Thursday, May 04, 2023

Pendidikan dan Pematetikan

Ada setidaknya dua jenis orang. Yang pertama adalah orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicucinya di rak pengering dengan rapih. Yang kedua adalah orang yang ketika mencuci piring, meletakkan piring yang sudah dicuci di rak pengering dengan asal-asalan sehingga menciptakan sebuah struktur yang lebih layak disebut sebagai "Jenga Tower". Kenapa "Jenga Tower"? Karena ketika tersenggol sedikit saja, struktur-nya bisa rubuh.

Apa kaitannya cuci piring dengan pendidikan? Dan apa pula itu pematetikan? 

Pendidikan memiliki kata dasar "didik" yang sangat mungkin memiliki keterkaitan ataupun asal muasal kata dari kata Yunani "didaktik" (διδακτικός) yang secara harfiah bermakna "pengajaran". Sudut pandangnya sudut pandang sistem/guru sebagai subjek, peserta didik sebagai objek. Sehingga wajar saja sebenarnya jika selama ini (dan mungkin kebanyakan) kelas-kelas kita masih berpusat pada guru (teacher-centered). Toh, makna harfiah dari kata-nya begitu.

Ada sebenarnya kata yang mewakili "hal-hal terkait belajar" yang dicetuskan oleh Seymour Papert: "matetik". Kalau di-Indonesia-kan mungkin jadi "pematetikan". Ini sudut pandangnya sudut pandang si belajar sebagai subjek, ilmu sebagai objek. Lalu guru sebagai apa? Guru sebagai katalis saja, pihak yang menyediakan fasilitas dan kesempatan untuk si belajar menjalani petualangan belajar-nya. Bahasa kekinian-nya tentu saja "student-centered learning" (yang menurut saya sebenarnya istilahnya redundant ... kalau learning ya sudah semestinya student-centered), "active learning", "experiential learning", dan lain sebagainya.

Bahasa Inggris juga sama saja sebenarnya. "Education" itu "ex ducare" yang kurang lebih artinya "memimpin ke luar". Guru/dosen/docere adalah pemimpin bagi siswa-nya untuk keluar dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa. Mulia memang, tapi tetap saja sama dengan kata "pendidikan", aktor utamanya si pemimpin itu tadi.

Banyak sebenarnya kemudian tokoh-tokoh yang berusaha memaknai ulang "pendidikan" dengan membawa kata yang berat maknanya ke pengajaran menjadi kata yang setidaknya bermakna pembelajaran. Salah satu yang kita kenal tentu saja Maria Montessori. Ide Montessori kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara untuk membuat kredo "Tut Wuri Handayani". Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tidak menolak ide bahwa guru adalah pemimpin yang harus berada di depan memberikan tauladan, "Ing Ngarso Sung Tuladha". Beliau juga mengingatkan bahwa ada kalanya peran guru adalah berada di tengah-tengah siswa-nya, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama membangun motivasi untuk berkarya, "Ing Madya Mangun Karsa". Namun peran yang paling utama dari seorang guru adalah "Tut Wuri Handayani". "Handayani" memiliki kata dasar "daya" dan secara umum bermakna "memberdayakan". Seperti ide Montessori di mana guru harus membiarkan "inner-potential of the students unfold", maka peran guru yang utama adalah memberikan panggung kepada para siswa agar mereka bersinar. Ide ini mirip dengan ide Papert tentang "matetik".

Pematetikan itu adalah proses pembekalan keterampilan belajar. Keterampilan belajar itu adalah fondasi bagi seseorang untuk menavigasi kehidupan, apalagi di dalam era di mana informasi itu begitu berlimpahnya dan sangat mudah diakses di ujung jari kita sedemikian rupa sehingga banjir informasi itu membuat kita tidak mampu lagi mencerna mana informasi yang benar mana yang keliru, bahkan mana yang palsu. Termasuk di dalam kategori keterampilan belajar adalah keterampilan untuk bertanya, keterampilan untuk mencari informasi yang terpercaya, keterampilan untuk mengkomunikasikan ide, keterampilan untuk menerima perbedaan dan keberagaman. Orang mungkin bisa berargumen bahwa keterampilan itu sudah diajarkan, apalagi dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun apa benar demikian? Beberapa ahli pendidikan seperti James Paul Gee, Sugata Mitra, dan Ken Robinson berpendapat bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya masih berkutat dengan materi-materi "just-in-case", bukan memperlakukan materi itu sebagai informasi "just-in-time". Belum lagi ketika kita bicara tentang administrasi, penjaminan mutu, tes, dan lain sebagainya. Secara umum, kita masih berkutat pada pendidikan bukan pematetikan. 

Ketika kita masih berkutat dengan didaktik, sangat sulit bagi kita untuk mendiskusikan mengenai matetik. Padahal, tanpa membekali anak-anak kita -para pemuda-pemudi harapan bangsa- dengan keterampilan belajar, ibaratnya kita mendesain sebuah sistem yang sengaja membiarkan mereka gagal di masa depan. Persis dengan orang yang ketika mencuci piring, menata piring yang sudah dicuci itu asal-asalan saja sehingga strukturnya lebih mirip "Jenga Tower". Saya kurang tahu mana yang lebih buruk, apakah pencuci piring yang hobi membuat "Jenga Tower" atau jenis orang ketiga: orang yang tidak mau cuci piring.

P.S.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2023 (2 Mei kemarin). 

Seperti kata teman saya di WAG, karena pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga, maka ucapan selamat ini berlaku untuk semua orang tua, wali siswa, dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan.