Monday, August 14, 2023

Nglakoni

Laku, dalam konteks ini bukan Bahasa Indonesia yang berarti "berhasil terjual" ya. Ini Bahasa Jawa. Laku itu kurang lebih artinya "tindakan"; atau lebih dalam lagi, artinya "aksi/perbuatan/pekerjaan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, totalitas, sepenuh hati". Panjang ya?

Kata ini mendasari kata lain: Lakon. Lakon itu semacam "adegan/kisah dalam sebuah cerita". Kehidupan manusia misalnya, bisa kita lihat sebagai "lakon". Setiap orang punya peran masing-masing.

Ketika diimbuhi dengan awalan dan akhiran, kata lakon ini bertransformasi menjadi "hanglakoni" (singkatnya: nglakoni) yang artinya kurang lebih: "menjalani". Tersirat di dalam kata nglakoni adalah penerimaan sepenuhnya atas peran yang sedang dijalani. Ada unsur kepasrahan, namun seperti halnya kata yang mendasari (i.e. laku), nglakoni itu lebih berat kepada unsur kesungguh-sungguhan.

Di dalam kerangka/framework "nglakoni" yang memadukan antara laku dan lakon, terdapat keseimbangan antara usaha manusia (determinasi dalam menjalani laku) dan ketentuan takdir (lakon yang kadarnya sudah tertentu). Semisal ketika seseorang menjadi sesuatu (e.g. sultan atau rakyat jelata, kaya atau miskin, sekolah di universitas A, bekerja di perusahaan K, bapak rumah tangga, etc.) itu merupakan fungsi integral antara laku dan lakon. Artinya bahwa dalam "menjadi" itu ada porsi laku, ada pula porsi lakon.

Gathuk mathuk-nya begini: Homo Sapiens itu desain evolusi-nya adalah berdiri tegak dan berjalan. Berjalan dalam Bahasa Jawa: mlaku (kembali lagi pada laku-lakon-nglakoni itu tadi). Sehingga "nglakoni" itu boleh dibilang adalah "amanat evolusi manusia".

Nglakoni adalah sesuatu yang mendefinisikan kita sebagai manusia. Implikasinya, kita adalah apa yang kita lakukan dalam kerangka lakon yang sedang dijalani/dilakoni.

No comments: