Friday, February 07, 2020

Poligami

Poligami diperbolehkan dalam Islam 🗹 True

Poligami diperbolehkan untuk memfasilitasi syahwat laki-laki ☒ False

Poligami dianjurkan ☒ False

Poligami diperbolehkan karena kondisi sosial politik tidak memberi jalan lain selain melakukan poligami for the greater good (Q.4:2-3) 🗹 True

Aturan Islam mengenai syahwat laki laki itu "yahfadhu furuujahum" (Q.24:30) 🗹 True

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ - 24:30


"Tell the believing men to lower their gaze and guard their private parts. That is purer for them. Indeed, Allah is Acquainted with what they make."

***
Poligami itu nggak ada hubungannya sama syahwat laki-laki, apalagi hipotalamus.

Monday, January 20, 2020

Beban Kognitif

Setiap pekerjaan memiliki beban kognitif, alias seberapa sulit pekerjaan itu dilakukan.

Belajar itu bisa dimaknai sebagai proses untuk menurunkan beban kognitif dari suatu pekerjaan yang bersangkutan. Well, mungkin nggak sepenuhnya tepat, tapi begini maksud saya.

Contohnya kalau seseorang tidak bisa berbahasa Inggris, lalu diminta untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris, tentu orang tersebut mentok, tidak bisa mengerjakannya, ada beban kognitif yang sangat besar karena tidak adanya informasi penunjang dalam memori jangka panjang orang yang bersangkutan. Namun, ketika orang itu kemudian pelan-pelan belajar bahasa Inggris, beban kognitifnya lama-lama berkurang sampai tingkatan dimana orang ybs. lancar menerjemahkan sebuah kalimat bahasa Inggris. Tapi bukan berarti beban kognitifnya menjadi 0. Kalau kalimatnya ditambah menjadi sebuah paragraf, dan paragraf menjadi sebuah bab, dan bab menjadi sebuah buku, beban kognitifnya besar juga. Bukan karena orang ybs. tidak mampu menerjemahkannya, namun beban kognitifnya berasal dari volume pekerjaannya. Di sinilah Google Translate menjadi sangat membantu.

Curang? Enggak dong. Kan emang tersedia alatnya.

Dengan Google Translate yang sudah semakin cerdas karena semakin sering dipakai dan dikoreksi oleh buanyak sekali orang, pekerjaan menerjemahkan itu tinggal proof-reading saja, pengecekan kepantasan dan konteks kalimat. Lagi lagi, beban kognitifnya jadi lebih rendah.

Ini namanya Computational Thinking (CT) alias Berpikir Komputasional.

Secara umum definisi CT itu adalah proses pemecahan masalah dengan menyadari bahwa kita punya teknologi (atau teman) yang bisa membantu kita, sehingga bagaimana caranya kita memanfaatkan teknologi (atau teman kita) itu supaya beban kognitif proses pemecahan masalahnya jadi jauh lebih ringan.

Begitu, Ferguso. Hehe.

Sunday, January 19, 2020

Kilas Balik

Flashback ke pertengahan Mei 2019

***

Sekedar meninggalkan catatan singkat dan berbagi cerita ...

Kemarin sore, waktu saya nderes di depan Bapak mertua, kebetulan saya sampai pada akhir surah Kahfi.

Lalu Bapak mertua menghentikan saya dan berkata "kuwi ayat kuwi woconen sak durunge turu" (Bhs. Jawa Ngoko artinya : itu, ayat itu bacalah sebelum tidur)

"saking pundi Pak?" tanya saya (Bhs. Jawa Halus artinya : dari bagian yang mana Pak?)

"seko sakdurunge sing terakhir" (Bhs Jawa Ngoko artinya : dari yang sebelum yang terakhir)

Akhirnya saya mencoba untuk menterjemahkan agak mundur dari ayat 107 sampai terakhir ayat 110 yang terkait dengan keutamaan orang beriman dan berbuat baik.

Innalladziina aamanu wa 'amilush shaalihati,
[sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh,]

kaanat lahum jannatul firdausi nuzula (107)
[diperuntukkan bagi mereka surga firdaus (sebagai) tempat peristirahatan (107)]

khaalidiina fiiha;
[mereka orang-orang yang tinggal selamanya di dalamnya;]

laa yabghuuna 'anha hiwala (108)
[tidaklah mereka akan menginginkan dari tempat itu, berpindah lagi (108)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

lau kaanal bahru midaadal likalimati rabbi
[seandainya dijadikan lautan (sebagai) tinta untuk (menuliskan) kalimat Tuhan]

lanafidal bahru
[pastilah habis laut (itu)]

qabla antanfada kalimaatu rabbi
[sebelum habis (tertulis) kalimat Tuhan]

wa lau ji`naa bimitslihii madada (109)
[dan (bahkan) jika Kami datangkan (sebanyak lautan) yang sepertinya lagi (sebagai) tambahannya (109)]

Qul
[Katakanlah (O Muhammad):]

innamaa ana basyarum mitslukum
[sungguh sebenarnya aku manusia sepertimu]

yuuhaa ilayya
[telah diwahyukan kepadaku (bahwa)]

annamaa ilaahukum ilaahuw waahid
[sesungguh-sungguhnya sesembahanmu (adalah) sesembahan yang tunggal]

faman kaana yarju liqaaa-a rabbihi
[maka apabila seseorang mengharapkan untuk berjumpa dengan Tuhan-nya]

falya'mal 'amalan shaalihan
[maka perbuatlah perbuatan/amalan yang saleh]

wa laa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahada
[dan janganlah mensekutukan dalam penyembahan/peribadatan (kepada) Tuhan-nya (dengan) satu pun]

Wallahu a'lam

Friday, January 17, 2020

F*** It, Lets Ask Google


Kebetulan tadi pagi saya dapat soal tebak-tebakan matematika dari grup yang saya ikuti. Karena saya rada hobi main tebak-tebakan, sambil nongkrong di toilet saya mencoba menemukan jawabannya.

Tapi setelah selesai nongkrong, malah dapet ide buat googling aja jawaban tebak-tebakannya.

Jaman sekarang, soal tebak-tebakan itu semacam kadaluwarsa karena ada Google.

Tinggal ketik sebagian dari kata-kata di dalam soal tersebut, Google langsung kasih jawabannya.

Pertanyaannya: ngapain harus belajar kalo semua-semuanya sekarang bisa digugel.

Jawabannya menurut saya: pertama, tidak semuanya sekarang bisa digugel, atau bahkan besok besok dan besoknya lagi. Ada permasalahan-permasalahan dalam kehidupan yang tidak bisa diselesaikan dengan googling.

Googling mungkin memang bisa ngebantu ngasih kita informasi, tapi pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah itu sepenuhnya jatahnya manusia.

Kedua, please define: BELAJAR.

Kalau konteks belajarnya itu main tebak-tebakan kayak di Ujian Nasional ya sebenernya emang f*** it. We can just ask Google.

Artinya, harus ada perubahan dalam tujuan pembelajaran, perubahan dalam sistem evaluasi pembelajaran di sekolah-sekolah. Kalau tebak-tebakan itu jadul, ya evaluasinya jangan main tebak-tebakan.

Bukan berarti hal-hal mendasar macam kemampuan membaca dan berhitung itu jadi kadaluwarsa, tapi ada semacam kecakapan yang dulunya mungkin penting (seperti mengerjakan tebak-tebakan) sekarang jadi kurang penting dengan adanya Internet yang bisa diakses kapan saja dimana saja.

Apalagi, sekarang banyak permasalahan yang lebih besar dari tebak-tebakan. Perubahan Iklim misalnya. Kesenjangan Sosial misalnya. Segregasi dan Diskriminasi atas dasar Ras dan Agama misalnya.

You can ask Google about those things, but how and where you would stand on those issues ... that's on YOU.

Thursday, January 09, 2020

Hitam dan Putih

Ini tentang konflik Timur Tengah yang saya tahu sedikit-sedikit dari berita dan media sosial. Tapi mungkin juga tentang sesuatu yang lain.

Ketika berita pembunuhan Jenderal Soleimani oleh trump keluar, saya pribadi merasa "kurang ajar bener ini si trump". Tapi setelah baca-baca lagi, ternyata memang permasalahannya tidak bisa dilihat se-hitam-putih itu.

Dari situs berita dan twitter, kita tahu baik trump yang amoral itu dan Jenderal Soleimani dua-duanya berlumur darah.

Saya jadi mikir ... kenapa ketika kita melihat suatu konflik, dalam hal ini konflik Timur Tengah, ada kecenderungan liatnya hitam putih. Siapa jagoannya siapa penjahatnya. Apa saya kebanyakan nonton filem Avengers?

Hal ini mungkin berlaku untuk pokok bahasan lain: mana yang salah, mana yang benar, mana yang baik, mana yang jahat ... itu mungkin kecenderungan umum manusia untuk mencari perbedaannya. Apalagi ketika pilihan yang disajikan disederhanakan jadi dua seperti Jokowi vs. Prabowo, atau Demokrat vs. Republikan, atau Iran vs. Amerika. Kita selalu ingin tahu, mana jagoannya.

Repotnya, dalam konteks sosial-politik, perbedaan hitam dan putih itu nggak sekontras kotak-kotak papan catur. Saya jadi bertanya, apakah pertanyaan "mana jagoannya" itu patut ditanyakan dalam konteks seperti itu? Mungkin kitanya yang salah bertanya.

Trus harusnya tanyanya gimana dong? 5W1H.

Desakan keinginan untuk tahu mana jagoannya itu mungkin karena kita ingin menyederhanakan permasalahan dan melompat pada bagian kesimpulan, tanpa harus pusing mikir konteks dan lain sebagainya.