Wednesday, October 13, 2021

Constantin

 (repost dari catatan di FB 13 Oktober 2018)

Sudah beberapa minggu ini di Masjid Al-Ihsan tempet saya Jumatan ada orang baru yang agak berbeda. Jamaah Masjid Al-Ihsan itu umumnya African American, beberapa keturunan Arab atau Timur Tengah. Nah, orang ini profilnya bukan Arab atau Timur Tengah dan kulitnya putih, jelas bukan African American.

Hari ini sewaktu saya hendak masuk ke mobil, saya lihat orang tersebut berusaha cari tumpangan di pinggir jalan usai sholat Jumat. Tampaknya ketinggalan bus. Sambil agak terpincang jalannya, dia melambaikan tangan ke mobil yang lewat. Sepatunya tipis dan tampaknya di sekitar mata kakinya lecet-lecet karena berjalan jauh dengan sepatu yang kurang pas buat jalan jauh. 

Saya tanya dia mau kemana. Dia bilang dia ada training dan dia menunjukkan peta di HP-nya. Dia tanya saya punya HP tidak. Saya bilang HP saya flip-phone nggak ada petanya. Dia tanya itu karena HP dia dalam bahasa Rusia. Saya lihat di HP-nya tempat tujuannya hanya sekitar 16 menit kalau pakai mobil. Jadi saya bersedia antar dia.

Dalam perjalanan, saya tanya namanya. "Constantin," dia bilang, "from Kazakhstan". Saya tanya "How long have you been in the US?" Dia tidak bisa jawab karena dia tidak paham pertanyaannya "no English" kata dia. Saya mafhum. Saya bilang lagi "in US, months? how many months?" Dia baru paham hehe. Dia bilang baru dua bulan. "Two month, two month," katanya. 

Setelah itu dia minta izin telepon sodaranya. Sepanjang jalan dia ngobrol pakai bahasa Rusia dengan sodaranya di telepon. Sepertinya bilang kalau dia dapat tumpangan dan sodaranya kayaknya nggak percaya kalo ada yang kasih tumpangan di Amerika. Ya pahamlah, karena ini jamannya Uber dan Lyft gitu lho ...

Buat saya, ini itung-itung "pay it forward". Dulu saya juga pernah diberi tumpangan gratis setelah sholat Jumat dari Masjid Al-Haqq pas pertama-tama datang ke sini, pas bulan puasa, dan nyaris ketinggalan sholat Jumat karena jalan kaki dari stasiun kereta yang agak jauh akibat salah turun, maklum anak baru. Kalau kita pernah menderita dan ditolong orang, sudah semestinya kita bisa memahami penderitaan orang lain. Dan kalau memang dalam posisi bisa menolong, adalah hal yang wajar untuk menolong orang lain.

Thursday, October 07, 2021

Mitos Matematika


Dalam buku yang berjudul "How to bake π", Eugenia Cheng membuka pembahasan mengenai teori kategori dengan mendaftar setidaknya empat mitos matematika.

Mitos pertama: matematika itu melulu tentang angka.

Cheng membandingkan matematika dengan "rice cooker". Pada umumnya kita memakai "rice cooker" untuk menanak nasi. Tetapi, "rice cooker" bisa juga dipakai untuk membuat roti, merebus sayur, dan membuat krim gumpal (clotted cream). Matematika juga demikian. Tidak hanya angka, matematika itu di antaranya juga termasuk logika dan abstraksi.

Mitos kedua: matematika itu melulu tentang jawaban dari sebuah teka teki.

Secara singkat Cheng berpendapat matematika itu terkadang bukan sebatas "jawaban"-nya tetapi juga tentang bagaimana metodenya untuk mendapatkan jawaban tersebut yang lebih menarik untuk dibahas.

Mitos ketiga: matematika itu melulu tentang benar dan salah.

Lagi-lagi secara singkat Cheng mengatakan bahwa di dalam matematika, benar dan salah itu bisa jadi relatif terhadap acuan yang dipakai. Dicontohkannya 10 + 4 = 2 bisa jadi salah dalam anggapan umum, dalam konteks penjumlahan sederhana. Tapi kalau kita berbicara mengenai waktu, jam 14 itu biasa kita sebut jam 2 siang. Atau dengan kata lain, empat jam setelah jam 10 itu jam dua siang.

Mitos keempat: matematika itu hanya untuk orang yang pandai.

Cheng menyanggah mitos ini dengan mengatakan bahwa matematika itu pada dasarnya membuat hal yang rumit jadi sederhana. Menurut dia, yang membuat mitos bahwa matematika hanya untuk orang pandai itu biasanya adalah kelas atau pelajaran matematika yang meninggalkan kesan buruk di sekolah. Matematika yang sebenarnya seharusnya mudah dipahami oleh siapa saja.