Tuesday, February 20, 2007

Kearifan Biasa

Hujan turun rintik-rintik. Riko sedang melahap nasi kucing dengan sambel teri di sebuah warung angkring dekat Rumah Sakit Panti Rapih. Jalanan agak lengang. Maklumlah, kalau lagi hujan biasanya orang-orang memilih untuk berdiam diri di rumah. Riko sendiri memilih ke warung angkring karena memang sejak siang belum makan. Angkringan buat anak kos seperti dia adalah tempat yang paling terjangkau kocek untuk mendapatkan makan dan kehangatan dengan berdiang di dekat bara arang angkringan yang selalu menyala dan sesekali mengeluarkan suara “plethak”.

Saat Riko mencomot sebuah tahu susur, seorang bapak tua datang. Jadilah mereka bertiga di bawah tenda angkring itu. Di bawah penerangan lampu teplok yang remang-remang Riko melihat gurat-gurat kepenatan di wajah si Bapak.

“Minumnya apa Pak?” tanya penjual angkring kepada si Bapak.

“Kopi panas mawon Mas,” ujar si Bapak sambil mengambil 2 bungkus nasi.

Beberapa saat setelah itu waktu berlalu dalam diam sampai si Bapak selesai makan, begitu juga Riko.

“Rokok setunggal Mas,”

“Monggo Pak,” penjual angkring itu mengambil sebuah toples yang berisi berbagai macam rokok dan menyodorkannya pada si Bapak.

Hujan masih turun rintik-rintik. Hujan yang seperti ini biasanya awet. Sesekali cahaya lampu mobil yang lewat memberi penerangan lebih ke dalam warung itu.

“Bapak dari mana Pak?” tanya Riko memecah suasana.

“Oh, saya dari Rumah Sakit situ .. nemenin kakak saya yang lagi sakit.”

“Kakaknya sakit apa Pak?”

“Batu ginjal Dik.”

Si Bapak menyeruput kopinya.

“Kemaren sempet di laser tapi batu ginjalnya nGgak mau hancur. Jadinya sekarang di operasi. Udah dua minggu kakak saya dirawat di sini. Lha di tempat saya fasilitas Rumah Sakit-nya kurang memadai, jadi kakak saya dirujuk ke Jogja.”

“Oo.” Riko manggut-manggut. “Bapak aslinya mana to?”

“Gombong Dik.”

“Batu ginjalnya itu udah gede lho Dik. Segedhe ini.” lanjut Bapak itu sambil menunjukkan batu akik di jari manis tangan kanannya.”eh, lebih panjang sedikit dari ini.”

“wah, udah gedhe banget ya Pak.”

“Iya. Sebenernya kakak saya itu sakitnya udah lama tapi nGgak mau diperiksa. Katanya takut penyakitnya ketahuan semua. Lha terus kemarin itu tiap bangun tidur nGgak bisa langsung bangun. Pinggangnya sakit banget katanya. Akhirnya diperiksakan di Gombong sana, ketahuan kalo’ punya batu ginjal yang udah terlanjur gedhe.”

“Gara-gara minum air ledeng itu lho Dik.” sambung si Bapak lagi.”makanya ati-ati sekarang kalo’ minum air.”

“Iya ya. Banyak kaporitnya sih.”

“Usia kakak Bapak berapa to?” kejar Riko.

“Dia sudah enam puluh satu Dik. Saya lima puluh sembilan.”

“Lha kalo’ kakak saya sakit begitu yang repot jadi saya. Dia itu perjoko tuwo. nGgak punya istri. Saudara yang lain nGgak mau ngurusin. Saya juga sebenernya dimarahin istri saya, katanya kok yang ngurusin saya terus.”

“Tapi ya gimana ya Dik, lha dia itu kakak saya je.” getar-getar kesedihan terdengar jelas dalam setiap katanya.”Saya sudah di sini dua minggu nGgak balik ke Gombong. Pusing saya mikirin pekerjaan yang saya tinggal juga.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Sesekali langit diterangi cahaya kilat. Bapak itu menghisap rokoknya dalam-dalam. Pahit benar rasanya hidup. Garis-garis kelelahan di wajah tua Bapak yang kurus itu sampai mampu menceritakan bagaimana berat perjalanan hidupnya.

“Bapak ngasta dimana Pak?” sela penjual angkring yang sejak tadi diam.

“Saya di PU Mas.”

Sejenak si Bapak kembali menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskan seakan melepas segala beban hidupnya. Sampai-sampai suara hembusan nafasnya terdengar jelas.

“Lha sampeyan udah punya istri belum?" si Bapak balik bertanya kepada penjual angkring. “Kalo’ belum punya istri, gek cepet cari istri. Nanti keburu jadi perjoko tuwo seperti kakak saya itu. Kalo’ sakit nggak ada yang ngopeni nanti, ngrepoti saudara-saudaranya .. ha ha hah,” kelakar si Bapak sambil menepuk pundak penjual angkring.

Penjual angkring yang masih muda itu cuma tersipu-sipu saja.

“Belum berani nikah Pak, hasil dari jualan angkring begini belum seberapa. Takut nGgak bisa menafkahi istri saya nanti,” kata penjual angkring merendah.

“Halaahh … urip, jodho, rejeki itu yang ngatur Gusti Allah Mas,” ujar si Bapak klise, “ndak usah takut. Kalo sampeyan tawakkal, mewakilkan urusan-urusan sampeyan sama Gusti Allah, wis mesti beres.”

Sebuah mobil melintas. Cahaya lampunya menelusup ke dalam warung angkring itu. Bara arang di tungku mengeluarkan suara “plethak” dan mendadak si Bapak tertegun karena kata-katanya sendiri. Pelan-pelan garis penat di wajah si Bapak memudar. Hisapan rokoknya juga sudah tidak sedalam tadi. Ringan.

Tak lama kemudian Bapak itu berdiri dan membayarkan sejumlah uang.

“Saya mau balik ke Rumah Sakit dulu ya Dik. Permisi,” pamit si Bapak sambil tersenyum.

“Ndherekaken Pak. Semoga kakaknya lekas sembuh.” ujar Riko.

“Oh ya, Terimakasih.”

Hujan masih turun rintik-rintik. Namun langit malam tak lagi terlihat kelabu. Sebentar lagi pasti akan mereda. Maka mana lagi nikmat dari Tuhanmu yang kau dustakan?

Fa bi ayyi aalaa-i Rabbikuma tukadzdziban?

Minomartani,
20 Februari 2007, 06.27 WIB

Sunday, February 18, 2007

Kesendirian

Adalah momen-momen dimana aku bisa merefleksikan kembali apa pun yang telah aku alami dalam perjalanan hidupku. Momen-momen dimana pada suatu waktu yang tak tentu aku menemukan Tuhan begitu dekat melalui apa yang dinamakan "penghikmatan hidup"... begitu dekat .. begiitu dekat ... sampai kata tercekat dan waktu serasa berhenti, hanya bulir-bulir air mata mengalir di pipi.

Tepat satu bulan lagi ... aku mungkin tak akan mudah mendapatkan momen-momen kesendirian untuk menyelam dalam ke lubuk hati dan menemukan Tuhan di sana.

Tapi ... aku ingin kau baca ini istriku ... .

Momen-momen privat itu .. yang selama ini tak pernah kubagi dengan orang lain .. besok akan menjadi milikmu juga. Aku ingin kebersamaan-kebersamaan kita nantinya adalah kebersamaan di bawah naungan asma Allah ... .

Kebersamaan dimana kita bisa berbagi penghikmatan atas kehidupan dan menemukan Tuhan dimana saja .. bersama-sama ... .

Yaa Allah Yaa Mannaanu Yaa Kariim

Yaa Allahu Yaa Rahmaanu Yaa Rahiim

Yaa Allahu Yaa Fattaahu Yaa Haliim ...

hanya ridha-Mu pengharapanku ...

Tuesday, January 16, 2007

Puisi Kelahiran

Aku punya puisi kelahiran yang aku temukan dibalik foto bayi-ku. Ditulis sama Papa-ku setelah aku lahir .. soalnya pas aku lahir, beliau lagi nempuh program doktoral di Amrik.

Dan beberapa hari kemaren seorang sahabat meng-Inggris-kan puisi kelahiranku itu dengan sangat indah (buatku ..)

Here it is:

"Truly, knowledge is beyond limitless

and our life is so concise

wishfully in each generation

"little servants" of humanity are born"

Fiuh .. thanks a lot buddy .. deep from my heart.

Wednesday, November 22, 2006

Culinary Pottery

[baca dengan cara bercerita anak TK Nol Besar]

Aku suka kuliner. Tiga minggu ini aku ikut kursus keramik. Jadinya ... yaa gitu deh!

Kelas Keramik

D'you want some?

Sunday, November 12, 2006

Iedul Fitri

Sebuah Corona Hitam meluncur kencang. Fitri terbaring di pangkuan Ibu di jok belakang. Kondisinya sangat lemah.

"Pak, nGgak usah ngebut ... bahaya !" kata Ibu.

"Kalau kelamaan di perjalanan nanti Fitri tambah parah Bu."

"Iya sih, tapi khan di jalanan rame begini bahaya kalo' ngebut." sahut Ibu lagi.

"Sudahlah Bu ... ," Fitri menyela lemah "Percaya saja sama Bapak." ujarnya sambil tersenyum. Semua terdiam ... senyap menyergap di tengah keramaian jalan Jogja-Semarang untuk beberapa saat.

* * *


[ beberapa jam sebelumnya ... ]

Shalat Ied di halaman Masjid At-Takwa baru saja usai. Fitri berjalan tergesa menuju rumah sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia sangat kesakitan.

"Assalamu'alaykum" salam Fitri saat masuk rumah. Orang pertama yang dicarinya adalah ibu. Setelah sungkem di hadapan ibu dan bapak, sambil masih memegangi perutnya Fitri langsung menuju kamar tidur.

"Aduu...uuhhh ... , sakit sekali ... " Fitri tergeletak di tempat tidur, kesakitan.

"Kenapa Dek ? Sakit perut ya ?" Ibu bertanya khawatir

"nGgak tahu nih, tapi perutku rasanya sakit banget."

"Wah badanmu juga panas banget begini !" ujar Ibu sambil memegang dahi Fitri

"Bisa-bisa gejala tifus, lagi musim loh" kata Bapak "kamu istirahat aja yach."

Fitri mengangguk lemah.

Fitri adikku satu-satunya. Dia lahir saat aku berumur 5 tahun. Dan setelah itu Ibu nGgak ngasih aku adik lagi. Anaknya aktif banget ... hiperaktif mungkin (;p). Sampe sekarang pun dia masih aktif banget di kampusnya. Entah berapa organisasi dia coba masuki. Setiap ditanya, katanya pengen cari pengalaman aja. Saking aktifnya kadang-kadang capek pun nggak dirasain. Yaa.. jadinya sakit parah kaya' gitu. Baru tau rasa kalo' sakitnya pas hari raya begini :)

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Gelombang tamu yang bersilaturahmi ke rumah udah abis. Kalo' udah begini biasanya kami sekeluarga siap-siap mudik ke rumah Eyang di Demak. Fitri masih saja terbaring lemah di pembaringan, bahkan nggak kuat nemuin tamu-tamu yang tadi dateng.

"Gimana dek ? Udah baikan ?" tanya Ibu.

"Belum nih Bu, masih sakit banget."

"Trus gimana dong ? Jadi ke rumah Eyang nGgak ?"

Fitri diam.

"Atau Fitri berani ditinggal sendirian di rumah ? Tapi Ibu nGgak tega ninggalin Fitri sakit sendirian." kata Ibu penuh kasih sayang. Fitri masih diam saja. "Kalo' gitu kita sekeluarga Lebaran ini nGgak usah ke rumah Eyang aja ya ? Fitri kan lagi sakit. Nanti kalo' dipaksakan malah tambah parah." lanjut Ibu.

Detak-detak jarum jam mengisi kesunyian. Muka Fitri pucat, tatapannya kosong.

"Gimana Fit ?" Ibu kembali bertanya

"Mmmm ... " Fitri diam sejenak sebelum kembali berujar, "Kita ke rumah Eyang sekarang."

"nGgak usah dipaksain Fit. nTar kamu tambah parah lagi."

"nGgak !! Pokoknya Fitri mau ke rumah Eyang."

"Tapi ... "

"Fitri jarang banget ketemu Eyang. Kalo' udah di kampus pasti nGgak bisa mudik ke rumah Eyang. Fitri pengen ketemu Eyang ... ."

Ibu terdiam bimbang

"Please ... Fitri mohon bu ... nGgak pa pa ya ? Fitri pengen ke rumah Eyang."

"Fitri ... kenapa nekat maksain mudik ke rumah Eyang ?"

" ... ," sejenak ia tercekat, " Karena ... ini Iedul Fitri." seru Fitri pelan.

" ... karena ini Iedul Fitri ... "

Ya ... Iedul Fitri. Hari Kemenangan ! Kebahagiaan Iedul Fitri sudah menunggu Fitri sekeluarga di kampung halaman. Keharuan saat bertemu sanak keluarga yang dicintai, gelak tawa riang anak-anak, cerita-cerita pengalaman hidup saudara-saudara yang ada di rantau dan semua keindahan Iedul Fitri menyambut kita semua yang mengharapkan kasih sayang Allah.

* * *


Fitri masih terbaring lemah di kehangatan pangkuan Ibu dalam perjalanan menuju rumah Eyang. Matanya memandang jok depan disamping Bapak yang kosong. Matanya berair dan tak lama berlinang air mata. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin Fitri menangis bahagia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Mungkin Fitri menangis karena bersyukur mendapatkan anugerah dari Allah berupa sakit yang didapatnya saat Hari Raya Iedul Fitri, yang membuat Iedul Fitri kali ini terasa sangat indah. Atau mungkin ... Fitri menangis karena merindukan aku, kakaknya ??? Yach .. kalo' aku masih hidup, aku pasti duduk di jok yang kosong di depan itu dan merasakan indahnya Iedul Fitri ini bersama mereka.

-was written in 3 Syawwal 1423 H (7 November 2002)