom dan Dendrit untuk serabut otak. Pendekatan personifikatif dalam menjelaskan fenomena alam ini juga cukup menarik ditinjau dari segi pembelajaran. Dengan menamai fenomena alam menggunakan nama orang (person) manusia jadi merasa lebih dekat dengan alam karena kita "mengenal"-nya sebagai sesama makhluk Tuhan.

Kembali ke Merapi ...

Saya pribadi menduga-duga kalo' Nyai Roro Kidul itu sebenarnya nama dari aktifitas subduksi lempeng Indoaustralia yang ketemu sama lempeng Eurasia. Kalo' Merapi sedang tinggi aktifitasnya, konon Kraton Merapi sedang bersih-bersih karena Nyai Roro Kidul punya "gawe". Apa itu perhelatannya Nyai Roro Kidul? Kalo' kita baca penjelasannya Pakdhe Rovicky, aktifitas gunung berapi diakibatkan oleh aktifitas lempeng yang mengirimkan magma ke atas. Jadi perhelatan Nyai Roro Kidul tidak lain dan tidak bukan adalah aktifitas subduksi itu tadi... .

Dugaan yang lain, yang namanya Kyai Sapujagad yang menjaga Merapi adalah aktifitas semburan piroklastik. Beberapa orang menyebutnya "wedhus gembel". Sedangkan Mbah Petruk yang konon katanya bertugas memperingatkan akan adanya bahaya menurut dugaan saya adalah endapan-endapan lahar di seputaran Merapi, well... siapa tahu dengan memetakan endapan lahar Merapi manusia dapat melakukan forecast bahaya Merapi.

Meskipun ilmuwan belum dapat menjelaskan antara kejadian gempa tektonik dengan aktifitas gunung berapi, tetapi telah diketahui bersama bahwa kedua fenomena alam tersebut berhubungan dengan aktifitas lempeng-lempeng bumi. Dan orang jawa mempersonifikasikannya dalam wujud Nyai Roro Kidul, Kyai Sapujagad dan Mbah Petruk.

well, IMHO.

Monday, November 15, 2010

Susi

Kalo' ada waktu senggang di minggu pagi, Nana kadang minta naik delman di seputaran UGM. Lumayanlah, 10ribu sekali putar kompleks Bulaksumur. Salah satu kuda yang narik delman namanya Susi.

Kusir delman yang punya Susi tadi pagi berbagi cerita tentang kejadian awan panas yang menerjang Argomulyo Cangkringan, sembari mengendali kuda yang laju jalannya.

"saya ada teman yang rumahnya keterjang awan panas mas, alhamdulillah dia selamet."

"ho ya Pak? gimana ceritanya bisa selamat?"

"teman saya itu pas malem kejadian itu mas, lihat ada bebek putih terbang berkeliling di atas dusunnya."

saya diam mendengarkan.

"katanya sih bebek putih itu memperingatkan warga untuk sumingkir, ha trus dia langsung berkemas, surat-surat penting dan beberapa baju masuk tas. dia sekeluarga langsung pergi malem-malem menjelang dini hari itu mas."

saya terus mendengarkan.

"teman saya itu terus berusaha menghubungi adiknya untuk memperingatkan. tapi terlambat, awan panasnya keburu datang. adiknya jadi korban."

saya menghela nafas. percaya nggak percaya. Susi berhenti di pos-nya, merumput. Dan saya bersama Nana pulang, masih dalam keadaan percaya tidak percaya.

Tuesday, November 09, 2010

Ndong

believe it or not, aku nggak ngeh blas pas SMP belajar Geografi dan mendapatkan informasi kalo Indonesia dilewati jalur patahan, atau berada pada pertemuan lempeng Eurasia-Indoaustralia-Pasifik. Baru setelah terjadi banyak bencana, mulai dari Tsunami Aceh 2004, Gempa Jogja 2006, Gempa Padang 2009, sampai Tsunami Mentawai dan Erupsi Merapi 2010, barulah aku ngeh .. jadi itu to kenapa aku dulu harus tau kalo' Indonesia berada pada pertemuan lempeng benua. Tentu saja supaya aku jadi lebih waspada, tanggap terhadap fenomena alam berpotensi bencana.

Ya, aku lebih suka bilang FENOMENA ALAM BERPOTENSI BENCANA. Bencana itu terjadi ketika ada kesenjangan/gap yang besar antara fenomena alam berpotensi bencana dan kesiapan manusia. Memang, dalam kacamata yang lain (Agama) fenomena alam berpotensi bencana itu tidak semata-mata terjadi secara natural. Tentu di dalam setiap kejadian terdapat campur tangan Tuhan. Yang perlu diingat, Tuhan juga menganugerahkan kepada kita akal budi sehingga dapat menjadi khalifah di bumi.

Kembali ke frekuensi... akibat tidak dhong-nya diriku pas SMP tentang pentingnya memahami bahwa kita ada di pertemuan lempeng benua, informasi tentang pertemuan para lempeng benua itu ya jadi informasi ensiklopedik semata. Nggak ada tindak lanjutnya... Baru sekarang aku bisa mikir:

"Oh, kalo' gitu semua masyarakat Indonesia perlu siap terhadap segala bentuk fenomena alam yang berpotensi bencana, terutama yang berada pada daerah rawan seperti jalur Sumatra-Jawa-Bali-Nusa Tenggara-Timor dan area Kepulauan Maluku-Papua."


Ha njuk tentu saja, semua elemen masyarakat perlu mulai melakukan aksi nyata untuk menyiapkan diri mengantisipasi fenomena alam berpotensi bencana seperti:

1. kalo' rumahnya dipinggir pantai ya mungkin perlu meng-engineering rumah yang streamline atau bisa mengapung sehingga kalo' kena tsunami slamet.
2. nanemin Bakau banyak-banyak untuk benteng tsunami.
3. kalo' mbangun rumah ya rumah yang tahan gempa.
4. bikin sistem tanggap bencana berbasis komunitas.
5. ngasi pengertian ke anak-anak gimana caranya mengatasi situasi kebencanaan.

dan masih banyak lagi yg aku belum kepikiran...

Moga-moga yang lain tidak lebih ndong dari aku.