Friday, May 21, 2021

Evolusi Teori Belajar

Bagaimana manusia belajar?

Pertanyaan itu merupakan salah satu pertanyaan besar yang berusaha dijawab oleh banyak orang. Pertanyaan ini menjadi penting karena memahami bagaimana manusia belajar dapat mempengaruhi bagaimana pendidikan (sebagai sebuah institusi yang hanya dimiliki makhluk yang namanya manusia) diselenggarakan.

Ada kurang lebih empat sampai lima aliran besar yang berusaha menjelaskan bagaimana manusia belajar. Dan bila kita melihat angka tahun dicetuskan ide-ide yang mendasari aliran itu, kita dapat menginferensikan bahwa pemahaman manusia tentang bagaimana mereka belajar itu mengalami evolusi.

Yang pertama adalah aliran Behaviorisme. Proponen utama teori ini adalah Ivan Pavlov melalui idenya tentang 'conditioning' (1897) dan B. F. Skinner dalam bukunya Behaviour of Organism (1938). Kurang lebih paham ini mengatakan bahwa belajar adalah rangkaian stimulus-respons. Dari pengamatan mereka terhadap anjing (Pavlov) dan Tikus/Merpati (Skinner), mereka menyimpulkan bahwa seseorang dikatakan belajar apabila orang tersebut menunjukkan respon sesuai dengan stimulus yang diberikan. Saya menyebutnya 'performance based'. Belajar dalam paham Behaviorism adalah sesuatu yang harus dapat diamati, ada buktinya, objektif. Implikasinya adalah standarisasi, latihan soal (Skinner's Machine, drill and practice) dan tes. Dalam kerangka Behaviorism pengetahuan itu ada 'di luar sana' dan si belajar harus 'mendapatkan' pengetahuan itu.

Yang kedua adalah aliran Kognitif-Konstruktivisme. Proponen utama teori ini adalah Jean Piaget dalam bukunya The Origin of Intelligence in the Child (1953) dan Jerome Bruner dengan idenya tentang 'representasi' (1967). Kurang lebih paham ini mengatakan bahwa si belajar adalah agen aktif dari proses belajar. Pengetahuan adalah sesuatu yang dikonstruksi oleh si belajar, bukan sesuatu yang 'ada di luar sana'. Ide konstruktivisme (yang umumnya dipopulerkan oleh psikolog-psikolog pendidikan dari Amerika) ini kemudian berkembang dengan diterbitkannya kumpulan ide Lev Vygotsky, seorang psikolog pendidikan dari Soviet, dalam buku Mind in Society (1987) yang menyatakan bahwa konstruksi pengetahuan itu terjadi dalam lingkungan sosial.

Evolusi pemikiran mengenai bagaimana manusia belajar di akhir abad 20 dan awal abad 21 sekarang ini berkembang ke dua arah yang berbeda namun komplementer (menurut saya). Ada peneliti dan psikolog pendidikan yang kemudian berusaha memahami bagaimana manusia belajar dari aspek neurosains, bagaimana otak kita bekerja secara sistematis. Aliran ini kita sebut saja Kognitif-Neurosains. Ada pula peneliti teori belajar yang berusaha menjelaskan belajar sebagai fenomena sosial. Aliran ini kita sebut saja Sosiokultural-Konstruktivisme.

Salah satu teori belajar yang masuk di bawah payung Sosiokultural-Konstruktivisme adalah Cognitive Apprenticeship yang dicetuskan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger dalam buku mereka Situated Learning: Legitimate Peripheral Participation (1991). Mereka meneliti bagaimana orang belajar di komunitas penjahit di Afrika, bagaimana orang belajar di Al Azhar, dan bagaimana orang belajar di komunitas Alcoholic Anonymous di Amerika. Benang merah dari komunitas belajar yang berbeda-beda tersebut adalah bahwa belajar terjadi melalui interaksi keseharian antara si belajar dengan sang master, baik master penjahit di komunitas penjahit di Afrika, ahli ilmu agama di Al Azhar ataupun seseorang yang telah sukses mengatasi kecanduan alkoholnya di komunitas Alcoholic Anonymous. Di Jawa, kita mengenal Cognitive Apprenticeship dengan istilah 'ngenger'.

Usaha untuk memformalisasi jawaban atas pertanyaan 'bagaimana manusia belajar' akhirnya kembali pada pengalaman individu masing-masing. Toh, setiap individu memiliki pengalaman unik dalam hal belajar. Ada yang mungkin cocok dengan aliran Behaviorisme. Ada pula yang mungkin cocok dengan aliran Sosiokultural-Konstruktivisme. Atau kecocokan itu bisa juga tergantung pada apa yang akan dipelajari alias tujuan belajarnya. Ide ini kemudian menjadi paham tersendiri, sebut saja paham Holistik-Eklektik.

By the way, bagaimana menurut Anda? Bagaimana manusia belajar?

Friday, May 14, 2021

Kepercayaan

Jam lima sore, sewaktu saya keluar untuk mencari dawet hitam untuk berbuka puasa di hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini, matahari terlihat di langit barat. Lingkaran besar itu berwarna oranye semu merah muda bergerak turun di antara awan yang menggantung. Indah sekali.

Sebagai manusia yang mengidentifikasikan diri saya sebagai seorang muslim beserta seperangkat kepercayaan yang saya miliki, keindahan sore itu tentu saja saya kaitkan dengan suasana akhir Ramadhan menjelang Idul Fitri 1442 H. Seakan-akan alam ikut berbahagia menyambut perayaan fitrah manusia.

Tapi apakah benar begitu?

Kepercayaan individu (personal beliefs) adalah sesuatu yang cukup kompleks. Kepercayaan itu dipengaruhi berbagai faktor seperti akumulasi informasi, pengalaman hidup, interaksi dan afinitas sosial, lingkaran pengaruh, dan lain sebagainya. Mungkin sejak terjadinya revolusi kognitif manusia kurang lebih 70.000 tahun yang lalu, Homo Sapiens berevolusi menjadi makhluk yang tidak saja memiliki pengetahuan tetapi juga makhluk yang memiliki seperangkat kepercayaan sebagai produk dari akumulasi pengetahuan tersebut. Kita menjelma menjadi Homo Fidelis. Hominid yang tidak bisa menghindar dari genggaman seperangkat kepercayaan (set of beliefs) sebagai konsekuensi dari kemampuan untuk berpikir, mengenali pola, mengkoneksikan informasi, dan kemudian berbahasa.

Ketika saya mengagumi indahnya langit sore itu, kepercayaan saya membuat saya berpikir bahwa hari itu begitu istimewa. Terlebih lagi, bisa saja kemudian saya kege-eran mengklaim bahwa begitu spesialnya saya dan seperangkat kepercayaan saya sampai-sampai alam semesta pun ikut berbahagia. Padahal bisa saja orang lain melihat fenomena matahari sore yang indah itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Mungkin, karena sehari-hari mereka sudah biasa melihat matahari terbenam yang indah jadi tidak ada yang spesial (jika dibandingkan dengan saya yang jarang keluar rumah dan melihat langit). Atau mungkin malah hal itu tidak penting sama sekali karena mereka sudah sibuk dengan hal lain. Atau mungkin mereka tidak hidup di lingkungan yang merayakan Idul Fitri dan memiliki kepercayaan yang berbeda dengan saya sehingga tidak ada koneksi antara langit sore yang indah itu dengan melodramatika sebuah perayaan hari besar. Keindahan langit sore itu bisa jadi bias konfirmasi ketika saya melihatnya menggunakan kerangka kepercayaan.

Pemikiran kritis terhadap seperangkat kepercayaan itulah yang mendorong beberapa orang, seperti orang-orang yang mempelajari sains atau filsafat, meragukan agama dan mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Apakah salah apabila seseorang mengkritisi sebuah kepercayaan, meragukan agama, mempertanyakan keberadaan Tuhan?

Pertanyaan mengenai salah benar macam ini tentunya bukan sesuatu yang akan mendapatkan jawaban yang seragam karena jawaban atas pertanyaan ini berkelindan (confounded) dengan kepercayaan orang yang menjawabnya. Ruwet. Njlimet. Belibet. Sehingga saya akan menjawabnya dengan kerangka “menurut saya” karena menurut sampeyan nanti mungkin jawabannya bakalan beda lagi.

Menurut saya, kritisisme itu jika dinikmati sendiri sebagai olah kebatinan ya boleh boleh saja. Repotnya adalah ketika kritisisme itu nanti dilontarkan kepada orang lain atau publik. Tidak semua orang bisa menerima kritisisme yang sifatnya sensitif seperti ini. Sehingga, selalu ada potensi kritisisme ini menyakiti perasaan orang lain yang memiliki kepercayaan yang dikritisi itu. Beberapa orang mungkin punya kepercayaan bahwa tidak masalah memicu gesekan seperti itu, toh hanya masalah perasaan. Itu, lagi lagi, adalah kepercayaan pribadi mereka.

Posisi kritis seseorang terhadap sebuah kepercayaan biasanya dilandasi kepercayaan pribadi (personal beliefs) yang mereka miliki. Jarang-jarang ada orang yang mengkritisi sebuah kepercayaan hanya sekedar untuk melontarkan pertanyaan kritis tanpa membandingkannya dengan kepercayaan pribadi yang dimilikinya. Jadilah kritisisme atas sebuah kepercayaan itu kontestasi antar kepercayaan. Ini adalah konsekuensi dari sifat Homo Fidelis yang hidup dalam lingkungan sosial. Pertarungan kepercayaan.

Seperti halnya pertarungan antar serigala yang memperebutkan posisi alpha male dalam kawanannya, pertarungan kepercayaan pun demikian adanya. Siapa yang memegang pengeras suara memiliki kesempatan untuk mendominasi wacana berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki. Dalam lingkungan virtual, setiap kepercayaan memiliki kesempatan untuk muncul ke permukaan. Namun apa yang kemudian viral merasuk ke bawah sadar pengguna media sosial sesuai dengan gelembung informasi masing-masing. Konten viral pada dasarnya adalah pengeras suara virtual.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai individu? Saya pribadi tidak henti-hentinya meyakinkan diri saya sendiri bahwa tidak setiap kontestasi kepercayaan itu perlu kita perhatikan, bahwa kepercayaan yang saya miliki itu legitimate (sah-sah saja) seperti halnya kepercayaan orang lain juga sama legitimate-nya dalam kerangka kepercayaan masing-masing, dan bahwa kepercayaan itu bersifat intim, hasil dari berbagai faktor yang ada dalam diri kita, sejarah hidup kita, identitas kita. Dan sebagai manusia, kita punya kapasitas berpikir dimana proses berpikir itu nantinya berujung pada seperangkat kepercayaan yang mencerminkan siapa diri kita di antara milyaran manusia.

Oh dan tentang matahari terbenam yang indah itu tadi, saya memilih untuk terpesona saja.

P.S.

Ya owoh ngomyang apa to ya aku ... bakda-bakda kok malah ngomyang tidak jelas wkwkwk. Mohon maklum karena kalau uneg-uneg macam ini tidak dikeluarkan, nanti bisa gila.

Maaf lahir batin aja deh kalo gitu yaa ... Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H bagi yang merayakan. Dan kebetulan ada peringatan kenaikan Isa Al Masih juga kemarin yang dirayakan kaum Kristiani, selamat merayakan hari besar tersebut bagi yang merayakan. Kedua perayaan kepercayaan itu tidak perlu dikontestasikan ehehehe ...

Sedaya lepat nyuwun gunging samudra sih pangaksami.

Sunday, May 09, 2021

Lebaran

Setahu saya, “lebar” dalam Bahasa Jawa itu artinya selesai, bubar, berakhir. Demikian pula, istilah “bakda” dalam Bahasa Jawa digunakan untuk menyebut hari raya Idul Fitri. “Bakda” itu serapan dari kata Arab “ba’da” yang artinya kurang lebih “setelah”. Maksudnya ya setelah Ramadhan itu Idul Fitri.

Idul Fitri memang menandai berakhirnya rangkaian ibadah puasa Ramadhan beserta amalan-amalan lain yang mengikutinya seperti shalat Tarawih, Zakat Fithrah, dan lain sebagainya. Eid sendiri salah satu maknanya adalah festival. Eid Al Fithr tentunya adalah festival yang merayakan fitrah manusia (alastu biRabbikum? Qaalu balaa syahidna).

Namun lucunya, interpretasi kultural -masyarakat Jawa setidaknya- menyiratkan bahwa perayaan Idul Fitri ini seakan-akan merayakan kebebasan atas selesainya kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Jadi puasa sebulan kemarin itu sebenernya tersiksa apa gimana? Kok bubarnya dirayakan dengan Lebaran?

Mungkin interpretasi Lebaran itu baiknya ya mirip-mirip Bakda dimana kita bertanya “lebar pasa njuk ngapa?” atau “bakdal shiyam di bulan Ramadhan trus ngapain?”

Ada orang-orang Jawa yang kemudian membuat jembatan keledai: lebar, lebur, labur, luber. Dimana bulan puasanya lebar alias selesai, lalu dosa-dosa mereka yang menjalani ibadah dileburkan (dengan memohon ampunan Tuhan dan meminta maaf dari sesama), sehingga jiwanya terlabur bagaikan digelontor cat putih supaya tampak bersih temboknya, lalu luberlah (banjirlah) amalan-amalan kebaikan pasca Ramadhan. Itu tampaknya bayangan ideal sesepuh-sesepuh Islam Jawa.

Namun saya punya pikiran lain. Gimana kalau kita ikut-ikutan orang bikin resolusi? Umumnya kan orang bikin resolusi kalau tahun baru ya. Nah ini untuk menjawab “setelah bulan puasa trus mau ngapa?” itu rasanya kalau bikin resolusi lumayan masuk lah. Ndak usah yang berat-berat lah resolusinya. Toh yang namanya bulan Ramadhan itu bulan pelatihan spiritual ya … mesthinya ada dong ya hal-hal yang carry over di bulan Syawwal dan seterusnya sampai ketemu bulan Ramadhan lagi.

Resolusi ini tentunya sifatnya sangat personal. Kalau saya boleh kasih contoh misalnya … kalau pas bulan Ramadhan sudah terbiasa cek dan ricek dalam mempelajari Al Quran misalnya, kenapa enggak itu dijadikan resolusi dimana kita akan selalu cek dan ricek informasi yang datang kepada kita melalui media massa/sosial sehingga kita nggak asal bikin status atau berbagi konten yang ternyata menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain. Kalau tiap tahun kita bikin satu resolusi saja, dalam sisa usia kita yang tinggal berapa tahun (50? 10?) setidaknya kita berinvestasi sejumlah amalan kebaikan yang bisa kita rutinkan (istilah kearabannya: didawamkan).

Semoga bisa ya? Aamiiin.

Selamat menyambut Idul Fitri yang berbahagia meskipun masih dalam suasana pandemi. Semoga keberkahan tercurah bagi seluruh makhluk.