Monday, April 05, 2021

Mas Gembes

Minggu pagi kemarin, saya dan mas Riyanto "berburu" benih lele untuk mengisi kolam terpal yang sudah siap diisi. Dari info yang didapatkan mas Riyanto dari grup Facebook, ada peternak benih lele di Cangkringan, di dekat pasar ikan. Jadilah kami mobilan ke Cangkringan.

Lokasi peternak benih lele ini cukup mudah ditemukan karena tempat ini adalah tempat satu-satunya yang memiliki kolam-kolam bundar di daerah Cangkringan.

Kami turun dari mobil dan bertanya kepada bapak-bapak yang ada di situ apakah benar tempat ini jual benih lele. Bapak-bapak yang sedang ngaso dari pekerjaan membuat pagar itu kemudian berteriak,

"Mbeeess Gembeeess, ono sing nggoleki ki."

Mas Gembes tak lama kemudian muncul, "badhe tumbas pinten ewu Pak?" mau beli berapa ribu benih lele tanyanya.

Mas Riyanto menjawab bahwa kami mau lihat-lihat dulu kalo diperbolehkan. Mas Gembes lalu mempersilakan kami melihat deretan kolam yang bunder-bunder itu. Kurang lebih ada sekitar dua puluh empat kolam yang berdiameter kurang lebih 2 meter dengan kedalaman sekitar 1 meter. Ada kolam yang diisi tanaman mata ikan saja, namun kebanyakan kolam berisi benih lele yang berukuran antara 3-4 cm sampai ukuran 4-6 cm. Setiap kolam rata-rata berisi 4000 benih lele. Kalau seandainya ada 15 kolam saja yang terisi benih lele, totalnya tempat itu memelihara sekitar 60.000 benih lele. 

Mas Riyanto kemudian memuji Mas Gembes atas keterampilannya memijahkan dan memelihara ribuan benih lele. Belum lagi menurut pengamatan mas Riyanto, tidak ada kolam yang diperuntukkan untuk pembesaran lele. Artinya, ribuan benih lele itu selalu laris terjual.

Mas Gembes merendah dengan mengatakan bahwa peternakan bibit lele-nya ini hanyalah hobi saja.

Obrolan kemudian berlanjut sampai pada topik dimana mas Gembes menuturkan bahwa pengeluaran terbesar untuk pemeliharaan benih adalah untuk membeli cacing. Cacing ini sangat digemari benih-benih lele tersebut.

"Lha kok mboten damel ternak cacing piyambak Mas?" mas Riyanto bertanya kenapa mas Gembes tidak sekalian membuat peternakan cacing sendiri.

"Wah, impossible Mas," sahut mas Gembes. "rejekine sampun piyambak-piyambak." Mas Gembes berpendapat ternak cacing dan memijahkan lele itu tidak mungkin dilakukan bersama-sama karena rejeki orang itu sendiri-sendiri.

"Tiyang ingkang ternak cacing niku mboten bakal saged sukses mijah Mas," lanjut mas Gembes. Katanya orang yang beternak cacing tidak bakal sukses memijahkan lele. "Saestu niku. Mpun pengalaman kula." mas Gembes menambahkan bahwa pernyataannya itu tadi tidak becanda, serius, berdasarkan pengalamannya.

Saya terkesan. Memang rejeki orang itu sendiri sendiri, ndak perlu nggragas alias rakus, ndak perlu iren-kemiren alias iri dengan rejeki orang lain. Minggu pagi itu saya dan mas Riyanto mendapatkan pelajaran berharga dari seorang peternak lele yang sederhana di Cangkringan.

Saya kemudian membeli 400 benih lele berukuran 3-4 cm dari mas Gembes. Satu benih-nya dihargai Rp. 110 oleh mas Gembes.

Saya mengulurkan uang Rp. 50.000. "Pinten dadose niki mas?" saya bertanya berapa jadinya harganya.

Mas Gembes diam sejenak lalu berkata, "wah Pak, menawi mboten ngangge kalkulator niki angel tenan. Wes angel tenan pokoke." Mas Gembes kesulitan menghitung tanpa kalkulator.

Saya hampir kehilangan composure pengen ketawa tapi kok takut menyakiti perasaan karena jadinya tidak sopan. Saya bantu hitungkan dan memberitahu beliau kalau harganya jadi Rp. 44.000 saja. Tapi saya tidak mau kembalian, sisanya untuk tanaman mata ikan-nya saja. 

Saya dan mas Riyanto kemudian pulang dengan 400 benih lele, seplastik besar tanaman mata ikan, dan pelajaran kearifan dari mas Gembes. 

Thursday, April 01, 2021

Peserta Didik

Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB dan pegiat pendidikan, memprotes penggunaan kata peserta didik. Menurut beliau, kosakata kita sudah cukup banyak yang lebih simpel dan bermakna lebih dalam dibandingkan dengan peserta didik. Kita punya kosakata siswa, pelajar, dan murid. 

Penggunaan kata peserta didik, menurut beliau, mereduksi posisi anak-anak menjadi sekedar peserta (yang secara implisit tidak memiliki agensi) dari sebuah kegiatan pendidikan. Lalu bagaimana dengan kosakata lain yang kita miliki?

Siswa adalah kata serapan dari Bahasa Sanskrit शिष्य (baca: sishya) yang memiliki makna "seseorang yang layak mendapatkan instruksi dari seorang Guru". Dalam hal ini, siswa memiliki makna implisit bahwa seseorang harus memenuhi standar kelayakan terlebih dahulu sebelum mendapatkan instruksi dari seorang Guru. Konteks aslinya standar kelayakan tersebut bersifat spiritual, dimana siswa diharapkan telah memiliki adab dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia siap untuk menerima instruksi atau ilmu dari sang Guru.

Kata siswa juga terkait dengan kata "syah" yang bermakna "raja" dalam Bahasa Hindi/Persi/Arab. Syah atau raja adalah pihak yang memiliki kehendak. Sedangkan "sisyah" adalah objek yang menjalankan kehendak dari raja tersebut. Baik "peserta didik" maupun "siswa" secara inheren menyiratkan bahwa anak-anak dalam proses pembelajaran adalah pihak yang mengikuti atau menerima instruksi dari guru. Sebaliknya, "pelajar" dan "murid" memiliki makna implisit dimana anak-anak merupakan pihak yang terlibat aktif di dalam proses pembelajaran. Boleh dibilang kalau "peserta didik" dan "siswa" adalah penamaan dengan landasan kepercayaan epistemologis Behaviorisme. Sedangkan "pelajar" dan "murid" adalah penamaan yang dilandasi Konstruktivisme.

Pelajar adalah seseorang yang melakukan ajar. Ajar sendiri bermakna berlatih; seperti yang ada pada Bahasa Jawa. Oleh karenanya kata pelajar merupakan kata pelaku aktif. Dengan pola konstruksi kata yang sama, kita juga memiliki kosakata pemelajar yang berasal dari akar kata belajar yang ditambahi awalan pe-. Kata pemelajar ini adalah kata yang paling dekat dengan kata "learner" dalam Bahasa Inggris. 

Sedangkan, murid adalah kata serapan dari Bahasa Arab. Akar katanya adalah a`rada - yu`ridu - muriidan yang bermakna "seseorang yang memiliki kehendak (yang ekstensif atau dalam rentang waktu yang panjang) untuk melakukan sesuatu". Kita terkadang mendengar kata dalam Bahasa Arab "iradat" yang bermakna "kehendak". Artinya secara inheren, kata murid memiliki makna bahwa anak yang belajar itu seseorang yang memiliki kehendak (iradat) untuk menuntut ilmu dalam rentang yang lama - bahkan mungkin sepanjang hayat.

Seperti yang telah diungkapkan oleh Prof. Iwan Pranoto, dalam hal menamai seseorang yang belajar, Bahasa Indonesia memiliki pilihan kata yang cukup banyak. Pemilihan kata tersebut mau tidak mau membawa makna inheren dari setiap kata. Tinggal kitanya yang memakai; apakah kepercayaan epistemologis kita lebih cocok dengan Behaviorisme ataukah Konstruktivisme?