Saya mungkin memang sudah masuk di rentang usia orang yang suka nostalgia. Dengerin Vertical Horizon - Best I Ever Had (Grey Sky Morning) lewat di YouTube aja kok ya banyak kenangan yang muncul kembali, resurface. Tapi saya menulis ini sebenarnya bukan mau mengenang jaman awal-awal jadi mahasiswa di tahun 2000-an. Lebih jauh dari itu. Saya ingin memungut memori tentang masa SD saya.
Kenapa SD? Karena setahun yang lalu, ketika saya membaca berita bahwa SD saya hanya mendapatkan satu orang murid (yang pada akhirnya ternyata dua orang murid), saya jadi tergerak untuk kembali ke SD saya, menyumbangkan apa yang bisa saya sumbangkan. Bukan uang lho ya. Karena kebetulan saya bergerak di bidang Pendidikan, saya punya beberapa hal yang mungkin bisa saya share dengan Ibu Bapak guru di SD saya, SDN (dulu SD Inpres) Minomartani II. Ketika akhirnya saya kesampaian mengunjungi SD saya beberapa kali, memori-memori itu berlompatan.
Salah satu memori yang paling berkesan adalah ketika Ibu Kepala Sekolah menyuruh saya untuk menyapu halaman sekolah. Kebetulan mamah dan papah saya itu orangnya tepat waktu banget. Kalau masalah jadwal, sebisa mungkin jadwal itu ditepati. Papah saya, swargi, bahkan kalau bepergian itu selalu meluangkan waktu yang cukup longgar untuk tiba di bandara atau stasiun jauh sebelum jam keberangkatan. Jadi, ketika sekolah di SD, walaupun kalau naik sepeda dari rumah tidak sampai lima menit, saya seringkali sudah sampai sekolah setengah tujuh pagi. Itulah kenapa Ibu Kepala Sekolah ngasi saya kerjaan menyapu halaman sekolah. Katanya, "Aku tau kamu gak punya halaman rumah, jadi buat latihan nyapu ya. Siapa tahu besok kamu sekolah di ITB." Kalau dipikir-pikir sebenernya agak nggak nyambung juga. Apa iya kalau saya kuliah di ITB trus saya nanti harus nyapu pelataran kampus? Untung saya akhirnya kuliah di UGM...
Hehe. Bukan itu sih pelajaran moralnya ya. Keterampilan seperti menyapu halaman itu keterampilan yang hanya bisa dimiliki kalau sering dilakukan. Dan menyapu halaman itu salah satu keterampilan dasar. Tampaknya sepele dan membosankan, tapi kata penelitian neurosains baru-baru ini, kegiatan yang sepele dan membosankan itu malah mengaktifkan bagian otak yang sangat penting untuk mendukung pemikiran kritis.
Memori lain yang juga berkesan tentu saja Pak Tarman, wali kelas saya kalau tidak salah dari kelas IV sampai kelas VI SD, pas saya nakal-nakalnya. Saya waktu itu anak paling pandai di sekolah. Saya juga murid yang badannya paling besar (baca: gemuk) di sekolah. Ketika kelas V pun saya berkelahi dengan anak kelas VI dan menang. Saya pegang kerah anak itu, saya dorong, saya benturkan dia ke tembok, terkunci dia, tidak bisa bergerak, susah bernafas, tapi kemudian kami dilerai oleh Pak Tarman. Saya besar kepala, merasa jadi jawara, bisa berbuat sesuka hati saya. Tapi kemudian Pak Tarman "memarahi" saya, tidak dengan suara yang keras, tidak dengan intonasi yang mengancam, tapi nasihatnya membuat saya malu.
Kalau dulu sudah ada film Spiderman, mungkin nasihat Pak Tarman itu seperti "with the great power comes great responsibility". Dari Pak Tarman saya belajar bahwa kuasa itu bukan untuk dipamer-pamerkan, bukan untuk disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, tapi harus digunakan untuk kebaikan, dipakai untuk melayani orang banyak. Sesederhana itu.
Saya juga punya memori tentang Bu Cahyani -yang menurut saya dulu cantik sekali- guru kelas I yang mengajari saya membaca, menulis dan berhitung. Saya ketika masuk SD waktu itu belum bisa calistung. Mamah saya yang hobinya membacakan saya majalah Bobo. Sampai sekarang pun, beliau hobi membaca majalah Bobo. Tapi begitu saya bisa membaca, saya ketagihan membaca. Saya ingat buku Mahabharata -punya Papah saya- yang tebal itu saya baca sampai habis. Saya terinspirasi oleh buku-buku tentang perjalanan samudra. Buku favorit saya? Buku IPA kelas V. Saya ingat betul ilustrasi tentang gerak semu matahari, perubahan musim, dan perubahan fase bulan. Semakin banyak membaca, semakin saya ingin tahu tentang hal-hal baru.
Ada lagi memori tentang bermain tulup (ini mainan berbahaya masih ada nggak ya hahahah, jaman dulu belum ngerti safety) dengan teman-teman. Berdiri di atas gundukan pasir di depan sekolah, menantang gunung Merapi yang terlihat cerah pagi itu. Atau tentang guru olahraga yang sengaja membiarkan kami hujan-hujanan di lapangan, "biar tatag (tangguh badannya)" katanya. Atau tentang cepet-cepetan lari dengan teman-teman untuk jajan bubur lemu yang kalau agak telat sudah kehabisan. Atau tentang kakak kelas yang mengajari saya merokok, tapi saya kapok karena pahit rasanya. Atau tentang naksir anak pindahan baru di SD sebelah (dulu sekomplek ada tiga SD). Atau tentang ikut lomba menggambar pemandangan tapi kalah karena yang lain gambarnya gunung, saya gambarnya pemandangan bawah laut. Atau tentang saya yang selalu menangis kalau disuruh menyanyi di depan kelas karena tidak bisa menyanyi.
Begitu banyak memori, kenangan, pelajaran, selama bersekolah di SD. Saya menangis ketika menyanyikan Hymne Guru di acara pelepasan murid, purna wiyata. Kali itu bukan karena malu tidak bisa menyanyi, tapi karena terharu dan tidak mampu mengungkapkan rasa terimakasih saya kepada guru-guru saya yang telah memberikan semua perhatian dan kasih sayang mereka kepada kami, murid-murid-nya.
Waktu itu saya tidak punya bayangan akan jadi apa saya kalau besar nanti. Cita-cita saya tidak pernah tinggi. Seingat saya, cita-cita saya jadi tukang parkir, karena pas lihat tukang parkir di jalan Solo itu kok tampaknya berkuasa gitu, bisa ngatur-ngatur orang. Namun sekarang saya merasa punya tanggung jawab untuk kembali ke SD saya, karena saya tahu sedikit banyak caranya memakai teknologi untuk melayani orang lain, seperti yang Pak Tarman nasihatkan.
...
it's not so bad
You're only the best I ever had ...
No comments:
Post a Comment