Monday, June 19, 2017

Classic Liquid Rainbow

Udah pernah posting percobaan ini belum ya? Lupa. Hehe. Seandainya reposting mohon dimaafkan :D

Alat & Bahan:

1. Pipet ... kemarin habis dari toko craft (Michaels) beli essential oil tapi sebenernya yang diincer pipetnya wkwkwk.

2. Vials/Test tube ... itu dapetnya juga dari Michaels. Di amazon juga ada sih ... atau di toko sains untuk anak, di Indonesia ada beberapa.

3. Tiga gelas untuk melarutkan gula plus 1 wadah untuk air cuci-cuci.

4. pewarna makanan, merah - kuning -biru. Dapetnya dari Shopper, kalo di Indonesia biasanya ada di toko bahan kue-kue.

5. Gula (tiga cup)

6. Play-dough buat stand test-tube-nya *optional


Cara Main:

1. Rebus air untuk melarutkan gula.

2. Larutkan 2 cup gula di gelas I, 1 cup gula di gelas II, dan tanpa gula di gelas III. Volume tiap gelas diusahakan sama.

3. Warnai gelas I dengan pewarna makanan merah, gelas II dengan pewarna makanan kuning, dan gelas III dengan pewarna makanan biru.

4. Dengan menggunakan pipet, masukkan 2-3 pipet larutan gelas I ke dalam test tube, lalu masukkan 2-3 pipet larutan gelas II.

TIPS: gunakan sisi dalam test-tube (side drip) jangan vertical drip supaya larutannya nggak nyampur-nyampur amat. Dan terakhir masukkan 2-3 pipet larutan gelas III dengan teknik side-drip juga.

TIPS: diantara nge-drip larutan satu dan yang lain, pipetnya dicuci di gelas cuci-cuci biar nggak kecampur warnanya ...

5. Voila! Kalo pemula dan side-drip-nya kurang halus biasanya masih nyampur liquid rainbow-nya, tapi kalo udah paham kenapa itu larutan bisa kepisah, nanti bisa lebih jelas pemisahan warnanya karena nge-drip-nya jadi lebih hati-hati.

Pertanyaannya: kok bisa ya warnanya kepisah begitu?

HINT: Viscosity

Monday, June 05, 2017

Mr. Rogers, Media Sosial, dan Kanjeng Nabi

Fred Rogers adalah seorang pembawa acara sebuah program untuk anak yang tayang di televisi publik Amerika Serikat dari tahun 1968 sampai 2001. Programnya berjudul “Mister Rogers Neighborhood”. Program ini adalah program pendidikan anak yang menitikberatkan pada pentingnya “expression of care”, bahwa setiap orang adalah unik dan spesial.

Mr. Rogers punya latar belakang pendidikan musik, dan memang berbakat di bidang musik sejak kecil. “Music is my first language,” ujar beliau. Melalui denting piano, Mr. Rogers mengekspresikan rasa senang, sedih dan bahkan kemarahan. Bakat musiknya ini menjadi bekal untuk terjun ke dunia pertelevisian. Yang menarik, keputusannya untuk bekerja di industri media televisi bukanlah karena beliau ingin mengekspresikan bakat musiknya melainkan didorong oleh kebenciannya terhadap konten televisi yang dangkal dan tidak mendidik.

Di tahun-tahun pertamanya di industri pertelevisian, 1950-an, sembari bekerja Mr. Rogers mengambil studi keagamaan di Pittsburgh Theological Seminary. Beliau juga mengambil program master di bidang Perkembangan Anak di Pittsburgh University. Usai ordinasi dari Seminari, Mr. Rogers tidak ditugaskan menjadi pendeta melainkan diminta untuk meneruskan apa yang telah dia kerjakan di bidang pendidikan anak melalui medium televisi. Lahirlah program “Mister Rogers Neighborhood”. Tanpa harus membawa nama agama, Mr. Rogers menyebarkan salah satu nilai mendasar dari agama: kemanusiaan.

Pesan-pesan yang dibawa Mr. Rogers sangat konsisten dengan tema “the expression of care”. Misalnya, “you are special just the way you are” atau “show and tell what the good in life is all about”. Ketulusan dan kepiawaian Mr. Rogers membawakan acaranya setiap hari memikat hati anak-anak. Banyak testimoni yang menyatakan bahwa Mr. Rogers membuat mereka merasa ada dan spesial. Kata-kata yang dipilih oleh Mr. Rogers disusun sedemikian rupa sehingga pemirsa merasakan bahwa Mr. Rogers berbicara langsung kepada mereka. Dalam 33 tahun karirnya berkarya melalui “Mister Rogers Neighborhood”, Mr. Rogers menjelma menjadi tetangga terbaik yang pernah dimiliki oleh anak-anak Amerika.

Begitu berkesannya Mr. Rogers bagi anak-anak Amerika di era 70-90-an sampai-sampai kriminal pun segan dengan Mr. Rogers. Ada sebuah anekdot yang menceritakan pada suatu hari mobil Mr. Rogers dicuri orang. Namun hari berikutnya, mobil tersebut kembali dengan secarik catatan “I am sorry, I didn’t know that this car is yours. Had I known that this car is yours, I wouldn’t steal it in the first place”. Kurang lebih seperti itu.

Mr. Rogers wafat di usia 74 tahun karena kanker saluran pencernaan pada tahun 2003. Meskipun beliau telah tiada, karya-karya-nya masih relevan dengan kondisi kita saat ini. Bedanya, dominasi media sudah mulai beralih dari televisi ke Internet. Atau lebih spesifik lagi, media sosial.

Tidak sedikit dari kita yang mulai jengah dengan konten media sosial. Gelap. Dangkal. Tidak mendidik. Frustrating. You name it. Apa yang bisa kita lakukan? Tak perlu reaktif, namun tak perlu juga kita diam. Kita baca berita yang penuh kegelapan seperti berita Donald Trump ataupun tragedi kemanusiaan di sana-sini. Kita terima berita itu sebagai kenyataan. Namun, tidak perlu kita ikut membesar-besarkan. Ketika dunia tampak begitu gelap, masih ada kebaikan-kebaikan di dalam hidup, di sekitar kita. Seperti kata Mr. Rogers, “show and tell what the good in life is all about.”

Kanjeng Nabi Muhammad SAW., ketika hijrah ke Madinah, memberikan nasihat kepada kaum Muhajirin dan Anshar: “Yaa ayyuhan-naasu afsyuus-salaam...”. Wahai sekalian manusia tebarkanlah salam ... tebarkan kasih, tebarkan keberkahan, tebarkan kedamaian. Secara literal, pesan ini dapat dimaknai sebagai perintah untuk mengucapkan salam kepada orang lain baik ketika berjumpa maupun berpisah. Namun dalam konteks kekinian, menebarkan salam itu dapat juga berlaku ketika kita menuliskan status di media sosial. Sudahkah kita menebarkan salam? Sudahkah kita menebarkan kebaikan?

Cukuplah berita mengenai kegelapan dunia itu dikabarkan oleh awak media seperti CNN atau BBC News, karena itu adalah tugas mereka. Kita sebagai individu memiliki kehidupan. Di dalam kehidupan kita ada hal-hal baik yang dapat kita bagikan melalui media sosial. Let us express our care. Bring courage. Jadilah tetangga yang baik di media sosial. Tebarkan salam.

Friday, January 06, 2017

Perundungan alias Bullying

Saya mau menerjemahkan secara bebas laman federal stopbullying.gov terkait definisi bullying supaya kita bisa memahami bullying dengan lebih seksama.
Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif dan tidak menyenangkan, dus tidak dikehendaki, yang melibatkan "power imbalance" atau dominasi satu pihak terhadap pihak yang lain. Baik pelaku bullying maupun korban bullying sama-sama beresiko memiliki masalah psikologis di kemudian hari seperti depresi atau bahkan sampai bunuh diri.
Ada tiga jenis bullying.
Pertama, perundungan lisan (verbal bullying) termasuk melalui teks/teknologi. Verbal bullying meliputi olok-olok (teasing), mengejek dengan memberi atribut yang buruk (name-calling), komentar tidak senonoh (inappropriate sexual comment), memprovokasi/merendahkan (taunting/insulting), dan mengancam (threatening to cause harm).
Kedua, perundungan sosial (social bullying). Social bullying meliputi mengucilkan, menebar rumor/fitnah, dan mempermalukan seseorang (shaming).
Ketiga, perundungan fisik (physical bullying). Physical bullying meliputi segala sesuatu yang mengakibatkan rasa sakit secara fisik (memukul, menendang, menjegal, menampar ... you name it), meludahi orang lain, merusak barang milik orang lain, dan membuat simbol yang kasar/tidak sopan (kalo di sini contohnya memberi jari tengah kepada orang lain).
Bagaimana kita menghadapi atau berurusan dengan bullying?
Pertama, jangan melabeli anak sebagai bully ataupun korban. Memberi label seakan-akan menganggap perilaku itu tidak bisa diubah. Kita bisa mengubah perilaku.
Kedua, beri contoh bagaimana bersikap ketika kita menerima perilaku bullying ataupun melihat perilaku bullying. Contoh praktisnya, kita harus berani berkata bahwa perilaku bullying itu tidak baik dan tidak menyenangkan, seperti: "eh jangan begitu, nggak baik itu".
Ketiga, mengedukasi masyarakat mengenai bahaya dan pencegahan bullying sejak dini.
Be a buddy, not a bully. Jadilah teman, bukan preman.

Friday, February 05, 2016

Satu Mug Brownies

Semuanya satu ...
Bahan:
1 sdm makan tepung
1 sdm nutela (yang agak generous hehehe)
1 sdm minyak sayur
1 butir telur
sejimpit baking soda
(boleh ditambah 1 sdm gula kalau mau agak manis)
Campur semua bahan di dalam mug, kocok (whisk) pakai garpu yg kencang biar adonannya tercampur rata. Lalu dimasukkan microwave 1 menit 45 detik.


*. di foto itu, Brownies-nya diberi topping cream cheese dan potongan anggur.

Friday, January 15, 2016

Dua Kesalahan

Pagi ini Nana menunjukkan beberapa lembar kerja (worksheets) yang dia kerjakan di sekolah. Salah satunya adalah lembar kerja terkait dengan pemahaman bacaan (reading comprehension). Setiap halaman lembar kerja diberi nilai oleh gurunya berdasarkan jumlah jawaban benar. Sebagai contoh, kalau di dalam sebuah lembar kerja ada lima kotak isian dan Nana mengisi dengan benar kelima-lima-nya, dia mendapat nilai 5/5.
Saya tidak tertarik dengan berapa jumlah nilainya. Yang saya tertarik adalah berapa jumlah salahnya. Ternyata si Nana hanya salah satu saja. Saya minta dia menunjukkan di mana letak salahnya. Kemudian saya bantu dia untuk memahami bagaimana jawaban benarnya. Ini namanya evaluasi formatif.
Dalam evaluasi belajar, jumlah benar menunjukkan bahwa pemelajar (learner) sudah memahami topik yang dipelajari. Sedangkan kesalahan adalah peluang untuk mengulang kembali dan meningkatkan pemahaman terhadap topik yang dipelajari.
Saya jadi berpikir bahwa dalam proses belajar ada dua jenis kesalahan. Yang pertama adalah jenis kesalahan yang timbul akibat pemelajar belum memahami topik yang dipelajari. Kita sebut saja, kesalahan formatif. Yang kedua adalah jenis kesalahan yang timbul akibat sikap mental yang keliru. Kita sebut saja kesalahan substantif.
Apa contohnya kesalahan substantif? Saya ambil contoh si Nana lagi. Waktu Nana kelas satu, ada masanya Nana mengalami kesulitan belajar. Kalau saya tidak salah, dia sulit mengeja kata dalam Bahasa Inggris. Sampai sekarang pun Nana kadang masih salah mengeja. Tapi waktu kelas satu, ketika saya koreksi kesalahan ejaannya, Nana merasa frustasi dan merasa tidak akan pernah bisa mengeja dengan benar. Lalu Nana enggan meneruskan pekerjaan rumahnya. Ini kesalahan substantif. Oleh karenanya, saya beri tahu dia bahwa di dalam proses belajar, kegagalan itu sesuatu yang biasa. Tidak perlu frustasi. Lalu pelan-pelan Nana berusaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitannya.
Contoh kesalahan substantif lain itu kesalahan substantif berjamaah. Ketika lingkungan akademik memandang nilai sebagai alat evaluasi utama proses belajar, baik instruktur maupun pemelajar kemudian terpaku pada berapa jumlah benar yang harus diraih, lupa terhadap substansi proses belajar. Ditambah dengan batasan-batasan waktu dan target-target materi belajar yang banyak, muncullah perilaku-perilaku menyimpang seperti mencontek ketika aturannya tidak memperbolehkan siswa mencontek. Atau muncul juga praktik-praktik dimana guru memberikan bocoran jawaban untuk ujian nasional. Apa gunanya gitu loh?
Proses belajar itu makan waktu, kadang menyakitkan karena kita harus menelan kegagalan. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan belajar yang menghargai kegagalan (embrace failures). Salah satu alasan mengapa video game itu engaging adalah karena gamers tidak takut gagal. Setiap kali gagal, gamers bisa restart lagi. Apakah mungkin kita membuat lingkungan belajar yang menghargai kegagalan? Apakah tidak terlalu makan waktu? Ya tergantung desain pembelajaran atau kurikulum-nya, tergantung nilai-nilai (values) apa yang kita inginkan untuk hadir dalam proses pembelajaran.
Saya berharap suatu hari setiap anak paham bahwa belajar itu bukan ketika mereka mendapat nilai baik, tapi ketika mereka menikmati prosesnya.