Sunday, December 30, 2018

Impulsif dan Buku

Sepulang dari muter-muter ke BookThing di seputaran Homewood dan BCPL (Baltimore County Public Library) di Pikesville, saya rada impulsif dan kepengen jajan. Tapi di kursi penumpang, jeung Ifta dan Nana asik baca buku dan malas makan (padahal sopirnya sudah lapar). Jadinya saya mengurungkan niat untuk jajan.

Sampai rumah masak sendiri ternyata malah berasa lebih enak dan kenyang, mana jelas lebih murah. Walaupun mungkin klaim saya landasan argumennya rada nggak nyambung, buku-buku yang dibaca Nana dan jeung Ifta di mobil menggiring saya untuk membuat pilihan yang lebih baik dengan makan di rumah saja.

Saya kemudian berpikir, budaya impulsif orang-orang di Indonesia yang kelihatan di Internet: jalan-jalan dan makan-makan itu apa mungkin ada hubungannya dengan tidak tersedianya alternatif lain selain wisata kuliner atau wisata belanja. Katakanlah perpustakaan yang cozy begitu dengan koleksi yang lengkap dan menarik di setiap kecamatan. Atau kalau bukan perpustakaan ya misalnya museum yang bagus begitu, yang tidak sekedar memajang artifak tapi juga menyediakan program aktifitas untuk publik dan atau keluarga.

BCPL itu punyanya Kabupaten Baltimore (Baltimore County) dan di setiap Kecamatan (misalnya Kecamatan Pikesville, Kecamatan Owings Mill, Kecamatan White Marsh, dll.) itu mereka punya perpustakaan yang cukup memadai. Saya dulu sempet heran kenapa beberapa teman-teman saya di program doktoral itu pekerjaannya sebagai pustakawan/wati BCPL. Karena dulunya saya pikir pustakawan itu kerjaannya hanya administrasi buku saja. Tapi begitu saya sering ke perpustakaan di sini, saya jadi tau kalo perpustakaan itu bukan hanya ngurusi sirkulasi buku, tetapi juga menyediakan pelayanan publik seperti mengajari ketrampilan dasar mengoperasikan komputer, menyediakan informasi dan pelatihan gratis untuk orang-orang yang ingin mencari kerja, dan lain sebagainya.

Eh, tapi apa di Kabupaten Sleman sudah ada ya jaringan perpustakaan yang lebih keren malahan? Saya aja mungkin yang ketinggalan berita?

Friday, December 21, 2018

Percakapan Tukang

Kebetulan perpustakaan kampus saya lagi direnovasi. Pas istirahat makan siang tadi saya naik lift bareng-bareng sama tukang-tukang. Tukang-tukang itu kebanyakan orang kulit putih berbadan besar dan tampangnya sangar macam pemain gulat WWF.

Nah, siang ini kebetulan ada sepotong percakapan di lift yang cukup menarik ... percakapannya pakai Bahasa Inggris tapi kok di telinga saya terdengar jadi percakapan bahasa campuran Inggris-Indonesia-Jawa:

Tukang #1: sejak jaman kapan Presiden kok twitteran. Ra mutu banget.

Tukang #2: Elho, twitteran itu supaya kita informed

Tukang #1: Ealah ... informed gundulmu. Yang ada dia nge-troll orang-orang to ...

Ding.

Pintu lift terbuka di lantai 4 dan saya keluar dari lift.

Tuesday, December 04, 2018

Radio Mobil dan Multitasking

Mobil kami itu Honda Civic tahun 1995 masih pakai persneling manual dan tentu saja dashboard-nya masih jadul. Alhamdulillah, di dashboard masih ada radio dan casette player (yang nggak pernah kami gunakan karena gak punya kaset sudah).

Di Baltimore ada lumayan banyak saluran radio. Saya kurang tahu jumlah pasti-nya berapa. Radio-nya sangat beragam, mulai dari radio gereja yang muternya lagu-lagu rohani nge-pop, radio African American yang umumnya mengangkat tema social justice, radio kampus yang biasa muter lagu-lagu indie yang tidak populer yang kalo kita dengerin kita bisa heran "who the hell is that?", radio yang spesialisasinya muter lagu-lagu rock dan menyiarkan pertandingan football-nya Baltimore Ravens, radio musik klasik, sampai ada radio khusus olahraga yang sepanjang hari isinya ulasan olahraga mulai dari football, baseball, bola basket sampai Lacrosse.

Di mobil kami ada tiga saluran utama yang paling sering kita pantengin.

Yang pertama dan utama adalah 88.1 FM WYPR. Ini kalo di Indonesia, khususnya di Jogja, adalah RRI Jogja. Radio publik lokal yang me-relay berita dari RRI pusat setiap jam-nya. Kenapa kok kami suka sama RRI Baltimore? Karena acara talk-show-nya itu asik-asik dan nerdy. Favorit kami adalah acara Wait Wait Don't Tell Me dan Ask Me Another yang diputar setiap akhir pekan. Namun informasi yang paling berguna sebenarnya adalah berita daerah, informasi jalan raya dan cuaca. Karena informasi itu bikin kita up-to-date sama situasi di Baltimore. Itulah kenapa WYPR jadi saluran nomor satu di mobil kami.

Yang berikutnya adalah 101.9 FM WLIF HD1 Baltimore. Ini saluran yang nyetel musik-musik 80-an sampai musik populer saat ini. Saluran radio ini punya tradisi unik. Mulai dari Thanksgiving sampai Natal, saluran radio ini hanya memutar lagu-lagu Natal semacam Mariah Carey "All I Want for Christmas" atau Michael Buble "Let It Snow"

Dan yang ketiga adalah 106.5 FM WWMX HD1 Baltimore atau lebih dikenal dengan nama Mix 1065. Kalau di Jogja, ini semacam Geronimo FM. Radio gaul yang isinya pop culture. Ini saluran favoritnya si Nana karena dia suka mendengarkan lagu-lagu terkini macam Panic! At The Disco atau Marshmello ft. Bastille.

Dari WYPR, WLIF dan WWMX kami sekeluarga jadi banyak belajar mengenai banyak hal mulai dari bagaimana bahasa membentuk cara berpikir seseorang, Nana belajar mengenal lagu-lagu jaman 90-an, sampai berita gosip kalau Ariana Grande potong rambut (penting jeuuung).

Belajar dari radio sambil berkendara di mobil itu salah satu contoh nyata bahwa manusia itu dibekali kapasitas untuk melakukan beberapa hal secara bersamaan alias multitasking.

Menurut saya multitasking itu setidaknya ada dua jenis. Yang pertama terjadi ketika indera dan organ motorik yang digunakan dalam proses multitasking itu berbeda. Secara teoritik kapasitas otak manusia memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Salah seorang ahli psikologi kognitif, Richard Mayer, punya teori bahwa proses berpikir seseorang itu dapat dipilah menjadi dua kanal: kanal auditoris dan kanal visual. Hal ini menjelaskan bagaimana mengendarai mobil sambil menyerap informasi dari radio (atau podcast kalau mobilnya lebih canggih) itu bisa terjadi: karena kita mengoptimalkan kedua kanal secara bersamaan. Terlebih, mendengarkan radio itu “pasif”, tidak menuntut aksi apapun walaupun mungkin pada kasus-kasus tertentu otak kita merekam informasi-informasi yang kita anggap menarik.

Jenis multitasking yang kedua adalah jenis time-shift, geser waktu. Yang biasa masak tentunya familiar dengan ilustrasi berikut: sambil menanak nasi dan menunggu nasinya matang, kita goreng telur. Ketika telur sudah siap tapi nasi masih menunggu tanak, kita cuci piring dan membersihkan dapur sehingga waktu makan malam tiba, dapur sudah bersih. Kita mengerjakan beberapa hal dengan mengalokasikan porsi waktu sedemikian rupa sehingga idle time atau waktu tunggu untuk satu pekerjaan digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Multitasking ini memerlukan latihan mental untuk menggeser fokus atau konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain secara cepat. Dus, multitasking jenis ini memiliki beban kognitif yang lebih besar.

Multitasking itu tampaknya bukan konsep yang dikenal oleh nenek moyang orang Indonesia karena sampai sekarang saya belum menemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Jawa. Walaupun demikian, baik multitasking kanal ganda ataupun multitasking geser waktu adalah keterampilan kognitif. Dan sepanjang hal tersebut adalah keterampilan, setiap orang bisa mempelajari atau melatihnya.

Hanya tersisa satu pertanyaan di benak saya sekarang. RRI Jogja apa kabar ya? Apakah program-program siaran-nya dikemas secara menarik dan informatif sehingga pendengar yang budiman bisa belajar banyak ketika terjebak kemacetan di jalan Gejayan misalnya?

Thursday, November 29, 2018

Pedagogi Lemonade

Somehow, si Nana bagi-bagi minumannya dia ke teman-teman dekatnya macam si Lucy dan si Adelaide. Kemarin sore si Nana punya ide "Bapak, buatkan resepnya dong biar teman-temanku bisa bikin Lemonade sendiri"

Jadilah hari ini saya print-out resep lemonade a la saya

(klik gambar-nya untuk melihat detail resep-nya)

Gegara nulis resep Lemonade itu saya malah jadi kepikiran tentang Objectivism vs Constructivism

Ini masalah pedagogi lho ya. Tapi saya mau menjelaskannya dengan contoh resep lemonade di atas.

Objectivism itu kurang lebih paham yang memandang "kebenaran" itu objektif, terukur. Sedangkan Constructivism itu kurang lebih paham yang memandang bahwa "kebenaran" itu dikonstruksi oleh seseorang, boleh dibilang subjektif.

Saya tulis vs alias versus bukan berarti saya mau cari mana yang lebih baik. Ini sekedar membandingkan saja.

Resep lemonade yang berdasarkan landasan teoritik objektivisme akan mengandung ukuran-ukuran semacam seberapa sendok makan jus lemon, gula dan seberapa gelas air yang diperlukan untuk membuat segelas lemonade yang segar. Keuntungannya, resep semacam ini relatif mudah direplikasi. Resep seperti ini cocok untuk produk yang memerlukan presisi semacam produk roti-rotian.

Resep lemonade yang berdasarkan landasan teoritik konstuktivisme itu seperti resep lemonade a la saya itu tadi. Tidak ada takaran pasti tapi ada instruksi untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Keuntungannya resep ini menyesuaikan dengan selera setiap orang. Karena ada orang yang suka lemonade-nya kecut ada yang suka manis, ada yang tidak suka lemonade ... eh ... yo rasah nggawe wae mas ...

Sekali lagi, ini bukan masalah mana yang lebih ho oh antara objektivisme dan konstruktivisme karena masing-masing dapat diterapkan sesuai dengan keperluan.

Tuesday, October 30, 2018

Afiliasi

Jikalau saya diminta untuk memilih satu dari beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari MMORPG (Massive Multiplayer Online Role-Play Game) maka saya akan memilih satu kata ini : afiliasi.

Afiliasi itu akar katanya filius yang artinya "anak laki-laki" atau "sesuatu yang disukai", mendapatkan awalan ad- yang berarti "menuju" dan akhiran -ation yang berarti "proses". Secara etimologi, afiliasi itu artinya "proses menuju anak laki-laki/sesuatu yang disukai". Aneh ya? Hehe. Secara umum, afiliasi itu keanggotaan atau keterikatan seseorang pada sebuah kelompok dengan kesamaan atribut.

Di dalam MMORPG hal tersebut menjadi sangat terlihat dalam beberapa hal. Salah satunya adalah mengenai konsep afiliasi pemain dengan guild/aliansi. Guild itu kurang lebih sekelompok pemain yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Dalam pembelajaran, kita mengenal belajar kolaboratif atau belajar kelompok. Selama ini kadang instruktur taking it for granted kalau belajar dalam kelompok itu cenderung lebih sukses daripada belajar secara individual. Padahal belum tentu demikian. Kalau kolaborasi-nya benar, seorang pemelajar memang akan lebih sukses belajarnya dibanding ketika dia belajar secara individual. Tapi kalau guild-nya nggak bener, malah sengsara jadinya. Hal yang demikian lebih mudah ditemui di dalam MMORPG. Solusinya? Pindah guild. Kelompoknya ditata ulang.

Dalam kehidupan, setiap orang punya afiliasi terhadap kelompok tertentu. Dan afiliasi tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Kadang-kadang afiliasi dan identitas ini berlaku dua arah. Identitas kita menentukan afiliasi dan sebaliknya afiliasi menentukan identitas.

Yang kurang dipahami banyak orang adalah bahwa afiliasi dan identitas itu tidak selamanya dua arah.

Seperti gampangnya begini: karena tetangga kami, Yocheved, itu beragama Yahudi dia memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang Yahudi. Di belahan bumi yang lain, Benjamin itu juga beragama Yahudi dan melakukan agresi terhadap orang Islam di Gaza. Apakah kemudian kami harus membenci Yocheved akibat kelakuan Benjamin? Jawabannya: tidak, tanpa mengesampingkan fakta bahwa kelakuan Benjamin itu nggak bener.

Afiliasi ini kadang kepleset jadi generalisasi. Lalu kita bisa kecipratan guilt by affiliation. Padahal ya nggak begitu. Itu pemaknaan yang keliru terhadap frase guilt by affiliation.

Kalau kita membenci kelakuan seseorang yang memiliki atribut tertentu itu sebenernya yang kita benci adalah kelakuan-nya, tapi kita lebih mudah melihat atribut-nya. Seperti misalnya kalau ada orang Islam yang ngebom-ngebom nggak jelas itu yang kelihatan atribut keislamannya. Padahal sebenernya yang kita benci itu perilaku ngebom-ngebom yang tidak jelas itu. Yang anti-Islam kemudian menyalahkan bahwa kelakuan tersebut dianjurkan dalam teks agama. Apa iya begitu? Enggak.

Makanya kalau berdoa itu salah satu bagian doa kita adalah bahwa kita berlindung dari "the evil within ourselves", dari hal-hal buruk yang mungkin kita sendiri melakukannya.

Memaknai afiliasi secara keliru kadang berujung stereotype. Misalnya, kalau kebetulan banyak kriminalitas yang dilakukan oleh orang kulit hitam lalu kita kepleset membuat stereotype bahwa orang berkulit gelap itu jahat. Padahal kulit saya juga gelap je ...

Di lain pihak, kita tahu bahwa White Supremacist itu jelas orang kulit putih. Tapi apa kemudian semua orang kulit putih di Amerika itu jahat seperti orang-orang KKK? Tidak. Yang baik juga banyak.

Nah, kebetulan saya nyebut KKK. Yang demikian ini jelas antara afiliasi dan identitas berlaku dua arah karena memang organisasi tersebut disatukan oleh sesuatu yang nggak bener : supremacy.

Supremacy itu landasannya arogansi, anggapan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain semata-mata karena dirinya terbuat dari bahan tertentu yang menurutnya lebih baik. Familiar? Iya, ini perilaku iblis. Iblis merasa lebih baik dari manusia hanya karena dia terbuat dari api, sedangkan manusia terbuat dari tanah.

Implikasinya, semestinya orang beriman itu nggak arogan. Karena kalo orang beriman merasa lebih baik dari orang lain jadinya kontradiktif. Lha katanya beriman tapi kok kelakuannya kelakuan iblis? Cukuplah Gusti Allah saja yang memuji bahwa orang yang bertakwa itu lebih tinggi derajatnya tanpa perlu kita mbagusi, rumongso sudah bertakwa ...

Should I wrap it up? Saya nulis panjang banget ini karena saya sedih ada penembakan di sinagog di Pennsylvania. Tapi setelah itu rada terhibur ketika ada umat Islam yang rame-rame memberikan dukungan ke masyarakat Yahudi korban penembakan itu.

Buat orang Indonesia yang umumnya benci sama orang Yahudi, seperti hal-nya saya dulu juga membenci buta orang Yahudi, mungkin berita orang Islam membantu orang Yahudi itu semacam cognitive dissonance ... Padahal kuncinya sederhana: perilaku, identitas dan afiliasi itu jangan dipelesetkan menjadi generalisasi dan stereotype karena kehidupan sosial bermasyarakat di dunia nyata itu nggak segampang pindah guild di MMORPG.