Wednesday, December 24, 2025

Mendudukkan Hasil TKA 2025 Pada Tempatnya

Rilis nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA pada tanggal 23 Desember 2025 kemarin, khususnya untuk mata pelajaran Matematika Dasar, mengejutkan sebagian orang. Rata-rata nasional berada di kisaran 30-an, dengan sebagian besar siswa, 75 persentil-nya, bahkan tidak mencapai skor 50. Beberapa orang mungkin akan memaknainya sebagai sinyal kemerosotan kualitas pendidikan. Namun saya perlu menekankan dua hal ini sejak awal. Pertama, klaim “penurunan performa siswa” tidak sah secara metodologis. Kedua, TKA itu sendiri bukan alat ukur yang bebas dari persoalan.

TKA bukan asesmen longitudinal. Ia tidak memiliki baseline historis yang dapat dibandingkan secara setara lintas waktu. Tanpa proses equating, dan tanpa desain pelacakan kohort, TKA tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah kemampuan siswa hari ini lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Dari sudut pandang ilmu pengukuran, menyebut hasil ini sebagai “penurunan” adalah lompatan logika.

Namun, mengkritik keterbatasan TKA tidak otomatis berarti mengabaikan apa yang ditampakkannya. Meski secara psikometrik patut dipertanyakan, pola skor TKA Matematika SMA justru selaras dengan gambaran yang telah lama kita kenal dari berbagai sumber lain. Dalam hal ini, TKA menjadi sebuah indikator kasar yang kebetulan sejalan dengan bukti historis.

Selama lebih dari dua dekade, asesmen internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan kelemahan Indonesia pada literasi matematika —terutama pada aspek penalaran, pemahaman konteks, dan pemecahan masalah non-rutin. Pola yang sama juga muncul dalam laporan-laporan lapangan para guru, komunitas pendidik, dan gerakan literasi numerasi seperti Gernas Tastaka. Narasi ini bukan barang baru, dan jelas tidak lahir bersama TKA.

Karena itu, nilai rendah TKA tidak seharusnya dibaca sebagai gejala kemerosotan mendadak, melainkan sebagai cerminan dari masalah struktural yang telah lama mengendap. Jika ada yang “baru” dari TKA, itu bukan kondisi siswanya, melainkan visibilitas masalahnya. Angka-angka tersebut terasa mengejutkan bukan karena realitasnya berubah, tetapi karena ia jarang dipaparkan secara telanjang di tingkat nasional.

Akar persoalan ini tidak berada di SMA, apalagi pada angkatan siswa tertentu. Ia tertanam jauh lebih awal, terutama dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Selama bertahun-tahun, matematika di kelas awal lebih sering diperlakukan sebagai keterampilan prosedural: menghafal algoritma, meniru contoh, dan mengejar jawaban benar. Pemahaman konseptual, diskursus matematis, dan refleksi atas kesalahan pemahaman yang dimiliki anak jarang menjadi highlight proses pembelajaran matematika di dalam kelas.

Model pembelajaran prosedural seperti itu menghasilkan ilusi kompetensi. Siswa tampak mampu “mengikuti” pelajaran, naik kelas, dan lulus ujian sekolah. Namun fondasi numerasi yang rapuh itu bersifat kumulatif. Ia diwariskan dari SD ke SMP, lalu ke SMA. Pada titik tertentu —ketika soal menuntut integrasi konsep dan pemaknaan konteks— struktur tersebut runtuh. Hasil TKA, seberapa pun problematis instrumennya, somehow berhasil menangkap keruntuhan tersebut.

Di sinilah pentingnya untuk Kita berhati-hati agar kritik terhadap TKA tidak berujung pada pengingkaran masalah yang lebih besar. Menyalahkan instrumen semata berisiko menjadi jalan pintas untuk menghindari refleksi sistemik. Sebaliknya, menerima TKA secara mentah-mentah juga berbahaya, karena ia memberi ilusi ketepatan ukur yang belum tentu dimilikinya.

Posisi yang lebih jujur adalah ini: TKA bukan alat ukur yang ideal, tetapi hasilnya konsisten dengan sejarah panjang kelemahan numerasi di Indonesia. Ia tidak membuktikan penurunan performa siswa, namun juga tidak bisa diabaikan begitu saja sebagai “sekadar hasil tes yang buruk”.

Oleh karenanya, respons kebijakan yang rasional bukanlah panik, bukan pula defensif. Fokus pada perbaikan di SMA tanpa menyentuh pembelajaran matematika di SD hanya akan mengulang siklus yang sama. Selama cara anak-anak belajar memahami angka, besaran, dan relasi tidak dibenahi sejak awal, apa pun nama asesmennya, angka rendah akan terus muncul. Perbaikan proses pembelajaran matematika yang mendasar perlu dilakukan. Masalah yang terpotret oleh TKA bukan masalah yang terjadi pada satu generasi siswa. Masalahnya adalah hutang pedagogis yang telah menumpuk lama. TKA, dengan segala keterbatasannya, kebetulan membuka sedikit tirai yang memungkinkan kita, masyarakat awam, mengintip kenyataan tersebut.

Thursday, December 18, 2025

Refleksi 2025

Pendek pendek saja ya.

Tahun 2025 ini bagi saya adalah tahunnya Petrikhor dan Omaggio. Saya mulai bikin Petrikhor untuk sarana belajar sepanjang hayat pada pertengahan Maret 2025, pas bulan puasa. Omaggio mulai beroperasi pertengahan September 2025. Dua dua-nya passion project, semoga bisa langgeng.

Kemudian bulan Oktober 2025 ikut konferensi TEFLIN di Malang. It was fun. Saya belajar lagi tentang narrative inquiry

Selain itu, saya mulai belajar bikin experience di Roblox, dan juga ngulik SurveyJS.

Tidak ada satu pun yang saya rencanakan, saya orangnya memang go with the flow saja.

Pertengahan Juni 2025 menandai berakhirnya project neurodiversity. Saya belajar banyak tentang pendidikan inklusi dan neurodiversitas, lalu tersambung dengan simpul-simpul layanan disabilitas di Indonesia.

Reuni Selawe Sak Lawase Padmanaba55 di awal September 2025 dan reuni Elektro Noceng di awal Agustus 2025 tentu juga jadi highlight tahun ini.

Secara garis besar: eeh, not too bad.

Di luar kehidupan pribadi, situasi sosial nasional semakin menyedihkan dalam sudut pandang saya. Mulai dari program program pemerintah yang "ajaib", sampai kulminasinya adalah Bencana Sumatera di akhir November 2025.

Namun seperti kata Jason Czyz pas sarasehan di IIEF awal bulan ini, kita harus melihat strengths. Jangan melulu melihat weaknesses.

Striking balance antara berpikir positif dan memelihara skeptisisme itu memang proses belajar sepanjang hayat. Lagi-lagi, tema kehidupan saya nampaknya memang life-long learning, belajar sepanjang hayat.

Menilik ke depan 2026 mau ngapain? Yaa... pengennya sih banyak. Tapi seperti biasanya, saya pasrah ikut saja Gusti Alloh mau membawa saya ke mana. 

Wednesday, December 17, 2025

Lua untuk PPT like in Roblox

local screen = workspace.ScreenPart.SurfaceGui.ImageLabel  -- adjust name

local slides = {

    "rbxassetid://1234567890",

    "rbxassetid://2039842342",

    "rbxassetid://9182736455"

}


local currentSlide = #slides

local debounce = false


script.Parent.Touched:Connect(function(hit)

    if debounce then return end

    local character = hit.Parent

    if not character:FindFirstChild("Humanoid") then return end


    debounce = true


    -- update image

    currentSlide = currentSlide + 1

    if currentSlide > #slides then

        currentSlide = 1   -- loops back; remove if you prefer stop

    end

    

    screen.Image = slides[currentSlide]


    task.wait(1) -- cooldown to prevent multi-trigger

    debounce = false

end)

Sunday, September 21, 2025

Unwavering

Kalimat kedua dalam Bhakti Vidya (yel/motto SMA 3 Yogyakarta) adalah "tan lalana labet tunggal bangsa".  Dulu, Kami mengucapkannya tanpa peduli itu artinya sebenarnya apa. Beberapa orang juga mencoba memaknainya, tapi saya modelnya nggak mudah percaya apa kata orang kalau belum saya ulik sendiri etimologinya.

Dengan bantuan teman-teman Barokah, inilah yang saya dapat:

"tan lalana" adalah sebuah frasa yang muncul di Kakawin Negarakrtagama, canto 12 baris 4 . Frasa itu menggambarkan salah satu sifat Mahapatih Gadjah Mada yang kokoh pendiriannya, tanpa tanding, tak tergoyahkan (unwavering) semangatnya.

Mengartikannya memang bukan per kata. Karena kalau dipisah kata per kata, agak jauh maknanya. "tan" itu kata negasi, seperti "tidak" atau "tanpa". Sedangkan "lalana" (ललन) dalam Sanskrit bermakna "caressing/fondling", atau "menyentuh dengan penuh kasih sayang". Sehingga kalau kata per kata, bisa jadi maknanya "tanpa sentuhan kasih". Malah sedih, ye kan?

Tapi memang frasa "tan lalana" ini membawa rasa bahasa Sumpah Palapa. Mahapatih Gadjah Mada bersumpah "amukti palapa" yang sering dimaknai bahwa dia tidak akan menyentuh kenikmatan dunia, sebelum berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara saat itu.

"labet" adalah sebuah kata Jawa Kuno/Kawi yang bermakna "labuh" dalam Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Labuh itu bersauh, melemparkan jangkar. Dalam konteks ini, "labet" itu "actively setting something in motion, committing oneself to it, or being deeply involved" atau "secara sadar mendedikasikan diri" seringkali untuk sebuah tujuan mulia tertentu, salah satunya: persatuan bangsa (tunggal bangsa).

Jadi gaes, "tan lalana labet tunggal bangsa" itu "tidak goyah mendedikasikan diri untuk persatuan bangsa".