Thursday, August 16, 2007

Musim Gugur yang Bertutur

Bagi orang-orang yang hidup (atau pernah hidup) di negara dengan empat musim, setiap musimnya membawa arti tersendiri. Hangatnya matahari, putihnya salju, keceriaan musim semi dan eksotisme musim gugur. Perubahan iklim membawa inspirasi dalam setiap langkah kehidupan.

Musim gugur yang pernah saya lalui di Amerika tidak banyak menyisakan kenangan. Hanya saja eksotisme-nya masih membekas. Kesibukan tupai-tupai mencari kenari untuk persediaan musim dingin, kepak sayap burung yang bermigrasi dan angin kencang yang meniup dahan-dahan kering.

Dalam dinamika kehidupannya, musim gugur bertutur tentang banyak hal. Tentang perpisahan dan harapan. Alam semesta selalu memberi kita makna yang dalam pada setiap kejadian. Seperti apa yang diungkapkan Jalaluddin Rumi dalam puisinya : Be grateful for whoever comes, Because each has been sent is a guide from beyond.

Bersama daun-daun yang berguguran, izinkan saya menuliskan puisi:

Ranting Cemara

Dahan tua lapuk dan mengering

Gugur ke tanah menjadi pupuk

Biarkanlah waktu mengurainya menjadi hara

Memberi makna bagi kehidupan yang baru

Kenari-kenari

Biji menjadi biji yang kering

Jatuh ke tanah dan tertanam dalam

Dua musim akan berlalu

Dan semi akan menghampiri

Saat tunas muda merekah menyambut pagi

Genangan Air

Jika hadirku di sini tak memberi arti

Biarkanlah aku menguap pergi

Mencari arti pada luasnya bumi

Sampai tiba saatnya nanti

Aku kembali …

Sebagai hujan yang menyirami

Arkhadi Pustaka; 12012004:10082007

No comments: